
Sosok berbulu itu mulai mengamuk, berteriak tak karuan hingga teriakannya itu nyaris memecahkan gendang telinga orang yang mendengarnya. Ia menendang tempat pembaringan itu hingga terpental jauh ke arah pintu, akhirnya pintu itupun hancur lebur akibat benturan keras. Bahkan pintu ruangan itu juga mengalami sedikit kerusakan. William juga memporak porandakan apa yang ada disekelilingnya. Suasana yang berubah secara mendadak itu berhasil bulu kuduk Sophia dan Jasmine berdiri. Sophia berjalan mundur beberapa langkah. Hingga akhirnya Sophia pun terpojok di sudut ruangan. Jari jemari Sophia mulai bergetar, jantungnya berdegup kencang. Wajahnya yang biasanya merona itu terkadang memucat terkadang memerah. Kedua lengannya berusaha melindungi tubuhnya. Matanya membulat, ingin sekali rasanya mencoba kabur, namun sayang sekali dirinya berada di sudut ruangan sedangkan William tepat berada di depan pintu. Sehingga mustahil baginya untuk melarikan diri melalui pintu. Sophia berusaha memutar otak, mencari-cari sesuatu yang dapat membantunya untuk melarikan diri, dia merogoh sakunya. Untunglah jarum jarum bius itu masih ada disana, dengan tangan gemetar Sophia pun berusaha melemparkan jarum itu kearah William yang tengah mengamuk. Namun sayang sekali, bukannya menusuk permukaan kulitnya, William malah menangkis jarum itu hingga akhirnya berbalik menusuk permukaan kulit Sophia. Sophia berusaha menghindar Namun naas tubuhnya yang seolah menggigil itu tak mampu bergerak banyak akibat rasa takutnya sendiri. Alhasil jarum bius miliknya itupun berhasil menina bobokannya. Hingga akhirnya Sophia pun tertidur.
Melihat itu, Jasmine seolah merasakan apa yang telah dirasakan Sophia. Seketika manik merah darah itu menatap tajam dirinya. Sayang sekali, sama seperti Sophia. Ia juga terpojok disudut ruangan, bebannya menjadi bertambah ketika ia harus melindungi Sophia yang telah tak sadarkan diri.
"Oh ya tuhan..... bagaimana ini...haruskah salah satu diantara kami mengorbankan diri?." Batin Jasmine.
Amukan William membuat Jasmine tersentak dari lamunannya. Pikiran Jasmine terasa kacau, ia berusaha mencari celah menuju jalan keluar. Ia menekan sebuah remote kecil yang biasa ia gunakan untuk mengaktifkan alarm di kamar Arthur. Yah, biasanya dia menggunakan benda itu untuk memanggil semua orang yang tinggal di tempat itu, ketika adanya darurat. Benda itu jarang sekali digunakan, hingga saat ini. Namun tak peduli berapa kali pun ia mencoba, hasilnya tetap nihil. Tak ada yang berubah. Seolah olah Arthur tak lagi mempedulikan keadaan mereka.
__ADS_1
Jasmine sangat kecewa, Padahal disaat saat seperti ini dia sangat membutuhkan bala bantuan. tapi apa?, tak ada siapapun yang mau menolong mereka, tak ada siapapun yang mampu menolong mereka, sedangkan disana mereka tak dapat berbuat apapun. Oh tuhan!, apalah dia. Ilmuwan jenius yang nyaris gila dan kehilangan kejeniusannya serta diubrak abrik pikirannya hingga tak karuan lagi isinya. rasa takut yang menguasai batin mereka. jangankan mengakali makhluk beringas itu, berpikir saja sudah tak mampu. Mereka benar benar nyaris kehilangan akal!.
"Ck... dimana orang itu... ah tidak... apa yang bisa kulakukan saat ini..." batin Jasmine.
Merasa tak ada lagi yang dapat ia lalukan, terutama ketika sosok yang ia pikir dapat menolongnya tak ada disana. Kini Jasmine lah yang bergidik ngeri. Dadanya terasa sesak hingga menyebabkan nafasnya terengah engah, telinganya berdengung seakan berusaha menutupi pendengarannya, jantungnya berdebar debar, bukan karena cinta, melainkan seolah olah akan copot. Otot ototnya mulai menegang, hingga menimbulkan rasa nyeri. Teriakan nyaring terdengar jelas ketika William mengayunkan cakarnya pada Sophia. Naluri empatinya pun seolah menghantarkan apa yang Sophia rasakan, walaupun orang itu tak bergeming juga. Jasmine kemudian berlari ke arahnya, seolah tak sayang nyawa. Dan sialnya lagi, manusia serigala itu semakin labil emosinya, ia mengamuk tanpa alasan yang jelas mengapa ia melakukan hal itu. Melihat itu, ketakutan Jasmine semakin menjadi jadi. Ia melihat William seakan akan melihat malaikat maut yang tengah menagih nyawanya. Nafasnya seakan tertahan di tenggorokan, aliran pembuluh darahnya seakan akan macet, hingga wajahnya memucat. Ia berteriak kencang ketika William menggoreskan cakarnya yang tajam hingga menorehkan luka dipunggung Jasmine. Ia pun langsung saja membalikkan diri, kali ini William memisahkan jarak diantara mereka. William memamerkan taring taringnya yang tajam, saliva bening mulai mengalir dari mulutnya, hingga menetes membasahi permukaan lantai, tangan berbulunya yang menutupi kuku kuku tajam dibaliknya itu pun mencekal salah satu pergelangan tangan Jasmine. Matanya membulat, nafasnya semakin terengah engah atau bahkan nyaris tak lagi bernafas, ia berteriak histeris. Walaupun begitu, akalnya belum mati juga rupanya. Tangannya meraba raba benda yang ada disekelilingnya, ia teringat bahwa Sophia membawa jarum bius dengan jumlah yang cukup banyak. Langsung saja ia merogoh saku Sophia. Namun Jasmine tetap tak melepas kontak matanya dari William, sehingga fokus William hanya tertuju pada dirinya. Ia tak menyadari bahwa tangan yang masih terbebas itu menggenggam beberapa jarum bius. Bodoh jika Jasmine melewatkan kesempatan ini, ia pun langsung saja menancapkan jarum bius itu hingga menusuk daging William. William pun akhirnya jatuh dalam pangkuannya. Melihat itu, Jasmine menghela nafas lega.
"huff... untung saja.. ternyata tuhan masih menyelamatku..., hampir saja aku mati.." Gumamnya
__ADS_1
seraya memapah tubuh Sophia dan William, kemudian merebahkannya diatas tempat pembaringan. Dibutuhkan waktu sekitar 2-3 jam untuk membiarkan obat yang ia minumkan itu bereaksi, sedangkan jarum bius nya itu akan berhenti bekerja setelah 3 jam berlalu. Namun tak menutup kemungkinan apabila orang yang dibius itu bangun lebih cepat daripada yang telah diperkirakan. Mengingat itu, Jasmine pun kembali menghela nafas lega lalu meninggalkan mereka berdua. Kemudian pergi mencari Arthur yang telah dipanggilnya sedari tadi.
"Ck.. dimana orang menyebalkan itu, betapa bodohnya ia membiarkanku dan Sophia terjebak dalam bahaya!!.. ck orang itu harus diberi pelajaran!!" Batinnya sambil berdecak kesal, Jasmine pun lalu mendobrak pintu kamar Arthur. Tanpa menurunkan ganggang pintunya melainkan langsung saja menendangi dengan sepenuh tenaga. Pintu itu pun terbuka lebar kemudian terbentur seolah-olah akan rusak. Akan tetapi, Alangkah terkejutnya dia melihat ruangan sepi yang tak ada seorang lain pun di sana. Dia juga bertanya-tanya kemana perginya Gilbert. Jasmine mencari keberadaan mereka kemana-mana, dia tak menemui mereka berdua di laboratorium itu.
"Bagaimana keadaannya dokter?. Apa ia masih memiliki kesempatan untuk bertahan hidup?." Tanya Arthur yang tengah mencemaskan Gilbert. Ia berharap temannya itu akan baik baik saja, namun jika ia mengingat ngingat kembali apa yang telah terjadi padanya. Dan mengingat darah yang melumuri tubuhnya dari mulut seketika harapannya seolah putus. Terlebih, ketika sang dokter berjalan kearahnya dengan wajah yang menyiratkan kesedihan.
__ADS_1