Annoying Hero

Annoying Hero
Chapter 5


__ADS_3

“ZURO!!” Teriak profesor Marveliz tepat di telingaku.


“Jangan teriak-teriak, ini bukan hutan. Nanti kalau kuping ku jadi budek gimana coba?!” Tukasku.


“Salah sendiri punya kuping gak di pake. Udah di panggil berkali-kali tapi gak denger-denger. Mikirin apa sih, sampe segitunya?” Jawabnya dengan menyilangkan kedua tangannya diatas dada.


“Hhmm, kamu penipu!!” Tegasku.


“Wait! Maksudnya apaan nih?!” Ujarnya mengernyitkan dahi.


“Liat!” Aku menunjuk kearah tanaman bertuliskan 'Lidah Buaya' “Kamu pikir aku bodoh apa, itu tanaman panjang bukan lidah buaya. Lagi pula lidah buaya itu sangat susah didapatkan” Omelku.


Seketika ia menepuk jidatku dengan keras “Woi bocah, benda itu memang tanaman tapi namanya tanaman lidah buaya. Emang kamu datang dari abad berapa sih, kok bisa-bisanya kamu gak tahu?!” Jelasnya dan aku hanya ber-oh-ria.


“Sudah, ayo duduk” Ajaknya dan langsung kuturuti. Kami duduk berdampingan diatas sofa yang panjang.


“MBOK, buatin minuman dingin dua” Perintahnya yang entah ia berikan kepada siapa.


“Siap profesor!” Ucap seseorang yang tak terlihat wujudnya. Apa rumah ini berhantu?


Dan tak lama seorang wanita tua datang dengan membawa nampan berisikan dua buah minuman yang terlihat sangat menggiurkan. Perlahan kedua minuman tersebut diletakkan diatas meja di hadapanku.


“Maaf profesor, anak laki-laki ini siapa? Dan kenapa tangannya berdarah?” Tanya wanita tua tersebut.


“Ahh...ya, aku sampai lupa. Tolong ambilkan kotak P3K yang ada di kamar saya mbok!” Pinta profesor dan langsung dituruti oleh wanita tersebut. Apa wanita tadi seorang dayang?


“Bagaimana luka mu?” Tanya profesor.


“Aku harus menjelaskan apa. Sudah kubilang kan sejak tadi, aku sama sekali tidak merasakan sakit sedikut pun” Jawabku.


“Tapi durinya masih menancap”


“Sebentar!” Kucabut paksa duri itu dari lenganku “Sudah kan?!” Jawabku meremehkan, dengan duri yang berhasil aku cabut.


“Sakit?” Tanyanya dan aku menggeleng cepat.


“Kepalamu pusing?” Tanyanya lagi.


“Sama sekali tidak!” Jawabku singkat.


“Lalu, apa yang kamu rasakan saat ini?” Tanyanya untuk yang kesekian kali.


“Aku lapar” Ungkapku dengan jujur. Tak lama datanglah lagi wanita tua yang dipanggil si mbok oleh profesor.


“Ini profesor” Ujarnya seraya menyodorkan kotak putih bertuliskan P3K.


“Makasih mbok” Jawab profesor pada si mbok, dan kemudian ia menoleh kearahku “Berikan tanganmu!” Pintanya dan langsung ku perlihatkan lukaku padanya.

__ADS_1


Aku tak tertarik melihat apa yang manusia ini lakukan pada tanganku. Aku lebih memilih meminum minuman dinginku dengan mengaduk-aduknya perlahan. Minuman ini berwarna biru dan memiliki rasa yang segar. Karena rasanya enak, akhirnya kuteguk habis minuman tersebut. Tanpa sengaja sebuah benda yang asing ikut masuk kedalam mulutku. Rasanya aneh, sangat dingin dan keras. Perlahan ku gigit benda tersebut dan kuarasakan sensasi seru yang menggugah hasratku. Terus ku kunyah benda dingin tersebut dan tak lama benda itu mencair dan hilang dari mulutku. Aku sedikit kecewa, aku menginginkan benda dingin itu lagi!


“Selesai!” Ujar profesor dan spontan kulihat lenganku yang sudah bersih dari darah dan berbalut kain putih.


“Bagus!” Ucapku singkat “Aku mau minta benda dingin di minumanku lagi” Pintaku.


“Benda dingin? Es batu maksudmu?” Tanyanya dan langsung ku anggukan kepalaku.


“Jadi nama benda dingin itu es batu” Batinku dalam hati.


“Mbok, kembalikan kotak ini ditempat semula dan ambilkan Zuro es batu” Ujar profesor memerintah.


“Baik profesor” Jawab si mbok dan melenggang pergi dengan membawa kotak P3K.


“Oo, jadi pemuda ini namanya Zuro” Gumam si mbok yang samar-samar masih bisa ku dengar.


“Nanti setelah ini kita makan, ok!” Ajaknya dan senyum manis seketika muncul dari wajahku.


“Siaaappp” Jawabku dengan penuh semangat.


“Es batu datang” Ucap si mbok yang datang membawa gelas berisikan es batu dan air.


“Sini mbok, aku mau!” Aku langsung berdiri dan meminta minuman tersebut.


“Kletaak, kletaak, kletaaaakk” Suara kunyahan kasarku yang menggigit es batu dingin ini.


“Hehe, maaf” Jawabku cengengesan.


Hanya butuh waktu beberapa menit es batu dari gelasku pun sudah habis kutelan. Aku suka menggigit-gigit es batu, karena pada saat aku melakukannya, kurasakan sensasi seru bercampur dingin yang memainkan mulutku. Aku tidak akan pernah puas memakannya.


Kruuukkk...kruukk...


Suara perut laparku yang menggelora di indra pendengaran seluruh penghuni ruangan ini membuatku malu. Perutku terasa sakit dan seperti ada cambuk yang menguliti ginjalku. Perih rasanya.


“Kita makan sekarang” Titah profesor Marveliz yang peka dengan keadaan ku saat ini.


“AYO!” Jawabku bersemangat.


Aku, profesor dan si mbok berdiri “Sebentar profesor biar saya siapkan dulu makanannya. Permisi” Pamit si mbok dan berjalan meninggalkan ruangan.


“Bentar mbok, aku mau bantuin” Ujarku dan si mbok hanya mengangguk pelan dengan senyum tipis yang nyaris tak terlihat.


“Permisi profesor” Ucapku sopan saat berjalan melewati profesor untuk mengejar si mbok yang akan pergi ke dapur.


Aku berjalan santai dibelakang si mbok, ia tak mengatakan hal apapun, sepertinya ia tipe pendiam. Sama sekali tidak ada obrolan apapun diantara kami, sangat sepi, hening dan sunyi.


Tap, tap, tap, hanya suara dentuman langkah kaki yang mengisi kekosongan di telingaku. Dan tak lama kami sampai di dapur yang tepat di sebelahnya terdapat meja makan yang bersih.

__ADS_1


“Mbok?” Panggilku dan ia menoleh.


“Iya mas” Sahutnya.


Aku menghela napas gusar “Namaku bukan mas mbok, namaku Sazuro” Aku memiringkan kepala ku ke kanan “ Panggil Zuro saja” Lanjutku.


“Iya Zuro, ada apa?” Tanyanya.


“Gak papa si mbok cuman pengen manggil aja, hehe” Ucapku dengan menggaruk belakang tengkukku, kikuk.


“Huhh, kirain ada apa” Ucapnya dan kemudian melenggang pergi menuju dapur dan mematikan kompor “Hmm, Zuro tolong ambilkan mangkok di atas rak piring” Pintanya.


Mataku mencoba menelisik keseluruh ruangan “Mangkok yang mana mbok” Tanyaku yang melihat beberapa deretan mangkok yang beraneka ragam bentuk dan corak.


“Yang ukuran sedeng aja” Titahnya dan langsung ku turuti.


Kuambil perlahan mangkok yang diinginkan oleh si mbok. Mangkok yang ingin aku ambil berada di tengah antara deretan mangkok-mangkok lainnya. Dengan cepat ku tarik mangkok itu dan menggenggamnya kuat. Tak terlalu sulit, tapi sebuah suara riuh terdengar aneh ditelingaku.


Kraak...


Suara tersebut ternyata berasal dari gesekan mangkok yang ku tarik dengan tanganku.Dan sedetik kemudian aku melesat menghampiri si mbok yang tengah mengaduk sesuatu dari dalam panci yang diletakkan diatas kompor.


“Ini mbok” Ucapku dengan menyodorkan mangkok yang sudh kuambil.


“Oh, ya makasih” Jawabnya dan menerima mangkok yang kuberikan.


Seketika aku mencium aroma yang memekik di hidungku “Bau apa ini mbok? Kok harum banget” Ujarku.


“Ini lo, si mbok lagi masak soto ayam. Makanya baunya harum” Jawabnya seraya memindahkan kuah soto kedalam mangkok yang sudah kuambilkan tadi.


Aku menahan air liurku yang sudah hampir menetes “Uuh! Jadi gak sabar pengen cepet-cepet makan"


Si mbok menyodorkan mangkok yang sudah berisi soro padaku “Taruh di atas meja makan” Titahnya dan dengan segera aku menerima mangkok itu dan berjalan menuju meja makan.


Ku letakkan mangkok yang kupegang ditengah meja yang berbentuk bundar ini “Nyicipin dikit boleh lah ya, hihihi” Gumamku dan sedetik kemudian kuambil sendok untuk mencicipi soto tersebut. Ku layangkan sesendok soto kedalam mulutku dengan meniupnya terlebih dahulu, karena soto tersebut masih mengepulkan asap panas.


“Zuro, jangan makan dulu! Kita tunggu profesor Marveliz dulu, nanti kita makan bareng-bareng” Panggil si mbok dari arah dapur yang mengagetkanku.


Slrruuuppp...


Dengan segera kumasukkan sendok berisikan soto tersebut kedalam mulutku. Aku sudah tahu pasti si mbok akan melarangku, jadi langsung saja kutelang dengan cepat “Maaf mbok, aku cuman nyucipin sesendok aja kok, gak lebih” Tukasku.


“Ya sudah, kalau gitu tolong panggilin profesor. Bilang kalau makanannya sudah siap!” Pinta si mbok dan aku mengangguk pelan sebagai jawaban iya.


***Tbc.


wajib tinggalkan jejak***!

__ADS_1


__ADS_2