Are You A Werewolf?

Are You A Werewolf?
Blood


__ADS_3

 


         "Air mata darah.... apa dia mengalami haemoclaria??" Batin Sophia, ia pun langsung beranjak dari sana berniat untuk mencari-cari sesuatu yang setidaknya dapat dijadikan sebagai pertolongan pertama. Namun tiba-tiba William mencekal pergelangan tangan Sofia untuk menghentikan langkahnya, kemudian menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya pertanda memintanya duduk. Dengan penuh tanda tanya, Sophia hanya menuruti isyarat itu. Tak lama kemudian William mulai membuka mulutnya. Walaupun isak tangis masih jelas terdengar.


         "Percayakah kau akan cerita anak kecil yang telah menyetubuhi kakak kandungnya sendiri?, orang yang paling dia sayangi, orang yang paling dia cintai, satu-satunya yang paling berharga di hidupnya. Namun setelah bertemu dengan orang yang keji, cintanya itu seketika berubah menjadi nafsu dan Obsesi. Kecemburuan mendorong motifnya untuk segera menghilangkan jejaknya. Agar tak ada seorangpun yang dapat memilikinya. Dan tahukah kau?.. BOCAH BEJAT ITU ADALAH AKU!!! YAA!! AKULAH YANG TELAH MEMBUNUHNYA!!, AKU MENYIKSANYA DAN MELIHATNYA MERINTIH KESAKITAN DAN AKU MENYUKAI ITU!!!, KEMUDIAN ORANG BENGIS ITU MEREBUTNYA DARIKU!!.. MEMAKAN SEBAGIAN BESAR TUBUHNYA, BERSAMAAN DENGANKU. KEMUDIAN AKU MENYISAKAN KEPALA NYA UNTUK DIJADIKAN PAJANGAN YANG TAK TERNILAI HARGANYA BAGIKU!! AKU MEMANDANGINYA SETIAP SAAT SEPERTI ORANG GILA!!!." Willam berseru hingga dadanya terasa sesak memikirkan apa yang telah ia lakukan. Rasa berdosa mulai menghantui dirinya. Agaknya dia masih memiliki dendam dengan orang itu. Entah mengapa dia seolah-olah menurut dan menghayati ajaran-ajaran sesat yang diajarkan oleh orang keji itu. William seakan tersadar dari mode setannya. Jiwanya telah kembali, Begitu juga dengan empati dan simpatinya. Walaupun hal itu jugalah yang menyiksa perasaannya sendiri. Mengingat segala kekejamnya. Mendengar itu, seketika Sophia mengangkat alis. Matanya membulat seakan tak percaya dengan apa yang dia katakan.


     " Tidak... tidak... ini tak mungkin!!!!  MUSTAHIL!!, KAU PASTI MENGARANG!!. Heii... katakan padaku... siapa orang keji yang berani mengajarkan hal-hal sesat itu padamu?!." Tanya Sophia dengan nada gelisah.


      "Kau tak mungkin mengenalnya, lagipula orang itu dikabarkan telah bunuh diri. Tak ada lagi yang dapat kulakukan selain menyesali apa yang aku dan ia lakukan." jawab William sembari menundukkan kepalanya. Belum sempat Sophia berkomentar, William langsung saja melanjutkan.


        "Ya.. aku mencintainya... sungguh... aku benar benar mencintainya..., tapi.. bukan berarti aku mencintainya dalam artian seksual.... . Aku tulus mencintainya dari lubuk hatiku, Aku hanya ingin membahagiakannya. Bukanlah berharap untuk memilikinya. Sayang sekali... aku justru..." kalimatnya terpotong oleh isak tangis yang semakin menjadi-jadi.


       Kali ini Sophia terdiam, tak tahu lagi apa yang harus ia katakan. Mulutnya seakan terkunci. Setelah mendengar apa yang dia katakan, dia pun merasakan apa yang dia rasa. Perasaan bersalah, rasa kehilangan, duka, kesal, dendam, amarah, semua itu berkecamuk dalam jiwanya. Ahh.. anak sekecil itu... semua ini terlalu berat baginya. Merasa prihatin, Sophia pun merangkul tubuh besar yang berisikan anak kecil itu. Kemudian mengusap lembut surai merah yang terlihat awut awutan itu. Kemudian mengecup kening yang lebih tinggi darinya dengan cinta dan kehangatan. Deraian air mata William seketika berhenti. Senyuman manis terukir di wajahnya. Seolah ia telah melupakan semua hal yang telah membebani pikirannya. Tak lama setelah itu, Jasmine membuka pintu. Kemudian menemui pemandangan dengan suasana yang jauh berbeda daripada terakhir kalinya dia memasuki ruangan itu. Ia tertawa kecil sekaligus bahagia. Percobaannya telah berhasil!. Walaupun jasad William sewaktu-waktu dapat berubah menjadi manusia serigala. Suasana hangat terasa diruangan itu hingga menjalar masuk kedalam hatinya. Walau ia tak mengetahui apa yang telah terjadi, namun ia sudah dapat menebak nebak isi pikiran mereka melalui ekspresi yang tercerminkan di wajah mereka. Ketika dia tengah telarut dalam pikirannya, tiba tiba saja Arthur menabrak tubuhnya dari belakang. Seperti biasa Jasmine mengomel dengan gaya ibu ibu yang ditolak tawarannya.


       "Ck apa apaan sih?!, main tabrak saja!! Lihat jalan dong!! Kau tak buta kan?!" Bentak Jasmine. Ia menjitak kepala Arthur yang sedari tadi berlari tak karuan ke arahnya.

__ADS_1


        "Ahh.. maafkan aku.. . Tadi aku menerima telepon dari pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa, Gilbert harus dioperasi!!!. Mengenai biaya perawatan semua itu sudah ditanggung asuransi, begitu pula dengan operasi, namun tentunya asuransi tidak akan menggratiskan itu secara serta merta bukan?. Ahhh astagaa!!!. Harus cari uang kemana akuu...." Ujarnya dengan nada yang menyiratkan perasaannya yang gundah.


      "HAHH?!! GILBERT HARUS DIOPERASI?!!.. HEI YANG BENAR SAJA!!!.." Sophia terkejut mendengarnya.


       "Sudah kuduga.... tenanglah.. kali ini aku yang akan bertanggung jawab.. . Semua ini salahku. Aku akan memberikan apa pun yang aku miliki... bahkan kalaupun aku harus menjadi seorang tunawisma, aku rela demi menyelamatkan nyawa kak Gilbert." Sahut William sambil menundukkan kepala.


      Mendengar itu Arthur mengangkat alisnya. Arthur membatin dalam hati "Malaikat macam apa yang telah merasuki dirinya?"


      "Ahh... kau tak perlu melakukannya sejauh itu..., kami bisa saja berusaha." Jawab Sophia seraya mengelus punggungnya.


      "Heii!! Beraninya kau memakan harta anak yatim!!." Sophia mulai meninggikan nadanya.


      "Huh.. bukankah ini kesalahannya sendiri?!, ia harus bertanggung jawab!! Kau mau menanggung beban yang telah dibuat orang lain?." Arthur membentak seraya mengarahkan jari telunjuknya pada William. William hanya mengangguk pelan mengiyakan perkataan Arthur.


      "**.. tapi.." belum selesai Sophia bicara. Jasmine mengarahkan Kedua telapak tangannya tepat di depan wajah mereka. Keduanya pun terdiam. Kini gilirannya lah yang bicara

__ADS_1


      "Begini.. kita ambil jalan tengahnya. Kita jual saja harta benda yang ia miliki, kemudian ia tinggal disini bersama kita, lagi pula kamar ih kosong tak berpenghuni. Tempat ini bisa kau jadikan kamarmu. Dengan itu semua masalah beres. William dapat melupakan masa lalunya, dia akan memulai kehidupan baru, sedangkan Gilbert bisa kembali sehat. Bagaimana? Setuju?." Tanya nya dengan manik hazelnutnya yang terlihat bersinar.


      "Ide bagus!!, besok kita akan berbenah.. William, kau juga setuju kan?" Tanya Sophia.


      "Yaa!! Silahkan.., tapi.. aku tak ingin ikut berbenah... aku tak ingin pulang..., mungkin aku hanya tetap berada disini bersama kak Arthur. Emm.. jika kalian menemukan sesuatu yang aneh di kamarku.. kumohon agar segera dikuburkan ya..." Sophia menganggukkan kepalanya pertanda mengerti, sedangkan Jasmine hanya mengangkat sebelah alisnya.


     "Tak apa, aku mengerti." Sahut Sophia. Seraya mengedipkan sebelah matanya.


        Beberapa bulan kemudian


      "Berita terkini. Akhirnya obat penawar virus manusia serigala telah ditemukan, obat ini akan dibagikan secara gratis oleh pemerintah. Peneliti mengungkapkan bahwa obat ini dapat memberikan efek candu layaknya narkotika, penggunaan obat ini harus diawasi. Jika tidak, akan berdampak buruk bagi kesehatan mental penggunanya. Obat ini bekerja dengan cara mempengaruhi sistem saraf sehingga mempengaruhi perilaku. Sama seperti virus manusia serigala yang mempengaruhi saraf manusia sehingga mendorongnya melakukan tindakan pembunuhan, serta kanibalisme. Obat ini cukup efektif untuk mengendalikan perilaku seorang manusia serigala. Namun obat ini tak dapat mematikan virus sepenuhnya."


      "Bittt" Lily menutup siaran radio, kemudian merebahkan dirinya diatas sofa lebar yang empuk. Senyuman manis terlukis diwajahnya, mencerminkan kebahagiaan dilubuk hatinya.


           "Syukurlah.. selesai sudah semuanya..."

__ADS_1


      


__ADS_2