
" Lihat, apa yang keluarga ini sembunyikan?" gumamku seraya tersenyum misterius.
*****
Rasa penasaranku menjadi jadi, kuintip sambil menguping pembicaraan. seperti pertengkaran suami istri.
" Aku sudah tidak tahan lagi dengan anak itu, untuk apa aku membesarkan anak yang tidak berguna itu?!" ucap wanita itu penuh amarah dan kekesalan. Kurasa mereka membicarakanku.
" Sudahlah sayang lagipula ayahnya memberikan uang kepada kita unruk merawatnya"
Tunggu apa? AYAH!? aku tersentak kaget mendengar ucapan pria itu, ternyata Verlina bukan anak kandung keluarga ini. lalu siapa ayahnya.
" kembalikan saja! aku tidak butuh uangnya aku tidak butuh. Beritahu pada kakak ipar aku juga tidak butuh orang yang tidak berguna"
" Tapi, sayang _"
" Beritahu dimana tempat tinggal 'kakak ipar' itu padaku, aku akan pergi dari sini" ucapku memotong ucapan pria itu sambil melipat tangan menatap mereka datar.
Mereka nampak terkejut dengan kehadiranku, begitulah dari ekspresi mereka. Setelah tersadar pria itu yang kuketaui ayahnya hedie, TOULD CALISTH berkata.
" Lebih baik tetap disini verlina sayang"
'Tuan tould, tuan tould. kau kira aku tuli' batinku.
" Aku sudah tahu kalau aku bukan anakmu, Jadi, berikan alamatnya" ucapku santai sambil mengulurkan tangan meminta sesuatu.
" Tunggu apa lagi sayang? berikan saja padanya biar dia mati diluar saja!" ucap wanita itu yang pasti istrinya tuan tould, CATRINE WEIN. Dia mirip dengan hedie rambut berwarna merah jingga dengan mata hijau, jujur saja aku benci wajahnya yang menatapku kesal.
" Begini sayang _"
__ADS_1
" Berikan!" perintahku memotong ucapan tuan tould.
Setelah perdebatan yang panjang. akhirnya tuan tould memberikan alamatnya. Mendapatkan alamatnya aku segera meninggalkan mereka pergi kealamat ayah dari pemilik tubuh ini. Tapi...
" Awas kau kembali lagi kesini " Ucapan catrine membuatku berpikir, untuk apa aku kembali ke tempat kotor ini lagi? aku tidak mau membuang waktu lalu menjawab.
" heh, kembali kesini? ketempat kotor ini? untuk apa? tempat yang kotor tidak cocok untukku" ucapku sinis.
" Kau ternyata sudah berani ya _" Aku tidak peduli ocehan penuh amarah dari catrine dan memutuskan melanjutkan ketempat tujuanku.
***
Melewati hutan untuk pergi kealamat yang kutuju, aku tidak peduli gelapnya hutan aku terus berlari. Berlari hati-hati aku sudah tidak ingin membuang waktu.
" Huff, akhirnya sampai" ucapku menghela nafas lelah.
Mendekati pintu dan mengetoknya. pintu yang besar perlahan terbuka dan muncullah pria parubaya yang kupastikan seorang pelayan karena pakaiannya.
" oh, ada tamu. Tunggu sebentar ya nona tuan akan segera kembali" ucapnya seraya memberi hormat.
'Eh bagaimana dia tau tujuanku?" batinku berpikir. walau batinku berpikir tetapi ekspresiku tetap datar.
" Silakan ikuti saya nona" Mata emasnya menatapku. setelah mendapat persetujuan untuk masuk aku mengikutinya.
Menyelusuri lorong dengan sinar dari lentera, memang aku datang kesini sudah malam. Lentera dipegang sebastian. oh iya, nama pelayan tadi adalah sebastian. Lentera menerangi menuju ruangan dengan ukiran kuda dihiasi permata biru.
" Sudah sampai mari masuk nona" ajaknya dan aku mengiyakannya.
Ruangan ini seperti ruang tamu dengan sofa yang aku duduki.
__ADS_1
" Anu, tuan sebastian apa tuan masih lama?" tanyaku denag suara seperti anak kecil, lebih tepatnya pura pura seperti anak kecil.
" Sepertinya tuan akan kembali, dan jangan panggil saya tuan nona"
" mn, tapi itu tidak sopan"
" tidak apa apa nona, tidak perlu takut" ucap sebastian menenangkan dengan memegang tangan ku. Apa suaraku tadi terdengar takut? sudahlah.
" baiklah "
" kalau begitu saya ambil teh dan cemilan untuk nona" setelah mengatakan itu sebastian meninggalkanku. Kulihat samar samar ada ekor hewan, apa aku salah?
Sungguh membosankan menunggu sebastian kembali.
*Srekk
srakk*
Suara suara itu semakin mendekat membuatku waspada. Takut? sama sekali TIDAK.
Semakin mendekat dan bruk suara benda jatuh. kuintip dari balik sofa. MAYAT!? itu beneran mayat?.
" oh, Ternyata ada tamu" suara dingin membuatku menatapnya. Mata biru safir itu menatapku dingin dan penasaran.
pemandangan didepanku membuatku terpaku. Rambut hitam panjang sepinggang, jubahnya yang sebagian terkena darah, mata biru safir bersinar digelapnya malam masih mentapku, ditambah wajah rupawan yang terkena cipratan darah.
pemandangan indah sekaligus menyeramkan tidak sama sekali membuatku takut malah membuatku terpukau.
Sinar bulan menyinarinya, wajah itu? mirip denganku!.
__ADS_1