
Aku, Meri dan Fina mengikuti dua ekstakulikuler salah satunya kita kompak mengikuti eskul pramuka, Meri dan Fina mereka mengikuti eskul PMR, hanya aku yang berbeda sendiri mengikuti eskul basket aku tidak terlalu tertarik mengikuti eskul PMR. Eskul pramuka dlaksanakan hari jumat, sedangkan PMR hari kamis yang berubah jadwal jadi hari selasa, eskul basket hari selasa dan kamis jadi kita bisa pulang bareng setelah mengikuti eskul hari selasa dan jumat.
__ADS_1
Rutinitas sekolah ku jalani seperti biasa baik itu belajar, piket sekolah maupun eskul tapi ada suatu hal yang membuatku merasa terganggu saat istirahat. Setiap aku jalan ke kantin belakang dia yang ada didepan kelas selalu memanggilku sehingga membuatku malu, Meri dan Fina selalu mengejekku mangatakan hal yang macam-macam, seolah Aku dan dia ada hubungan spesial. Lama-kelamaan aku pun mulai terbiasa dan tak menghiraukannya lagi Meri dan Fina pun hanya membalas senyuman tanpa kata, yang biasa y mereka mengejekku dan mendorongku untuk menemuinya. Beberapa hari berlalu ia tidak lagi terlihat di depan kelasnya dan tal ada suara nyaring yang memanggil namaku, aku agak mencari dimana dia seperti kehilangan, padahal hanya karena kebiasaan yang sering ia lakukan, saat kebiasaan itu tidak ada aku merasa kehilangan, hampa. Aku berusaha mengabaikan rasa itu, aku mencoba suasana baru dengan berganti langganan kantin, walau kantin depan agak jauh tapi mau tidak mau aku harus lakukan, Meri dan Fina pun mau mengikuti dengan alasan ganti menu makanan istirahat, udh bosen dengan kantin belakang. Walau aku akui kantin depan harganya agak sedikit mahal dan makanannya lebih beraneka ragam tetapi lebih nyaman di kantin belakang, tidam terlihat oleh guru sedangkan kantin depan dekat dengan ruang guru. Karena hal itu kantin belakang jadi tempat tongkrongan orang yang bolos belajar. Mereka terkadang ijin ke kamar kecil untuk buang air ternyata nongkrong dikantin belakang yang tidak jauh dengan kamar kecil. Karena aku yang kepikiran dia yang memanggilku tak ku lihat batang hidungnya aku agak sedikit khawatir berpikiran ini dan itu, tapi bingung bertanya pada siapa tahu saja tidak namanya dan untuk apa aku bertanya. Hal itu membuatku jadi malas ke kantin dengan alasan harga dkantin depan mahal jadi aku membawa bekal terkadang di saat berpuasa aku datang ke perpustakaan untuk membaca dan meminjam buku untuk aku baca dirumah mengisi waktu luangku, sekaligus menghilangkan dia yang ada di pikiranku.
__ADS_1
Saat istirahat Meri dan Fina berlari ke arahku dengan nafas tersengal-sengal, aku yang di perpustakaan terkejut dan bertanya pada mereka "ada apa?" tanyaku, mereka yang mencoba mengatur nafasnya berbicara "Monik a..ada.. yang ca..cari kamu" jawab Meri dengan terbata-bata, "siapa?" balasku, Fina menjawab ""itu yang biasa manggil kamu saat kota lewat kelasnya kalau mau ke kantin belakang", "emangnya ada apa mencariku?" tanyaku lagi", "aku juga tidak tahu tapi dia menitipkan surat ini untukmu" jawab Meri, "mungkin itu surat cinta untukmu Monik" tambah Fina. Dengan ragu aku ambil surat itu dan saat aku ingin buka ku tutup kembali, aku berkata pada Meri untuk mengembalikannya, " Meri lebih baik kau kembalikan surat ini padanya", pintaku pada Meri, "kenapa?" tanya Meri, " atau kau simpan saja kalau kau tak mau kembalikan surat itu padanya" pintaku lagi, " ogah gue" balas Meri, " setidaknya kamu baca dulu siapa tahu itu penting" tambah Fina, "baiklah tapi aku tidak mau membalas surat ini" kataku. Aku buka surat itu dan ku baca, Meri dan Fina pun mengintip saat aku membaca surat tersebut, isi surat tersebut dia kakak kelasku mengajak bertemu di jalan belakang sekolah, ada hal yang ingin dibicarakan. Ejekan dari Meri dan Fina pun bersorak keras hingga memenuhi ruang perpustakan, petugas perpustakaan pun menegur kita untuk jangan berisik. Kami pun keluar dari perpustakaan sambil berjalan menuju ke kelas, sambil memikirkan apa yang tertulis dalam surat itu, apa aku harus mengikuti yang tertulis dalam surat itu atau tidak, Meri dan Fina terus mengejeku untuk menbalas surat itu dan mau menemuinya saat pulang sekolah. Aku tidak terlalu ingin meladeni kakak kelas, untuk apa aku menemuinya, tapi aku sedikit penasaran apa yang ingun dibicarakannya padaku.
__ADS_1
"iy kak, ada apa ingin bertemu denganku?" jawabku , "bisakah kita bicara berdua?" pintanya " kenapa?mereka tidak mengganggu kok" balasky, "ada sesuatu yang aku ingin bicarakan, aku malu" pintanya lagi, "baiklah" jawabku. Meri dan Fina aku minta agak menjaga jarak dari kami, karena dia malu apa yang mau di bicarakan. Dia memulai pembicaraan, awalnya dia meminta maaf padaku karena dia suka usil padaku dan dia memperkenalkan diri, dia bercerita bagaimana dia bisa tahu aku.Aku yang sudah gelisah karena kawatir dimarahi orangtua karena telat pulang, jadi aku memutuskan untuk mengakhiri pembicaraan dengannya, dan aku pamit pulang duluan bersama Meri dan Fina. Aku pulang dengan tergesa-gesa berlari sambil berharap dalam hati aku tidak kena marah orangtuaku. Akhirnya aku sampai dirumah dan aku telat pulang 1 jam, saat ayahku bertanya mengapa aku pulang telat aku bilang bahwa aku dperintah guru untuk membereskan perpustakaan bersama Meri dan Fina. Jika tidak percaya tanya saja pada Meri dan Fina yang sudah aku calling untuk menyamakan jawaban saat ayahku bertanya. Ayahku memang terkenal overprotect, karena ayah memiliki tiga anak perempuan yang aku maklumi akan kekhawatirannya pada kami, menjaga agar kami tetap baik-baik saja.
__ADS_1