Arti Cinta

Arti Cinta
Sahabat Lama


__ADS_3

Shift sore adalah waktu kerja yang penuh dengan kesibukan. Laju jam dinding yang terpampang jelas di atas display Balimoon Liquer itu seolah terasa malas dan tidak bertenaga untuk menggerakkan jarum-jarumnya. Karyawan biasa pasti akan geram dengan kebosanan menunggu waktu pulang. Tetapi Aditya lebih suka seperti itu, bahkan ingin rasanya ia bekerja sepanjang hari walau itu akan membunuhnya. Karena diam tanpa bekerja lebih buruk dari kematian.


"Excuse me. Could you give me salt and paper?"


"Yes, sir"


Suasana restoran terlihat lebih ramai. Dua puluh empat meja dengan masing-masing dua tempat duduk hanya menyisakan lima meja kosong. Live music perpaduan keyboard dan gitar yang dibawakan dua orang penyanyi sangat menarik bagi tamu-tamu yang sebelumnya berjalan-jalan di tepi jalan. Mereka memutuskan memasuki restoran meski hanya untuk menenggak sebotol bir. Bagi mereka yang terpenting adalah menikmati alunan musik yang cenderung menyajikan musik lawas namun dengan gaya kekinian.


"Excuse me, one beer radler,please," pinta seorang tamu kepada Aditya.


"Yes,sir. Wait a moment!"


Semakin malam tamu membanyak. Bulan juni merupakan awal high season di dunia pariwisata tentu hal ini normal. Tetapi kuota tenaga restoran tidak memadai. Mulai ada tamu yang mengeluh karena tidak puas dengan pelayanan yang diberikan.


"Hei, who is the manager?" Seorang pria dengan rambut yang terlihat mulai memutih dengan suara cukup tinggi bertanya kepada seorang pelayan. Pelayan wanita itu sedikit gugup namun dengan sigap Aditya datang menghampiri.


"Excuse me ,sir. How my assist you?"


"Who are you? Are you manager here?"


Terlihat tamu itu benar-benar kesal.


"No,sir. I am captain here. May I help you?" Aditya masih berusaha mengendalikan keadaan.


"No! I don't need you. Call your manager now!" Ia bersikeras untuk bertemu Bang Yudha.


"Ada apa,Dit?" Bang Yudha menghampiri mereka. Aditya sedikit malu padanya. Karena tidak seharusnya masalah ini langsung sampai ke manajer ketika ada dirinya.


"I think you are the manager," ia bersemangat untuk menyampaikan keluhan,unek-unek, dan segala macam yang ada di otaknya sekarang.


"Yes,sir. Could I help you?"


"I came here two hours ago and O order my food also. But until now my food not come. Do you think my hungry will lost just with drink a bottle of this beer?" Ia menyampaikan keluhannya sambil mengangkat-angkat botol bir besar yang isinya hampir habis.

__ADS_1


"I am sorry,sir. Our employees not too much, and many customer come in suddenly....." sebelum melanjutkan kata-katanya, tamu itu menyambar kesempatan Bang Yudha berbicara.


"It is not just about it. That customers came after me, and order after me. Why they get the meal before me?"


Bang Yudha kehilangan kata-kata ketika yang dikatakan tamu itu benar adanya. Segera tamu itu meninggalkan restoran dengan kesal. Bang Yudha mendelik ke arah Aditya.


"Sial!" Aditya mengumpat dalam batinnya mengetahui apa yang akan ia dapat sekarang.


***


Sepertinya fungsi AC di sini mulai menurun. Buktinya kening Aditya terus saja berkeringat. Ia terus menatap manajernya yang sedari tadi masih diam. Setelah berbulan-bulan baru sekali Aditya diajak bicara dalam keadaan yang panas. Dalam ruangan dengan pintu masuk dan pintu keluar berupa kaca dan dinding depan yang menghadap ke halaman juga terbuat dari kaca, berjejer sepuluh meja makan yang masing-masing dilengkapi tempat duduk. Biasanya difungsikan untuk rapat petinggi manajemen dan briefing global jika HRD menginginkannya, mengingat restoran ini tidak berdiri sendiri melainkan salah satu dari lima belas cabang. Ruangan ini memiliki sebuah kamar mandi dalam. Selain untuk pertemuan juga dapat digunakan untuk tempat tamu makan. Tetapi jarang ada yang berminat duduk di sini, karena live music tidak dapat dilihat dari ruangan ini. Hanya tamu yang ingin ketenangan atau jauh dari gangguan keramaian yang berniat duduk di dalamnya.


"Jangan tegang,Dit. Gue enggak bakalan nerkam lo," Bang Yudha memulai pembicaraan. Wajahnya mulai terlihat normal.


"Sebenarnya gue mau bentak-bentak lo tadi, tetapi gue jadi kasihan mengingat ini bukan sepenuhnya salah lo. Jadi gue enggak bakal memarahi lo,"lanjutnya.


Huft...


Aditya menghembuskan nafas lega.


"Baik,sekarang hukuman kamu adalah mencari pegawai baru untuk di tempatkan posisi waitrees!" Perintah Bang Yudha dengan menekankan pada kata hukuman.


"Yih, katanya saya enggak salah," Aditya sedikit terkejut.


"Berubah pikiran" jawab Bang Yudhaa sambil segera beranjak pergi.


Sepasang mata terlihat memperhatikan mereka dari jauh. Berhubung pintu kaca itu benar-benar seperti tidak ada. Mata Aditya dengan matanya bertemu. Aditya terlihat riang, tetapi belum menghampirinya. Aditya masih harus melanjutkan pekerjaannya.


***


Restoran akan ditutup, pria itu menghampiri Aditya dengan senyum mengembang.


"Hai, bro. Gimana kabar lo?" Ia menggantungkan tangannya ke leher Aditya.

__ADS_1


"Baik. Kapan lo pulang?"


"Dua hari yang lalu. Udah habis kontrak."


Alan Wijaya. Berkulit putih dengan rambut tercukur rapi. Sangat menunjukkan profesinya sebagai pegawai di kapal pesiar.


"Dit, ke kafe yuk. Udah lama enggak hangout," ajaknya.


"Oke deh, lo yang traktir,"


"Oke,Buddy."


Kafe Cruisan dengan gemerlap lampu khas kafe yang cenderung seperti diskotik. Lampu PAR (Parabolic Aluminized Reflector) berkolaborasi dengan lampu sorot Spot Light benar-benar menambah warna malam ini. Musik Reggae begitu meriah bahkan terdengar sampai di Circle K yang terletak bermeter jauhnya.


Para Tamu ada yang memilih duduk menikmati minumannya,ada juga yang menari-nari di depan panggung musik.


"Don't be sad. Let's party together," teriak penyanyi untuk membangkitkan semangat penonton. Pelayan sedikut kesulitan berlalu-lalang membawa pesanan dengan ramainya tamu yang berdiri dan berjoged-joged.


Alan dan Aditya memilih duduk di meja paling belakang. Selain agar tidak terlalu berdesakan, juga agar mereka bisa mengobrol dengan santai.


"Jadi benar yang gue dengar tentang lo?" Alan memulai pembicaraan. Aditya hanya mengangguk sambil tetap berfokus pada bir di tangannya.


"Enggak habis pikir gue. Bisa-bisanya kayak gitu. Terus sekarang gimana?" tanyanya lagi.


"Masih sama seperti dulu, Lan. Lo kan tahu gimana perasaan gue. Enggak sanggup kalau harus merubah dari awal," kata Aditya.


"Gila lo, Dit. " Alan yang terkejut mendengar kata Aditya tak habis pikir dengan yang dikatakan sahabat yang sudah seperti saudaranya sendiri.


"Ya gue harus ngapain? Gue enggak punya kekuatan buat merubah apalagi menghapus semuanya, Lan. Gue cuma bisa ngejalanin aja. Terserah gimana tanggapan orang lain tentang gue," Aditya menenggak habis minumannya.


"Siapa saja yang sudah tahu?" tanya Alan lagi.


"Cuma lo aja, Lan. Gue malu membeberkan aib seperti ini. Biar saja mereka tahu yang ada di permukaan bukan yang tersimpan di balik permukaan itu,"

__ADS_1


"Terus sampai kapan?"


"Sampai gue enggak bisa napas lagi. Karena setelah itu gue bisa bebas," Aditya tersenyum kepada Alan yang masih menatapnya.


__ADS_2