Annoying Hero

Annoying Hero
Chapter 2


__ADS_3

Dengan coretan hitam yang tergores di atas buku tulis putih, sebuah tangan keriput yang memegang pensil berhasil membuat sebuah gambaran karya seni yang memukau. Tokoh seorang wanita cantik yang ia gambar. Dengan surai panjang dan poni yang bertengger manis di dahinya, membuat si tokoh menjadi wanita idaman bagi para kaum adam.


"Azura. Namamu adalah Azura" Gumam tuan Lee Sue pada hasil maha karya yang baru saja berhasil ia ciptakan.


"Dibalik parasmu yang cantik, siapa sangka kau adalah penjahat yang sangat kejam, Azura"


Tuan Lee Sue meletakkan pensil kesayangannya dan menyeruput kopi panas yang sudah tersaji di hadapannya.


"Aku yakin, komik ini akan laku keras di pasaran. Sazuro sebagai tokoh pahlawan yang sangat kekanak-kanakan, dan Azura si tokoh penjahat yang sangat pintar mengelabui Sazuro dengan pesonanya yang memikat. Banyak konflik yang tersaji dalam cerita komik ku. Dan tak lupa ku selipkan beberapa komedi di dalamnya. Para kaum muda lah yang pasti akan lebih dominan membaca komik ku" Guman tuan Lee Sue tampak senang.


"Tinggal beberapa bab lagi dan komik ini akan segera tamat!" Ucapnya dan kemudian meletakkan buku putih tersebut keatas meja.


Ukhuk...ukhukk...ukhukk...


Tiba-tiba tuan Lee Sue terbatuk dengan keras dan terdengar sangat tersiksa di bagin tenggorokannya. Dengan perlahan tangan keriputnya mencoba menggapai air putih yang berada di dalam teko.


Ukhuk...ukhukk...ukhukk...


Kini batuknya semakin keras. Dan teko tempat air yang ingin ia minum tak dapat ia gapai. Tangannya tak terlalu panjang untuk menggapainya.


Ukhuk...ukhukk...ukhukk...


Kini mulutnya yang sudah menghitam mengeluarkan darah segar dari dalam kerongkongannya. Semburan darah itu tanpa segaja telah mengenai buku komiknya. Darah itu menetes daru ujung buku hingga mengenai gambaran tokoh Sazuro dan Azura.


Seketika angin berhembus kencang dari arah luar. Semua benda perabotan yang ada di gubuknya beterbangan tak tentu arah. Karena dasyatnya hantaman angin tersebut, tuan Lee Sue menjadi terhempas dari kursi tempat duduknya.


Ia mencoba menahan angin tersebut agar tidak mencelakainya. Namun, apa yang ia usahakan sudah terlambat. Tuan Lee Sue jatuh terhuyung ke lantai dan mengakibatkan kepala belakangnya menghantam ubin yang keras.


Tak ada yang menolongnya. Dan tak lama penglihatan tuan Lee Sue memudar dan ia tak sadarkan diri di tempat.


Bersamaan dengan tuan Lee Sue yang pingsan, seketika pensil ajaib miliknya melayang di udara. Dengan hembusan angin kencang yang masih menerpa dan beberapa perabotan yang masih melayang, membuat gubuk tuan Lee Sue menjadi roboh. Kerusakan tak dapat dihindari, tempat ini benar-benar hancur. Tuan Lee Sue yang sudah terbaring lemah, tubuhnya sedikit terhimpit pada puing-puing gubuk yang berserakan. Kini yang tersisa hanyalah meja usang dan buku putih yang sudah ternodai darah milik tuan Lee Sue.

__ADS_1


Tak lama angin kembali mereda dan pensil ajaib tersebut bergerak sendiri diatas lembaran buku putih diatas meja. Pensil itu menorehkan noda hitam pada gambar tokoh Sazuro dan Azura. Sebuah lingkaran sempurna dengan dua gambar tokoh di dalamnya. Kemudian, pensil itu jatuh dan terhempas ke lantai.


Selang waktu sedetik, cahaya putih datang dari arah lingkaran tersebut. Dan beberapa jam kemudian keluarlah tokoh pahlawan yang tampan nan gagah berani. Sazuro, tokoh itu adalah Sazuro. Dengan baju perang khas kekaisaran yang terbuat dari besi,ia terlihat sama persis seperti panglima tempur yang siap melakukan pemberantasan kejahatan.


Ia diam mematung mengamati bangunan tua yang sudah roboh di depannya. Dengan ekspresi diam seribu jawaban, ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia bingung melihat keadaan ini. Begitu memilukan dan sangat memprihatinkan.


"Ada dimana aku?" Ucapnya memperhatikan sekitar.


"Kenapa aku bisa ada disini?"


"Dan tempat kotor apa yang ada di depanku?" Sazuro semakin dibuat bingung dengan tempat yang ia anggap antah berantah ini.


Sekilas ia melihat seorang kakek tua yang terbaring di atas lantai dengan sebagian tubuh yang terhimpit kayu lapuk bekas dinding gubuknya yang hancur.


"Pak, bapak bangun pak! Zuro mau tanya, sekarang Zuro ada dimana pak? Pak, bangun pak, bangun!" Ucap Sazuro seraya memanggil tuan Lee Sue yang terbaring tak sadarkan diri.


"Ya udahlah pak, kalau bapak gak mau bangun. Zuro mau pergi, selamat tinggal!" Ujar Zuro dan kemudian melangkahkan kakinya menuju arah terbenamnya matahari di sebelah barat.


Zuro melangkahkan kakinya menuju arah timur. Dengan tergesa-gesa setengah berlari ia terus memperhatikan jalan. Kosong, hanya ada tanah yang tandus dan beberapa semak belukar. Jarak berpuluh-puluh kilometer sudah ia lalui. Kini ia merasa haus dan lelah.


Tapi, pada saat ia sudah hampir mati kelelahan, ia melihat sebuah pantai yang banyak ditumbuhi pohon kelapa. Segera ia berlari menuju pantai tersebut. Tanpa pikir panjang ia membuka singletnya dan menceburkan dirinya ke dalam air.


Byuurrr...


Gemercik air terhempas ke udara. Dengan air yang sejuk dan angin yang berhembus kencang. Sangat menyegarkan.


"Akhirnya aku bisa mandi" Ucapnya girang.


Dengan lihai Zuro berenang kesana kemari bak ikan terdampar yang merindukan air.


"Aku haus. Aku ingin minum air ini" Ujarnya melihat air yang ia ceburi nampak bening.

__ADS_1


Perlahan ia menempelkan kedua tangannya untuk ia gunakan sebagai gayung. Ia mencelupkan tangannya kedalam air lalu mengangkatnya. Tersimpan beberapa tetesan air di tangannya. Dengan Spontan ia meneguk air tersebut langsung dari tangannya sendiri.


"Hooeek...air apa ini, kenapa rasanya sangat aneh di tenggorokanku" Ucapnya dengan berusaha memuntahkan air yang baru saja ia telan.


"Sudahlah, aku sudah terlalu lama berendam di dalam air" Pekiknya dan kemudian berjalan ke tepi pantai berpasir.


"Huhh, apa yang harus aku minum sekarang?"


"Oo..Oo..aa..aa..kelapa, kelapa" Samar-samar Zuro mendengar suara aneh di tempat ini.


"Siapa itu?" Panggil Zuro tapi tak ada jawaban. Zuro tak mau ambil pusing, akhirnya ia duduk di bawah pohon.


Tess..tes..


Tiba-tiba ada air menetes dari atas mengenai wajahnya. Segera ia mendongakkan kepalanya untuk mengetahui tentang apa yang terjadi diatas sana.


"Oo..Oo..aa..aa.." Seekor monyet tengah meminum air kelapa dengan riangnya di atas pohon.


"Hei apa yang kau lakukan?" Teriak Zuro untuk memanggil si monyet.


"Oo..Oo..aa..kelapa, kelapa" Jawabnya seraya meneguk air kelapa yang segar. Dan lagi-lagi air terciprat ke wajah sayu milik Zuro.


"Kelapa? Boleh aku minta kelapa mu" Ujarnya.


"Kelapa, kelapa!" Jawab si monyet dan kemudian diam tak bergeming.


"Huh...mungkin aku harus mencarinya sendiri" Gumamnya pelan.


Perlahan Zuro mulai memanjat pohon dengan hati-hati. Ia kuat dan terlihat sangat piawai dalam hal memanjat, padahal ini baru pertama kalinya ia mencoba. Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di pucuk pohon kelapa. Ia mencoba memetik kelapa yang ia rasa cukup besar.


_____

__ADS_1


bisa hargai karya orang kan?!


_____


__ADS_2