Anak Kita

Anak Kita
BAB 4. Dia Harus Bertanggungjawab


__ADS_3

Masih diatas ranjang yang sama dan dalam keheningan yang sama, rasa canggung yang meliputi keduanya tidak mengubah apa yang sudah terjadi. Ciana masih terbaring membelakangi Lean yg berada disampingnya, setelah Lean mengungkapkan bahwa dia akan bertanggungjawab Ciana tidak mengeluarkan sepatah katapun.


Setengah jam berlalu Ciana bangkit dari tempat tidur kemudian memakai pakaian dan juga jilbabnya, matanya berkaca-kaca saat memakai jilbab karena dia telah menodai simbol yg selalu Ia pakai sebagai penutup aurat agar terjaga dari hawa nafsu lawan jenisnya, namun yang terjadi sekarang Ia merelakan kesuciannya pada Lean seorang laki-laki yang dicintai perempuan lain yaitu Guzel. Lalu bagaimana massa depan mereka karena setelah kejadian ini tidak menutup kemungkinan Ia akan hamil dan siapa yang mau dengan dirinya kelak. Lalu bagaimana juga dengan Lean yang harus tetap kuliah ke Inggris, dirinya tau kalau Lean memiliki tanggungjawab besar atas seluruh kekayaan keluarga Kusuma.


Tidak, Ciana tidak mungkin akan tega melukai orang-orang yang disayanginya. Hal ini terjadi karena kesalahannya, hanya dirinya yang salah dalam kejadian ini. Apapun yang terjadi kedepannya itu adalah resiko yang harus dia tanggung atas kesalahan yang dia lakukan.


"Lean, aku harus pergi dari sini, aku mau pulang. Aku minta dan mohon jika kamu mau bertanggungjawab hanya satu yang aku inginkan, tolong lupakan kejadian ini. Tidak ada yang terjadi diantara kita okey, kita adalah hanya teman satu tim." tanpa menunggu jawaban dari Lean dirinya pergi meninggalkan hotel tersebut.

__ADS_1


"Assalamualaikum Ayah, Ibu" Ciana mengetuk pintu kamar kedua orangtuanya kemudian masuk dan tidur diantara keduanya.


"Ciana ingin pergi Yah, Bu" tiba-tiba Ciana menangis pilu dihadapan keduanya


"Sayang apa yang terjadi? Ceritakan pada kami" Ayah mencoba menenangkan Ciana yang masih saja menangis.


Setelah mendengar penjelasan dari putrinya Ayah Rezi bangun dari tidurnya dengan muka merah menahan amarah. "Kurang ajar sekali Lean beraninya dia melakukan itu padamu, dia harus bertanggungjawab atas apa yang dia lakukan padamu Ciana" untuk pertamakali ayah memanggilnya dengan sebutan nama, itu berarti ayahnya sangat marah dan kecewa.

__ADS_1


"Tidak ayah, ini bukan salah Lean. Aku yang salah karena tidak bisa menahan diriku yah, aku mohon yah jangan libatkan orang lain dalam masalah ini. Ini kesalahanku yah biar aku yang menanggung semuanya, Bu tolong bantu aku bujuk Ayah" Ciana menatap sang ibu yang sudah menangis sesegukan, dia tidak menyangka kalau putrinya akan bernasib seperti sekarang.


"Nak ga bisa begitu sayang kamu kita harus tetap membicarakan semua ini pada keluarga Lean, kamu akan sangat dirugikan jika nantinya kamu hamil anak dalam kandunganku harus memiliki status yang sah, juga bagaimana dengan dirimu kedepannya? Kamu harus memikirkan itu juga nak" Ibu masih cukup tenang mencoba memberi pengertian kepada anaknya itu.


"Tidak ayah, ibu aku mohon jangan libatkan orang lain atas kesalahan yang aku perbuat, aku mau minta restu untuk pergi ke L.A malam ini juga. Apapun yang akan terjadi kedepannya itu adalah resiko dari pilihan yang aku ambil Bu, yah" Ciana kemudian bangkit dan menuju kamarnya untuk mempersiapkan keberangkatan dirinya ke L.A.


"Yah apa yang harus kita lakukan, setidaknya keluarga mas Kusuma harus tau apa yang sebenarnya terjadi." Ibu Melly begitu cemas dengan keputusan yang diambil oleh sang putri.

__ADS_1


"Aku begitu kecewa Bu dengan kejadian ini, Ciana anak yang selalu kita banggakan akan bernasib seperti ini. Kita harus tetap berbicara pada keluarga mas Kusuma, dan Lean harus bertanggungjawab." Ayah segera mendial nomor ponsel Aldy Kusuma sahabatnya.


__ADS_2