
Memang benar kata orang-orang yang ahli perasaan, jika hati sedang tak tenang maka badan pun ikut lesu. Ia menggeliat malas di atas ranjangnya. Tidur siang terasa malam hari, begitu ngantuknya. Aditya memaksa dirinya untuk bangkit sebelum ia lebih malas lagi dan pada akhirnya bolos kerja hari ini. Ia melihat ponselnya, bukan semata-mata untuk melihat pesan dari Bintang melainkan hanya melihat pesan-pesan operator yang sering membuat kantongnya menipis. Satu pesan masuk pada lima menit yang lalu.
Pram BT
"Bang Dit, lo ditungguin sama anak baru tuh. Udah satu jam nungguin lo,"
Pramudyarta, juniornya yang terjadwal hari ini tugas pagi. Aditya melihat jamnya dengan lebih dekat, baru jam satu siang dan katanya calon pegawai baru itu telah datang.
"Astaga, entah apa yang membuatnya begitu rajin," batin Aditya.
Aditya
Suruh nunggu 20 menit lagi, gue ke sana sekarang.
***
"Kok jam segini udah datang dia," tanya Ariani yang kaget melihat Aditya telah tiba di restoran jam segini. Ariani berdiri di depan restoran untuk menyambut tamu yang datang atau sekedar menawarkan lunch kepada mereka yang lewat di jalanan.
"Kan ada calon pegawai sekarang," jawab Pram.
"Oh iya, Bang Yudha sekarang lagi libur," kata Ariani cengengesan. Pram menggeleng-geleng melihat Ariani yang telat mikir itu.
"Di mana dia, Pram?" tanya Aditya segera.
"Tuh di dalam. Kayaknya dia mulai kedinginan karena terlalu lama di bawah AC," jawab Pram sambil nyengir.
Aditya berjalan setengah berlari ke ruangan itu. Seorang gadis duduk di salah satu meja sambil membaca berkas di depannya. Sepertinya ia memang begitu serius untuk interview ini. Matanya menangkap sosok Aditya yang mendekat. Ia segera berdiri dan melemparkan senyum pada lelaki itu.
"cantik," batin Aditya.
Gadis itu memakai kemeja putih rapi. Kulitnya kuning langsat dengan make up minimalis di bagian wajahnya. Rambut dijempong terbalut hairnet. Melihat ukuran jempongannya, bisa ditebak bahwa rambutnya sedada.
"Aditya," cetus Aditya sambil mengulurkan tangan pada gadis itu.
"Prastika," gadis itu turut menyebutkan namanya.
__ADS_1
"Udah lama nunggu?"
"Tidak,kak. Saya memang sengaja untuk datang lebih awal, tujuannya untuk melihat-lihat restoran ini. Tetapi kakak yang di depan tadi malah menyuruh saya diam di sini dan tak memperbolehka saya berkeliling," jawabnya.
Aditya hampir tertawa namun ia tunda karena ingin menjaga wibawanya di depan calon pegawai baru itu.
***
"Baik, besok kamu sudah boleh bekerja," kata Aditya.
Senyum sumringah ditunjukkan oleh gadis itu.
"Terima kasih, kak"
"Sama-sama,....Prastika"
Prastika Narayani, itulah nama gadis itu. Dia satu kabupaten dengan Aditya ternyata. Namun berbeda distrik.
Prastika beranjak pergi setelah berpamitan dengan Aditya. Lelaki itu merasa aneh di hatinya, kehangatan tutur kata Prastika seperti membuatnya lupa terhadap Bintang sejenak. Tetapi ia menyangkal hatinya, bagaimanapun ia tidak punya waktu ataupun kesempatan menjalani cinta yang lainnya.
"Sayanggg," panggilnya mesra. Pandangan semua yang ada di sana benar-benar terlihat sinis.
"Hai kalian apa kabar?" tanya Bintang kepada seluruh pegawai di sana. Semua hanya mengangguk tanpa menjawab.
Sebuah kotak ada di tangannya. Seperti kotak bekal berwarna biru. Plastik putih yang dipakai membawanya tak cukup untuk menyembunyika warna si kotak.
"Ngapain, Tang?" tanya Aditya.
"Aku bawain kamu bekal. Ini masakanku, kamu makan ya, sayang," suruh Bintang. Ia melenggang pergi tanpa berkata apapun lagi.
Sekarang giliran Aditya yang mendapat tatapan mereka. Terlihat seperti mereka menuntut penjelasan dari Aditya. Tetapi segera mereka bersikap biasa sebelum captain-nya itu marah-marah karena mengurus urusan pribadinya.
Ariani dan Pram terbatuk-batuk meski itu adalah sebuah kepura-puraan. Kerongkongan mereka tak gatal sama sekali. Mereka hanya meledek Aditya yang masih tak bisa move-on dari kekasih hatinya yang kebetulan pernah bekerja di sini. Aditya mendelik kesal, ketimbang tatapan sinis tadi, cara mereka lebih menjengkelkan.
"Kalian kena virus?" tanya Aditya.
__ADS_1
"Nggak,bang. Keselek makan siang tadi," jawab Pram sambil terkekeh.
Aditya merasakan sindiran halus di dalam kalimatnya. Ingin ia jambak rambut Pram itu. Menguji kesabaran ketika mood-nya berada di titik bad.
***
Suatu gosip panas tentu menjadi headline di suatu media. Di restoran ini, mulut penggosip adalah media yang paling tren. Segera saja kejadian kemarin telah sampai di telinga Bang Yudha. Apalagi keduanya dipertemukan dalam satu shift pagi ini. Bang Yudha pasti telah menyusun sistematika pertanyaan yang akan dijatuhkan kepada Aditya. Ia terlihat begitu semangat, sedih dan prihatin terhadap berita tersebut.
"Beneran Bintang ke sini kemarin?" tanyanya.
"Bener,Bang," jawab Aditya seadanya.
"Bukannya dia nggak tinggal di sini? Nggak mungkin kan dia jauh-jauh cuma mau ketemu lo?" Bang Yudha semakin mendesak Aditya.
"Dia pindah ke sini ,Bang. Soalnya Putra dipindah tugaskan ke sini,"
"Putra? Maksud lo......."
"Iya,Bang. Tuhan terlalu mengasihani gue yang memendam rindu sampai selama ini, jadi Dia membawakan wanita itu mendekat kepada gue. Tapi malah gue pusing sendiri," kata Aditya memotong pertanyaan yang hendak ditanyakan oleh Bang Yudha.
"Ya, tetapi lo salah jika melanjutkan hubungan ini, Dit. Ini baru satu restoran yang tahu, gue takut kalau nanti banyak orang yang tahu khususnya dari keluarga lo dan Bintang. Bukannya itu malah lebih bahaya buat kalian berdua?"
"Gue nggak tahu harus gimana bang,"
"Lo kenapa sih? Emangnya nggak ada cewek lain selain dia?"
"Bukan itu masalahnya ,Bang. Lo kan tahu sendiri apa yang terjadi, " kata Aditya sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Lo bertahan demi Sintia, tetapi jika lo masih bertahan seperti ini masa depan Sintia juga yang terancam,Dit,"
Aditya tak menjawab. Ia nyelonong pergi tanpa mempedulikan Bang Yudha. Baginya orang lain hanya bisa menasehatinya dari posisi kehidupan mereka, bukan dari posisi hidupnya. Mereka hanya tahu bahwa Aditya salah, tetapi mereka tidak mengerti bagaimana kebimbangannya. Ia merenung di antara pikiran-pikirannya yang berkecamuk.
" Apa peduliku dengan kata orang, pada akhirnya mereka toh akan tahu," batinnya.
Ia terduduk lagi di salah satu kursi. Sapu yang hendak dipakainya membersihkan lantai malah dilempar sembarangan. Bang Yudha menatapnya tetapi tak berani lagi berkomentar. Ia menganggap Aditya sebagai adiknya sendiri, ingin rasanya ia membantu Aditya untuk keluar dari masalahnya. Dia kira setelah terakhir pertemuan itu, Aditya sudah tak ada hubungan apapun dengan Bintang. Ternyata Aditya nekat sampai sejauh ini untuk gadisnya itu. Padahal sudah terlalu banyak ia disakiti dari semua sisi.
__ADS_1