
“Eh sebenernya Yuan itu lumayan banget gak sih? Gila gue gak nyangka suaranya sebagus itu. Dia bisa ikut Indonesian Idol tuh,” komentar Aina begitu Hanna sampai di sekolah pagi itu. Hanna sendiri tidak menjawab. Ia duduk dan meletakkan tasnya di atas meja. Ucapan Aina membuatnya teringat lagi dengan suara Yuan saat ia bernyanyi di kafetaria. Memang tidak bisa dipungkiri, suaranya di atas rata\-rata, dia sama sekali tidak sadar karena Yuan tidak pernah bernyayi di kelas musik.
“Han, kok lo secuek itu sih sama Yuan? Padahal kan lumayan tuh,” Mina ikut menimpali. Ia duduk di samping Hanna sambil menopang dagu, tatapannya terpaku pada Hanna seolah menunggu jawaban dari temannya itu.
Hanna memicingkan mata pada teman\-temannya. Mereka memang tidak tahu kalau Hanna suka pada Orion, dan ia tidak berencana untuk mengatakannya pada mereka. Alasannya simpel, mulut kedua temannya itu ibaratnya ember bocor, jadi kalau dia membertitahu mereka, tiga hari lagi pasti gosipnya sudah tersebar luas di sekolah. Gosip yang melibatkan dirinya saat ini saja sudah cukup rumit dan membuatnya pusing setengah \*\*\*\*\*\*, kalau ditambah dengan menyeret\-nyeret Orion yang ada dia bakal mati karena stress.
“Ya nggak suka aja. Emang harus ada alasan buat gak suka sama seseorang?” balas Hanna.
“Ya, jangan sampe lo nyesel aja. Lo liat kan cewek berambut panjang yang nyamperin Yuan di kafetaria kemarin? Lo bayangin aja, Yuan jelas\-jelas baru aja nyanyiin lagu buat cewek, dan dia dengan pedenya nyamperin. Kalo lo sok jual mahal lama\-lama, Yuan melayang!” ucap Aina dengan wajah dramatis. Ia mengayunkan sebelah tangannya ke udara mengibaratkan Yuan yang melayang dihembus angin, Yuan yang berpaling ke perempuan lain.
Hanna diam sejenak mendengar ucapan Aina. Memang ia melihat wanita berambut panjang di kafetaria itu. Rambutnya panjang, berponi, wajahnya cantik, tubuhnya langsing. Jelas sekali semua cowok pasti mau jadian dengan anak itu. Yuan yang menolaknya mentah\-mentah lucu sekali bagi Hanna. Efek *love potion* itu memang mengagumkan. Karena ia teringat dengan *love potion* itu, ia jadi terbayang apa jadinya kalau Orion yang meminumnya.
“*Hanna gue sayang sama lo!”
“Loh gak main sama fans\-fansmu?”
“Fans apa? Gue cuma mau ngehabisin waktu sama lo*!”
Hanna tanpa sadar tersenyum\-senyum sendiri sampai Mina menjitak kepalanya. “Woy sadar! Jijik banget lo senyum\-senyum sendiri! Diam\-diam doyan juga lo ya dikejar\-kejar Yuan!” tuduhnya tanpa bukti. Tentu saja Aina dan Mina yang tidak mengetahui perasaannya pada Orion akan menyimpulkan begitu.
Hanna menjitaknya balik. “Apaan sih! Sok tahu!”
Tak lama, bel pertanda pelajaran sudah dimulai berbunyi. Anak\-anak kelas mulai duduk di bangku mereka masing\-masing karena tak lama setelah bel, guru bahasa Inggris yang disiplin waktunya luar biasa itu sudah masuk ke kelas dengan beberapa buku di tangannya.
“*Good morning, students*!”
“*Good morning, sir*!”
Pak guru pun mulai menerangkan materi mereka pagi itu. Mina dengan semangatnya mendengarkan setiap kata yang tertutur dari mulut pak guru dan mengangkat tangannya untuk menjawab pertanyaan setiap kali dia bisa. Mina memang bisa dibilang anak bahasa di antara mereka bertiga dan ia selalu aktif di semua kelas bahasa.
Tak lama pak guru pun membagi para siswa menjadi beberapa kelompok untuk mendiskusikan sebuah teks. Mereka menghitung nomor undian sebagai kelompok mereka. Kemudian mereka duduk dengan murid\-murid yang memiliki nomor yang sama. Kelas pun ricuh bak pasar malam selama beberapa saat karena anak\-anak sedang mencari teman kelompok masing\-masing.
Hanna menoleh berkeliling untuk melihat dimana kelompok 4 berkumpul. Betapa kagetnya ia saat melihat Orion meneriakkan EMPAT sambil mengangkat empat jari tinggi\-tinggi. Pipinya bersemu merah. Jantungnya pun mulai berdebar lebih kencang. Kemudian dengan langkah pelan ia berjalan ke sudut ruangan, dimana Orion duduk sedang mencari teman sekelompoknya.
“Kelompok 4?” tanya Hanna penuh basa\-basi begitu ia sampai di depan Orion. Pandangan mereka bertemu dan Orion tersenyum padanya sambil menganggukkan kepala. Hanna tiba\-tiba merasa seperti terbang ke langit ketujuh.
“Wah kebetulan banget nih, gue juga kelompok 4.”
Orion dan Hanna sama\-sama menoleh ke arah Yuan yang muncul entah dari mana mengacaukan momen tatap\-tatapan antara mereka berdua. Hanna yang tadinya terbang ke langit ketujuh seolah dihempaskan keras ke bumi. Sedangkan Orion hanya tersenyum simpul pada Yuan.
__ADS_1
“Cuma bertiga aja nih?” tanya Yuan kemudian sambil duduk di sebelah Hanna yang sudah lebih dulu mengambil tempat duduk di depan Orion.
“Iya kayanya sih cuma bertiga doang,” kata Orion sambil membuka bukunya.
Yuan pun memiringkan badannya agar ia duduk berhadapan dengan Hanna. Ia menopang dagu dengan tangan sambil tersenyum lebar memandangi Hanna yang membuang muka. “Kok bisa sih, kebetulan banget kita sekelompok!” ujarnya.
“Ya iyalah sekelompok, kan lo pindah bangku pas ngitung kelompoknya,” sindir Orion.
“Ah sirik aja lu! *Shush*!” balas Yuan.
Pak guru tiba\-tiba mengetuk meja dengan telapak tangannya sebagai isyarat agar para siswa menutup mulut mereka dan mengalihkan pandangan ke depan. Beliau kemudian menjelaskan langkah\-langkah yang harus dikerjakan setiap kelompok. “Semua kelompok akan mempresentasikan teksnya masing\-masing minggu depan, jadi persiapkan dengan baik. Sekian dulu kelas hari ini, selamat pagi,” ujar pak guru sebelum meninggalkan kelas.
Semua murid pun mulai berdiskusi. Diskusinya juga macam\-macam. Ada yang memang tentang tugas mereka, tapi ada juga yang malah membahas video Yuan yang viral di media sosial. Fian yang jahil pun maju ke kelas membawa laptopnya. Ia kemudian menyambungkan laptopnya dengan proyektor di kelas sehingga semua orang bisa melihat layar laptopnya di *screen* di depan kelas. “Guys liat!!” teriaknya sebelum menekan tombol play.
Di layar terlihat video Yuan yang sedang bernyanyi di kantin. Videonya viral sekali sampai\-sampai view nya pun meledak. “Ini dia sang pangeran yang dimabuk asmara dan menyanyikan lagu Inggris di kantin tapi yang dinyanyiin malah pergi!” jelasnya disusul gemuruh tawa murid\-murid sekelas.
Yuan yang melihat adegan itu dari belakang cuma menyengir lebar. “Wah malu banget tuh gue ditolak dan videonya viral. Untung suara gue bagus, kalo enggak pasti malunya *double*,” ujarnya santai seolah\-olah ledekan Fian sama sekali tidak mempan untuk mempermalukan atau membuatnya jengkel.
Orion pun menatap Yuan dengan mata melotot. Terlihat sekali jika temannya itu kesal karena videonya viral. Yuan yang menyadari hal itu pun hanya bersiul\-siul sambil mengalihkan pandangannya ke arah lain menghindari Orion.
Hanna hanya bisa mendesahkan napas panjang. Untungnya di video itu mukanya tidak terlihat karena dia memunggungi Yuan dan ia menutupi wajahnya saat ia berjalan melewati kerumunan anak\-anak. Namun ia tetap saja malu.
“Di rumah lo aja On. Gimana?” tanya Yuan.
Orion melotot lagi padanya.
“Apa? Terus mau di rumah gue gitu?” tanya Yuan lagi.
Orion hanya memijat pelipisnya kemudian berkata, “iya okay rumah gue. Gak papa, Hanna?”
Hanna yang sempat terhanyut dalam lamunannya menatap wajah Orion lalu mengangguk cepat walau ia sebenarnya tidak tahu tadi mereka sedang membicarakan apa. “Iya,” katanya singkat.
“Okay, kalau hari ini aja gimana? Pulang sekolah?” tanya Orion lagi. Ia hanya melihat Hanna karena ia tahu Yuan tidak akan masalah kalau mereka kerja kelompok pulang sekolah.
“Okay,” jawab Hanna yang mulai salting. Ia meremas ujung buku tulisnya kuat\-kuat sebelum menutup buku itu dan bangkit berdiri. “Kalau gitu duluan ya,” katanya canggung sebelum berjalan kembali ke bangkunya. Selama di perjalanan menuju bangkunya Hanna sibuk mengutuk dirinya sendiri sambil menjitak kepala malangnya.
“Ah, Hanna kok imut banget sih!” seru Yuan sambil menatap punggung Hanna yang berlalu.
Orion mengambil buku tulisnya dari atas meja dan memukul kepala Yuan. “Sadar lo sadar!” serunya sebelum membalik kursinya.
__ADS_1
.
Sepulang sekolah, Yuan dan Orion menunggu Hanna di depan kelas. Mina dan Aina yang melihat Hanna sibuk pun langsung sadar diri dan pamit pulang lebih dulu. Saat Hanna tahu bahwa mereka akan ke rumah Orion sekarang, mukanya langsung memerah parah. Ia tidak menyangka akan kerja kelompok di rumah orang yang ia sukai! Sungguh, seumur-umur ia tidak pernah membayangkan akan mendapatkan kesempatan ini. Dalam hati ia berterimakasih kepada guru bahasa Inggrisnya karena menyuruh mereka kerja kelompok dan ia juga berterimakasih pada Yuan yang tidak ingin kerja kelompok di rumahnya.
Saat Hanna dan Orion berjalan beriringan, entah bagaimana Yuan berhasil menengahi mereka. Hanna kesal, namun ia tidak bisa terlalu menunjukkannya karena menurutnya aneh juga kalau dia marah karena dipisahkan dari Orion. Yang ada Orion akan tahu tentang perasaannya!
Saat mereka berjalan melewati sebuah minimarket, Orion mengusulkan mereka membeli es krim terlebih dahulu dan mereka berdua pun mengiyakan dengan cepat. “Gue mau cola aja deh. Bentar ya,” ucap Yuan sambil berjalan menuju tempat minuman di bagian belakang minimarket.
Ia mengambil sekaleng cola dan berjalan menyusuri rak-rak makanan. Langkahnya terhenti sejenak begitu matanya menangkap Orion dan Hanna yang sedang berbincang di depan freezer es krim. Entah apa yang mereka bicarakan, namun Hanna terlihat begitu berbeda. Wajahnya ceria, senyumnya malu tersipu, dan ia menatap Orion lamat-lamat dengan mata berkilauan. Saat Hanna menerima es krim dari Orion, Hanna berterimakasih sambil merapikan rambutnya ke balik telinga.
Yuan tertegun. Ia kemudian tersenyum simpul sebelum berjalan ke kasir untuk membayar minumannya, seolah-olah dia tidak melihat apa pun barusan walaupun pada kenyataanna, iya, dia melihat.
Tak lama kemudian, Orion dan Hanna datang ke kasir dan membayar es krim mereka. Yuan sendiri sudah keluar dari minimarket dan membuka minuman kaleng di tangannya. Dia meneguk minuman itu sambil menunggu Orion dan Hanna keluar dari minimarket.
Orion dan Hanna berjalan beriringan sedangkan Yuan berjalan di belakang mereka. Yuan memegang kaleng cola di sebelah tangannya, sedangkan tangan yang satunya dimasukkan ke saku celana. Ia menyesap soft drink berwarna coklat itu sambil memicingkan mata memandang Hanna dan Orion. mereka sedang berbincang kecil, entah tentang apa, Yuan hanya bisa mendengar mereka samar-samar. Ia melihat Orion yang tersenyum manis seperti ia tersenyum pada semua perempuan di sekolah mereka. Kemudian matanya berpindah ke arah Hanna yang mendongakkan kepalanya karena Orion yang jauh lebih tinggi darinya. Ia menatap Orion dengan mata yang masih berbinar-binar dan senyum lebar.
Yuan mendengus. Ia menyesap lagi cola miliknya sebelum mengeluarkan tangannya dari saku dan membuat gestur mengukur tinggi Orion dengan dua ujung jarinya. Ia memicingkan mata kemudian menggelengkan kepala. Saat itu Orion membalikkan badan dan menatap Yuan. Ia berkata, "buruan, Yuan."
Yuan hanya menyengir dan mempercepat langkahnya. Ia dengan tidak tahu malu langsung menyerobot celah di antara Orion dan Hanna hingga membuat Orion hampir terjatuh ke samping. Laki-laki itu hanya tertawa saat Orion menatapnya melotot kesal. "Sorry lama," katanya sok innocent.
Yuan mengalihkan tatapannya ke Hanna. Ia mengabaikan tatapan cemberut perempuan itu dan langsung menarik tangannya ke dalam bus. Di sana mereka duduk berdampingan. Hanna di dekat jendela, Yuan di sampingnya, sedangkan Orion berada di samping Yuan namun terpisahkan oleh jalan kecil untuk penumpang lain mencari kursi mereka.
.
Sesampainya mereka di rumah Orion, Orion sendiri langsung pergi ke dapur untuk menyiapkan minuman untuk mereka. Sedangkan Hanna dan Yuan duduk di sofa di ruang tamu dengan Hanna yang sibuk mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan untuk menghindari Yuan, sedangkan Yuan sibuk memandangi Hanna.
“Jadi tipe lo yang kaya dia?” buka Yuan tiba-tiba. Dia bukannya bodoh untuk tidak menyadari arti tatapan Hanna pada Orion di minimarket tadi. Selama perjalanan ke rumah Orion, Yuan sibuk berkutat dengan adegan itu di kepalanya sampai-sampai ia sama sekali tidak menggoda atau berbicara pada Hanna di bis.
Hanna terperanjat. Ia menoeh pada Yuan dengan mata membulat. “Maksud lo?!” tanyanya panik.
“Apa sih yang Orion punya tapi gue gak?” tanya Yuan lagi.
Hanna gelagapan. Ia tidak mengerti kenapa Yuan bisa tahu tentang perasaannya pada Orion. Dan ia langsung panik karena Orion ada di bawah atap yang sama dengan mereka sekarang. Ia tidak ingin Orion sampai mendengar ucapan Yuan.
“Gue gak ngerti lo ngomong apa,” kata Hanna gugup sambil mengalihkan pandangan.
“Ngelak nih ceritanya. Yaudah gue gak akan bahas lagi. Gue cuma perlu cari tahu sendiri kan, apa yang dia punya dan gue gak,” jawab Yuan.
Saat itu, Orion datang dengan tiga gelas es jeruk. Ia tersenyum pada Yuan dan Hanna sebelum meletakkan nampan yang dibawanya di atas meja. “Sorry lama,” ujarnya singkat sebelum mengambil tempat duduk di depan Hanna dan Yuan.
__ADS_1
Hanna yang masih gugup langsung mengambil salah satu gelas berisi es jeruk dan menyeruput minuman itu. Yuan sendiri hanya tertawa kecil sambil mengambil gelas es jeruk yang lain dan meminumnya.