
Fu Shen membagi tugas untuk tiap-tiap orang agar misi bisa selesai lebih cepat: tugas dibagi menjadi empat bagian karena mereka akan dipecah menjadi empat regu kecil untuk masuk ke Kediaman Keluarga Su.
Penjagaan di sini tidak terlalu ketat, dan tidak memiliki area pembatas yang luas seperti Keluarga Fan, sehingga lebih mudah untuk masuk ke dalam dan menyelamatkan orang-orang di sana.
Fan Chen membawa Fan Xiaoyu, Katerina dan Su Qing, meski mereka berempat terutama Su Qing amatir dalam bidang militer. Bahkan meski tidak memiliki pengalaman yang banyak, tapi lebih baik berada dalam satu regu karena adanya Fan Chen yang langsung mengamati dan menurunkan rasio rasa sakit secara paksa ke titik nol.
Walaupun Katerina tidak tergabung dalam militer dan bukan bidangnya, tapi dia tetaplah orang yang memiliki predikat “★” di belakangnya, sehingga masih memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan.
Fan Chen dan yang lain menyerang dari arah utara. Awalnya mereka ingin menyerang dari arah timur, tapi itu adalah bagian belakang dari Keluarga Su dan memiliki banyak penjaga, begitu pun dari arah barat yang memiliki penjaga tidak kurang dari arah timur.
Arah timur akan diambil alih oleh Yu Fengsan dan arah barat akan diambil alih oleh Robert.
Tidak ada yang menolak atau mempermasalahkan tentang pembagian tempat, terutama mereka dapat melihat pengamatan yang diambil oleh satelit secara waktu nyata.
Pada saat ini, Fan Chen sudah tiba di area utara; tembok di sini tidak terlalu tinggi, bahkan tidak ada perubahan; masih tembok normal sebelum Bencana Pertama.
Tinggi temboknya hanya lima meter, yang mana sangat pendek untuk tempat penting seperti Kediaman Keluarga Su.
Ada banyak kamera pengawas yang terpasang, tapi dari awal mereka datang, semua internet di sini sudah dimatikan oleh Xiaochu, tapi ada beberapa kali yang dilepaskan, seperti saat Tim Alpha membiarkan tentara mengerahkan lebih banyak personel.
Tapi meski kamera pengawas sudah diserang oleh Xiaochu bahkan arahnya akan terus diubah agar menghindari paparan, Fan Chen tetap berhati-hati.
Fan Chen mendongak melihat kamera pengawas yang terus berputar ke kiri dan kanan, namun tidak lama kemudian, kamera itu berhenti di satu tempat.
Fan Chen mengangkat tangannya untuk memberi tanda, lalu melangkah untuk memimpin tiga orang di belakangnya.
Katerina mengeluarkan Glock 17, tapi bukan amunisi dari bubuk mesiu, melainkan menggunakan teknologi laser. Dia melepaskan tembakan dan itu langsung merusak kamera pengawas.
Katerina tidak berhenti, dia terus menembak ke kamera pengawas lain yang berubah arah, tapi dia juga harus berhati-hati saat menembak. Dia terus memperhatikan personel yang berjaga melalui sinar inframerah dan memastikan tidak ada yang melihat laser di malam hari maupun rusaknya kamera.
“Mengapa harus meminta orang di markas untuk meretas kamera pengawas? Mengapa tidak menembaknya langsung?”
Suara Su Qing terdengar di benak Fan Chen.
Fan Chen tersenyum tipis dan membalas, “Kamera pengawas memiliki perputaran sudut yang cepat, bahkan meski laser lebih cepat, tidak ada salahnya berhati-hati. Menahannya cukup? Memang menahan kamera di satu tempat itu cukup, tapi sekali lagi, lebih baik berhati-hati.”
Su Qing menganggukkan kepalanya dan tidak lagi bertanya.
Fan Chen berlutut membelakangi tembok dengan tangan yang saling menggenggam.
Katerina menginjak tangan Natan, lalu meraih puncak tembok dan naik ke atasnya.
__ADS_1
Fan Xiaoyu dan Su Qing mengikutinya dengan hati-hati. Kemudian Fan Chen naik dengan bantuan Katerina yang mengulurkan tangan.
Fan Chen berdiri di atas tembok yang memiliki ketebalan setengah meter, dia mengamati halaman di depannya yang terdapat taman kecil, pepohonan hias dan air mancur. Lalu ada lima personel militer yang berpatroli.
Su Qing juga berada di atas, dia mengamati dengan saksama semua area dengan air mata berlinang. Sudah lama dia tidak kembali, dan dia merindukan rumahnya.
Tapi saat Su Qing sedang mengenang masa lalu, tiba-tiba pintu besar yang ada di samping kediaman dengan luas 6.500 meter persegi dan memiliki empat lantai, terbuka sangat lebar dan menghasilkan suara keras.
Su Qing membelalakkan mata saat melihat tentara yang menarik seorang pria dan wanita paruh baya, kedua orang itu dilempar ke halaman dengan cukup keras.
"Ay—" Su Qing ingin berteriak, tapi Fan Chen membungkam mulutnya sehingga sistem suara di tubuhnya diblokir oleh Otak Kuantum.
Fan Chen memindai dua orang yang memiliki penampilan buruk, pakaian yang dikenakan memiliki tanda merah yang sepertinya darah, dan yang paling parah adalah pria paruh baya karena setengah wajahnya lebam.
Adapun wanita, sepertinya tidak mengalami terlalu banyak luka, hanya cambukan di bagian belakang tubuh.
Tentara muda yang membawa senjata api, tertawa terbahak-bahak saat melihat Su Han yang sedang memeluk istrinya. "Hahahaha! Sungguh menyenangkan melihat bos teknologi yang diagung-agungkan terpuruk seperti ini!"
Tentara muda itu menendang kepala Su Han. "Jenderal bilang kami tidak boleh membunuh kalian, tapi bukan berarti tidak boleh membuat kalian sekarat."
Yao Yilin, istri Su Han berteriak dan memeluk suaminya. Dia menatap tajam tentara muda dengan penuh kebencian, keluarga besar mereka dipisahkan meski masih berada di satu bangunan. Setiap hari ada siksaan meski para wanita tidak dilecehkan, tapi dia tidak tahan ini, dia ingin membalasnya, tapi tidak bisa.
Kelima tentara yang mendengar ini memandang Yao Yilin dengan mata berbinar. Apa perintah Jenderal? Biarkan hidup dan jangan lecehkan, tapi mereka tidak tahan, bahkan meski Yao Yilin sudah berusia hampir 50 tahun, tapi penampilannya masih seperti berusia 30 tahunan.
Yao Yilin gemetar dengan mata ketakutan saat mendengar ini.
Fan Chen yang melihat ini, mengerutkan kening dan tidak menyukainya. Dia menatap Katerina dan mengangguk.
Katerina memahaminya, dia mengangkat Glock 17 dan langsung melepaskan tembakan.
Bersamaan dengan tembakan yang dilepaskan, Fan Chen melompat turun dari atas tembok.
Tentara muda mendengar suara, dia mendongak, tapi tiba-tiba dia berteriak, "Aaarrrgghh!"
Dia tidak mengerti mengapa rasa sakit tiba-tiba datang, dan itu sangat menyakitkan seperti terbakar. Ketika dia mencoba menyentuh di mana rasa sakit itu datang, dia tidak bisa merasakan tangannya, dia menoleh, dan menemukan bahwa kedua lengan atasnya sudah terpotong dari bahu.
Fan Chen yang mendarat tadi, langsung berlari dengan kecepatan 15 m/s dengan bantuan pendorong udara di bawah kakinya.
Dia tiba di salah satu tentara, dia meraih kepala musuh dan menarik ke belakang sehingga dalam posisi mendongak. Fan Chen mengeluarkan pisau dan langsung memotong leher musuh tanpa ada perubahan ekspresi.
Da da da!
__ADS_1
Tembakan datang langsung ke arah Fan Chen, tapi dia bisa dengan mudah menghindari setiap tembakan.
Fan Chen berlari lebih cepat dan berhenti di depan tenyata yang menembaknya. Dia menangkap senjata api, lalu membuangnya, kemudian dia memutar tangannya seperti ular yang menangkap tangan musuh.
Crack!
"Aaarrrgghh!" Tentara itu berteriak saat tangannya patah.
Fan Chen mengayunkan tangannya, menebas mata tentara hingga buta, kemudian melepas tembakan dengan Glock Meyer 22 yang dipasang peredam di leher.
Fan Xiaoyu juga tidak tinggal diam, dia mengikuti kakaknya dan bertindak. Karena dia sudah pernah membunuh, dia tidak lagi merasa bersalah maupun mual saat membunuh manusia.
Fan Xiaoyu menghentakkan kaki kirinya, melompat dan melakukan tendangan berputar.
Bam!
Tendangan yang keras mengenai kepala tentara hingga tengkoraknya setengah hancur, tapi itu belum berakhir karena Fan Xiaoyu menusuk semua anggota tubuh tentara, dan terakhir menusuk pisau di leher.
Fan Chen berlari di samping adiknya, dia mengeluarkan pipa besi dari Inventaris dan memutarnya sangat cepat hingga menghasilkan putaran angin.
Klang! Klang! Klang!
Pipa besi yang berputar berhasil menghalau semua tembakan sampai seluruh amunisi di magazen di habiskan.
Fan Chen berhenti memutar pipa, lalu dia melemparkan pipa sekuat tenaga dengan kecepatan sepertiga dari kecepatan peluru.
Whooooosh!
Tentara yang menembak itu tidak dapat menghindarinya, tubuhnya kejang dan kaku saat pipa besi menembus tubuhnya. Kemudian, dia emas di sekujur tubuh, jatuh di tanah dan kehilangan kesadaran.
Tentara lain, sudah dibunuh Katerina dan sekarang hanya meninggalkan satu tentara muda yang menyiksa Yao Yilin.
Tentara muda ini duduk di tanah dengan tatapan ngeri, dia sangat terkejut sampai melupakan rasa sakit di bahunya.
Yang Terbangun, hanya itulah yang dapat dipikirkannya. Tapi, dia bingung, Yang Terbangun mana yang memiliki reaksi lebih cepat dari peluru?
...
***
*Bersambung...
__ADS_1