
"Maaf..., namun kawan anda.. tuan Gilbert...." Belum selesai ia melanjutkan kalimatnya. Tiba tiba saja Arthur menggoyang goyangkan tubuh sang dokter hingga bergucang hebat kemudian berteriak.
"HEI APA MAKSUDMU!!! JANGAN BILANG IA TELAH MENINGGAL DUNIA!!!, OH AYOLAH!!, TAK ADA LAGI KAH YANG DAPAT KAU LAKUKAN?!!." Seketika Arthur berteriak sambil merengek layaknya anak kecil.
"Ck!.. apa apaan kau ini. Saya hanya ingin mengatakan bahwa kawan anda, tuan Gilbert harus menjalani perawatan khusus. Terjadi goresan yang disebabkan oleh kaca, jadi beberapa partikel-partikel kecil dikhawatirkan masuk melalui luka tersebut. Dan yang paling mengkhawatirkannya lagi terjadi luka dalam akibat benturan keras. Saat ini dia tengah mengalami koma akibat benturan di kepalanya sehingga menyebabkan cedera otak traumatis , namun diperkirakan komanya tak akan berlangsung lama. Sehingga dia harus dirawat inap selama beberapa minggu. Mengenai biaya Anda tak perlu khawatir, karena tuan Gilbert memiliki asuransi kesehatan." Ucap sang dokter dengan wajah yang terlihat tak senang karena orang yang ada di depannya itu telah menciptakan kerusuhan kecil. Sehingga pandangan orang-orang tertuju padanya. Belum lagi Arthur mengatakan sepatah kata pun, dokter itu langsung saja pergi meninggalkannya. Sedangkan Arthur bernafas lega. Walaupun sedikit perasaan cemas masih menghantui dirinya. Ia mengamati Gilbert dari balik jendela, mengamati sosok Gilbert yang tengah terbaring lemah di ruang ICU. menatapnya dengan tatapan sendu, air matanya hampir saja meleleh. Arthur pun segera membalikkan pandangannya, kemudian berjalan pulang menuju laboratorium sekaligus kediamannya.
Arthur melangkahkan kakinya dengan perasaan gelisah. Jantungnya masih berdebar, kakinya bergetar sehingga menyebabkan langkahnya menjadi terlihat berbeda daripada biasanya. Dia tengah merangkai kata-kata yang dapat digunakannya untuk menjelaskan apa yang telah terjadi kepada teman-temannya. Dia khawatir bila teman-temannya itu merasakan kegelisahan yang ia rasakan, Walaupun dia tahu bahwa poin utamanya juga tetap begitu. Dia pun terlarut dalam pikirannya. Namun tiba-tiba saja nama kedua orang gadis yang menjadi teman se atapnya itu tiba-tiba muncul dalan benaknya. Instingnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tak beres. William dengan emosinya yang labil, serta kekuatannya tak terkendali didiamkan bersama dua orang gadis yang tak berdaya. Seketika Arthur pun mempercepat langkahnya, keringat dingin yang menghiasi pelipisnya itu seolah-olah terbang tertiup angin. Seketika ia tahu apa yang telah terjadi kepada para Gadis itu Meskipun mereka masih belum menceritakan semuanya. Dia yakin pasti gadis-gadis itu berteriak meminta tolong. Namun laboratorium itu terlalu besar untuk mengijinkan terdengarnya suara mereka dari luar.
__ADS_1
"Oh ya tuhan!!.. apa yang telah terjadi pada mereka?... apakah William telah melakukan sesuatu pada mereka?. Ah tidak!!!... jangan jangan mereka sudah menjadi tubuh tak bernyawa.. Ahhh!! Bagaimana ini... Sophia... Jasmine... bertahanlah!!." Arthur kembali mempercepat langkah kakinya bak Seekor kuda yang terus dicambuki kusir. Hujan masih saja mengguyur kehidupan di Bumi. Disertai dengan angin kencang yang meniupi beberapa pohon yang ada di sana sehingga pohon-pohon itu seolah-olah menari. Mengikuti irama angin. Daun-daunnya mulai terbang bagaikan rayap lalu berhamburan di mana-mana. Seolah tak peduli dengan apapun yang terjadi. Arthur tetap saja berlari dan berlari, hingga akhirnya tujuannya tepat berada di depan matanya. Dia membuka pintu itu berbarengan dengan Jasmine yang juga mencemaskan keadaan Arthur.
"HEH!!! DARIMANA SAJA KAU?!!, DIMANA GILBERT??!!, KAMI NYARIS MATI DIJADIKAN SANTAPAN MANUSIA SERIGALA ITU!! TEGANYA KAU MENINGGALKAN PARA GADIS BERSAMA ORANG GILA!!, LAGIPULA SIAPA YANG MENGAJARIMU PERGI TANPA BERPAMITAN??!!, TIDAKKAH KAU TAHU BETAPA KHAWATIRNYA AKU?!!" Jasmine memarahi Arthur, sedangkan yang dimarahi hanya menundukkan kepalanya. Dia mulai merutuki dirinya sendiri. Namun di satu sisi dia juga merasa bersyukur karena temannya itu baik-baik saja. Tanpa menjawab sepatah kata pun Arthur langsung merangkul tubuh Jasmine sambil menangis layaknya anak kecil. Dia merangkul erat tubuh itu. Jasmine mengernyitkan dahinya kemudian merespon pelukannya dengan penuh tanda tanya. Tubuhnya basah, Deru nafasnya yang terengah-engah itu terdengar. Sedangkan kedua kakinya gemetar. Tanpa bercerita pun, dia dapat langsung memahami apa yang telah terjadi. Kemudian memutuskan untuk membungkam mulutnya. Dia merasa bersalah juga dengan apa yang telah dikatakannya tadi. Pelukan yang penuh dengan tanda tanya itu seketika berubah menjadi pelukan hangat. Mereka melepas rangkulan itu, kemudian Arthur menanyakan keberadaan Sophia.
Jasmine pun menjawab pertanyaan Arthur. "Ia bersama William di ruangan bahan percobaan. Tenang saja, aku jamin William tak akan mengamuk, jadi Sophia akan baik baik saja. Daripada itu, lekaslah mandi!!, tubuhmu itu berbau terasi!."
Arthur hanya tertawa kecil sekaligus bernafas lega. Kemudian melaksanakan perintah yang telah ditujukan padanya. Sedangkan Jasmine hanya bersantai seperti biasanya. Kebetulan hari ini dia menutup toko obatnya hanya untuk hari ini. Jadi waktu cutinya yang berharga itu mungkin boleh saja digunakan sesekali untuk menyegarkan kembali pikirannya.
__ADS_1
"Ugh... apa yang telah terjadi...." Sophia membuka matanya hingga terlihat pemandangan yang ber kunang-kunang. Kepalanya terasa sedikit pusing. Dia memeriksa anggota tubuhnya satu per satu. Untunglah tak ada bekas luka yang terlihat di sana. Melihat itu dia menghela nafas lega, kemudian tatapannya tertuju pada lelaki yang masih saja tertidur di samping tempat pembaringannya. Sophia mendekatinya, kemudian mengelus anak itu, seolah tak mempedulikan jasadnya yang terlihat dewasa. Melihat anak itu, perasaan sendu mulai menyelimuti hatinya.
"Anak yang malang.... tak seharusnya kau yang menjadi korban..." batin Sophia dalam hati, kemudian mengelus surai merah itu. Tak lama kemudian William terbangun juga dari mimpi indahnya. Mengingat kejadian yang baru saja dialami dirinya dan Jasmine, Sophia pun sontak memundurkan kedua kakinya beberapa langkah.
William menundukkan kepalanya, kemudian menatap Sophia dengan perasaan sedih, lalu tiba-tiba saja air matanya meleleh. Sedihkah dia?, tidak.. lebih tepatnya depresi. William mengacak acak surai merahnya, kemudian berteriak histeris hingga tenggorokannya serasa putus. William mengusap kasar matanya yang mulai sembab. Matanya memerah, hingga akhirnya cairan pekat berwarna merah memberikan warna pada air mata yang berderai di pipinya. Surai merahnya itu benar-benar berantakan, persis dengan kondisi pikirannya yang sangat kacau. Melihat itu, Sophia pun merangkul William yang terlihat gegabah, bak cacing kepanasan yang telah dsirami cairan asin.
"Ada apa Will.." belum selesai Sophia berkata. William langsung saja memotong perkataannya.
__ADS_1
"Kak Sophia... Haruskah aku menyerahkan diriku pada polisi untuk segera dihukum mati?, kemudian setelah itu... Haruskah aku ditetapkan menjadi penghuni neraka selama-lamanya?. Tuhan pasti benar benar murka padaku...." ucap William yang masih terdengar Isak tangisnya.
"Bodoh!!, Apa yang kau pikirkan?!. Kau kan hanya anak kecil korban percobaan gagal. Mengapa kau merasa seolah-olah dirimu lah yang bersalah?!. Lagi pula kau tak pernah melakukan tindakan yang keji bukan?!. Tahu apa kau mengenai kriminalitas?." Niat Sophia untuk menenangkannya seakan berubah menjadi bentakan keras yang menampar batin William. Mendengar itu, tangisannya justru semakin kencang. Bahkan kelihatannya Darah segar yang mengucur dari ujung matanya itu mulai mendominasi. Sehingga air mata darah itu semakin kental dan pekat juga lah warnanya.