
Aditya memacu motornya menuju kos di jalan Danau Buyan itu. Sejak panggilan diakhiri tadi, pikirannya berkecamuk antara senang dan khawatir. Orang yang ia rindukan sekaligus selalu ia hindari kini malah datang menghampirinya. Salah satu alasan ia tak ingin pulang, alasan ia menyiksa orangtuanya sendiri karena tak pernah mau bertemu. Ia gigit bibirnya kuat-kuat. Tujuannya untuk mengecilkan detak jantung yang seolah terguncang sengatan hebat. Sesekali ia elus dadanya.
"Apa yang harus kau lakukan sekarang?" tanyanya membatin.
Pintu kosnya telah kelihatan setelah beberapa menit perjalanan. Ia menarik nafas dalam-dalam sambil memarkirkan motornya. Wanita itu telah duduk di depan pintu. Ia menunjukkan giginya yang berjejer rapi. Matanya berbinar, bercahaya seperti namanya.
"Mengapa kau ke sini,Tang?"
Bintang Malarani, wanita dengan rambut sebahu dan kulit putih bersih. Bahkan matahari enggan untuk menyengat kulitnya. Dia cantik, tak heran banyak lelaki yang terpikat padanya dulu.
"Aku rindu kamu,Dit," jawabnya sambil memeluk erat Aditya.
Orang-orang yang melihatnya tampak biasa saja. Itu memang wajar. Setidaknya sebelum mereka tahu siapa wanita itu di hidup Aditya.
Lelaki itu hampir kehilangan kendali atasdirinya. Segera ia lepaskan sepasang tangan yang melingkar di tubuhnya itu. Wajah Bintang mendadak cemberut mendapati perlakuan sang kekasih yang begitu ia rindukan. Aditya meraih tangan Bintang dan menggiringnya masuk. Bintang dapat mengerti muka tidak bersahabat itu tak menginginkan kehadirannya.
"Ada apa ? Bagaimana nanti kalau keluargamu tahu?" tanya Aditya.
"Jangan khawatir. Aku tak lagi tinggal jauh darimu,"
"Maksudnya?" Aditya mulai takut jika yang selama ini tidak ia inginkan untuk terjadi akan benar-benar nyata.
"Keluargaku pindah ke sini. Kami tinggal di jalan Hang Tuah," jawabnya.
"Tapi.....bagaimana bisa?"
__ADS_1
"Putra dipindahkan tugas ke sini,"
Nama itu dengan sadis memekakkan telinga Aditya. Tetapi di sisi lain ia turut malu karena nama itu telah menerima tanggung jawab yang tidak bisa Aditya lakukan. Bukan tidak bisa, tetapi dipaksa untuk menyerah sebelum mencoba.
Bintang menyadari perubahan raut muka Aditya. Secara tak langsung ia membuka lagi luka hati yang telah beberapa bulan atau bahkan telah satu tahun berusaha Aditya kubur dalam-dalam. Bintang sering mencari tahu kapan Aditya akan pulang, tetapi memang setelah saat itu, baru kali ini ia menemui Aditya lagi. Betapa senangnya ketika Putra dipindah tugaskan oleh kepolisian ke tempat baru yang tak lain adalah tempat yang membuatnya lebih dekat dengan Aditya.
"Kau sudah makan?" tanya Aditya membuyarkan lamunan Bintang.
"Sudah," jawabnya singkat.
"Apa kabar dengan Sintia?" tanya Aditya lagi.
Sintia adalah alasan dari semua perhelatan ini. Senang dan sedihnya Aditya adalah karena Sintia. Betapa hebatnya seorang gadis kecil yang dulu masih di dalam kandungan saja bisa memporak-porandakan kehidupan.Setelah lahir bahkan telah mengikat Aditya semakin dalam. Senyum manisnya membuat dunianya berwarna sekaligus menyadari bahwa Sintia kini bukan miliknya meski dia adalah ayah biologis gadis itu.
"Sintia baik-baik saja. Dia di rumah bersama neneknya," jawab Bintang.
"Ibumu tinggal bersamamu?"
"Ibu hanya menginap beberapa hari saja,"
"Tenanglah..... ibu tidak tahu kamu di sini. Jadi posisi kita masih aman,"
"Mau sampai kapan?" tanya Aditya tiba-tiba dengan nada dingin.
Bintang menunduk. Kadang ia menyalahkan dirinya sendiri atas perbuatan khilafnya dahulu. Ia telah menyiksa tiga orang yang sangat tidak patut untuk menderita. Dan ibunya sendiri semakin membuatnya dan Aditya semakin terancam untuk berpisah. Bintang mendekati Aditya dan memeluknya lagi. Kini ia menangis di dada lelaki itu. Ia menumpahkan tangisnya yang sebelum hari ini selalu ia tumpahkan di atas bantal ketika memandangi Sintia. Ingin rasanya dia mengatakan yang sebenarnya kepada Aditya dan Putra. Tetapi keegoisannya tak ingin kehilangan Aditya yang sangat ia cintai, maupun Putra yang telah mengorbankan kebahagiaannya demi menuruti keinginan ibunya Bintang.
Aditya merasakan sesak dan panas di dadanya. Ia kini mendekap badan Bintang yang sedikit lebih pendek darinya. Wangi rambutnya menyeruak penciuman Aditya. Urang-aring favorit wanita itu dulu. Aditya sering membelikannya ketika ia mengeluh karena kehabisan minyak rambut itu.
"Kapan semuanya akan berakhir ,Dit?"tanya Bintang.
"Kalau kamu mau sekarang pun akan berakhir. Tetapi nasib tak memihak kita ," suaranya terdengar begitu berat.
Mereka duduk di atas ranjang kecil itu. Bintang masih tak mau melepaskan tubuh Aditya. Mereka berbincang-bincang dan suatu saat Bintang sesenggukan karena tak mampu menahan kesedihannya. Aditya sesekali menyapu air matanya yang hampir jatuh. Ia merasa hidup memang telah mempermainkan dirinya. Setelah sekian lama, Tuhan membawa Bintang ke sini dan mereka berpelukan erat layaknya tak ada yang terjadi.
"Tenanglah sayang, engkau harus kuat," kata Aditya.
Bintang mengusap mata dan pipinya yang telah basah oleh air matanya. Setelah sekian lama ia blak-blakan tentang beban di hatinya. Ia duduk tegak sekarang, ia memandang wajah Aditya yang nampak begitu lelah.Lemah. Tubuhnya pun kurusan sekarang. Takdir benar-benar menyiksanya. Bintang berhenti pada tatapan dalam Aditya. Perlahan ia mendekatkan wajahnya ke wajah Aditya. Lelaki itu runtuh pertahanannya, ia turut mendekatkan wajah pada Bintang yang seolah telah menunggunya.
__ADS_1
Drttttttttt
Getaran handphone di saku Bintang menyadarkan dua hati yang hampir melepaskan kerinduannya. Bintang membelalak ketika melihat siapa yang menelponnya. Segera ia tolak panggilan itu.
"Siapa itu?" tanya Aditya.
"Putra," jawabnya.
"Ini waktunya engkau pulang, mungkin Putra telah pulang. Kasihan juga Sintia yang telah kau tinggalkan tadi. Dia masih memerlukan perawatanmu secara langsung," suruh Aditya.
"Baiklah, aku akan sering-sering ke sini,"
Aditya menanggapi dengan senyuman. Ia harap gadisnya ini baik-baik saja. Biar dia saja yang menahan beban-bebannya asal gadis ini bahagia.
"Baiklah, aku harus pulang. Jaga dirimu,Dit," pesannya.
"Baik, titipkan salamku pada Sintia,"
Bintang melangkah meninggalkan Aditya. Ia tak mengantar Bintang keluar, takutnya pertahanannya runtuh lagi dan malah mencegah Bintang untuk pulang. Suara motor Bintang telah dinyalakan dan sekarang terdengar menjauh. Aditya menarik nafas lalu menjatuhkan badannya ke tempat tidur. Kasur dan bantal ini setidaknya lebih lunak dari masalahnya. Hampir ia memejamkan mata, sebelum akhirnya satu panggilan telepon dari Bang Yudha kembali membangunkannya.
"Ada apa,bang?" tanya Aditya.
"Besok lo kerja kan?"
"Iya,Bang. Ada apa?"
"Gue kan libur besok... Nahhh, besok ada calon pegawai baru dateng. Lo yang interview ya," suruh Bang Yudha.
"Okelah,Bang. Emang dia datang pagi apa sore?"
"Gue suruh dia dateng sore, kan lo juga shift sore,"
"Oke,Bang,"
"Dia cewek, hati-hati aja lo," derai tawa terdengar di seberang sana.
"Ada-ada aja lo," cetus Aditya.
__ADS_1