Arti Cinta

Arti Cinta
06. Sebuah Tanggung Jawab


__ADS_3

Prastika POV


Lelaki itu begitu gembira atas kabar yang kubawakan. Ia sangat ingin agar aku bekerja di restoran itu. Padahal aku ingin mendapat tempat dikawasan Kuta yang lebih ramai wisatawan. Namun permintaannya membuatku terpojok dan terpaksa menurutinya.


"Aku tak mengerti, mengapa kakak menyuruhku bekerja di sana. Bisakah kau mengatakannya?" tanyaku padanya.


"Aku ingin kau berjanji padaku, Pras" cetusnya.


Suasana taman ini tak mendukung irama kata-kata itu. Aku melihat nanar dirinya. Sedangkan dia tetap saja memandang sesuatu yang jauh entah di mana. Meski aku tahu apa yang sedang dia alami, tetapi aku tak ingin jika alasan dia memaksaku bekerja di sana ada kaitannya dengan dirinya.


"Cinta dan persahabatan itu istimewa, Pras. Aku bisa merasakannya di dunia ini, tetapi aku tak bisa memilikinya untuk waktu yang lama. Aku ingin aku bisa membantu dua orang yang telah memperkenalkan kedua hal itu padaku," katanya sambil mengulum senyum.


"Lalu apa hubungannya, Kak?" aku masih tak bisa mencerna kata-katanya. Ia begitu pintar untuk bermain kode dan membuatku terjebak dalam keingin-tahuan.


"Aku ingin kau mencintai sahabatku. Dia pantas mendapatkan gadis seperti dirimu, "


Deggg


Jantungku berpacu begitu cepat dan sedikit nyeri di sekitarnya. Mataku mulai panas entah gara-gara apa. Aku ingin menangis mendengar permintaannya. Tetapi aku merasakan beban dan hatinya yang begitu terpaksa mengatakan semua itu. Aku dan dia terdiam untuk selanjutnya. Teringat beberapa hari yang lalu ketika aku mengetahui hal yang telah disembunyikan dariku. Fakta tentang ia yang ternyata menderita dibalik segala keceriaannya. Keceriaan yang selalu ia bagi denganku.


***


Lima Hari Yang Lalu,


Sejak ia pulang dari perjalanannya mengelilingi negara tetangga, aku makin sering meluangkan waktu mengunjunginya. Meski lokasinya cukup jauh, tetapi apalah arti jarak itu. Lokasi kos-nya yang dipinggir jalan memang sangat mudah untuk ditemukan. Tadi berangkat pukul 8, jam 9.30 aku sudah sampai di sini. Tetapi kamarnya yang sedikit terbuka memgindikasikan lelaki itu belum bangun juga. Suatu kebiasaan yang diakibatkan oleh perbedaan zona waktu antara belahan bumi Indonesia dengan negara tetangga.


Ia masih berselimut hangat ketika matahari makin meninggi. Ia tak menyadari kehadiranku sedikitpun. Aku duduk di samping ranjangnya sembari mengistirahatkan tubuh yang kelelahan berkendara tadi.Aku memperhatikan mukanya lekat-lekat. Wajahnya begitu berubah dari sebelumnya. Ia begitu pucat membuat pandanganku makin terfokus memandanginya.


"Mengapa ia terlihat tak sehat?" batinku.


Pandanganku teralihkan oleh amplop putih yang sepertinya dari tadi telah kutindih dengan tanganku. Tertulis nama dan alamat rumah sakit di sana. Tampaknya telah dibuka oleh seseorang karena bagian atasnya telah robek. Sepucuk surat berada di dalam amplop itu , semacam surat pemberitahuan atau hasil dari suatu tes.


Air mata tak terbendung seiring surat itu selesai kubaca. Aku merasa tidak berguna hingga tak mengetahui penyakit yang dideritanya sampai sejauh ini. Aku jatuh dan menangis disebelahnya. Tentu saja itu membangunkan dia. Ia segera bangun dengan ekspresi khawatir.


"Ada apa? Mengapa kau menangis,Pras?"

__ADS_1


Aku tak kuasa menjawab. Ia melirik surat yang masih kugenggam. Ia menarik nafas panjang seolah menyiapkan penjelasan.


"Hem, Pras... Aku....."


"Apakah aku tidak berharga bagimu?" tanyaku sedikit tersendat-sendat akibat sesenggukan.


"Bukan begitu, Pras....."


"Lalu ini apa? Apakah aku tak boleh mengetahui keadaanmu, kak?"


"Aku hanya menunggu saat yang tepat untuk menceritakan semuanya, tetapi kau malah mengetahuinya duluan,"


"Dari kapan? "


"Aku juga tidak tahu, tetapi tiba-tiba saja sudah stadium 4,"


"Aku hanya merasakan lemas dan pusing, aku tidak tahu bahwa hasilnya seperti ini. Yang aku tahu, aku tak bisa sembuh, Pras,"


****


Aku menyadari aku terlarut dalam pikiranku tadi. Mungkin juga aku tidak mendengarkan apa yang sedari tadi ia tuturkan.


"Kau mengatakan sesuatu, Kak?"


"Tidak, aku hanya meminta tolong itu saja padamu,"


"Bagaimana aku bisa, kak?"


"Kau bisa,Pras. Ini juga untuk dirimu, kau akan mendapatkan yang lebih sehat dariku," katanya penuh harap.


"Maafkan aku, kak. Aku tidak bisa," jawabku tegas.


Aku berdiri dari tempatku duduk. Terlalu sesak untuk masih di sini. Tanpa menoleh ke arahnya lagi aku berjalan pergi.


Brukkkk

__ADS_1


Aku terkejut melihatnya telah terjatuh dan tak bangkit lagi. Orang-orang di sekeliling mulai mendekatinya. Begitupun denganku.


"Kak, apa yang terjadi denganmu?"


Rasa takut menjalar di setiap aliran darahku yang berdesir. Orang-orang membantuku membawanya ke rumah sakit terdekat. Aku tak mampu berkata apapun lagi, yang bisa kulakukan hanya menangis memandangi wajahnya yang kian memucat. Tangannya pun kian mendingin.


"Cepat, pak," Aku bahkan tak peduli siapa yang mengantarkan kami. Aku sangat ingin mobil ini melaju sekencang-kencangnya agar lelaki ini selamat. Dia terlalu berharga untuk diambil sekarang.


***


Ia telah terbaring dalam penanganan dokter. Mereka terlihat sibuk di dalam dan aku hanya menyaksikan dibalik dinding kaca ini. Kedua matanya mulai terbuka, segera kuseka air mataku. Ia tersenyum ke arahku, mengangkat tangannya mengisyaratkan bahwa dia sedang baik-baik saja. Ia terlihat begitu lemah, entah bagaimana caranya menahan rasa sakit di tubuhnya. Dia masih berusaha terlihat kuat di depanku meski sekarang dia telah terbaring di sana.


"Kamu keluarganya?" tanya dokter yang menangani dia.


"Iya dok, orangtuanya tidak berada di sini. Kalau boleh tahu apakah penyakitnya bisa disembuhkan,dok?" tanyaku masih berusaha tenang meski ketakutan masih menguasai diriku.


"Saya menyarankan agar dia tidak terlalu kelelahan dan banyak pikiran, kita hanya bisa berdoa agar waktunya bisa lebih lama lagi," kata dokter.


"Dia memanggilmu nona," lanjutnya.


Aku segera menghampirinya. Ia mencoba tertawa meski terkesan dipaksakan.


"Kenapa kau tertawa?" tanyaku jengkel.


"Aku melihat ketakutan di wajahmu. Aku menyadari betapa kau begitu khawatir tadi,"


"Apakah kau menganggap semuanya remeh? Jelas aku ketakutan, bagaimana kau bisa mempermainkan emosiku, kak!"


"Kau akan terbiasa, pras. Mungkin beberapa hari setelah kehilangan, atau bahkan beberapa bulan kita masih tidak bisa mengiklaskan. Tetapi kau harus bisa menghadapi kenyataan, Pras," katanya.


"Jangan membahas tentang hilang dan pergi lagi, kak. Aku yakin kau akan sembuh," kataku.


"Aku tidak bisa memberi harapan itu padamu, Pras. Setiap saat penyakit ini telah mengambil setiap detik sisa hidupku, juga tiap detik waktu yang tersisa bersamamu. Aku masih ingin hidup seratus tahun lagi, dan jika tidak, aku ingin hidupku berguna. Tetapi harapan pertamaku itu tidak bisa menjadi nyata. Harapan kedua bisa kau wujudkan untukku, Pras," terangnya begitu penuh harapan. Harapan yang begitu tulus terpancar dari matanya.


"Apakah kau tak mencintaiku?"

__ADS_1


"Aku mencintaimu bahkan melebihi dari yang kau tahu, " jawabnya.


__ADS_2