
“Tuntun aku kesana!” Pintanya dan kuturuti. Ku antarkan pria berjas putih ini ketempat dimana insiden lenganku tersayat duri.
“Ini” Ucapku saat aku sudah berhasil menunjukkan jalan padanya.
“Iya. Ini dia yang aku cari!” Gumamnya dan kemudian ia mengambil sebuah toples kaca dan memetik beberapa batang tanaman lalu dimasukannya kedalam toples.
“Bukanya tadi kau bilang ini beracun? Trus kenapa kamu mengambilnya?” Tanyaku penuh selidik.
“Aku ini seorang profesor. Dan aku ingin mengambil tanaman ini untuk bahan eksperimenku” Jawabnya dan membuatku bingung tapi aku hanya ber-oh-ria.
“Sudah, ayo kita kembali” Ajaknya dan kubalas anggukan.
“Siapa namamu nak?” Tanyanya.
“Sazuro, panggil saja Zuro” Jawabku “Kalau kamu sendiri?” Ujarku.
“Orang-orang memanggilku sebagai profesor Marveliz” Ucapnya dan tak lama kami sudah sampai di jalan aspal tempat pertama kali aku bertemu dengan profesor Marveliz.
“Hmm...dimana rumahmu Zuro, aku ingin mengantarmu pulang” Tawarnya dan langsung kugelengkan kepalaku cepat.
“Aku tidak punya rumah, dan kamu tidak usah mengantarku pulang. Aku ingin mencari tempat untuk berjelajah sampai aku menemukan tempat yang cocok untukku” Jelasku.
“Ahh baiklah, aku tidak memaksa”
“Emm...kau mau menjadi temanku?” Ucapku dengan menjulurkan salah satu tanganku untuk bersalamn dengannya.
“Tentu Zuro!” Jawabnya dengan menjabat tanganku.
“Kau mau ikut denganku ke kota?” Tawarnya.
“Apa itu kota?”
“Tempat yang sangat ramai”
“Baiklah aku mau!” Jawabku dengan senyum simpul.
“Naiklah ke mobilku!” Ucapnya dan langsung kuturuti. Aku duduk disamping profesor Marveliz dengan benda sepertj tali elastis melilit di tubuhku.
__ADS_1
“Kita berangkat!” Ucapnya dan membutku gembira saat ia mulai menancap gas mobilnya.
(Disisi lain)
“Ayah mau kemana? Kok bawa banyak makanan di bagasi?” Tanya seorang anak lelaki pada ayahnya yang terlihat mondar-mandir memasukkan bahan makanan kedalam bagasi mobilnya.
“Ayah mau kerumah kakek, Billy” Jawab sang ayah.
“Ayah, ikkuuutt!” Rengek sang anak.
“Tidak Billy. Rumah kakek sangat jauh dan kau tidak akan suka berada disana”
“Huh...ya sudahlah” Ujar sang anak dan kemudian berlari masuk kedalam rumah.
Setelah dirasa semua barang sudah dimasukkan kedalam bagasi, sang ayah kemudian masuk kedalam mobil dan melajukannya dengan kencang. Tak peduli dengan jalanan kota yang cukup ramai, ia menambah laju kecepatan mobilnya diatas rata-rata. Seketika firasatnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres. Ia tak tahu itu apa, tapi yang jelas ia ingin segera sampai kerumah ayah kandungnya yang tak pernah mau tinggal bersamanya di kota.
Drrrrrrtttt...drrttt...
Suara ponsel yang bergetar.
“Halo Leyou, kamu dimana? Disini ada seorang ibu membawa anaknya yang sedang sakit dan ia hanya ingin diobati olehmu” Cerocos seseorang yang menelpon si pria yang tengah melajukan mobilnya dengan terburu-buru. Sebuah name tag bertuliskan 'dr. Leeyou' dan sebuah jas putih ala dokter membungkus sempurna di tubuh tegapnya membuat semua orang pasti sudah tahu jika ia adalah seorang dokter.
“Ya sudah kalau begitu. Berhati-hatilah!” Peringat seseorang disambungan telepon dan kemudian terputus.
Leyou adalah anak dari tuan Lee Sue. Setiap satu bulan sekali ia selalu meluangkan waktu untuk menjenguk ayahnya dan memberi stok bahan makanan untuknya.
Ciiiittttt...
Dengan gerakan tiba-tiba Leyou menginjak rem mobilnya hingga sedikit membuat mobilnya nyaris terjungkal. Ia terkejut melihat sesuatu di hadapannya. Spontan ia turun dari mobil dan melangkahkan kakinya menuju gubug kayu yang sudah roboh dan hancur berantakan.
“Apa yang terjadi disini? Ayah kau dimana?” Panggil Leyou mencoba mencari tuan Lee Sue diantara bongkahan kayu.
Leyou tampak kebingungan. Ia mencari kesana kemari tapi tak kunjung menemukan sang ayah. Hingga ia frustasi dan menendang sebuah anyaman bambu yang biasa digunakan tuan Lee Sue sebagai dinding gubugnya.
Bruuakk...
Leyou menendangnya dengan cukup keras dan anyaman bambu itu terlempar hingga beberapa meter.
__ADS_1
“Ehh?” Ucapnya heran saat menemukan sesuatu dari balik anyaman bambu yang ia tendang. Sebuah tubuh keriput yang tertindih beberapa balok kayu yang lumayan besar. Tanpa menunggu lebih lama lagi, ia segera membongkar balok kayu tersebut dan terpampanglah tuan Lee Sue yang tak sadarkan diri. Mulutnya mengeluarkan darah. Dan jika diamati darah ini terlihat masih segar, dan itu berarti insiden yang dialami tuan Lee Sue belum lama terjadi. Dengan sisa tenaga yang ia punya, Leyou membopong ayahnya dan memasukkannya kedalam mobil. Ia melajukan kendaraan tersebut dengan kecepatan tinggi dan berniat membawa ayahnya ke rumah sakit.
SAZURO POV
Aku merasa nyaman duduk di kursi mobil milik profesor Marveliz. Sesekali kami mengobrol dan tertawa bersama. Kami sudah seperti teman lama, tanpa canggung ia menceritakan semua hal tentang dirinya. Tapi tidak denganku, aku tidak mau menceritakan identitasku padanya, karena aku tahu dia pasti tidak akan mengerti dan percaya tentang apa yang aku ceritakan.
“Kau mau makan?” Tawarnya.
“Memangnya ada makanan?” Tanyaku memastikam.
“Aku punya roti di dalam tasku. Kalau kamu mau ambil saja!” Ucapnya dan hanya kubalas anggukan sebagai jawaban iya.
Dengan perlahan kugapai tas milik profesor Marveliz di belakang kursi penumpang. Ku buka resleting tas tersebut dan tak ku temukan jenis makanan apapun.
“Kamu bohong, tidak ada roti di dalam tas mu” Ucapku mengerucutkan bibir dengan sebal.
Profesor Marveliz menengok kearah tas miliknya yang berada di pangkuanku. Dengan hati-hati tangannya terulur dan memasukannya kedalam tas.
“Ini rotinya” Ucapnya seraya menyodorkan roti yang berhasil ia temukan.
“Hehe, maaf aku tidak tahu” Ujarku sekenanya.
“Huhh, dasar bocah!” Gumamnya pelan dan tanpa basa-basi kulahap kasar makanan yang disebut roti tersebut.
“Kita sudah sampai” Ujar profesor Marveliz dan berhasil membuatku heran. Sampai? Sampai dimana?
“Kita sudah sampai dirumahku” Ujarnya yang seakan mengerti apa yang aku pikirkan.
Perlahan ku buka pintu mobil “Rumah yang aneh” Gumamku pelan yang melihat rumah profesor Marveliz berwarna-warni dan penuh warna, begitu ramai dan mencolok.
“Ayo masuk ke dalam” Ajaknya seraya memegang punggungku agar mengikutinya.
Ceklek...
Pintu utama sudah berhasil terbuka. Ku langkahkan kakiku memasuki sebuah rumah minimalis yang di dominasi dengan warna kuning cerah. Tak banyak perabotan disini, hanya empat buah sofa dan satu meja kaca yang ditempatkan ditengah-tengah. Di sudut ruangan terdapat tanaman yang sangat asing di indra penglihatanku. Bentuknya panjang dan tak memiliki dahan sedikitpun. Pada pot hitam tanaman tersebut bernodakan cat putih yang bertuliskan 'Lidah Buaya'. Aku heran, apa ia sudah tidak waras? Ia ingin mengecoh semua orang yang datang ke rumah ini. Sudah jelas itu tanaman, tapi kenapa dinamai lidah buaya? Benar-benar orang yang aneh. Ia pikir aku tidak tahu apa lidah buaya tidak memiliki bentuk seperti itu.
Tbc.
__ADS_1
Tau kan gimana caranya menghargai karya orang lain!!!!!!!!!!!!