
Denpasar City,
Bulan juni tak lekang dari hujan yang mendera bumi. Desa,kota maupun provinsi basah diterpanya. Sebagian orang memilih diam di rumah sambil dipeluk selimut tebal dengan secangkir kopi ditemani acara bincang-bincang pagi di salah satu stasiun televisi swasta. Yang sebagiannya lagi harus menerobos air yang terjun bebas menghantam jalanan dan tidak peduli walau dingin terus saja bersayup-sayup di badan.
Tutt...Tutt...Tutt
"Hallo,ma," tangannya masih basah sehabis menanggalkan jas hujan yang melekat di tubuhnya selama 20 menit.
"Dit, kamu bisa pulang besok? Mama rindu sekali," suara lembut dari seberang yang menghangatkan suasana hati.
"Ada apa, ma?" Suaranya mulai ragu akan maksud ibunya menyuruh pulang.
"Hem, rupanya kamu sudah tahu mama punya maksud tertentu."
"Mama mau mengajak kamu ke pernikahan anak teman mama,Dit. Please, kamu mau,ya?" lanjutnya.
Raut wajah aditya seketika berubah. Ada sesak yang dia tahan agar tidak mencuat dengan kasar.
"Maaf,ma. Ditya tidak bisa ikut. Ajak Indra saja"
"Sampai kapan kamu begini,nak?" Suara terisak terdengar darinya. Aditya mengelus dadanya.
"Maaf,ma. Ditya tahu maksud mama mengajak aku ke sana. Aku tidak bisa," Aditya memutus panggilan secara sepihak. Ia tahu ibunya tersinggung, tetapi memang harus begitu agar ia tidak dipaksa mengingat kenyataan pahit lagi.
"Argh," Aditya mengerang dan melemparkan jas hujan yang masih dipegangnya ke lantai sambil memegang kepalanya yang mulai berdenyut pening.
Teringat lagi peristiwa yang memaksa dirinya dalam keadaan seperti sekarang. Mati enggan, hidup segan dan memaksa bahagia dalam keadaan tertekan.
Ia melirik jam tangannya , masih pukul 06:30 Wita. Restoran masih sepi . Karyawan belum ada yang datang, bukan malas, mungkin terhambat karena hujan. Turis-turis belum ada yang berjalan di pinggir jalanan. Tidak ada yang akan melihat seorang anak manusia yang sedang meratapi dunia.
Flashback On
20 Maret 2018
Sebagian manusia percaya dengan yang namanya hari baik. Bulan ini ada hari baik untuk melangsungkan pernikahan. Musik-musik tradisional mengalun dari rumah-rumah dengan hiasan megah di pintu masuk pekarangan. Masyarakat berpasangan datang berpakaian tradisional khas Bali. Pengantin menyambut mereka dengan senyum yang terlihat bahagia. Pengantin wanita tampak mendongak-dongak seolah mencari sesuatu.
"Selamat,ya" Aditya menyalami kedua mempelai.
"Terima kasih"
Aditya dan teman-temannya masuk untuk menikmati hidangan.
"Dit, lo datang juga ternyata," seorang lelaki berperawakan kekar menepuk pundaknya.
"Eh, Za. Iya, mereka maksa sih," tunjuknya ke arah teman-temannya. Sontak mereka terlihat merona karena malu. Lantas tertawa bersama-sama. Namun Aditya terlihat memaksakan tawanya.
__ADS_1
"Dit,gue bawa wine nih. Lo mau?" Reza menyodorkan segelas wine pada Aditya.
Tanpa pikir panjang ia menenggak wine bening kekuningan itu.
"Wah, 3 tahun kerja di restoran sekarang lo udah biasa sama wine ya," kata Reza.
"Just simple things," Aditya terkekeh.
Tak cukup segelas, mereka berdua menghabiskan dua botol dengan jenis yang berbeda. Sebotol sauvignon blanc dan sebotol carbenet merlot. Dengan perbedaan jenis wine tersebut membuat keduanya dengan mudah kehilangan kesadaran.
"Gimana,bro? Lo masih sakit hati karena cewek murahan itu?" Reza berbicara seperti orang mengigau.
"Siapa yang lo bilang murahan?" Satu tonjokan mendarat di wajah Reza disusul tonjokan-tonjokan selanjutnya.
"Jaga mulut lo ya!" Aditya berteriak kepada Reza.
Tamu undangan melihat mereka dengan jengkel. Teman-teman Aditya tidak berani melerai. Petugas keamanan datang membawa dan mengusir mereka secara kasar.
"Lepasin!" bentak Aditya. Ia langsung menaiki motornya.Di sisi lain ada yang menatapnya sambil menyeka air mata tanda menyesal.
Aditya membawa motor dengan ugal-ugalan. Tanpa mengindahkan rambu-rambu lalu lintas maupun marka jalan. Ia menerobos lampu merah dan dari arah berlawanan sebuah truk melesat.
Flashback off
Tak terasa tangannya mengepal seketika. Hanya karena mabuk demi melupakan nasibnya, ia harus di rumah sakit selama satu bulan.
Tuttt.. tuttt ...tuttt
Handphone-nya kembali berbunyi, namun bukan panggilan dari sang ibu melainkan adiknya.
" Hallo, ada apa?" Aditya berusaha menyembunyikan bahwa dirinya sedang kesal.
"Kak, pulang ya," suara polos itu masih sama seperti kanak-kanak padahal umurnya sudah 20 tahun. Lima tahun lebih muda dari Aditya.
"Maaf,dek. Kakak tidak bisa pulang. Kakak tidak dapat libur," jawabnya spontan.
Indra langsung memutuskan panggilannya. Aditya tahu karakter adiknya yang tidak suka dengan penolakan. Jadi ia memberikan Indra waktu untuk mengerti posisinya.
"Apakah gue sejahat itu?" seseorang menyentuh bahu Aditya yang tertunduk lesu.
"Eh, maksudnya bang?" Ia tak mengerti apa yang dikatakan lelaki 40 tahun itu.
"Tuh tadi lo bilang lo enggak dapat libur. Gue enggak sepelit itu jadi Manajer."
Namanya Yudha. Saat formal dia dipanggil "pak Yudha", namun dalam situasi di luar pekerjaan semua bebas memanggilnya dengan keakraban "bang Yudha". Lantaran ia tidak suka terkesan terlalu tua.
__ADS_1
"Haha, lo baper ternyata. Gue bilang begitu supaya enggak dipaksa pulang."
"Kenapa? Karena dia?"
"Sudahlah,bang. Lo tahu semuanya," Aditya beranjak memungut jas hujannya lalu pergi menuju loker.
***
Tiga bulan Aditya tak pulang. Ia pulang bila hanya sangat mendesak saja. Libur sekali seminggu hanya akan ia habiskan di kaamar kos ukuran 3×3 meter ditemani game mobile legend dan lantunan musik dari radio.
I can't throw away the pieces that you gave
Betrayed in a way
Of a knife stuck on my back
How could you do this, we've been through this for a while
Once a cure
Now's a scar
Hold me not
Give me back my mind
My thoughts that you've taken
Starve me to care
Could the night help me shut you out?
You gave me a lesson
Not to go and dive
But i already dive
Penggalan lagu dari salah satu grup musik asal Jakarta yang menjadi lagu favoritnya sejak tahun 2019.
"Dit, kecilin musiknya!" Terdengar ibu kos menggedor pintu sambil berteriak. Aditya langsung mematikan radionya, tetapi bukan karena teriakan si landlord. Sebuah panggilan video masuk di layar smartphone-nya. Sedikit senyum merekah di bibirnya.
"Hai, sayang," sapa di seberang sana meskipun dengan ekspresi yang terlihat jelas. Riang dan bersemangat.
"Sayang, Sintia kangen katanya. Kapan papa pulang? Dia nanya gitu," lanjut wanita itu.
__ADS_1
"Aku mau lihat Sintia."
Layar menampilkan bayi berumur sembilan bulan tersenyum dengan manisnya. Kulit putihnya menunjukkan bahwa kedua orangtuanya juga berkulit putih. Bibirnya tipis, mengembang ketika belajar tertawa. Aditya ingin tahu kata apa yang akan diucapkan si kecil untuk pertama kalinya.