Artificial Love

Artificial Love
Love Potion


__ADS_3

Mungkin klise rasanya mendengar cerita tentang seorang gadis yang jatuh hati pada laki-laki populer yang tampan, baik hati, pintar, supel, dan digilai banyak wanita. Apalagi kalau cintanya bertepuk sebelah tangan. Pasaran sekali. Namun apa yang bisa Hanna lakukan kalau Tuhan menakdirkan bahwa romansa klise ini harus menjadi bagian dari ceritanya.


Dia hanya gadis biasa yang tidak terlalu populer. Tapi bukan berarti dia ini seorang perempuan berkepang dua, berkacamata, rajin membaca buku, dan dibully oleh teman-teman sekolahnya karena dia cupu. Dia tidak jelek sepeti karakter wanita dalam cerita klise flower boy yang jatuh hati pada ugly duckling. Penampilannya normal seperti siswi pada umumnya. Dia hanya tidak populer. Dan dia jatuh hati pada Orion, laki-laki super populer itu. Saat melihat laki-laki itu berjalan di lorong sekolah atau sedang menulis di mejanya, Hanna hanya bisa memandang dari jauh karena dia merasa bahwa Orion tidak akan pernah menyadari keberadaannya. Kalaupun iya, dia pasti tidak lebih dari sekedar satu dari seribu wanita yang mengelilinginya centil.


Menyebalkan.


Namun setidaknya Hanna merasa beruntung dari setengah perempuan lain di sekolahnya karena ia bisa berada di kelas yang sama dengan Orion. Dia mempunyai lebih banyak waktu untuk menatap laki-laki itu dan memiliki lebih banyak kemungkinan untuk berinteraksi. Pernah suatu kali Hanna sekelompok dengan Orion dalam mata pelajaran Biologi dan mereka mengobrol banyak sekali hingga Hanna tak yakin lagi apakah wajahnya lebih merah dari tomat busuk.


Namun apa daya. Bulan yang didamba begitu jauh tak terengkuh. Hanna mendesah putus asa setiap dia menyadari kenyataan yang ada di depannya. Apes. Seandainya dia bisa mengatur perasaannya, dia pasti lebih memilih untuk menjatuhkan hati pada laki-laki yang mempunyai peluang untuk bisa bersamanya secara nyata. Sedangkan Orion? Nol persen.


Seperti biasa hari itu Hanna berjalan lunglai keluar kelasnya. Rambut gelombangnya menjuntai ke bahu, poninya menutup dahi. Ia hanya menatap lantai lesu karena hari ini hari Jumat, dan itu artinya dia harus menunggu dua hari lagi supaya bertemu kembali dengan Orion.


Ya Tuhan dia memang sudah gila.


Murid-murid lain juga berhamburan keluar sambil bercanda tawa dengan teman-teman mereka. Memang bagian terbaik dari sekolah itu adalah saat bel pulang berbunyi. Rasanya bagi murid-murid yang penat belajar seolah-olah seperti dibebaskan dari penjara. Tapi tidak dengan Hanna. Bel pulang berarti waktu penatap pujaan hatinya habis dan dia harus menunggu hingga esok hari untuk bisa melihatnya lagi.


Di tengah kebisingan itu, tiba-tiba saja Hanna dikagetkan oleh teman-temannya yang datang dari arah belakang dan menggaet kedua lengannya. “Hanna kok lo gak nungguin kita sih?” keluh Aina.


“Bener banget tuh. Kan kita udah bilang tadi kalo hari ini kita harus dateng ke festival SMA sebelah! Gila katanya band-nya Riko mau tampil di sana! Pokoknya kita harus ke sana Han!” tambah Mina.


Aina dan Mina memang tergila-gila dengan band Riko dari sekolah sebelah. Setiap ada acara di sana pasti mereka geregetan mau hadir. Bagi mereka, Riko sang vokalis bagaikan laki-laki terakhir yang ada di muka bumi. Ya, tidak jauh beda dengan Hanna yang bertingkah seolah-olah tidak ada lagi laki-laki lain selain Orion.


Sebelah dua belas.


Setelah memutar bola matanya dan mengetahui dengan jelas sekali bahwa dia tidak berminat menonton band Riko, Hanna memasrahkan diri diseret oleh kedua temannya. Memang percuma juga dia protes. Ujung-ujungnya juga dia akan terseret seperti terakhir kali.


Saat mereka tiba di sana, suasana sudah ramai. Banyak sekali pengunjung yang datang karena festival itu dibuka untuk umum. Di sepanjang jalan banyak sekali stand-stand yang menjajakan berbagai barang dan makanan. Di tengah lapangan itu ada sebuah panggung. Dan saat ini seorang pembawa acara wanita sedang memandu acara untuk bermain game dengan para pengunjungnya.


“Siap untuk lihat penampilan The Effervescent gak??!” teriak pembawa acara dari atas panggung tiba-tiba.


Penonton yang mengerumuni panggung kecil itu berteriak kegirangan. Begitu juga dengan Aina dan Mina. Kedua gadis itu melepaskan lengan Hanna dan melompat tidak sabar. “Riko! Riko mau tampil!” teriak mereka hampir bersamaan.


Seolah-olah bukan mereka tadi yang menarik Hanna ke tempat itu, mereka berdua melompat kegirangan bergabung dengan penonton lain. Tinggallah Hanna yang mempertanyakan apakah teman-temannya bahkan ingat kalau mereka menariknya ke sini. Ia mendengus tidak tertarik dengan band Riko dan berbalik memunggungi panggung.


Kedua tangannya memegang strap tasnya sambil berjalan. Ia menoleh berkeliling untuk mencari makanan yang sekiranya dapat mengisi perutnya yang mulai keroncongan. Tadi dia melewati makan siang karena Orion menghabiskan waktu istirahat di perpustakaan dan dia bagai penguntit malah ikut-ikutan membusuk di perpustakaan.


Saat ia akan menghampiri sebuah tenda yang sepertinya menjual takoyaki, langkahnya terhenti di depan sebuah tenda berwarna merah muda. Dia bukan berhenti karena tenda itu menjual makanan yang lebih enak dari takoyaki, tapi Hanna merasa seolah seseorang sedang memelototinya.


Benar saja. Saat ia berhenti dan menoleh ke samping, ia melihat seorang wanita berpakaian aneh menatapnya dengan seringaian.


“Pungguk merindukan bulan,” ucap wanita itu.


Hanna merasa tertohok mendengarnya, seolah ia baru saja ditampar kenyataan. Memang benar kisah romansanya menyedihkan, tapi siapa wanita ini? Apakah komentarnya barusan hanya sebuah kebetulan yang mirip persis dengan situasinya?


Hanna mengerutkan dahi, menatap sinis pada wanita ber-eyeliner di bawah matanya itu. “Maksud mbak apa ya?”

__ADS_1


Seringaian wanita itu semakin lebar. Beberapa detik ia hanya menatap Hanna yang semakin terlihat risih dan sebal. Hanna hampir saja mau angkat kaki saat wanita itu tiba-tiba berkomentar lagi, “aku punya solusinya loh.”


Wanita itu kemudian berbalik badan dan masuk ke dalam tenda merah muda di belakangnya. Pandangan Hanna mengikutinya setelah tertegun selama sepersekian detik. Dia bisa melihat lampu tumblr berwarna-warni menghiasi ruangan di dalam tenda namun tempat itu tetap terlalu gelap hingga ia tidak bisa melihat wanita tadi dari luar.


Hanna masih tertegun karena ucapan terakhir wanita itu. Sungguh gila, Hanna selama satu detik sempat percaya bahwa wanita itu memang mengetahui keadaannya dan mempunyai solusi agar ia bisa menggapai bulannya. Ia hampir saja menertawakan dirinya sendiri.


Hanna, lo ngapain sih?


****.


Namun, walau setengah hatinya sudah menyuruhnya untuk angkat kaki dan pergi menyantap takoyaki, kakinya yang pembangkang malah berjalan masuk ke dalam tenda wanita aneh dengan eyeliner di bawah matanya tadi.


Di dalam ruangan itu lumayan remang karena sangat tertutup dan hanya diterangi lampu tumblr. Wanita tadi duduk di sebuah kursi plastik. Di depannya ada sebuah meja bundar beralas merah. Di atas meja itu ada bola kristal besar khas milik seorang paranormal di film-film.


Hanna dalam hati menertawai dirinya sendiri karena dia baru saja akan membuang uang untuk hal konyol seperti ini. Dia juga memuji panitia festival ini karena membuat tenda semacam ini dan tahu persis target mereka. Ya, dia. Cewek putus asa yang cintanya bertepuk sebelah tangan.


“Kau tidak makan siang karena mengikutinya hari ini ke perpustakaan ya?” ucap wanita itu tiba-tiba, membuat Hanna terperanjat. Jantungnya berdetak cepat saking kagetnya dia wanita itu tahu hal memalukan yang ia lakukan hari ini. Mukanya memerah. Ia diam saja.


“Duduk,” kata wanita itu lagi sambil menunjuk kursi di seberangnya.


Hanna ragu sebentar sebelum duduk di kursi di depan wanita itu. Ia memegang erat strap tasnya dan menatap wanita itu takut-takut. “Kok mbak tau?”


“Semua orang juga tahu. Semuanya jelas di wajahmu.”


Muka Hanna memerah. Ia terbayang jikalau seandainya benar semua orang bisa melihat semua jelas di wajahya. Pasti sangat memalukan!


Bola mata Hanna melebar mendengar tawaran yang begitu ia damba-dambakan selama ini. Ia sungguh tidak percaya dengan hal seperti ini tapi di hadapannya saat ini ada asa dan ia tidak mau melewatkannya. Iseng-iseng berhadiah!


Hanna mengangguk pelan. Dia tidak pernah melepas pandangan dari wanita itu.


Wanita aneh itu hanya menyeringai dan meminta Hanna untuk mengulurrkan tangannya. Hanna menurut. Kemudian wanita itu meletakkan botol kaca kecil di tangannya. Tutup botol kecil itu berwarna merah muda, sama dengan cairan yang ada di dalamnya. “Pastikan kau membuatnya meminum cairan ini,” jelas wanita itu.


Hanna diam-diam menertawakan dirinya.


Hanna Havisah lo baru aja buang-buang duit buat hal konyol kaya gini.


Namun tak lama pikiran itu hilang sudah dari pikirannya. Ia hanya menatap botol mungil itu dengan tatapan penuh harap. Cinta bertepuk sebelah tangan itu memang mengerikan.


“Tiga ratus ribu aja,” tambah wanita itu kemudian.


Hanna menggigit bibir. Dia punya uang segitu. Tapi uang itu seharusnya dipakai untuk membeli buku tambahan. Tapi uang malang itu diambil juga dari dalam dompet dan diserahkan pada wanita aneh didepannya. Uang buku pun melayang.


“Ingat, potion ini hanya bisa dipakai sekali,” ujar wanita itu.


Hanna hanya mengangguk lalu keluar dari tenda itu. Setelah menyimpan botol tadi di dalam tasnya Hanna segera mengirim pesan teks pada teman-temannya yang mengatakan bahwa ia ingin pulang lebih dulu karena ada urusan. Namun tentu saja keduanya bahkan tidak melihat pesan Hanna karena mereka berdua sibuk merekam penampilan Riko, idola mereka.

__ADS_1


.


Sepanjang akhir pekan Hanna sibuk merencanakan bagaimana dia akan membuat Orion meminum potion yang telah dibelinya. Sepanjang malam ia berpikir hingga dia berhasil menyusun rencana yang menurutnya mulus.


Ia bersemangat sekali saat hari Senin tiba karena dia akhirnya akan bisa melaksanakan misinya. Tapi dia kemungkinan juga akan menangis saat ternyata terbukti dia tertipu mentah-mentah oleh wanita aneh di festival.


Hanna memang merasa bersemangat namun ia juga sangat gugup. Sampai-sampai Aina dan Mina mengira dia sedang menahan boker. Tentu saja dua orang itu langsung mendapat hadiah jitakan dari Hanna.


Hari itu seusai pelajaran olahraga Hanna membeli minuman rasa jambu biji di kantin dan memasukkan potion yang dibelinya ke dalam minuman itu seluruhnya. Ia memutuskan untuk membeli minuman berwarna merah muda karena ia takut warna dari potion justru mempengaruhi warna minuman.


Hanna dengan gugup membawa minuman yang dibelinya ke dalam kelas. Saat itu anak-anak yang lain sedang mengganti pakaian mereka karena setelah ini mereka akan masuk ke jam pelajaran matematika.


Hanna bergegas berjalan ke meja Orion dan meletakkan botol minuman yang dibawanya di atas meja Orion karena dia tidak punya nyali untuk memberi langsung. Begitu ia menaruh botol itu di atas meja bulannya, dia berlari sekencang-kencangnya dari dalam kelas seolah-olah dia baru saja mencuri sesuatu. Dia tahu Orion selalu meminum minuman yang diberikan padanya walaupun itu dari anonim jadi Hanna yakin rencana ini akan sukses.


.


Keesokan harinya Hanna bangun tidur dengan mood yang bagus sekali. Ia langsung meraih ponselnya untuk mengecek notifikasi, berharap potion itu sudah bekerja dan Orion sudah membombardirnya dengan berbagai pesan. Tapi tidak ada satupun pesan dari Orion.


Hanna cemberut.


Gua kata juga apa? Hal konyol kaya gitu percaya sih!


Hanna mendesah sedih. Dalam hati ia mengucapkan selamat tinggal selamanya untuk uangnya yang melayang percuma. Ia memukul kepalanya sendiri kesal. Cinta itu memang buta. Bahkan dia sendiri tidak bisa menyadari kalau dia sedang berbuat konyol kemarin.


Tak lama kemudian terdengar ketukan dari luar pintu kamar Hanna. Pintu itu kemudian terbuka. Kepala ibunya menyembul dari luar dengan tatapan mengerut melihat putrinya masih di atas tempat tidur. “Loh kok masih di tempat tidur? Udah mau telat loh, Hanna,” ucap beliau mengingatkan.


“Ma, Hanna males sekolah deh hari ini. Kalau Hanna bolos boleh gak?” tanya Hanna lemas. Sungguh, hari ini Hanna hanya ingin berbaring di tempat tidur meratapi nasibnya.


“Loh kok gitu? Terus temen yang nyamper ke sini gimana? Kasian udah capek-capek jemput kamu.”


“Aina? Mina? Suruh mereka ke sekolah sendiri aja ma,” jawab Hanna ogah-ogahan sambil bersiap akan kembali membaringkan diri di tempat tidur.


“Bukan, Hanna. Cowok.”


Seketika itu juga Hanna melompat dari tempat tidur. “Kok mama gak bilang sih?” gerutunya sebal sambil berlari ke kamar mandi. Jantungnya melompat-lompat bersemagat sekali. Mukanya memerah. Ia senang sekali. Potion itu bekerja!


“Kamu gak nanya. Cepetan siap-siapnya,” ujar ibunya lagi sebelum meninggalkan kamar Hanna.


Hanna mandi dan bersiap-siap secepat kilat karena takut Orion bosan menunggu dan pamit pulang. Ia menata rambutnya lebih rapi dari biasanya dan menyemprot parfum ke sekujur tubuhnya sebelum berjalan keluar kamar. Bulannya sedang menunggu di ruang tamu!


“Pagi Hanna!”


Langkah kaki Hanna terhenti di depan sofa ruang tamu. Dahinya mengerut melihat sosok laki-laki di depannya. Orang itu bukan Orion! Kemana bulannya pergi?


Belum sempat Hanna mencerna pemandangan di depannya, laki-laki itu menghampirinya dan menyodorkan sekuntum mawar merah muda di depannya. Hanna hanya melongo menatap bunga dan laki-laki itu bergantian.

__ADS_1


“Namaku Yuan. Jadian yuk?”


__ADS_2