
"HEI HEI!! APA KAU BENAR BENAR WILLIAM??, DARIMANA SAJA KAU SELAMA INI??!!, HAMPIR SAJA KAU MENJADI BURONAN PARA POLISI. JIKA KAU SAMPAI BERADA DI TANGAN MEREKA, MAKA TAMATLAH RIWAYAT KAMI!!!." Ucap Arthur dengan nada marah.
"William... kemana saja kau?? Jangan bilang kaulah yang telah menyebarkan wabah ini kan? Ayo ngaku!! Siapa lagi dalangnya kalau bukan kau!." Sahut Jasmine.
William hanya tertawa, kemudian berdiri menghadapi mereka. Mereka sedikit terkejut melihat William yang tinggi badannya melebihi tinggi badan mereka.
"Ya.. aku tahu itu.., aku telah membunuh banyak orang.. dan karena itulah aku kemari." Jawab William.
"Masuklah!, setelah ini kau harus dihukum atas semua perbuatanmu itu!." Gilbert membuka pintu lebar lebar kemudian mendorong punggung William dengan keras.
Semuanya berkumpul diruang bedah di labotorium mereka. Gilbert merebahkan William ke atas tempat pembaringan secara paksa. Lalu membuka lebar mulut William. William memberontak bahkan sempat memamerkan kedua taringnya yang tajam itu. Melihat itu sontak Gilbert berteriak.
"SHOPIA!!, CEPAT AMBILKAN OBAT BIUSNYA!!!. JASMINE LEKAS AMBIL TABUNG REAKSINYA!!!. CEPATLAH SEBELUM AKU MENJADI MANUSIA SERIGALA!!." Mendengar itu keduanya langsung bergegas melaksanakan perintah. Sedangkan Gilbert berusaha menahan serangan William.
William terus saja berusaha melepaskan tangan Gilbert dari mulutnya, hingga akhirnya William membanting tubuh Gilbert hingga barang barang yang ada disekitanya berhamburan.
"Prangg!!!" Terdengar bunyi jendela kecil yang ada diruangan itu pecah karena benturan dari tubuh Gilbert, meninggalkan lubang kecil dengan retakannya serta bekas darah Gilbert yang terluka akibat pecahan kaca yang disertai dengan benturan keras. Gilbert tersungkur dilantai dalam keadaan telungkup, kemudian berbalik menghadap William berjaga-jaga bila dia melakukan sesuatu yang buruk padanya. Dan benar saja, William mengambil salah satu pecahan kaca yang ujungnya cukup tajam. Kemudian mulai mengayunkannya pada Gilbert yang terlihat ketakutan. Namun sebelum itu dia meninju perut Gilbert, hingga akhirnya ia muntah darah. Gilbert serasa kehilangan kesadarannya. Bodoh jika William melewatkan kesempatan ini. Tanpa ba bi bu lagi, langsung saja menggores wajah Gilbert yang tertutupi masker, seperti yang pernah ia lakukan pada Vivia. Gilbert sontak memegangi pipinya sambil meringis kesakitan. Ingin sekali ia melawan, namun ia tak berdaya sama sekali.
__ADS_1
"Ah tidak... bagaimana ini.... aku tak mampu melihat dengan jelas... . apa ini... da.. darah... apa ajalku sudah dekat?..." Gilbert bergumam dalam hati, dengan pandangannya yang terasa berkunang. Sekilas, ia melihat sosok William tersenyum dengan momok wajah girang yang mungkin akan segera membunuhnya. Gilbert meneguk ludahnya kasar.
"Apa ini?.. terasa asin... jangan jangan ini... ah tidak!!.. aku muntah darah tadi... ahhh... bisa bisa aku mengalami anemia yang cukup parah..." kali ini Gilbert benar benar kehilangan seluruh tenaganya. Tubuhnya bergetar lemah, cairan merah pekat mulai melumuri tubuhnya. William tertawa seolah olah berada dipuncak kemenangan.
"Hei.. selama ini kau begitu tertutup... tak bisa kah kau buka maskermu itu?. Itu sangat mengganggu, nafasmu saja terengah engah. Ku bantu kau bernafas ya..." kedua tangan William mulai melepaskan penutup muka itu, Gilbert yang dalam keadaan setengah sadar itu terdiam seolah olah hanya mengiyakan tindakannya.
"Woah.... ternyata kau manis juga ya... ,aku tak menyangka ada wajah semanis itu dibalik perilaku mu yang menyebalkan. Izinkanlah aku menghiasinya."
William mengambil cairan asam sulfat. Namun ketika ia hendak menyiramkan cairan itu pada tubuh Gilbert, tiba tiba saja jarum bius tertancap menembus permukaan kulitnya. Hingga William pun langsung tertidur ditempat, kemudian menumpahkan cairan asam sulfat yang masih ada ditangannya. Cairan itu menciprat mengenai bagian kaki Gilbert, terdengar rintihan kesakitan ketika cairan itu menimbulkan luka yang menciptakan sensasi terbakar. Melihat keadaan mengerikan itu, Shopia langsung saja berteriak memanggil Arthur, dia meminta Arthur untuk segera memberikan pertolongan pertama. Arthur pun segera membopong tubuh Gilbert, kemudian memberikan pertolongan pertama semampunya. Sedangkan Shopia dan Jasmine memapah tubuh Arthur berdua. Kemudian merebahkannya diatas tempat pembaringan, lalu mengambil sampel air liurnya. Setelah itu, mereka pun mengunci William disebuah kamar yang pernah ditinggalinya selama ia koma. Mereka memastikan bahwa ruangan itu benar-benar terkunci. Kemudian berbalik arah menuju labotorium obat obatan. Sementara Arthur bersama Gilbert dikamarnya. Jujur saja, baru kali ini Arthur melihat wajah asli Gilbert yang selama ini selalu ia tutupi. Sosoknya yang telihat cantik, dengan bulu matanya yang lentik, hidung mancung serta bibir ranumnya yang mungil itu menciptakan kesan feminim, jika dilihat sepintas mungkin Gilbert akan terlihat seperti seorang gadis. Melihat itu, Arthur pun mengetahui alasan mengapa ia tak pernah memperlihatkan wajahnya, bahkan terhadap teman teman seatapnya sendiri. Ia khawatir bila orang orang menganggapnya aneh. Arthur mengelus wajah itu, kemudian menepuk nepuk wajahnya sendiri.
... OOO...
Bagaimana hasilnya?" Tanya Jasmine pada Shopia.
"Ini buruk, bahkan dengan antibody manusia terkuat pun, virus ini tetap tak dapat dilawan. Bahkan mengerikannya lagi dapat merusak sejumlah sel sel darah putih, pantas saja tak ada seorang pun yang kebal dengan virus ini." Jawab Shopia
Kemudian Jasmine mengusulkan "Ah tidak.... oh ya bagaimana dengan mematikannya terlebih dahulu?, bukankah dengan itu mungkin antibodi akan menganggapnya sebagai virus kemudian membentuk kekebalannya terhadap virus itu?"
__ADS_1
Shopia hanya menggelengkan kepalanya lalu menjawab."Mustahil, aku saja bahkan tak tahu cara membunuh virus ini. Bahkan aku telah mencobanya dengan alkohol, tetap saja mereka baik baik saja. Parah memang, baru kali ini aku menemukan virus sekuat itu."
"Kenapa kau tak memulai dari obat obatan psikis. Seperti narkotika dan lain sebagainya." Sahut Jasmine.
"Narkotika?apa hubungannya dengan itu?." Sophia mengernyitkan dahinya kemudian Jasmine menjawab.
"Kau tahu kan?. Tubuh dan pikiran adalah dua hal yang saling memengaruhi, para manusia serigala itu mengalami perubahan sistem saraf sehingga emosi mereka menjadi labil dan ataa dasar itulah mereka melakukan pembunuhan. Itu dapat dijadikan alternatif sementara kita berusaha melawan virusnya. Setidaknya dengan itu akan menekan angka pembunuhan. Serta mencegah rantai penularan virus ini."
"Narkotika ya?...."
.
.
.
Bersambung
__ADS_1