
Hari ini terasa begitu panjang. Selama jam pelajaran berlangsung, Hanna sama sekali tidak bisa berkonsentrasi karena, yang pertama, perutnya keroncongan karena dia tidak sarapan demi menghindari Yuan, dan yang kedua, dia sibuk memikirkan semua kejadian yang begitu terasa kompleks dan tak ada jalan keluar. Yang jelas sekarang dia bisa menyimpulkan bahwa *love potion* itu nyata. Khasiatnya bekerja sesuai dengan perkataan wanita aneh di festival waktu itu. Dia meletakkan jus jambu yang tercampur dengan *love potion* itu di atas meja Orion saat jam olahraga, dan yang meminumnya malah Yuan. Itulah sebabnya Yuan muncul di rumahnya dengan buket bunga pagi ini. Ia menyimpulkan pemecahan dari masalah ini adalah mencari tahu bagaimana ia bisa menghilangkan efek dari *love potion* yang ia beli itu.
Hanna menggigit jari dan menoleh ke samping. Di sampingnya Mina sedang berusaha menahan ngantuk mendengarkan penjelasan guru di depan. Mina memang tidak pernah suka pelajaran yang berhubungan dengan angka. Tapi dia sangat suka pelajaran bahasa. Hanna menyenggol lengannya pelan dan berbisik, “Mina, lo punya kontak panitia festival sekolah sebelah yang kemaren kita datengin gak?”
Mina menutup mulutnya saat ia menguap sebelum menoleh pada Hanna. Ia mengangkat sebelah alisnya, menatap teman sebangkunya itu penuh curiga seperti tatapan seorang detektif pada seorang penjahat. “Ngapain lo nanya soal itu? Kayanya lo sama sekali gak tertarik tuh sama festival itu,” bisik Mina.
Hanna memutar otak. Memang dia tidak tertarik sama sekali. *Siapa juga yang peduli soal festival gitu*. Tapi dia harus bisa memberikan alasan yang jelas ke Mina. “Iya emang enggak, tapi kemaren pas gue makan di salah satu *stand* mereka, barang gue ketinggalan. Gue mau cari soalnya barang itu penting,” balas Hanna.
Mina diam sejenak sambil memicingkan mata ke arah Hanna. Dia masih saja menatap teman sebangkunya itu curiga, sebelum ia akhirnya menghela napas, mengalah. “Ada sih, ntar gue chat ke lo nomernya.”
“Hanna, Mina, kenapa kalian dari tadi gak bisa diam? Mau ibu keluarkan dari kelas?”
Hanna dan Mina tersentak mendengar ucapan bu guru dari depan kelas. Mereka segera memperbaiki posisi duduk mereka dan melipat kedua tangan mereka di atas meja, kembali fokus pada pelajaran yang rasanya dari tadi tidak juga selesai\-selesai.
“Bu, saran saya sih jangan keluarin Hanna dari kelas bu. Hanna juga kan butuh belajar bu biar bisa.”
Semua mata, tanpa pengecualian, menoleh ke sudut kelas. Di sana Yuan sedang menyengir lebar dengan tangan kanan yang diangkat ke udara—sebuah kebiasaan baik yang dilakukan siswa sebelum berbicara di kelas. Semua orang berbisik\-bisik gaduh mendengar ucapan Yuan. Bahkan Ibu guru pun sempat berkedip tak percaya mendengar ucapan Yuan. Bahkan bagi para guru sekalipun, Yuan adalah sosok siswa yang cuek dan jarang bicara hingga saat ia membuka mulut tanpa disuruh merupakan pemandangan ekslusif.
“Wah, kesambet apa tuh anak? Terus yang mau dikeluarin kan lo sama gue. Kok dia pedulinya sama lo doang sih? Tadi pagi dia juga ngajak lo jalan gitu kan ya? Apa jangan\-jangan yang naruh balon di meja lo juga dia?” tanya Mina bertubi\-tubi, memanfaatkan keadaan kelas yang gaduh untuk bertanya sebebas\-bebasnya pada Hanna.
Hanna hanya meringis dan menghadap ke depan kelas, berpura\-pura tidak sadar dengan kegaduhan di kelas yang disebabkan oleh Yuan. Bu guru pun menenangkan keadaan kelas dan melanjutkan pelajaran.
*Sumpah kalo begini terus, gue bisa mati mendadak*.
Hanna rasanya ingin menangis saja. Ia merasa seperti sudah jatuh, tertimpa tangga pula. Uang sekolah sudah melayang, datang orang gila pula.
.
Hari itu SMA Perjuangan pulang lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum jam makan siang. Hanna duduk di halte bis depan sekolah dengan mata yang terpaku pada layar ponsel. Mina baru saja mengirimkan kontak seorang murid dari sekolah sebelah yang menjadi salah satu panitia di festival tempat ia membeli love potion. Hanna gigit jari sejenak sebelum ia mulai mengetik pesan pada kontak yang baru ia dapat.
"Siang. Saya Hanna dari SMA Perjuangan mau
nanya sesuatu tentang salah satu stand yang ada
di festival SMA Harapan Bangsa beberapa hari
yang lalu. Kalau bisa sih ketemu langsung, soalnya
agak ribet kalo di chat. Maaf ganggu waktunya."
Hanna menekan tombol kirim. Dia mendesah napas panjang sambil terus memperhatikan layar ponselnya. Di sana, ceklis dua yang tadinya berwarna abu berubah menjadi biru, kemudian terlihat bahwa orang yang dikiriminya pesan sedang mengetik pesan balasan. Hanna pun gugup sendiri menunggu orang di seberang untuk membalasnya.
"*Siang. Oke, tentu aja boleh. Tapi saya
ada kegiatan di sekolah sekarang, jadi
kalau kamu mau, kamu dateng aja ke sini
biar kita bisa ngobrol."
"Oke, boleh banget. Kalo boleh tau kamu ada di mana ya? Soalnya saya gak terlalu hapal lika liku SMA
Harapan Bangsa."
"Oh, gitu. Yaudah ketemuan depan gerbang
__ADS_1
aja gimana? Kamu jauh gak? Saya tunggu di
sana aja ya."
"Engga kok, saya gak jauh. Oke, saya ke sana sekarang*."
Hanna langsung memasukkan ponselnya ke dalam tasnya sebelum beranjak dari tempat duduk di halte bis. Ia berjalan dengan langkah cepat seolah ia tidak sabar untuk bertanya pada Doni, laki\-laki yang baru di\-chat olehnya, tentang wanita aneh dari festival sekolah Doni. Ia harus segera menemukan wanita itu untuk mencabut efek *love potion* dari Yuan atau lama\-lama ia akan ikut gila melihat tingkahnya.
Tak butuh waktu lama bagi Hanna untuk sampai di depan gerbang SMA Harapan Bangsa, karena sekolah itu terletak persis di sebelah sekolahnya. Begitu tiba di sana, matanya berkeliaran menatap orang\-orang yang berlalu lalang hingga ia menemukan seorang laki\-laki berseragam SMA yang juga sedang clingak\-clinguk mencari seseorang. Saat mata mereka bertemu, Hanna melambaikan tangan sambil tersenyum, begitu pula dengan Doni.
Mereka pun berjalan mendekat pada satu sama lain dan mengucapkan ‘hai’ yang agak canggung karena mereka baru pertama kali bertemu. “Doni ya?” tanya Hanna basa\-basi walau dia yakin sekali laki\-laki itu memang Doni.
“Iya. Kamu Hanna yang tadi nge\-chat?” tanya Doni, tidak jauh beda basa\-basi dari Hanna.
Setelah perkenalan singkat mereka, mereka duduk di sebuah warung bakso kaki lima yang ada di depan SMA Harapan Bangsa. Tanpa basa\-basi lebih lanjut, Hanna pun langsung mengungkit soal wanita aneh yang ada di festival tempat dia membeli *love potion*.
“Sebenarnya aku mau nanya soal *stand* yang ada di festival sekolah kamu beberapa hari yang lalu. Yang jaga *stand*nya itu ibu\-ibu sekitar 40 tahunanlah. *Stand*nya itu nawarin jasa peramal, paranormal, atau semacamnya gitu. Aku mau minta kontak ibunya, soalnya aku harus nanya sesuatu sama beliau,” jelas Hanna.
Wajah Doni berkerut mendengar Hanna seolah\-olah ia sedang mendengarkan orang yang sedang melantur. Ia terlihat berpikir selama beberapa saat sebelum dia menjawab, “emang bukan aku ya yang ngedata soal *stand\-stand* yang ada di festival, tapi setau aku kita gak ngelibatin penjual dari luar lingkungan sekolah kok. Jadi otomatis yang ngejaga *stand\-stand* waktu itu cuma murid\-murid dari sekolah kita."
Kaki Hanna langsung lemas mendengarnya. Ia menatap wajah Doni seolah memaksa Doni mencabut lagi kata-katanya.
Seolah bisa membaca pikiran Hanna, Doni melanjutkan, "tapi ntar aku tanyain deh sama yang lain. Mana tau mereka ada yang bawa saudara gitu.”
Kalimat Doni barusan sedikit menghiburnya. Tidak banyak, karena Hanna cenderung pesimis. Bukannya menaruh harap pada ucapan pemuda itu, ia malah sibuk memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk dan terabsurd seperti, "gimana kalo yang gue temuin itu hantu??!" atau "gimana kalo seseorang sengaja ngejebak gue dan Yuan cuma acting?" atau yang lebih absurd lagi, "gimana kalo sebenernya ini semua cuma mimpi?!!" Kepalanya mulai berdenyut sakit, seolah-olah akan meledak saat itu juga. Membayangkan Yuan yang akan terus mengejar-ngejarnya seperti orang gila membuat Hanna ingin berteriak dan menghajar dirinya sendiri. Pertama, dia sudah buang-buang uang, kedua dia sangat sial, ketiga dia dapat bonus orang gila (baca: Yuan).
Hanna pun tersenyum miris pada Doni.
Baru saja Doni akan bangkit berdiri, sebuah tangan mendarat di meja mereka, membuat keduanya menoleh ke atas, pada si pemilik tangan. “Ternyata lo di sini. Dari tadi gue cariin loh. Jalan sekarang yuk,” ucap Yuan yang datang entah dari mana dengan cengiran lebar. Matanya kemudian berpindah menatap Doni. Ia kemudian mengangkat alis. “Siapa dia?”
Doni langsung mengangkat kedua tangannya seperti isyarat menyerah sambil beranjak dari kursi. “Bukan siapa-siapa. Jangan salah paham ya, saya cuma mau bantuin dia aja. Baru ketemu hari ini kok,” jawab Doni.
Yuan mengangkat bahu tak peduli. Doni berjalan masuk kembali ke lingkungan sekolah dan Yuan pun duduk di depan Hanna. Tangan menopang dagunya, ia menatap Hanna lamat-lamat dengan senyum lebar. Hanna merinding sendiri melihat tatapan Yuan yang bak pemeran utama pria di drama Korea. Ia pun tanpa basa-basi langsung berdiri meninggalkan Yuan, disusul oleh Yuan yang ikut berdiri secepat kilat dan mengikuti Hanna berjalan.
“Jadi lo mau kemana dulu nih? Nonton? Makan?” tanya Yuan antusias sambil berjalan beriringan dengan Hanna. Harusnya Yuan menatap jalan saat berjalan tapi ia malah terus-terus menatap Hanna seolah Hanna akan menghilang kalau ia mengalihkah pandangannya barang sedetik pun.
“Gue mau pulang,” jawab Hanna ketus. Pikirannya galau gara-gara wanita aneh yang menjual love potion itu padanya. Siapa pun yang melihat reaksi cuek Hanna pada Yuan pasti ingin mengumpat dan menjambaknya karena kesannya seolah Hanna sok cantik. Padahal kepalanya benar-benar mumet dan ia sangat tidak dalam mood untuk berhadapan dengan Yuan karena berhadapan dengan Yuan membuat otaknya tak bisa berhenti berputar mencoba untuk memikirkan solusi masalahnya.
“Yaudah. Gue anterin lo pulang,” kata Yuan antusias, sama sekali tak memedulikan reaski ketus Hanna barusan. Hanna saja sampai mendelik tak percaya.
Hanna hanya menghela napas. Dia malas menanggapi Yuan saat ini, jadi ia membiarkan saja laki-laki itu mengantarnya pulang. Toh ia yakin Yuan akan kekeh akibat efek dari love potion laknat yang entah kenapa dengan bodohnya ia beli dari wanita tak jelas.
Mereka berjalan beriringan menuju halte bis dan duduk berdampingan. Yuan tidak mengoceh lagi tapi saat mereka duduk di halte bis, Yuan diam-diam mendekatkan posisi duduknya dengan Hanna. Awalnya sejengkal. Kemudian dua jengkal. Hingga tiba-tiba jarak Yuan dan Hanna hanya tinggal sejengkal. Hanna diam saja sampai bis yang mereka tunggu datang.
Di dalam bis pun, Yuan mengikuti ke mana Hanna duduk dan duduk di sampingnya. Hanna menatap ke luar jendela bis, sedangkan Yuan menatap Hanna. “Lo bisu ya? Udah 15 menit loh dan lo sama sekali belum ngomong? Lupa sikat gigi tadi pagi?” pancing Yuan akhirnya.
Hanna langsung mendelik sebal pada Yuan. “Enak aja. Siapa juga yang lupa sikat gigi?!”
“Oh ternyata lo masih bisa ngomong,” balas Yuan dengan senyuman lebar. “Suara lo lebih merdu dari Taylor Swift. Ngomong lagi dong Han.”
Hanna mendelik sekali lagi. Namun ia tidak menjawab Yuan kali ini. Ia langsunng membuang muka, menatap pemandangan di luar jendela bis lagi.
Yuan sendiri mengeluarkan ponsel dan earphone dari tasnya. Ia menyambungkan earphone putih miliknya itu pada ponsel pintarnya dan memutar sebuah lagu. Sebelah earphone ia taruh di telinganya. Sebelah lagi ia taruh di telinga Hanna. Hanna tersentak dari lamunannya mendengar suara lagu yang tiba-tiba berdentang di telinganya, namun saat ia ingin melepaskan earphone itu, Yuan langsung menghentikan tangannya dan berkata, “udah, kalo gak mau ngobrol ya dengerin musik aja. Gak akan gue ajak ngobrol lagi kok. By the way, lirik lagu ini mirip banget kaya perasaan gua ke lo. Ya cuma ngasih tau aja. Siapa tau lo penasaran.”
__ADS_1
Hanna menatap wajah Yuan. Cahaya matahari yang menerpa kulit wajahnya yang penuh senyuman sejenak membuat Hanna terpana. Sejenak terbersit di benaknya pertanyaan tentang Yuan. Kenapa dia tidak pernah sadar sekelas dengan seorang pemuda yang senyum dan lesung pipinya bisa melelehkan orang lain?
Begitu tersadar dari keterpanaannya Hanna segera menarik tangannya dari tangan Yuan dan mengalihkan pandangan. Ia menyandarkan punggungnya pada kursi bis dan memfokuskan pikirannya pada lagu dari earphone.
*She's a whistle on the wind
A feather on the breeze
A ripple on the stream
She is sunlight on the sea
She's a soft summer rain
Falling gently through the trees
And I love her
She's cunning as a fox
Clever as a crow
Solid as a rock
She is stubborn as a stone
She’s a hardheaded woman
And the best one that I know
And I love her
Yeah well I love her
She's as new as the spring time
Strong as autumn blows
Warm as the summer
And soft as the snow
She's a thousand miles from here
But she's everywhere I go
Cuz I love her
She loves me like a woman
She looks like a lady
She laughs like a child
And cries like a baby
__ADS_1
I think that maybe she's the one that's gonna save me*