
A CRAZY BOY
Yuan bukan tipe cowok populer. Bukan juga tipe cowok cupu. Apalagi cowok berandalan. Bukan juga anak motor yang suka ugal-ugalan di jalan. Dia hanya seorang siswa yang kalau duduknya pasti di sudut belakang, dan masa bodoh dengan apa yang ada di sekitarnya.
Dia jarang bergaul dengan orang lain. Paling yang pernah terlihat jalan berdua dengannya ke kantin hanya Orion dan itu pun kalau Orion tidak sibuk dengan fans-fansnya atau guru-guru yang menyuruhnya melakukan ini itu.
Orang-orang yang sudah terbiasa dengan kebiasaan Yuan yang masa bodoh juga ikut mengabaikannya, seolah-olah dia tidak ada di kelas. Mereka hanya berbicara padanya kalau ada perlu dan cenderung enggan menghampirinya.
Hari itu panas sekali dan sialnya saat itu adalah jam olahraga. Dengan dibungkus pakaian olahraga panjang yang super gerah itu mereka berlarian di bawah terik matahari. Keringat bercucuran di dahi mereka, terumata di dahi sekumpulan anak laki-laki yang sedang bermain futsal, namun mereka tampaknya masih menikmati jam olahraga itu.
Yuan tampaknya sudah muak. Keringat bercucuran di dahinya dan dia kesusahan mengatur napasnya. Ia mengumpat kesal setelah sadar dia sama sekali tidak membawa minum ataupun uang untuk membeli minum di kantin yang jaraknya lebih dekat daripada kelas. Ia memanggil-manggil Orion tapi yang dipanggil sibuk menendang bola ke gawang dan saat dia mencetak gol dia dan timnya bersorak kegirangan sambil berpelukan seperti teletubies. Yuan pun hanya memutar matanya malas sebelum memutuskan untuk berhenti buang-buang tenaga memanggil sang bintang lapangan dan berjalan meninggalkan lokasi terik itu.
Ia berjalan lunglai ke kelas sambil mengelap keringat di dahinya. Saat ia sampai di kelas, tidak ada siapa-siapa di sana. Ia berjalan menuju bangkunya di paling belakang sudut kelas dan berhenti di depan meja Orion yang ada tepat di depannya. Di atas meja Orion ada sebotol minuman rasa jambu biji yang terlihat segar seperti baru dikeluarkan dari kulkas.
Dengan santai Yuan meraih botol minuman itu dan menenggak isinya sekaligus dan botol itu kembali di atas meja Orion dalam keadaan kosong. Ia kemudian duduk di bangkunya dan mengambil dompetnya sebelum berjalan ke loker siswa untuk mengambil seragamnya. Begitu Yuan keluar dari kelas ia berpapasan dengan Orion yang baru saja kembali dari lapangan.
"On, tadi kayanya ada lagi orang yang ngasih minuman ke lo. Gue haus banget, jadi gue minum semua. Ntar gue ganti deh,” katanya.
“Sans aja mas,” canda Orion.
Yuan menatapnya jijik sebelum berlalu meninggalkan kelas.
.
Hanna merasa dunianya seolah dibolak-balik. Dia sangat bingung kenapa orang yang hampir dikira bisu oleh orang sekelas ini berdiri di hadapannya sekarang sambil memegang sekuntum bunga dengan senyuman lebar di wajahnya. Sumpah, seumur-umur, baru kali ini Hanna melihatnya tersenyum seperti itu.
“Namaku Yuan. Jadian yuk!”
Hanna semakin melongo. Tangannya yang memegang strap tasnya jatuh lunglai di kedua sisi tubuhnya. Belum sempat Hanna mengatakan apa pun, ibunya datang menghampiri mereka.
“Eh Hanna udah siap toh. Gih berangkat, ntar telat loh.”
Hanna meringis dan mencium tangan ibunya. “Hanna berangkat dulu Ma,” ucapnya lemas. Dia masih kebingungan dengan situasi di depannya.
Yuan ikut mencium tangan ibu Hanna sebelum berpamitan untuk pergi.
Begitu berjalan agak jauh dari rumahnya, Hanna yang sejak tadi sudah memutar otak untuk mencerna kejadian barusan menghentikan langkahnya. Yuan juga otomatis menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Hanna dengan wajah bingung. Sedangkan Hanna menatapnya dengan mata dipicingkan.
__ADS_1
“Kayaknya ada yang harus kita omongin deh,” mulai Hanna.
“Bener banget. Contohnya, kapan lo mau nge-date sama gue, atau lo mau panggilan kesayangan apa dari gue,” jawab Yuan dengan senyuman lebar.
Hanna merinding melihat senyuman lebar Yuan. Sungguh pemandangan yang eksklusif setelah hampir tiga tahun sekelas. “Bukan itu,” ucap Hanna sambil menatap Yuan ketus. Dia tidak mau kejadian aneh ini berlanjut dan menjalar ke mana-mana jadi dia lanjut berkata, “gue bahkan gak pernah ngomong sama lo jadi gak mungkinlah gue juga suka sama lo. Gue gak mau kedengaran belagu nolak lo mentah-mentah begini, tapi menurut gue ini lebih pantes dilakuin daripada gue harus kasih harapan palsu ke lo.”
Yuan hanya tersenyum tipis dan meraih tangan Hanna. Ia meletakkan sekuntum bunga itu di tangannya yang mungil. “Emang lo gak suka sama gue sekarang. Tapi besok? Besoknya lagi? Minggu depan? Cuma Tuhan yang tahu soal masa depan Han. Gue cuma bisa usaha. Dan lo juga bisa terus usaha. Usaha nolak gue terus sampai akhirnya lo bakal gagal.” Ia mengerlingkan mata ke arah Hanna sebelum berjalan meninggalkannya.
Hanna membatu. Dia merinding. Dia mengira Yuan akan sakit hati dengan penolakan mentah-mentah yang dia ucapkan barusan. Dia mengira Yuan akan sakit hati lalu menyerah! Kenapa ini tidak segampang perkiraannya?
Buset. Ada ya orang sepede dia.
Hanna menatap bunga di tangannya. Dia ingin sekali membuang bunga itu ke tong sampah terdekat, atau ke tanah sekalian dan menginjak-injaknya sampai hancur, tapi dia tidak tega karena bunga di tangannya itu adalah bunga kesukaannya; bunga mawar merah muda. Dengan ragu-ragu dia mendekatkan bunga itu ke hidungnya dan menghirup aroma yang menguar khas dari kelopak bunga itu.
.
Dugaan Hanna benar. Yuan tidak berhenti pada kunjungan mendadaknya pagi ini. Sesampainya di kelas, semua pandangan mengarah padanya. Mereka meliriknya terus menerus sambil berbisik-bisik. Aina dan Mina segera berlari menyusul Hanna di ujung pintu dengan muka panik bercampur penasaran. “Hanna, lo harus liat meja lo sekarang dan jelasin ke kita siapa yang ngasih lo balon bentuk hati itu,” pinta Aina tanpa basa-basi.
Hanna hanya menatap mereka bengong namun perasaannya yakin ini pasti ulah Yuan lagi. Ia pun berjalan dengan cepat ke mejanya. Benar saja, di sana ada sebuah balon berbentuk hati yang diikatkan ke kaki meja dan sebuah kotak merah muda tergeletak di tengah mejanya.
Aina dan Mina yang mengikutnya dari belakang menatap penasaran. “Cie, lo laku nih ceritanya?” ledek Aina. Hanna hanya menatapnya sebal. Ingin sekali dia menjitak temannya yang satu itu.
Good morning,
Kita baru aja ketemu 15 menit yang lalu tapi gue udah kangen ****** sama lo, Hanna. Dan gue yakin saat lo baca surat ini gue gak ada di kelas, karena gue harus ke kantin buat sarapan. Kalo lo juga kangen gue, lo tinggal samperin gue ke kantin. Dan kalo lo ke kantin pagi ini buat sarapan, gue mau salah paham aja deh kalo lo juga kangen gue.
“Widih. Kangen-kangenan padahal ketemu 15 menit yang lalu. Gila lu Han. Siapa sih?” akhirnya Mina buka suara.
Hanna dengan cepat menutup kertas itu dan memasukkannya kembali ke tempat semula. “Gak tau ah,” jawab Hanna sok cuek dan bergegas melepas tali balon dari kaki mejanya. Perasaannya bercampur aduk melihat kelakuan pria bernama Yuan itu. Ia malu, heran, dan juga takut. Ia malu karena menjadi tontonan sekelas, heran dan takut melihat tingkah Yuan yang tiba-tiba mengejarnya. Padahal sebelum hari ini mereka tatapan mata saja tidak pernah.
“Jadi mau ke kantin gak lo sekarang nyamperin si bebeb?” ledek Aina dan semua teman sekelas mereka tertawa lebar. Hanna langsung menatap Aina sebal. Aina itu adalah salah satu contoh nyata teman *******. Teman yang mulutnya suka terlalu berisik hingga membuat Hanna ingin membungkamnya.
Hanna segera memasukkan balon dan kotak ke dalam lacinya untuk meredupkan kerusuhan yang ada di kelasnya. Persetan dengan perutnya yang keroncongan, dia tidak akan pernah melangkahkan kaki ke kantin sampai makan siang tiba. Bagaimana mungkin dia pergi ke sana kalau itu artinya Yuan akan kegeeran. Tidak akan pernah. Hanna merasa dirinya hanya akan menyaksikan lebih banyak kegilaan Yuan di kantin. Memikirkannya saja sudah membuat Hanna bergidik ngeri. Lagipula, hatinya tetaplah milik bulannya, Orion.
Hanna menoleh ke belakang, tepatnya ke bangku Orion. Di sana, seperti biasa dia sedang duduk manis dikelilingi beberapa anak perempuan. Mereka sedang berbincang-bincang. Entah apa yang mereka bicarakan sampai-sampai bulannya dan para wanita centil itu bisa cekikikan seolah tenggelam dalam dunia mereka sendiri. Hana menatap mereka dengan raut wajah kesal. Ia juga sedih menyadari bahwa Orion sama sekali tidak tertarik dengan apa yang terjadi di mejanya pagi ini. Dia hanya sibuk dengan para penggemarnya. Hal itu juga membuatnya bertanya-tanya soal minuman yang ia tinggalkan di meja Orion kemarin. Sepertinya memang benar bahwa dia sudah membuang-buang uangnya untuk love potion oplosan itu. Dia ingin sekali menertawai dirinya. Lagian mana ada zaman sekarang yang namanya love potion?
Please deh Hanna sekarang sudah zaman modern.
__ADS_1
Lamunannya bubar begitu ia melihat Yuan berjalan masuk ke dalam kelas. Matanya membulat sejenak, terkesiap dengan kedatangan Yuan yang tiba\-tiba, namun sebelum ia bertemu pandang dengan lelaki itu ia segera buang muka, takut laki\-laki itu akan mengajaknya bicara.
Saat Yuan melewati bangkunya, ia tanpa sadar menghela napas panjang lega. Akhirnya laki\-laki itu berlalu juga dari hadapannya. Ia mengelus dadanya pelan, berharap dengan begitu ia dapat menenangkan jantungnya yang berdebar kencang.
Jangan salah paham dulu! Jantungnya bukan berdebar kencang karena menyukai Yuan. Ia hanya takut dengan apa yang mungkin saja dilakukannya lagi. Setelah melihat tingkahnya di rumah Hanna dan di bangkunya tadi, ia yakin Yuan bisa saja melakukan hal-hal lainnya. Bisa-bisa Hanna bakal kena serangan jantung kalau begini terus!
“On, ini ganti jus jambu lo yang kemarin gua minum. Tapi gua beliin minuman teh madu kesukaan lo, bukan jus jambu.”
Dengan cepat, Hanna memutar kepalanya ke belakang mendengar kata ‘jus jambu’. Kemarin dia menaruh jus jambu di atas meja Orion. Kalau Yuan meminum jus jambu Orion yang kemarin, itu berarti dia meminum jus jambu yang berisi love potion milik Hanna.
Mulut Hanna menganga lebar. Dia baru ngeh dengan sikap Yuan yang aneh hari ini. Seketika itu juga, kepala Hanna rasanya mau meledak. Dia pusing sekali memikirkan apa yang baru saja terjadi. Kepalanya seolah dipenuhi kepingan-kepingan puzzle yang terus teracak-acak hingga perlahan tersusun membentuk sebuah gambar. Hanna merasa mual begitu semuanya klik dan akhirnya membuat ia paham dengan situasi konyol yang dihadapinya saat ini. Kesimpulannya sih, bukannya love potion itu tidak bekerja. Dia cuma salah sasaran aja.
Hanna menjambak rambutnya sendiri dan meringis. “Hanna kok lo sial banget sih?” tanyanya pelan pada dirinya sendiri. Bisa-bisanya dia menghabiskan uang bukunya hanya untuk mendapatkan perhatian berlebihan dari Yuan. Bukan Orion sang bulan, tapi Yuan! Sejenis makhluk yang duduknya selalu di pojok, super kuper alias tidak mau bergaul dengan siapa pun selain Orion, tidak pernah bicara, OUTCAST yang kehadirannya saja sering tidak disadari oleh orang lain. Hanna rasanya ingin pingsan.
Mina yang duduk di sebelahnya melirik sejenak sebelum mengembalikan tatapan matanya ke layar ponselnya. “Baru nyadar ya, kalo lo itu sial? Plus ****, kalo lo mau tau,” timpalnya.
Hanna kembali duduk tegak dan merampas ponsel Mina. Ia segera berdiri dan berlari mengelilingi kelas saat Mina mengejarnya. Ia sebal dengan Mina dan ini adalah waktunya untuk serangan balas dendam.
“Eh sinting, balikin hape gue!” teriak Mina.
Hanna tidak menghiraukannya dan terus berjalan sambil berusaha mengetik sesuatu di layar ponsel temannya itu. Saking fokusnya ia berusaha mengetik, ia sampai menabrak seseorang. Kepalanya bertubrukan dengan dada bidang seorang siswa yang baru berjalan, untungnya Hanna dengan sigap menggenggam erat ponsel temannya sebelum ponsel malang itu terjatuh ke lantai. Hanna menoleh pada wajah orang yang ditabraknya. Orang itu Yuan. Sial. Dan ia sedang tersenyum lebar menatap Hanna.
“Kalo jalan, liat\-liat dong,” ucap Yuan sok manis sambil memperbaiki poni Hanna. Sedangkan Mina yang melihat Hanna bengong segera memanfaatkan kesempatan itu untuk merebut ponselnya dari tangan Hanna.
Di layar, Hanna sudah mengetik ‘kita putus, soalnya lo bau ketek’ dalam chat Mina dengan pacarnya. “Wah sakit jiwa nih cewek. Hampir aja,” gumamnya lega sambil menghapus pesan yang belum terkirim itu.
Sementara Hanna sendiri sudah lupa masalah ponsel Mina. Dia berbalik dan berjalan secepat mungkin untuk menghindari Yuan. Ia memperbaiki posisi poninya yang agak miring sambil menundukkan kepala. Saat ini di kepalanya hanya berkecamuk bahwa Orion tidak boleh melihatnya berbicara dengan laki-laki gila itu!
“Hanna, pulang sekolah nanti mau jalan gak?”
__ADS_1
Hanna yang kaget menoleh ke belakang pada Yuan yang berteriak dari belakang kelas. Semua orang menoleh ke arah mereka. Baru kali ini mereka semua mendengar Yuan meneriakkan sesuatu di kelas. Bahkan Orion pun mendongak dan pandangannya bertemu dengan Hanna.