
Sejak hari itu aku sedikit takut setiap kali bertemu dengannya aku mencoba menghindar, tetapi Meri dan Fina selalu mengejekku dan menjodohkanku dengan Awan, mereka tidak tahu apa yang telah terjadi, aku juga merahasiakan dari mereka. karena hal itu aku terkadang lebih memilih bersama Andi daripada Meri dan Fina, setidaknya meteka dan orang-orang berpikir kita pacaran walau kenyataannya Aku hanya mengalihkan Meri, Fina, Awan dan putri. setiap kali Awan meminta Meri dan Fina untuk menyampaikan suratnya padaku, tetapi aku hanya membaca tidak membalasnya, jika aku membalas surat dari Kak Awan aku takut Meri dan Fina menganggap kita benar-benar ada hubungan spesial. Meri dan Fina terkadang berbohong untuk mengajakku menemui kak Awan atas permintan Kak Awan sendiri, Meri dan Fina berpura-pura ingin di antar pergi ke kantin, aula sekolah, ke ruang UKS, ruang Osis, Perpustakaan bahkan toilet, awalnya aku tak tahu tapu lama kelamaan dia semakin memanfaatkan Meri dan Fina, aku takut Meri dan Fina terkena amukan Putri, dan ternyata benar Putri pun lama-kelamaan mengetahui bahwa Meri dan Fina sering mengajak aku bertemu dengan Awan, Putri pikir aku yang meminta bertemu padahal Kak Awan yang meminta bantuan Meri dan Fina untuk dipertemukan denganku. Saat istirahat pertama Kak Awan menitipkan pesan pada Meri dan Fina ingin bertemu denganku untuk ke sekian kalinya, dan aku pun hanya beberapa kali menemuinya dan itu pun tanpa sengaja karena aku dibohongi Meri dan Fina, aku tetap menolak pertemuan itu Aku meminta Andi untuk membantuku agar menemaniku jika Meri dan Fina memaksa, Kak Awan ingin bertemu denganku di ruangan UKS saat pulang nanti. Bel pun berbunyi menandakan waktu pulang sekolah, Meri dan Fina bersemangat untuk mempertemukan Aku dan Kak Awan, Aku meminta pada Meri dan Fina memperbolehkan Andi ikut denganku, dan mereka menyetujuinya. Kami sengaja menunggu teman-teman pulang dulu, menunggu suasana sekolah sepi agar pertemuan ini tidak diketahui, tiba-tiba dari arah pintu seseorang datang dengan kedua teman dibelakangnya dan mencariku menariku dan menudingkan tangannya padaku sambil berbicara yang hal tidak enak didengar, dialah Putri dan kedua temannya Siska dan Desi. Meri dan Fina kaget tiba-tiba Aku dituduh jadi perebut pacar orang, mereka tidak terima aku dtuduh seperti itu dan Andi coba melepaskanku dari amarah Putri aku hanya diam tanpa perlawanan, Meri dan Fina adu mulut dengan Putri dan temannya. Meri dan Fina tidak tahu kalau Putri adalah pacarnya Kak Awan, Andi berlari keluar kelas dan memanggil Awan yang ada druang UKS, Awan pun berlari betsama Andi. Awan mencoba menghentikan adu mulut mereka dan memisahkan Aku dan Putri, Awan pun menarik tangan Putri dan bicara pada Putri bahwa dia tidak ada hubungan pacaran atau hal spesial Putri hanya sebatas teman biasa dimata Awan, dan sebagai anak teman bisnis papanya. Putri dan temannya pergi meninggalkan kelas kita dengan rasa kesal dan marah yang masih menggebu dihatinya. Awan mendekatiku dan meminta maaf padaku dan ia merasa bersalah karena semua yang terjadi salahnya, aku berdiri dan meminta waktu pada teman-temanku untuk bicara berdua dengan Awan, Aku berbicara padanya "Kak Awan aku minta agar kakak tidak usah berusaha menemuiku lagi dan mengirimkan surat untukku, aku takut hal ini terjadi lagi dan teman-temanku pun ikut terlibat, aku takut ada yang terluka nantinya" kataku padanya, " aku mengerti ini semua salahku, tapi aku memang tidak ada hubungan apapun dengannya, aku hanya teman biasa, hubungan kita dekat karena orangtua kita saling kenal dan rekan bisnis, hanya itu" jelasnya padaku. "Aku tidak pedulu kakak ada hubungan dengannya atau tidak, itu semua tidak ada hubungannya denganku, aku hanya mengganggap kak Awan adalah kakak kelasku, itu saja tidak lebih, pertemuan itu kakak meminta ijin untuk menyayangiku tetapi aku belum menjawabnya dan saat ini aku jawab, bahwa aku menolak kakak untuk menyayangiku", aku hendak keluar kelas dan menyudahi pembicaraan ini tetapi tangannya menariku dan mencegahku untuk keluar karena pembicaraan kita belum selesai, dia berdiri di pintu dan menahanku untuk tidak keluar, mengajakku untuk duduk dan menenangkan hati. Aku keluar sebentar meminta agar Meri, Fina dan Andi pulang terlebih dahulu, awalnya mereka tidak mau meninggalkanku tapi Awan meyakinkan kami akan menjaga Monik baik-baik saja dan akan mengantarkannya pulang. Sebelum pulang Awan meminta Meri dan Fina membeli minum dan cemilan ke kantin, dan membawanya ke hadapan Monik, sambil bicara kalau mereka pulang duluan dan memintaku untuk tetap bersama Awan. Aku meminta ikut pulang bareng merek tetapi Meri bilang selesaikan dulu permasalahannya baru boleh pulang. Sambil membawa tas aku berkata "Aku ingin pulang bersama Meri dan Fina, kita sudah tidak ada hal yang perlu dbicarakan lagi, dan kita hanya teman biasa tidak lebih" pintaku padanya ku langkahkan kamiku menunu pintu saat itu tiba-tiba ia memelukku dari belakang dan berkata "aku tidak memaksamu untuk menyayangiku atau mencintaiku tapi paling tidak aku bisa memaksamu untuk menemaniku saat ini". Aku terkejut saat ia memelukku daru belakang dan mencoba melepaskan ikatan tangannya dari tubuhku, tapi pelukannya semakin kecang dan aku seolah merasa dia seperti kesepian dan sedang punya masalah. "baiklah aku akan duduk dan menemani kakak tidak seperti ini, lepaskan aku kak" pintaku padanya. Kak Awan duduk disebelahku kemudian dia menggeser kursi menjadi tiga jajar kemudian tiba-tiba ia meletakan kepalanya d atas pahaku dan berkata "jangan bergerak ya, aku ingin tidur sebentar" aku pun menjawab "jika ingin tidur dirumah saja lebih baik kita pulang" jari telunjuknya menyentuh bibirku dan berkata "ssssstttt jangan berisik aku mau tidur sebentar saja" aku bilang "hanya lima menit setelah itu kita pulang" dia memejamkan matanya di atas pahaku aku malu sesekali melihat wajahnya yang tampan, "sudahlah lima menit waktu berlalu cepat bangun pahaku sakit kepala kakak terlalu berat" ocehku padanya, dia pun bangun dan duduk kembali disampingku dan aku berkata " dari awal aku dan kakak tidak ada hubungan apa-apa dan tidak akan ada apa-apa, aku anggap hari ini permasalahan kita sudah selesai, aku meminta maaf dan aku juga sudah memaafkan kakak walau kakak tidak mengucapkan maaf padaku, aku pulang dulu" dia menjawab " masa kita tidak ada hubungan apa-apa walau hanya teman, apalagi kita tadi sudah berpelukan dan aku tidur di atas pahamu?" aku menjawab "kita? siapa yang pelukan? bukankan kakak yang memelukku dari belakang dan kakak yang tiba-tiba menaruh kepala kakak di atas pahaku! atas dasar apa kakak bicara kita yang melakukannya!?" marahku kembali padanya "aku yang sudah dua kali di labarak Putri gara-gara kakak, aku yang sudah malu didepan teman-temanku, aku yang rugi dan sekarang aku pun menyesal tetap tinggal diruangan ini bersama kakak aku jadi tambah rugi karena dipeluk oleh kakak dan kakak sudah tidur dipahaku dan memegang bibirku!? sungguh tidak sopan!!" amarahku meluap padanya tiba-tiba ia memelukku lagi dan berkata "sekarang baru kita pelukan" aku mencoba untuk lepas dari pelukannya tetapi dia semakin kecang memelukku, sambil bicara bahwa aku menyangiku dan mencintaiku. Aku semakin berontak ingin lepas dari peluknya tetapi kaki hilang keseimbangan dan aku terjatuh tepat diatas tubuhnya, aku semakin malu dan takut, aku buru-buru bangun dan dia menariku dan tanganku pun manahan dsamping kepalanya dan pandangan kita saling beradu. Aku langsung memalingkan mataku dari matanya aku ingin cepat-cepat pulang karena hari sudah sore aku tidak ingin orangtuaku marah. Dia pun menggendong tasnya dan kita pun keluar kelas menuju pintu gerbang sekolah pulang ke rumah masing-masing, sebelum berpisah dia mengucapkan maaf berkali-kali dan ingin tetap menyayangiku dan ingin seperti hari ini lagi, berdua bersamamu".