Annoying Hero

Annoying Hero
Chapter 1


__ADS_3

Matahari bersinar redup kali ini. Awan mendung datang menyelimuti permukaan langit yang mendominasi warna hitam pucat. Burung walet terbang berhamburan tak tentu arah, mencoba mencari laju migrasi yang mereka tempuh. Berpuluh-puluh kilometer dari area pantai, jauh di sebuah hutan tandus berdirilah sebuah gubuk tua yang masih kuat menahan lapuk tiang yang sudah tersisa separuh termakan usia.


Seorang kakek tua berjalan terpincang-pincang akibat kaki rapuhnya yang sudah keropos akibat esteoporosis. Tongkat kayu sebagai penyangga ia jadikan tumpuan sembari melangkahkan kedua kakinya untuk terus berjalan menuju arah tujuan.


Sebuah pensil dengan ujung penghapus merah terselip di sebuah saku dada kakek tua tersebut. Kemana pun ia pergi, tak lupa ia akan membawa pensil kesayangannya. Memang, pensil ini terlihat biasa saja dan sudah usang. Tapi siapa sangka, pensil itu memiliki rahasia yang hanya kakek tua itu saja yang mengetahuinya.


"Huh...mati lagi apinya. Membuat ku kerepotan saja" Umpat kakek tua tersebut saat memasak air bersih dengan tungku api dari bara kayu.


"Sudahlah, aku malas mencari kayu bakar lagi. Lupakan tentang teh hangat yang akan aku buat. Aku ingin melanjutkan tulisanku" Gumamnya seraya melangkahkan kaki rapuhnya ke sebuah meja dekat jendela terbuka.


Dari dalam rumah, angin berhembus kencang. Melewati jendela terbuka, tampak debu berpasir memasuki gubuk reot milik kekak tua tersebut. Ia sama sekali tak menghiraukan hal itu. Dengan kacamata minus bertengger kokoh pada pangkal hidungnya, ia duduk pada kursi kayu.


Meja lapuk yang berada di depannya, ia perhatikan secara seksama. Terlihat sebuah buku tulis putih bertuliskan 'Annoying Hero' membuat si kakek tua tersenyum simpul. Tak lama, tangannya yang keriput mencoba menggapai pensil kesayangannya yang masih setia terselip di saku baju dada kirinya.


Karya : Tuan Lee Sue


Begitulah kakek tua itu menuliskan namanya pada cover buku tulis tersebut. Dengan perlahan ia membuka helai demi helai kertas pada buku putihnya tersebut. Membolak-balikan halaman dan mencoba meneliti setiap tulisan karyanya akhir-akhir ini. Ia sangat suka membuat gambar tokoh pahlawan dan beberapa karya tulis.

__ADS_1


Seniman komik. Sejak muda kakek tua bernama tuan Lee Sue tersebut sudah sering menggeluti pekerjaannya sebagai penulis komik. Menurutnya ini adalah satu-satunya obat untuk setiap penyakitnya. Ditambah lagi dengan pensil ajaib yang tak pernah patah sejak pertama kali ia membelinya dulu.


Dengan sedikit goresan hitam dan imajinasi yang tuan Lee Sue miliki, ia yakin bahwa komik karyanya yang berjudul 'Annoying Hero' akan laku dijual ke penerbit di kota. Apalagi nama dan beberapa karya tuan Lee Sue sebelumnya selalu menjadi best seller. Hebat bukan!?


Hutan evershin, daerah dimana lahan tandus yang banyak ditumbuhi tanaman beracun dan mata air yang mulai gersang. Di tempat inilah tuan Lee Sue menghabiskan sisa hidupnya. Tak ada kerabat ataupun saudara. Ia hidup sebatang kara. Masalah materi, ia tak terlalu memikirkannya. Setiap bulan uang dan sembako selalu datang menghampirinya. Bukan jatuh dari langit lewat doa yang ia panjatkan, tapi sembako itu di berikan oleh anak semata wayangnya yang tinggal di kota. Sedangkan uang, ia mendapatkannya dari kantor penerbit yang masih terikat kontrak padanya.


Setelah beberapa jam tuan Lee Sue berkutat dengan pensil serta buku putihnya, kini ia merasa kelelahan dan kemudian meneguk habis air mineral dari gelas yang tersimpan rapi atas meja.


"Aku menggambar pahlawan muda dengan sangat sempurna" Gumamnya seraya memperhatikan karya komiknya dari genggaman tangan kanannya "Harus ku beri nama siapa dia?" Ia meletakan kembali buku tersebut "Apa nama Sazuro cocok dengan dirinya? Hmm...kupikir itu bagus" Ungkapnya.


"Sazuro, jangan menungguku! Aku akan melanjutkan petualanganmu besok. Aku sudah lelah hari ini" Ucapnya pada buku putih yang baru saja ia tulis.


*****


Matahari telah terbit. Dengan malu-malu, cahayanya berjalan mengendap-endap memasuki gubuk si kakek tua. Secara perlahan mata milik tuan Lee Sue terbuka sedikit demi sedikit. Sinar sang mentari tampak sengat menyilaukan untuk mata setengah rabun miliknya. Dengan gerakan cepat, tuan Lee Sue bangkit dan menuju area dapur.


Bukan untuk memasak. Melainkan, ia ingin memasak air untuk membuat secangkir kopi panas di pagi hari. Dengan beberapa sisa kayu yang tersedia, ia mulai membuat api dengan alat pematik miliknya. Tak lupa, ia meniup api dari tungku tersebut agar bertambah besar.

__ADS_1


Sembari menunggu air rebusannya matang, tuan Lee Sue berniat membuka buku putihnya dan ingin melanjutkan karya tulisnya yang belum tertamatkan. Di usianya yang sudah setengah abad lebih, ia ingin menyelesaikan 'Annoying Hero' sebelum ia mati meninggalkan kehidupannya yang hampa. Meski tangan keriputnya terkadang merasa lelah menggambar, tapi ia tak pernah patah semangat untuk tidak melanjutkan karyanya ini.


"Kau kubuat punya dua sifat yang saling bertolak belakang Sazuro. Saat berada di hadapan para lawan, kau akan bersikap gagah dan berani. Namun, pada kacamata orang awam kau hanyalah bocah ingusan yang sangat menyebalkan. Kau bersikap sebagai seorang pengganggu hanyalah sebagai topeng untuk menutupi identitas mu sebagai seorang pahlawan" Gumamnya menceritakan watak tokoh tulisannya.


Kemudian, tuan Lee Sue kembali berjalan ke area dapur untuk melihat apakah air yang ia rebus sudah matang atau belum. Dengan perlahan, ia membuka tutup teko besi dengan salah satu tangannya.


"Sudah mendidih rupanya" Ujarnya dan kemudian ia mengangkat teko tersebut dengan hati-hati. Tak lupa mematikan sisa bara api agar tidak merambat membakar gubuk reot miliknya.


Dengan terampil, tangan tuan Lee Sue meracik bubuk kopi dan gula ke dalam gelas. Kemudian, ia menuangkan air panas yang baru saja ia masak. Mengaduk minuman tersebut agar tercampur rata.


Tuan Lee Sue melangkahkan kakinya dengan pelan menuju meja dekat jendela yang menjadi favoritnya. Tangan kiri yang memegang segelas kopi dan tangan kanan yang berpegangan pada tongkat kayu tak membuatnya kerepotan. Ia ingin melanjutkan komik kesayangannya yang akan menjadi karya tulisnya yang terakhir.


"Aku tidak tahu sampai kapan tanganku akan bisa menggambar kisah mu Zuro. Dan aku tahu bahwa pahlawan tidak akan bisa disebut pahlawan jika tidak memiliki tokoh penjahat. Maka dari itu, aku akan membuat tokoh lawan untukmu Zuro" Ujar tuan Lee Sue bermonolog.


Dengan senyum simpul yang terukir di wajahnya, tuan Lee Sue mulai menggoreskan pensilnya ke permukaan kertas kosong pada buku putihnya.


"Bagaimana Zuro? Kau ingin tokoh penjahatnya laki-laki atau perempuan?" Tuan Lee Sue berpikir sejenak.

__ADS_1


__ADS_2