
"Hei, bisakah kau lepaskan ekorku."
"Ah" buru buru aku lepaskan benda berbulu itu.
"Maafkan aku, aku tidak tahu itu ekormu" ucapku sambil memeluk boneka yang sudah lama berada ditanganku.
"Iya aku maafkan tapi tetap saja itu tidak sopan" ucapnya sambil membersihkan bajunya yang kotor.
Tubuhnya seperti anak umur 11-12 tahun dengan telinga dan ekor berwarna jingga melengkapinya. Entah kenapa ia merangkak bersembunyi disemak semak. Sudahlah aku tidak memikirkannya lagi dan melanjutkan berjalan jalan.
"Tunggu!" panggilnya padaku setelah dia melihat aku tidak memperdulikannya.
"Ada apa?" tanyaku padanya. Aku heran dengannya tiba tiba menghentikanku.
"Ekhem" ia berbatuk kecil bersikap sok cool. lalu melanjutkan.
"namaku Kyle, siapa namamu nona?" ucap kyle ala bangsawan. Lucu sekali, padahal saat bertemu dia sedang merangkak disemak semak secara tidak elit.
Sekarang ia bertingkah keren, aneh.
"Nama saya verlina calisth salam kenal" ucapku mengangguk kecil.
"Ah, ternyata kamu tamunya tuan ya" ucap kyle padaku.
"iya" jawabku singkat.
"jadi, apa yang kamu lakukan disini? apa kamu tersesat?" tanyanya padaku. walau tidak formal tetapi itu cukup sopan.
"Saya disini untuk berjalan jalan" jawabku seraya melanjutkan menyelusuri labirin.
"sendirian?" tanya kyle berjalan mengikutiku.
"Iya."
"Apa kamu tidak takut tersesat?."
__ADS_1
"Saya hanya mengikuti insting saya" aku menjawab pertanyaan kyle seadanya. Aku tidak berbohong itulah kenyataannya.
"Oh, insting ya" ucap kyle memasang posisi seperti orang yang sedang berpikir. Aku menatapnya tetapi tatapanku tertuju pada telinga berbulunya. Uh, tanganku mulai gatal untuk menyentuh benda berbulu lembut itu.
"Jangan pegang telingaku" ucapan kyle menghentikanku yang hampir menyentuh telinganya. Kuurungkan niatku menyentuhnya beralih memeluk bonekaku.
Aku diam menatap bunga bunga cantik didepanku dengan bola mata berbinar.
Didepanku ada bunga mawar berwarna biru berbeda dengan bunga mawar lainnya yang berwarna merah.
'Biru! seperti bola mata ayah' batinku memikirkan bola mata biru safir terang rymond alias ayahku itu. Tidak sama tetapi aku tetap memetiknya.
"Apa yang sedang kamu lakukan?" tanya kyle tepat disampingku.
"Memetik bunga untuk ayah" jawabku memetik bunga biru itu hati hati.
"Hati hati durinya"
"Aku tahu"
"Berhasil!" ucapku senang setelah selesai memetik bunga itu tampa cacat sedikit pun.
"ini" Langsung saja aku memberikan bunga itu padanya.
Ia dengan telaten membersihkan duri duri bunga mawar itu hati hati.
"Selesai, nih" Selesai ia membersihkan duri duri ia segera memberikan bunga itu padaku.
"wah, terima kasih" ucapku memperhatikan bunga mawar biru itu.
"Melakukan hal segampang itu tidak perlu berterima kasih" ucapnya terlihat membanggakan dirinya.
"oh" jawabku ber'oh'ria saja sambil melangkahkan kakiku melanjutkan jalan jalan.
"Hei, tunggu!" Kyle menyusulku untuk menemaniku berjalan jalan. Menyelusuri labirin untuk menemukan jalan keluarnya.
__ADS_1
***
"Ayah!" Rymond menoleh padaku setelah aku memanggilnya.
Ia menatap seseorang dibelakangku dengan dingin. Kyle masih mengikutiku dibelakang setelah menemukan jalan keluar ia masih saja mengikutiku.
"Ayah lihat" ucapanku menghentikan rymond yang menatap dingin kyle sedangkan si orang yang ditatap berkeringat dingin.
Rymond menatap bunga yang aku tunjukan padanya lalu menatapku.
mangerti arti tatapan rymond aku menjawab.
"Untuk ayah karena warna bunga ini seperti warna mata ayah" ucapku pada rymond.
Ia mengambilnya dan tersenyum menatapku.
Kulihat kyle tercengang menatap rymond, mungkin karena rymond tersenyum. Kyle yang pasti bawahannya rymond karena responnya begitu.
Beberapa saat kemudian sebastian datang dengan membawa beberapa dokumen ditangannya.
Ha? dokumen? apakah penyihir agung bekerja seperti itu? au ah. Apa peduliku tentang dokumen lebih baik aku memakan kue yang diberikan rymond padaku.
"Tuan ini laporan dari yang mulia kaisar yang harus tuan tanda tangani"
"Dari kaisar?" Huh? kaisar? Melihat rymond berkata begitu sepertinya dokumen atau laporan itu penting.
"Ya tuan" jawab sebastian seraya menyerahkan laporannya.
"Mmn" Rymond memperhatikan laporan itu dengan teliti dilihat dari wajahnya.
"Ada apa ayah?" tanyaku menatap rymond penasaran. Aku saat ini berada dipangkuan rymond dia sendiri yang menyuruhku. Lihatlah betapa kagetnya kyle sampai sampai dia diam termenung.
"Tidak ada hanya pemberitahuan kecil" jawab rymond mengusap rambutku lembut. Itu membuatku nyaman, jadi seperti ini rasanya diperhatikan oleh ayah.
"Eh? kyle dari mana saja kau? kau belum menyelasaikan tugasmu cepat selesaikan!" ucap sebastian menghampiri kyle yang termenung. Belum selesai temenungnya?.
__ADS_1
"Iya, iya akan aku selesaikan, tidak perlu seperti itu kak" ucap kyle mengusap telinga setelah mendengar ocehan sebastian.
"Kak?" ucapku.