
Saat di tempat perkemahan di malam hari kakak kelasku sempat mengajakku bertemu tetapi aku menolak karena aku takut di ketahui oleh guru pembina dan panitia. Saat malam kedua suasana santai perlombaan sudah dilaksanakan semua hanya acara penutupan di pagi hari tiba-tiba dia dan temannya datang ketendaku sambil membawa gitar, kita mengobrol keseruan lomba yang sudah kita lakukan dan kakak kelasku memandangku saat aku tertawa lepas dan ikut hanyut dalam obrolan, aku pun sejenaknterdiam saat tatapan mata kita bertemu dan dia mengambil gitar lalu memainkannya sambil bernyanyi lagu sheila on 7 "buat aku tersenyum" setelah ia puas bernyanyi beberepa lagu ia mengajakku ke tenda belakang "de ikut aku ke belakang tenda yuk" ajaknya aku terkejut "ada apa" tanya ku "sebentar saja" ajaknya lagi padaku "baiklah, tapi jangan lama-lama kak ini sudah malam" syaratku padanya. Aku pun beranjak ke belakang tenda, terbentang pemandangan langit luas bertabur bintang "indah" celetukku "cantik" balasnya padaku "iya memang cantik di langit bertabur bintang" ucapku "wajahmu yang cantik dan manis, apalagi saat kau tersenyum lesung pipimu terlihat dan semakin membuat manis wajahmu" katanya aku kaget, ku pikir yang kita bahas adalah pemandangan langit bukan tentang wajahku aku jadi terdiam tersipu malu. Aku tidak banyak bicara hanya memandangi langit penuh bintang dan sesekali melihat wajahnya, dia pun begitu melihat langit dan diselingi melihat wajahku saat pandangan mata kita bertemu aku mencoba memalingkan pandanganku saat aku tegakan wajahku tiba-tiba dia mencium pipiku wajahku memerah dan mataku langsung menatap tajam padanya aku marah atas apa yang ia lakukan padaku "apa yang kakak lakukan?" tanyaku "aku tidak tahan melihat manisnya wajahmu ingin merasakan lembutnya pipimu, maafkan aku" jelasnya padaku aku ingin marah tapi takut terdengar teman-temanku yang berada di depan tenda "kakak jahat" marahku padanya dan aku bangun dari dudukku dan pergi meninggalkannya tetapi tangannya menarik tanganku dan aku pun jatuh diatas tubuhnya, dia memelukku aku semakin marah dan jantungku berdebar kencang pipiku memerah aku mencoba bangun dari tubuhnya tetapi kakak kelas menahanku dan masih memegang tanganku aku mencoba melepaskan dan masuk ke dalam tenda dan meminta Meri mengantarku ke toilet dengan perasaan bercampur aduk aku masuk ke toilet dan menahan amarah kesal dan tangis dalam hati jantungku berdebar kencang ku basuh mukaku agar aku melupakannya dan agar temanku tidak curiga apa yang baru saja terjadi, saat kembali dari toilet tendaku sepi dan kita pun tertidur untuk acara terkahir yaitu upacara penutupan dan pengumuman lomba. Setelah pulang dari perkemahan kami di ijinkan libur satu hari untuk beristirahat dan keesokan harinya kembali ke sekolah seperti biasa. Saat tiba dirumah mataku belum mau terpejam walaupun badanku terasa lelah tapi aku tidak bisa tidur karena harus membantu ibuku waktu sholat duhur pun tiba aku bergegas wudhu dan ingin memejamkan mataku dan merebahkan badanku dikamar, aku tertidur sampai waktu sholat ashar tiba aku terbangun mandi sholat dan makan sambil menonton tv bersama kakak dan adiku. Malam pun tiba setelah sholat maghrib aku membereskan perlengkapan besok sekolah melihat apakah ada PR atau tidak dan sudah kukerjakan atau belum setelah sholat isya mataku tak kuat menahan kantuk tetapi bayangan dia tak bisa hilang kejadian malam itu selalu membayangiku. Esok pun sudah masuk sekolah apa aku bisa menghadapinya jika bertemu dengannya, ku harap esok aku tidak melihat wajahnya, aku tidak tahu harus bagaimana menghadapinya.
Esok hari aku bangun seperti biasa rutinitasku dirumah membereskan rumah dulu dan jualan ibuku, sedangkan kakakku mencuci baju dan ibu ku memasak, setelah pekerjaanku beres aku bergegas mandi sarapan dan berangkat sekolah. Saat tiba di Sekolah aku mencoba melupakan kejadian itu dengan rasa kesal dan amarah yg berkecamuk. Pelajaran demi pelajaran berlalu saatnya istirahat, aku malas untuk keluar kelas rasa lelah dan kantuk menyelimuti badanku, aku hanya menitip jajanan kepada temanku Meri. Sambil menunggu jajanan aku mencoba tidur untuk menghilangkan kantuk dan lelahku. Meri datang dengan membawa jajanan yg aku titipkan,
"Monika! makan kok ngelamun kenapa sih lo kok hari ini lesu banget?" tanya Meri padaku
"engga tahu nih mata dan badanku engga bisa di ajak kompromi, ngantuk dan lelah masih pegel badan gue" jawabku pada Meri
__ADS_1
"hey Meri lo ini kaya engga kenal Monika aja dia kan ratu tidur,hiii..." sela Fina mengejek
"enak aja emangnya aku ular piton apa?klw udh kenyang perut bisa tidur setahun"balasku pada Fina
'Udah akh aku mau ke WC dulu, mo ikut g?"
" engga akh cuci muka aja mau di anter, manja loh" ejek Meri
__ADS_1
Aku pergi kw WC untuk membasuh mukaku dan menghindar dari pembicaraan mereka aku sedang malas bedebat.
Bel masuk sudah berbunyi aku hendak kembali ke kelas setelah dari WC tiba-tiba ada guru yang memanggilku untuk mengambilkan buku pelajaran di kantor, aku pun bergegas pergi kekantor agar aku tidak ketinggalan masuk kelas, saat aku berlari tiba-tiba "buk" kepalaku terkena lemparan bola basket "bbraakkk" buku pelajaran berserakan aku pun terjatuh, kepalaku terasa pusing ku geleng-gelengkan kepalaku sambil ku pijit bagian pelipis agar rasa sakitnya menghilang, siswa yang bermain basket datang menghampiriku dan meminta maaf serta menanyakan kondisiku.
"maaf aku tidak sengaja melempar bola ke arahmu, bagaimana keadaanmu apa perlu ke ruang UKS?" tanya siswa itu khawatir akan keadaanku
"aku baik-baik saja kak cuma agak sedikit pusing, jangan khawatir kak" balasku sambil membereskan buku yang berserakan, aku pun berdiri untuk menyerahkan buku pelajaran yang diperintahkan bu yulia.
__ADS_1
Sebelum kembali ke kelas aku hendak mencuci mukaku yang terkena bola basket agak sedikit kotor dan masih terasa pusing, saat ku tundukan kepalaku tiba-tiba aku merasa ada cairan hangat yang mengalir di hidungku dan menetes di tanganku, darah mimisan keluar dari hidungku aku pun cepat mencucinya dan mengambil tisu untuk membasuh darah tersebut. Setelah darah tak menetes lagi aku pun kembali ke kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya, untung saja tidak ada yang tahu kejadian ini, bisa gawat kalau sampai diketahui oleh teman-temanku. Selama pelajaran berlangsung rasa sakit dikepalaku pun berangsur-angsur menghilang dan yang aku khawatirkan darah yg mengalir dari hidungku menetes lagi sudah berhenti. Aku tidak menceritakan kejadian ini pada Meri dan Fina aku takut mereka khawatir dengan disertai sikap lebay ala Meri dan Fina.