Artificial Love

Artificial Love
I don't Miss You


__ADS_3

Hanna sangat bersyukur karena Yuan tidak ngotot untuk mengantarnya sampai ke depan pintu rumah. Ia tak bisa membayangkan reaksi ayahnya kalau sampai beliau melihat ia diantar pulang oleh Yuan, apalagi kalau beliau sampai berbicara dengannya. Untungnya, laki\-laki itu cuma mengucapkan sampai jumpa dan membiarkan Hanna turun dari bis.


Selama Hanna berjalan dari halte bis ke rumahnya, pikirannya tak pernah lepas dari lagu yang ia dengarkan di bis dengan Yuan. Lagu itu begitu indah, memikat hatinya. Lagu itu begitu lembut, sangat nyaman, membuat Hanna hampir terlelap. Liriknya juga begitu indah, seolah setiap katanya mengandung makna yang dalam. Hanna ingin terus mendengarkan lagu itu, tapi ia tidak tahu siapa penyanyinya dan judulnya dan dia tidak akan pernah menanyakan Yuan. Karena dia gengsi setengah mati.


Ajaibnya, seolah\-olah Yuan bisa membaca pikirannya dari jauh, ponsel Hanna berdering saat ia baru akan melangkah memasuki pagar rumahnya. Ada satu pesan baru dari Yuan.


“*Lagu itu dari Passenger. Judulnya And I Love Her. Takutnya lo mati penasaran*.”


Muka Hanna memerah parah. Dia sangat sangat sangat SANGAT malu. Ia merasa seperti pencuri yang tertangkap basah. Dia langsung menoleh sekelilingnya untuk mencari Yuan, kalau\-kalau anak itu ternyata sejak tadi sedang menguntitnya. Namun barang hantunya pun tak tampak.


Hanna tercengang. Ia tidak tahu Yuan cuma iseng dan menebak\-nebak, atau memang kelihatan jelas di bis tadi kalau Hanna sangat terlarut dalam lantuan lagu dari *earphone* Yuan. Hanna memukul kepalanya berkali\-kali untuk mengingat\-ingat apa ia melakukan sesuatu yang bodoh seperti bersenandung atau bahkan ikut bernyanyi dengan penyanyi dari lagu itu.


*Terus gimana kalo dia salah paham? Salah paham ngirain gue seneng karena dia bilang lagunya mirip kaya perasaan dia ke gue? Ah \*\*\*\*! Hanna lo emang cewek paling \*\*\*\**!


Hanna menggerutu sambil buru\-buru menutup pagar dan berlari ke pintu depan bak dikejar hantu. Ia masuk dan langsung membanting pintu tertutup sampai\-sampai dia tidak sadar dengan ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu sambil menatapnya.


Saat pandangan mata mereka bertemu ayahnya langsung mengisyaratkan Hanna untuk duduk. Hanna kebingungan. Wajah ayahnya terlihat serius dan Hanna tahu kalau wajahnya sudah serius begitu, tandanya beliau sedang ingin berbicara serius atau bahkan memarahinya.


Tanpa berkata apa\-apa Hanna membuka tas sekolahnya dan duduk di sofa. Ia menatap ibunya yang duduk berseberangan dengannya dengan tatapan minta bantuan namun ibunya hanya tersenyum kecil.


Ayah berdeham. “Siapa anak laki\-laki yang ke sini tadi pagi? Lancang sekali dia,” bukanya.


Dengan satu kalimat itu, Hanna langsung mengerti. Mereka sedang membicarakan Yuan yang memang bertamu tanpa diundang tadi pagi. “Teman sekolah kok, Yah.”


Ayah menghela nafas panjang dan menatap Hanna dengan wajah lebih serius. “Iya pasti lah kamu jawab begitu. Emang Ayah bodoh? Anak cowok dateng bawa bunga ke rumah anak cewek itu emangnya cuma teman sekolah ya? Jadi, sejak kapan kamu pacaran sama dia?”


Baru Hanna akan membuka mulut untuk membantah semua ucapan Ayah, beliau langsung memotong, “kamu tahu kan Ayah paling gak suka kalau kamu pacar\-pacaran? Untuk sekarang kamu fokus aja sama sekolah. Pokoknya Ayah gak mau liat anak cowok itu datang ke sini lagi. Kalau dia datang lagi, Ayah akan marahin dia.”


Hanna hampir saja memutar bola matanya mendengar ucapan Ayah. Beliau benar\-benar salah paham dan sepertinya dia sama sekali tidak bisa meluruskannya lagi. Bodoh amat, itulah yang ada di pikirannya saat itu.


“Kamu tahu kan Ayah cuma gak pengen ada laki\-laki brengsek yang buat kamu sedih? Atau ngasih pengaruh buruk buat kamu? Putri kesayangan Ayah gitu loh. Lancang banget itu cowok bawa\-bawa bunga. Emang dia gak ngehargain ada orang tua di sini? Kenal aja belum,” omel Ayah terus menerus.


Hanna tahu, Ayah sangat sayang kepadanya dan beliau memang cenderung tidak suka kalau Hanna berpacaran. Karena menurut beliau, Hanna masih harus mengutamakan hal\-hal lain. Tapi Hanna tahu, di balik itu semua beliau hanyalah seorang Ayah yang kelewat sayang pada putrinya dan ingin melindunginya.


“Iya, iya, dia gak akan pernah ke sini lagi Ayah. Hanna janji. Jangan ngomel lagi dong ya. Nanti kerutan Ayah nambah lagi,” ucap Hanna.


Saat Ayah menoleh pada Ibu dan bertanya apa kerutan di bawah matanya bertambah, Hanna hanya bisa tersenyum. Banyak orang yang hanya melihat sisi galak dari beliau, padahal di balik itu semua, ia adalah orang yang lucu dan hangat. Hanna sangat mengerti kenapa Ibu bisa jatuh cinta pada Ayah saat mereka muda dulu.


“Yaudah, Hanna mau ke kamar dulu. Mau ganti baju,” ujar Hanna seraya bangkit dari sofa. Ia mengambil tasnya dan berjalan menuju kamarnya.


“Iya, habis ganti baju langsung ke ruang makan. Kita makan siang bareng,” jawab Ayah.


Hanna menurut. Begitu selesai berganti pakaian, ia langsung bergegas menuju ruang makan. Di sana kedua orang tuanya sedang bersiap\-siap untuk makan. Ibu menaruh piring berisi nasi di depan Hanna.


“Kok Ayah nggak di toko sih?” tanya Hanna sambil mengambil lauk pauk dan menaruhnya di piringnya. Siang itu ibunya memasak udang tumis kesukaannya. Ada juga tempe dan tahu goreng beserta lalapan.


“Ayahmu langsung ke sini pas Ibu cerita ada anak cowok dateng pagi\-pagi bawa bunga. Apalagi Ayah tahu hari ini kamu bakal pulang lebih awal. Habis makan siang Ayah langsung ke toko lagi kok,” jawab Ibu mewakili Ayah.


“Ya iya lah Ayah langsung pulang. Habis itu anak cowok lancang banget. Masih SMA juga,” jawab Ayah.


“Yaudah yaudah, Ayah langsung ke toko ya. Kasian tuh Mbak Nina sama Mas Beni sendirian di toko. Pasti kewalahan,” jawab Hanna.

__ADS_1


Mereka pun mulai makan siang sambil berbincang\-bincang kecil. Begitu selesai makan, Ayah langsung berangkat lagi ke toko, sedangkan Hanna membantu Ibu mencuci piring sebelum berpamitan ke kamar.


Begitu ia tiba di kamar, ia langsung menyalakan laptop dan langsung mencari lagu yang ia dengarkan di bis tadi. *Passenger – And I Love Her*. Ia tersenyum mendengarkan lantunan lagu itu, terhanyut dalam bait demi bait, hingga ponselnya berdering keras. Satu pesan baru dari Doni.


“Hanna, tadi aku udah tanya ke semua panitia dan katanya memang gak ada yang bawa saudara waktu itu. Dan bahkan kita gak punya stand yang ngebuka jasa peramal, paranormal,dan sebagainya. Ini aku sekalian kirim daftar stand yang ada di festival itu, barangkali kamu mau periksa sendiri. Kalau masih ada yang bisa aku bantu, chat aja.”


Hanna mengerutkan dahi membaca pesan Doni. Dia tidak habis pikir kenapa mereka bisa bilang tidak ada stand yang seperti itu di festival sekolah mereka. Padahal jelas-jelas stand itu ada dan Hanna memang membeli love potion dari sana. Ia menghela napas dan membuka satu attachment dari Doni. File itu berisi daftar setiap stand di festival itu dan penjaga alias penanggungjawabnya. Ia men-scroll dari atas sampai ke bawah, dan sama sekali tidak ia temukan stand wanita aneh itu.


"Don, emang gak ada di daftar. Tapi aku


beneran kok dateng ke festival itu dan emang


ada stand yang kaya gitu. Aku bahkan beli


sesuatu dari sana. Apa mungkin stand* itu


kelewat dan nggak ada di daftar?"


"Maaf Han, tapi setau aku gak mungkin ada


yang kelewat. Soalnya sebelum dan sesudah


festival, panitia keliling lapangan buat


ngumpulin tanda tangan setiap penjaga stand*."


Hanna langsung mengerang putus asa. Kemana perginya wanita aneh itu? Dia menghilang dari muka bumi seolah dia tidak pernah ada sama sekali. Hanna membatu dan merinding bingung dengan situasi yang menimpanya. Seolah\-olah hari itu Hanna hanya berhalusinasi dan *love potion* itu tidak pernah ada.


Kepala Hanna tiba\-tiba sakit. Ia langsung meninggalkan meja belajar dengan keadaan laptop yang terus mengulang *And I Love Her*, dan langsung berbaring telungkup di tempat tidur. Saat ini yang ia butuhkan adalah ide, jalan keluar, cara, jawaban. Tapi otaknya buntu. Ia tak tahu lagi harus berpaling kemana.


“*Gue cuma mau ngasih tahu kalo gue gak akan nge\-chat lagi sampe besok biar lo ada waktu buat kangen sama gue*.”


ABSURD, cuma itu yang ada di kepala Hanna saat ia membaca pesan dari Yuan.


Tapi Yuan memang memegang ucapannya. Hanna berkali\-kali melirik ponselnya namun tak ada satupun pemberitahuan dari Yuan. Bahkan sampai hari menjelang pukul 10 malam pun, sama sekali tidak ada pesan lagi dari Yuan.


Hanna mendengus. Ia berbaring di kasurnya setelah mencuci muka dengan punggung yang disandarkan ke *headboard*. Ia mengambil ponsel dari meja nakas dan mengetik sebuah pesan untuk Yuan. Jangan salah paham, Hanna cuma ingin menegaskan pada Yuan bahwa dia sama sekali tidak rindu pada laki\-laki itu.


"Cuma mau bilang gue gak kangen sama lo."


"Padahal bilangnya bisa besok pas ketemu.


Ketahuan deh lo kangen."


"Takutnya lo kegeeran semaleman!"


"Jadi ceritanya lo mikirin gue nih?"


"Dih, dibilang apa mikirnya apa."


"Emang gue mikirnya apa?"

__ADS_1


"Dih otak kan otak lo! Yang tau lo lah!"


"Bener banget. Gue mikirnya simpel


aja sih. Cuma tentang lo."


Hanna tertegun sejenak. Anak yang begitu pendiam hampir bisu ini baru aja ngegombalin dia. Emang bukan pertama kalinya sih, tapi Hanna baru sadar kalau ternyata Yuan itu pintar bicara. Buktinya, pipi Hanna memerah dibuatnya.


Hanna tidak mau lagi membalas pesan Yuan. Ia meninggalkan status pesan Yuan dalam keadaan *read* dan langsung meletakkan ponselnya di meja nakas. Ia menarik selimutnya tinggi\-tinggi. Di benaknya terbanyang semua kejadian yang berhubungan dengan Yuan hari ini. Mulai dari saat ia muncul dengan sekuntum bunga dan mengajaknya jadian. Lesung pipinya yang selalu muncul saat ia tersenyum pada Hanna tak peduli sebetapa ketus Hanna menjawabnya. Kata\-katanya yang gombal dan bahkan murahan tapi selalu membuat Hanna takjub dan malu memerah. Ia mulai berandai\-andai jika Orion yang meminum jus jambu itu. Pasti dunia ini seolah miliknya. Ia tersenyum tipis dan tak berapa lama ia pun terlelap.


.


Keesokan harinya terasa lumayan damai dibanding kemarin. Yuan tidak datang menjemputnya dan tidak ada di kelas saat Hanna tiba. Ia menghela napas lega memikirkan kemungkinan efek love potion itu habis. Ia dalam hati berharap bahwa efeknya benar-benar habis. Ia tak peduli lagi dengan uangnya yang melayang, ia hanya ingin Yuan berhenti mengejar-ngejarnya.


Namun ternyata Hanna terlalu cepat lega. Setelah satu jam pelajaran berlangsung, Yuan datang ke kelas dengan tas ransel yang ia sandang di punggungnya. Ia terlihat terengah-engah kelelahan. Sepertinya ia berlari kencang ke kelas.


“Kamu terlambat?” tanya bu guru sambil menutup kembali spidol yang baru saja dipakainya untuk menulis di papan tulis sambil menatap Yuan yang berdiri di ambang pintu sambil memegang sebelah tali tasnya.


Yuan yang baru melangkahkan kaki ke dalam kelas hanya mengangguk sebagai balasan. Napasnya masih agak tersengal-sengal.


“Kenapa?” tanya bu guru lagi.


“Gara-gara Hanna bu,”jawab Yuan setelah menarik napas panjang.


Teman-teman sekelas mereka yang mendengar ucapan Yuan langsung berbisik-bisik gaduh. Para penggosip mulai terkikik-kikik di bangku mereka sambil bergosip ria sesuka mereka. Banyak pula dari mereka yang beralih menatap Hanna, seolah-olah minta penjelasan untuk bahan gosip mereka selanjutnya seolah Hanna dan Yuan adalah hot news.


“Kenapa Hanna?” tanya bu guru super kepo. Dan yang jelas, murid-murid yang lain juga sama keponya dan mereka sangat bersyukur bu guru terus bertanya kenapa.


“Mikirin dia semaleman bu,” jawab Yuan singkat, padat, jelas, namun ABSURD bagi Hanna. Lagipula yang ditanya Hanna, tapi malah dia yang menjawab.


Teman-teman sekelas mereka pun ikut heboh mendengar jawaban Yuan. Mereka bersorak-sorak girang dan menggoda Hanna tiada henti. Sedangkan Hanna sendiri hanya ingin menghilang dari tempat itu sekarang juga. Dia MALU sekali.


"Anjing!!! Gombal banget anjing!! Hahahaha.."


"Kampret gua kira barusan ada drama korea live buset!!"


"Mantul gan lanjooooot!!!"


"Kamu panutanku kapten!!"


“Tuh Han, ternyata masih ada yang mikirin lo,” ledek Fian yang diikuti derai tawa dari semua orang.


“Sudah sudah. Yaudah, Yuan duduk. Jangan telat lagi lain kali,” ucap bu guru menyudahi kehebohan netizen dadakan.


Yuan pun berjalan menuju bangkunya di belakang dan Hanna bersumpah ia melihat Yuan mengedipkan mata ke arahnya.


Oh my god, my life.


Mina berbisik, "buset sumpah deh Yuan kerasukan apaan sih? Salah makan apa gimana tuh anak? Yang biasanya diem kaya zombi sekarang berisik amat ngegombalin cewek muka gembel kaya lo!"


Hanna mendelik tajam sambil menjambak rambut Mina begitu temannya itu menyebutnya muka gembel. Mina hanya terkikik sambil berusaha melepaskan genggaman marah Hanna dari rambutnya.

__ADS_1


"Mina jangan berisik!" teriak bu guru dari depan kelas.


Hanna langsung melepaskan tangannya dari kepala Mina sebelum bu guru melihat. Ia membuat gestur jari jempolnya yang ditunjuk ke arah bawah sambil menyengir seolah mengklaim kemenangan. Mina hanya memgumpat tanpa suara sambil mengelus kulit kepalanya.


__ADS_2