
ππππ π
"T-tuan Zeleon, saya permisi Nona, Tuan," setelah mengucapkan Bibi (sekarang manggil pelayan tadi Bibi ya) langsung pergi.
"Oh gitu ya,"
Zeleon mengeryitkan dahinya, kemudian menetralkan wajahnya seperti semula, datar.
"Apa kau benar benar lupa?"
"Um ... ya,"
Zeleon berjalan ke arah Ciana, kemudian menaiki ranjang dan menidurkan kepalanya di p*ha Ciana.
Ciana kaget bukan main. "Eh ngapain?"
"Aku tidak bisa tidur di kediamanku jadi aku akan tidur disini," ucapnya sambil memejamkan mata kemudian mendusel-ndusel p*rut Ciana.
"Eh enak aja, gak! Turun gak kalo gamau turun aku cepu ke Ayah!" Ciana menggeser kepala Zeleon yang masih mendusel-ndusel p*rutnya.
"Cepu? Apa itu? Tapi aku tidak ingin turun, aku mau di sini dan tidak ada yang bisa melarang ku," tegas Zeleon membuat Ciana menelan ludahnya dengan susah payah.
"Terserah mu!" Ciana pasrah, dia juga senang siapa yang ga senang kalo orang tampan tiba-tiba tidur di pahanya. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan ini, yaitu mengelus-elus rambut Zeleon. Ciana menjerit dalam hati, karena inilah yang selama ini dia inginkan yaitu mengelus-elus rambut Pria tampan.
"Apa kau mencintai ku?" tanya ciana.
'Anj*r kenapa mulut gue? Kenapa tiba-tiba gue nanya kayak gitu?!' batin Ciana.
"Um ... tidak," jawaban Zeleon membuat mata Ciana melotot ke arahnya.
"Pergi sana! Aku tidak ingin melihat mu." tanpa aba-aba Ciana berdiri kemudian menyilangkan tangannya ke depan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Zeleon bingung kemudian mengubah posisinya menjadi duduk.
"Ada apa?! CEPAT KAU PERGI, JANGAN HARAP AKU AKAN MEMAAFKAN MU!"
Ciana memegang lengan baju Zeleon dengan maksud ingin meny*ret dia keluar kamar, namun tidak sesuai ekspektasi. Badan zeleon tidak tertarik sedikit pun.
Ciana mendengus kemudian melepaskan tanganya dari lengan Zeleon. "Kenapa kau berat sekali?!"
"Kau yang tidak punya tenaga," ucap Zeleon dingin tapi terdengar seperti mengejek.
"Oo ... beraninya kau!"
ππππ π
"Oo ... beraninya kau!" Ciana mengambil bantal kemudian memukulkannya ke wajah Zeleon. "Apakah aku masih tidak punya tenaga?" Ciana mengangkat satu ujung bibirnya ke atas.
Wajah Zeleon tiba-tiba berubah menjadi merah padam menahan amarah. Ciana yang melihat itu, meneguk ludahnya dengan susah payah.
'Kenapa mood orang ini gampang berubah sih, mati gue. Mana serem banget kalo lagi marah kaya gini, gue harus lakuin sesuatu!' batin Ciana.
"Bro?" Zeleon mengeryit heran.
'Eh iya diakan gatau bahasa gue, em ... kerjain deh dikit gapapa kan?' batin ciana
"Bro itu nama lain dari tuan," Zeleon hanya mengangguk kecil.
Zeleon bangkit dari ranjang, kemudian berjalan menuju pintu kamar. "Jangan lupa nanti malam datang ke istana,"
"Ngapain?"
"Apa kau lupa lagi? Apa kau lupa ingatan?"
__ADS_1
Ciana berdecak. "Tidak, aku hanya lupa kegiatan akhir-akhir ini,"
"Baiklah, aku akan pergi. Jangan lupa juga nanti memakai gaun berwarna putih,"
"Kenapa harus berwarna putih, kenapa tidak hitam saja?" tapi tak ada jawaban dari Zeleon karena ia sudah menghilang dari balik pintu.
'Kan aku bisa sekalian layat,' lanjut ciana dalam hati.
πππ
Sekarang Ciana sudah memakai gaun cantik berwarna putih, sesuai yang diperintahkan si Zeleon. Dan itu menambah kecantikan Ciana, sampai sampai pelayan melayangkan pujian terus menerus sampai rasanya telinga Ciana hampir meledak.
"Nona anda sangaβ,"
Ciana meletakkan jari telunjuknya ke depan bibir si Pelayan.
"Berhenti mengatakan hal itu atau ku sentil mulutmu itu!" ancam Ciana, Pelayan itu langsung mengangguk.
"Apakah kau sudah siap?" tanya Seorang Pria paruh baya yang masih tampan, yang tak lain dan tak bukan adalah Duke Celius, Ayahnya.
Ciana mengangguk kemudian berlari kecil ke arah Ayahnya, kemudian melingkarkan tangannya ke lengan sang Ayah.
JANGAN LUPA
LIKE
KOMEN
VOTE
FOLLOW
__ADS_1
DAN TAMBAHKAN FAVORIT YA GUYS
NEXT EPISODE SELANJUTNYA