Annoying Hero

Annoying Hero
Chapter 3


__ADS_3

Slluurrpp...


Zuro menyesap air kelapa segar yang berhasil ia pecahkan dengan tinju kerasnya. Ia meneguk air itu sampai habis tak tersisa. Dengan perasaan heran, Zuro mengamati daging putih yang menempel pada bagian dalam buah kelapa.


"Hei monyet, apa ini bisa dimakan?" Tanya Zuro pada si monyet yang berada di sebrang pohon.


"Oo..oo..Aa..aa.." Jawab si monyet dengan menyengir memperlihatkan deretan gigi mungilnya.


"Ku anggap sebagai jawaban IYA" Ujar Zuro bersemangat.


Dengan sabar Zuro mengupas daging kelapa dengan tangannya sendiri. Tanpa ragu ia memakan dan mengunyah daging tersebut. Sebuah senyum simpul kini terukir di wajah tenang miliknya.


"Wow, ini enak sekali!" Ujarnya dan kemudian ia menghabiskan daging buah kelapa dalam sekejab.


"Huh, sepertinya aku harus segera melanjutkan perjalananku" Gumamnya pelan.


Dengan gerakan kilat, Zuro melompat dari atas pohon dan mendarat dengan mulus diatas pasir. Tanpa adanya bekas luka, Zuro segera berjalan cepat menuju arah timur untuk melanjutkan perjalanan. Tak lupa ia telah memakai singlet yang sebelumnya ia lempar ke sembarang arah saat akan berenang.


Dari arah yang cukup jauh, Zuro melihat siluet bukit yang masih sangat asri dan dipenuhi oleh pepohonan. Ia ingin pergi kesana dan mencoba meneliti apa saja yang dapat ia temukan di hutan sana.


Hanya butuh waktu satu jam, kini Zuro telah sampai di bukit tersebut. Dari awal pendakian hingga ia sampai di puncak bukit yang tak terlalu tinggi ini, tak ada satupun binatang yang ia temui. Sepi dan hening tanpa adanya suara-suara yang menemani perjalanannya. Ia duduk di dahan pohon yang besar dan mencoba mengamati pemandangan yang tak pernah ia lihat sebelumnya.


Dari arah yang tak terlalu jauh, samar-samar Zuro melihat sebuah benda besi berukuran besar yang dapat berjalan dengan sendirinya. Ia penasaran dan ingin sekali menghampiri benda tersebut. Zuro ingin mengajak benda besi itu menjadi temannya, ia tak mau kesepian lagi.


(Disisi lain)


Seorang lelaki paruh baya berjalan dengan gagahnya menuju garasi. Sebuah jas putih dan kemeja rapi dengan sempurna membungkus tubuh tegap miliknya. Tak lupa kacamata minus telah bertengger manis di pangkal hidungnya yang mancung bak perosotan taman bermain.


"Mbok, saya mau pergi. Kalau pekerjaan rumah sudah beres, si mbok bisa pulang dan jangan lupa kunci rumah ini biar gak ada maling yang masuk" Ucapnya pada seorang wanita tua dengan pakaian lusuh.


"Siap profesor Marveliz" Jawab si wanita tua.

__ADS_1


Ya, nama dari pria berjas putih tadi adalah profesor Marveliz. Ia tinggal di kota Metrokeza yang berada di negara Mazuya. Kota yang cukup besar dengan hiruk pikuk keramaian penduduknya yang kebanyakan para perantau yang sengaja mengadu nasip di kota ini.


Tangannya yang terulur mencoba membuka pintu mobil dan berniat pergi ke suatu tempat yang ia anggap penting. Ia menancap gas dengan kecepatan sedang. Ia tak memakai seatbel, ia selalu merasa tak nyaman ketika sedang menggunakannya. Begitu sesak dan terasa memeluk tubuhnya.


"Pencarian dimulai!" Gumamnya pelan.


Profesor Marveliz ingin pergi ke bukit terpencil di ujung kota untuk mencari tumbuhan langka yang bisa ia buat menjadi bahan eksperimennya. Tempatnya cukup jauh. Membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalan untuk sampai di lokasi bukit tersebut.


Dengan menambah laju kecepatan mobil yang ia kendarai, mungkin ia akan lebih cepat sampai ke tempat tujuannya. Jalur menuju bukit itu sepi dan sangat jarang di lewati oleh pengendara motor maupun mobil. Banyak rumor beredar yang mengatakan bahwa bukit tersebut angker dan banyak tanaman beracun yang tumbuh disana. Hal ini sama sekali tak membuat profesor Marveliz takut, justru ia semakin bersemangat untuk menjelajahi tempat tersebut. Ia merasa penasaran dengan tumbuhan beracun yang ada disana. Ia ingin mengambil beberapa sampel untuk membuat racun mematikan yang bisa digunakan untuk melumpuhkan musuh.


Dari kaca depan mobil, bukit berbahaya tersebut sudah terlihat oleh kedua pasang mata milik profesor Marveliz. Ia menambah laju kecepatannya dan pada saat sudah hampir sampai, seketika mobilnya berhenti dengan tiba-tiba.


Ciiiittttt...


Profesor Marveliz menginjak rem secara mendadak karena ada sesuatu yang mengharuskannya berhenti.


SAZURO POV


"Aku harus secepatnya pergi kesana!" Ucap ku seraya turun dari pohon dan berniat menghampiri benda besi tersebut. Dengan berlari secepat kilat, ku turuni bukit ini tanpa menggiraukan beberapa batu dan ranting menusuk sakit telapak kaki ku. Tak terasa tinggal beberapa langkah lagi aku akan sampai tepat di hadapan benda besi itu. Aku akan menambah laju kecepatanku.


"Aaaaww.." Teriak ku sedikit kesakitan saat ada tumbuhan berduri menempel dan menusuk lenganku tanpa sengaja. Tapi tetap tak ku hiraukan, aku terus berlari tanpa memperdulikan darah yang mengalir dari luka sayatanku.


Bruukk...


Aku mendarat dengan mulus saat aku mencoba melompat ke jalan aspal yang membuat batu kerikil menempel pada telapak kaki ku menjadi semakin dalam menusuk kulit. Itu sedikit sakit, dan tentang lenganku, tumbuhan berduri tajam itu masih saja menempel dan membuat darah semakin deras mengacur dari lenganku.


Ciiiittttt...


Suara dari benda besi ini terdengar begitu buruk di telingaku. Dan dengan sekejab benda itu berhenti dan nyaris menabrak tubuh ku. Aku diam tak bergeming, kemudian mata dari benda besi ini berhenti memancarkan cahaya.


Selang beberapa detik setelahnya, dari samping benda besi ini muncullah seorang pria yang memiliki mata dua lapis. Ia menatap ku dengan tatapan intens. Apa yang telah diperbuat oleh benda besi ini sehingga bisa mengeluarkan manusia dari dalam perutnya? Apa besi ini memakannya? Jika benar, aku tidak mau berteman dengannya! Dia ternyata jahat.

__ADS_1


"Hei bocah, ngapain kamu disitu? Kenapa kamu tidak menyingkir saja dari jalananku?!" Ucap pria bermata lapis.


"Apa maksudmu? Justru aku yang harusnya bertanya, kenapa bapak bisa berada di dalam perut benda besi ini? Apa bapak pasrah dimakan secara utuh olehnya?!" Ucapku tegas dengan menunjuk-nunjuk kearah benda besi di hadapanku.


Pria itu berjalan mendekatiku "Astaga, apa kamu tidak tahu, ini namanya mobil dan memang seperti ini cara menggunakannya!" Jawabnya tegas.


"Begitu kah? Jadi, bapak tidak dimakan benda besi ini?" Tanyaku heran.


"Tentu saja tidak. Dan hei, kenapa tangan mu bisa berdarah seperti itu?"


"Ini?" Aku melihat kearah lukaku "Aku tadi berlari dan tak sengaja tanaman ini mencelakai ku"


"Lalu, kenapa kau tidak mati?"


Aku mengerutkan dahi "Apa maksudmu?"


"Tanaman yang menempel di tangan mu itu memiliki duri yang sangat beracun. Dan coba kau lihat, ada duri yang menancap dengan sangat dalam di lukamu"


"Memangnya sekarang aku harus mati?"


Pria ini memegang kedua pundakku "Kau tahu, jika duri itu menancap pada kulit dan apabila racunnya telah tercampur dengan aliran darahmu, maka dalam waktu sekejab kau bisa mati?"


"Tapi aku tidak merasakan apapun" Ucapku heran dengan keadaanku.


“Dari mana kamu menemukan tanaman ini?”


“Di sana” Aku menunjuk kearah selatan “Dari semak belukar yang besar dan terdapat banyak duri”.


__________


Tau kan gimana caranya menghargai karya seseorang🧐

__ADS_1


__________


__ADS_2