
Happy Reading😉
Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu, tapi nihil. Tak ada profesor disana. Kucari diluar rumah, tapi juga tak kutemukan. Mungkin, ia sedang bersembunyi? Sudah beberapa kali ku panggil namanya, tapi ia tak mau menjawab. Jika tidak salah, tadi profesor membawa beberapa tanaman beracun dari hutan bersamaku. Apa profesor sedang mengambil tanaman itu dari dalam mobil? Saat sudah merasa penasaran, akhirnya kulangkahkan kakiku menuju garasi untuk mengecek keberadaan profesor.
Tap, tap, tap, aku melangkahkan kakiku dengan malas. Aku sudah sangat kelaparan, seharusnya profesor saat ini sudah aku temukan di ruang tamu, dan kita bisa cepat makan. Tapi, ya sudahlah, sebaiknya aku segera bergegas mencarinya agar aku bisa segera makan.
“Profesor?” Panggilku saat sudah berada di garasi mobil “Profesor didalam?” Tanyaku masih dengan nada memanggil.
“Yaa!” Jawab profesor dari dalam mobil.
Ku berjalan menghampirinya “Prof?” Panggilku yang mengamati dirinya dari balik kaca pintu mobil. Ia terlihat sibuk dengan beberapa toples berisi dedaunan dan sebuah buku di tangannya.
Melihatku, profesor Marveliz keluar dari mobil “Makan siangnya udah siap?” Tanyanya berdiri tepat di depanku.
“Udah. Ayo prof kita makan bareng” Ajakku dengan menyunggingkan senyum penuh pesona.
“Ya udah, ayoo!” Ia menggandeng tanganku dengan lembut dan membawanya menuju ruang makan.
Meja bundar yang tadinya kosong kini telah penuh dengan beberapa menu makanan buatan si mbok. Semua terlihat enak dan menggiurkan. Ditambah aroma soto ayam yang sedari tadi menusuk hidungku membuat air liurku tak terasa menetes. Tanpa menunggu aba-aba, kuhempaskan bokongku pada kursi kosong yang melingkari meja makan.
“Mbok, ayo makan bareng! Jangan hanya berdiri disana!” Pinta profesor yang melihat si mbok berdiri di dekat rak piring.
“Ehh, emm. Baik profesor” Jawab si mbok yang langsung menuruti perintah tuannya.
Kami makan dengan hening dan sunyi. Hanya terdengar suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu. Kurasakan soto ayam masakan si mbok dengan nasi putih di dalam mulutku. Sungguh, ini adalah makanan terenak yang pernah kumakan. Dan setelah sepuluh menit, kami menyelesaikan acara makan siang kami dengan minuman dingin favorit kami masing-masing.
“Makasih prof, sekarang Zuro udah kenyang. Zuro mau pamit” Ujarku seraya bangkit dari posisi dudukku.
“Aku pikir kamu lebih baik tinggal disini saja”
“Nggak deh, aku mau lanjutin perjalanan. Aku mau nyari tempat yang sesuai denganku”
“Maksudmu, rumahku tidak sesuai untukmu?”
“Bukan begitu. Aku hanya ingin lebih mengenal tempat ini”
“Baiklah kalau begitu. Jangan nakal-nakal ya” Pinta profesor seraya bangkit dari duduknya dan mengacak lepas ujung kepalaku.
“Yee, emang Zuro anak kecil apa?!” Jawabku dan langsung menepis tangan profesor.
“Ya udah. Yang penting hati-hati” Ucapnya dan aku pun melenggang pergi dari rumah profesor Marveliz sendirian.
__ADS_1
Dengan langkah kaki yang panjang, ku telusuri jalanan kota yang memang sangat ramai. Kulihat beberapa mobil berjalan melewatiku tanpa berhenti dan menyapa. Di sekitar langkah-langkahku, aku di keilingi oleh banyak penduduk yang sibuk memainkan benda pipih persegi yang digenggaman
tangan mereka masing-masing. Mereka terus mengamati benda itu tanpa berbicara dan saling sapa pada pejalan lain yang melintasi mereka. Apa manusia di bumi sesombong itu?
Aku terus berjalan menyusuri jalanan yang semakin lama semakin gelap akibat matahari yang sebentar lagi akan tenggelam dimakan rembulan. Aku duduk di tepi jalan yang memiliki penerangan yang sangat minim. Perlahan kupijat pelipisku dengan jari jempol dan telunjuk tangan kananku. Aku begitu sulit memahami kondisi di planet bumi ini. Ramai namun sepi, ada tapi dianggap tiada. Seperti halnya dengan diriku, aku sudah memasang wajah memelasku, tapi tak ada satupun manusia yang mencoba membantuku. Ralat, bahkan tak ada yang sudi melihat kearahku.
Puk,
Seseorang menepuk pundakku dari arah belakang. Spontan ku putar kepalaku untuk menengok kearahnya. Terlihat sesosok anak lelaki bertubuh kurus dan pakaian yang compang-camping berdiri di depanku. Aku bangkit dan menekuk lutut untuk menyamai tinggi anak kecil tersebut.
“Ada apa?” Ujarku dengan ekspresi datar.
“Kakak miskin?” Tanyanya to the point.
“Ha? Memang apa urusannya denganmu?”
“Jawab aja!” Ketusnya dengan menatap bola mataku intens.
“Aku nggak punya rumah, aku nggak punya uang dan aku juga nggak punya pekerjaan. Jadi, bisa dikategorikan kalau aku ini orang miskin”
“Bagus!” Jawabnya yang justru membutku mengernyitkan dahi.
“Maksudnya?”
“Maksudmu, aku harus menyanyi?” Tanyaku mengernyitkan dahi, lagi.
“Ya iyalah. Namanya juga ngamen” Ujrnya dan kini wajahnya berubah menjadi masam.
“Aku tidak mau!!” Tolakku cepat.
“Di pikir-pikir aja dulu” Bocah kecil ini mengeluarkan sesuatu dari dalam kantong celananya “Nih, kartu nama aku. Kalau kakak berubah pikiran, hubungin aja nomornya” Jelasnya dan menyodorkan secarik kertas yang terpampang jelas sebuah logo hati dengan hewan naga ditengahnya.
“Wait! Kartu nama? Coba liat!” Jawabku dengan gerakan kilat merampas secarik kertas ditangannya.
“Faza. Ohh nama anak kecil ini Faza” Batinku dalam hati setelah membaca isi dari kartu nama si pengamen.
“Nama kamu Faza?” Tanyaku mencoba memastikan.
“Iya. NAMAKU FAZAAAAAA..AAA” Teriaknya dengan suara lantang dan sedikit cengkok di akhir teriakannya.
“Kagak usah teriak-teriak juga kalik!” Tukasku memperingatkan.
__ADS_1
“Hehe, maaf. Kalo kakak sendiri namanya siapa?” Ucapnya dengan menatap mataku lekat-lekat.
“NAMAKU SAZUROOOOOOOOOO..OO.OOO” Teriakku tak kalah keras dengan teriakan Faza, dan ku beri sedikit cengkok pada akhir teriakanku.
“Katanya tadi gak usah teriak-teriak!” Kata Faza seraya mengerucutkan bibir.
“Balas dendam aja” Jawabku enteng.
“Huhh, dasar. Tapi suara kak Sazuro bagus juga sih. Boleh lah kapan-kapan ikut aku latihan ngeband” Tawar Faza dengan senyum yang tak dapat kuartikan. Ditambah kedua alis yang naik turun bersamaan.
“Iya nanti main, hooaammm...” Ucapku dengan menguap menahan rasa kantuk.
“Kak Sazuro ngantuk? Pulang aja gih. Takutnya nanti malah ketiduran disini,kan bahaya” Peringatnya dengan ekspresi sedikit cemas.
“Aku nggak tahu harus pulang kemana. Aku nggak punya rumah” Ujarku dengan wajah datar sedatar papan triplek ujian.
“Ikut aku aja yuk. Kita tidur di rumahku” Ajaknya dan ku angguki sebagai jawaban setuju.
Aku berjalan bersejajar dengan Faza. Tubuh lusuhnya membuat penampilannya semakin terlihat natural bahwa ia adalah seorang gelandangan. Tapi ku pikir aku salah, ia tadi berkata bahwa ia mempunyai rumah. Jadi disini yang lebih pantas berperan sebagai gelandangan mungkin aku, karena aku sama sekali tidak memiliki rumah untuk berteduh.
Hingga beberapa saat kemudian, Faza tiba-tiba berhenti di sebuah tempat kumuh yang terdapat aliran air di dekatnya. Kulihat ada beberapa anak seusia Faza tengah terlelap kedinginan diatas gelaran kardus di sebuah tempat terbuka dan menakutkan seperti ini.
“Ini apa?” Tanyaku penasaran.
“Rumahku” Jawabnya dengan wajah tenang seakan ia sendiri tak mempermasalahkan kondisi tempat yang ia sebut rumah.
“Lalu, mereka siapa?” Tanyaku lagi dengan menunjuk ke arah anak-anak lain disekitarku.
“Teman-temanku. Sekarang kita tidur disini” Faza menunjuk kearah tempat kosong dekat dinding “Ayo!” Ajaknya.
Aku mengangguk padanya “Sebenarnya ini tempat apa?” Tanyaku seraya menggaruk belakang tengkukku yang tak gatal.
“Kolong jembatan. Kenapa? Ada masalah?” Ujarnya dengan ekspresi yang tak dapat kuartikan.
Tbc.
👉 Wajib follow author
👉 Wajib tekan jempol
👉 Wajib coment
__ADS_1
👉 Wajib jadiin favorite