
Burung berkicau di atas pepohonan. Ayam jantan berkokok entah dari rumah yang siapa. Sepeda motor lebih mendahului terdengar ketimbang mentari yang terbit dari peraduannya. Sepeda motor yang terdengar melaju lambat nan pasti. Mungkin dikendarai ibu-ibu yang akan ke pasar tradisional. Aditya mengusap-usap matanya. Mengedarkan pandangannya ke sekeliling untuk mengorientasi di mana ia sekarang. Tembok bercat kekuningan dengan gorden biru langit itu bukanlah khas kosnya.
"Di mana gue?,"batinnya. Kepalanya masih pusing. Mungkin ia mabuk semalaman, namun ia tak dapat mengingat apapun. Ia merasa mungkin ia terlarut minum di kafe semalaman bersama Alan.
"Lo udah bangun,Dit?" Alan datang membawa dua gelas teh dan dua buah sandwich.
"Lo yang bawa gue kemari?" Aditya masih terus mengusap-ngusap penglihatannya yang masih ingin menutup dengan sendirinya.
"Ya,bro. Lo minum terus tanpa menghiraukan gue. Yah gue nunggu lo sampai bosan dan membawa lo kemari"
"Oh, ini kos lo? Sejak kapan?" tanya Aditya sambil mengambil teh dan sandwich yang disodorkan Alan.
"Baru tiga hari," jawab Alan setelah meletakkan nampan kosongnya di atas meja.
"Emang lo enggak berangkat lagi?" Aditya menyeruput teh hangatnya. Wangi teh sariwangi menelisik suasana tubuh yang baru sadar tentang tibanya pagi. Sedikit berefek ke kepala pusingnya. Mereda.
"Enggak tahu juga. Kalau gue berangkat, kos ini mau gue suruh pacar gue yang nempatin," jawab Alan.
Suasana persahabatan diantara keduanya masih terasa meski jarang bertemu. Mereka bersenda gurau sambil merasakan kehangatan teh dan lembutnya sandwich yang menyentuh lidahnya. Ditambah kehangatan sinar matahari pagi yang tepat menyelundup dari jendela kamar itu.
"Nasib kita berseberangan banget,Dit," Alan terdengar bicara serius.
"Maksud lo?" Aditya yang mengalihkan pandangannya ke Alan dan menatap sahabatnya dengan lekat di tengah kebingungan.
"Yah,gitu. Yang lo jaga malah pergi, dan gue yang seharusnya juga ngejaga, malah gue yang bakal pergi," matanya terlihat menerawang ke luar jendela. Entah apa yang berkecamuk dalam pikiran pria 25 tahun itu.
"Haha, lo udah bisa main teka-teki sekarang," gelak tawa Aditya bahkan membuat anak-anak kos di kamar sebelahnya melirik ke kamar mereka. Ia terlihat tidak peduli dengan kata-kata Alan, meski ia betul-betul ikut berpikir apa maksud yang dikatakan sahabatnya.
Puas tertawa, Aditya beranjak untuk meletakkan gelas kosongnya di atas nampan.
Brukkk....
Ia tak sengaja menyenggol tumpukkan buku di sebelahnya.
"Lo beresin barang gue yang lo jatuhin! Gue mau mandi dulu," suruh Alan sambil terkekeh lalu melenggang dan bersiul menuju kamar mandinya.
"Iya, bawel lo ,"
Beberapa buju itu berserakan di bawah. Buku- buku itu tentang pariwisata dan industri kapal pesiar. Alan tentu sangat memperdalam materi-materi di buku tersebut. Namun ada sebuah buku yang menyita perhatian pandangannya. Terdapat bentuk hati di permukaannya. Sampulnya yang terlihat tak semulus baru menujukkan bahwa buku itu sering kali disentuh. Aditya segera merapikan buku-buku yang lain, kemudian segera duduk di atas kasurnya lagi. Ia membuka buku yang ia temukan tadi. Di halaman depannya terdapat lukisan dua merpati di atas sepasang tangan. Lukisan tangan asli bukan lukisan hasil print ataupun scab komputer. Di lembar kedua dan selanjutnya terdapar sekitar lima belas puisi yang ditulis tangan indah. Mirip Lucida Handwriting di Microsoft Word. Sama persis. Aditya tahu itu tulisan tangan sahabatnya. Alan yang kreatif.
__ADS_1
"Tetapi sejak kapan ia bisa berpuisi?" batinnya.
Kata-katanya sangat indah. Seperti ungkapan hati wanita yang sangat mencintai kekasihnya. Meski Aditya tidak berkecimpung di dunia sastra,tetapi ia mengerti makna dari diksi dan majas yang tertuang di dalamnya. Mengisyaratkan perasaan.
Lembar demi lembar ia telaah, tidak sengaja ia menjatuhkan selembar kertas dari buku itu. Tetapi bukan buku itu yang robek, terlihat dari warna kertasnya yang berbeda. Beberapa larik tertulis di dalamnya. Ia tahu bukan Alan yang menulisnya. Tulisan tangannya yang tak sama.
***Tuan,
Ku seduhkan secangkir kopi hangat dengan gula yang dicintai semut hitam itu
Aku merebutnya demi memaniskan kopi pahitmu
Ketika Juni ini langitmu masih mendung, dingin tak terbendung
Dan setitik menggemetarkan pori-porimu
Seruputlah, engkau akan hangat
Tuan,
Ku seduhkan secangkir kopi hangat sambil bernyanyi kemesraan dari Iwan Fals
Ketika kau rindu kekasihmu
Seruputlah, rindu itu akan kau kenang selalu
Tuan,
Jikalau habis secangkir,
Tunggu esok lagi,
Hamba sajikan setiap pagi***,
Di Dapurmu, Juni 2019
"Ehh......" saking asyiknya ia tidak sadar kalau Alan telah keluar dari ritual bersih-bersihnya dan langsung menyerobot buku di genggaman Aditya dan tidak lupa juga dengan kertas yang masih dibacanya di tangan yang berbeda.
"Ciah, lo puitis banget," ejek Aditya sambil tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Bukan gue, monyet," Alan mendelik kesal.
"Ini tuh puisi-puisi pacar gue. Dia suka banget buang-buang waktu buat ngasi gue puisi. Makanya gue salin ke buku ini biar rapi dan enggak hilang. Kalau gue mati, gue mau buku ini terus bersama gue. Biar di akhirat nanti gue bakal ngerayu Tuhan dengan puisi-puisi ini. Siapa tahu Tuhan baper dan enggak ngejeblosin gue ke neraka. Kalaupun masuk neraka, gue juga bakal rayu petugasnya, biar gue enggak di rebus," satu toyoran mendarat di kepala Alan. Ia hanya tertawa menyadari temannya benar-benar kesal mendengar ocehannya.
"Gila lo," cetus Aditya.
"Haha, sabar bro. Lo mau gue kenalin sama pacar gue?" Alan mengacak-acak rambut Aditya.
"Dia suka nulis novel juga?"
"Suka, tetapi baru gue pembaca setianya. Belum pernah diterbitin," Alan menunjukkan muka bersedihnya yang dibuat-buat.
"Wah, gue enggak mau kenalan sama pacar lo, nanti gue dijadiin tokoh di novelnya," kata Aditya.
"Emang judul novel apa yang cocok sama nama lo?" Alan tersenyum mengejek.
"Ehem, apa ya?" Aditya menujukkan gerakan yang seolah berpikir.
"Gue tahu,Dit. Kakekku adalah Ayah dari Ayahku tetapi bukan Ayah Ibuku," Alan memegang perutnya yang tidak sakit dan berusaha menahan gelak tawanya. Bantal guling mengayun diudara mengenai dada Alan diikuti sepasang tangan Aditya yang menuju lehernya.
"Eit, jangan bunuh gue," Alan menghindar dari Aditya.
"Bisa-bisa kalau difilmkan, layar televisinya kepenuhan judul," kata Aditya.
"Hehe," Alan tersenyum lebar hingga gigi-giginya yang berjejer rapi terlihat sangat jelas.
"Emang siapa nama pacar lo? Boleh gue lihat fotonya?" Aditya ingin tahu siapa pacarnya Alan.
"Pacar gue tinggal satu kabupaten sama lo. Tetapi dia baru mau lulus kuliah diploma satu. Umurnya aja baru 19," kata Alan.
"Anak kecil lo ajak pacaran," celetuk Aditya.
"Dia itu udah 19, undang-undang perlindungan anakkan sampai 18 tahun. Jadi dia sudah bukan anak-anak," jawab Alan tak mau kalah.
Ia kemudian mengeluarkan ponselnya. Mengacak-acak layarnya dan berhenti di sebuah aplikasi bertuliskan galery.
"Namanya p....." belum sempat menyelesaikan kalimatnya. Ponsel Aditya berdering.
"Tunggu ya" Aditya menjawab panggilan masuknya. Terdengar begitu serius hingga merubah raut muka Aditya.
__ADS_1
"Lan,gue pergi dulu ya. Darurat nih," katanya lalu bergegas pergi.