Artificial Love

Artificial Love
New Life


__ADS_3

Yuan merasa seolah dia berada di dunia baru. Selama tiga tahun bersekolah di SMA ini, tak pernah sekalipun orang meliriknya sambil berbisik\-bisik seperti sekarang. Tampaknya gosip memang menyebar begitu cepat. Entah gosip macam apa, dia tidak terlalu peduli sih, tapi dia tidak bodoh untuk tidak menyadari tatapan\-tatapan yang orang\-orang lempar padanya saat ia berjalan di sekitar sekolah. Intinya sih, teman sekelasnya tukang gosip semua.


Yang terpenting bagi Yuan saat ini adalah Hanna. Perasaannya pada gadis itu sangat menggebu\-gebu. Yang ia ingin lakukan setiap hari adalah bersamanya, melakukan apa pun itu. Baginya, Hanna yang menolak dan cuek bukan masalah. Menurutnya ia hanya perlu berusaha lagi dan lagi sampai ia berhasil mendapatkan hatinya.


Hari itu dia terlambat ke sekolah. Di antara orang\-orang yang terlambat, ada seseorang yang bertanya apakah dia Yuan yang dari kelas XII IPA 3. Anak itu terus memperhatikannya selama mereka dihukum mencabuti rumput di halaman sekolah selama satu jam pelajaran. Sependengaran Yuan sih, nama anak itu Olivia. Ia dengar saat anak lain memanggilnya. Entah dari kelas mana Yuan tak tahu. Rambutnya panjang sampai ke punggung, lurus. Panjang sedikit lagi, menurut Yuan dia sudah bisa memerankan kuntilanak.


Saat Yuan masuk ke kelas dan memberitahu bu guru alasannya terlambat, semua anak di kelasnya langsung ricuh. Mereka mungkin suka dengan tontonan yang disajikan Yuan karena mereka rata\-rata memang konsumen drama, tapi bagi Yuan tujuannya bukan menyajikan drama, tapi memang jujur dengan alasannya terlambat. Malam itu Hanna mengirimnya pesan lebih dulu, bagaimana dia bisa tidur?


Saat Yuan melewati kursi Hanna, ia tidak lupa mengerling padanya. Tidak ada alasan, dia hanya ingin saja. Kemudian ia duduk di kursinya. Saat itu Orion langsung memutar badan dan memberinya tatapan memperingatkan.


“Apa?” tanyanya santai.


“Kita harus ngobrol nanti pulang sekolah.”


Yuan memutar matanya. Dia malas sekali kalau Orion sudah mulai bertingkah seperti orang tua. Ia tahu saat Orion mengajaknya bicara, itu artinya dia akan diomeli. Entah tentang apa kali ini, Yuan tidak terlalu mau tahu. Begitu Orion memutar kembali tubuhnya menghadap ke papan tulis, Yuan langsung mengalihkan pandangannya ke arah Hanna yang memunggunginya dan tersenyum lebar dengan tangan menopang dagu.


.


Begitu jam istirahat makan siang tiba, Yuan langsung angkat kaki dari kelas. Ia tidak menunggu Orion, karena toh anak itu sibuk dengan fansnya yang cekikikan centil, dan ia punya urusan mendesak.


Setelah mengambil makan siangnya, Yuan langsung memandang sekitar kafetaria untuk mencari keberadaan Hanna. Begitu ia melihat wanita itu sedang duduk dengan kedua temannya Mina dan Aina, ia langsung berjalan cepat dengan tray makanan di tangannya menuju meja Hanna.


Tanpa aba-aba, ia langsung duduk di sebelah Aina, yang otomatis membuatnya duduk berhadapan dengan Hanna. “Wah pas banget nih, jadi angkanya genap,” komentarnya dengan cengiran lebar.


Hanna, Mina, dan Aina berhenti mengunyah makanan mereka sejenak. Mereka semua menatap Yuan dengan tatapan yang berbeda-beda. Aina dengan tatapan bingung melongo, Mina dengan tatapan curiga penuh menyelidik, dan Hanna dengan wajah datar.


“Apa ini saatnya Aina dan gue ninggalin kalian berdua di sini?” tanya Mina.


“GAK. Mau kemana lo?” serbu Hanna seketika membuat mereka bertiga sama-sama menatap Hanna. Di wajah mereka tergambar betapa dramatisnya reaksi Hanna barusan.


Yuan tertawa. “Iya. Emang siapa yang ngusir kalian? Gue cuma mau makan bareng kalian aja. Tepatnya Hanna sih tapi Hanna makan sama kalian jadi yaudah deh,” ujarnya.


“Sumpah Yuan, gue gak nyangka ternyata lo punya sisi yang kaya begini. Selama ini kan lo cuek ******,” kata Aina sambil menyendokkan nasi ke dalam mulutnya. Walau mulutnya sibuk mengunyah makanan, matanya masih tajam bak detektif yang sedang menginterogasi tersangka.


“Yah tadinya sih gue mau terus gitu sampe lulus. Tapi gimana dong, Hanna udah gagalin rencana gue,” jawab Yuan sambil menatap Hanna.


“Jadi cuek itu rencana kehidupan sekolah lo? Apa enaknya jadi outsider sih? Selama muda lo harus nikmatin hidup dong. Emang lo pikir kehidupan SMA itu datang dua kali?” tanya Mina. Gayanya bak orang tua yang berusaha memberikan petuah.


Yuan hanya tersenyum kecil. “Ada deh. Anak kecil kaya lo gak akan ngerti,” balasnya.


“Wah gila nih anak. Eh, kalo sampe lo jadian sama Hanna gue bakal jadi orang pertama yang nentang hubungan ini. Hubungan terlarang!” kecam Mina sambil menggenggam sendoknya kuat-kuat, pose menakut-nakuti.


Yuan terkekeh. “Jangan dong,” katanya.


Hanna hanya menatap mereka bergantian. Ia tidak mengerti mengapa ia harus duduk di sini mendengarkan sahabatnya dan orang yang jelas tidak dan tidak akan pernah ia sukai sedang berbincang soal saat ia dan Yuan akan jadian seolah hal itu benar-benar akan terjadi. Yuan mengerti sekali itulah makna di balik ekspresi gadis itu. Namun tak sedikit pun hal itu mengganggunya.


Begitu Yuan menenggak air putih miliknya, ia langsung bangkit berdiri. “Duluan ya,” pamitnya sambil membawa *tray* makanannya. Hal ini membuat mereka bertiga kompak tercengang dan menatap satu sama lain dengan tatapan heran seolah mereka sama\-sama tidak menyangka Yuan akan pamit terlebih dahulu meninggalkan mereka.

__ADS_1



Begitu Yuan mengembalikan *tray*\-nya kepada penjaga kafetaria, ia langsung berjalan ke arah seorang anak yang sedang duduk di salah satu kursi kafetaria sambil memegang gitar. “Pinjam bentar dong. Mau nyanyiin sesuatu buat seseorang nih,” ucap Yuan.



Anak itu melirik *name tag* Yuan dan terkekeh. “Oh lo Yuan yang katanya bangkit dari kubur gara\-gara naksir cewek ya?” tanya anak itu dengan kekehan khas netizen penggosip sambil menyodorkan gitarnya pada Yuan. Pikirnya, ia ikhlas meminjamkan barang pada orang yang sebelumnya tak ia kenal demi mendapatkan suguhan bucin dari si laki\-laki zombie yang katanya baru bangkit dari kubur.



Yuan hanya mendengus mendengar julukan untuk dirinya. Ternyata itu gosip yang beredar, itu yang ada di pikirannya. Tapi ia tidak mau ambil pusing. Ia langsung berjalan menuju tengah kafetaria dengan gitar di tangannya. Ia kemudian duduk di salah satu bangku yang kosong dan melipat kakinya. Gitar milik seorang anak yang entah siapa namanya itu bertengger di pangkuannya. “Hey Hanna Havisah!” panggilnya.



Yang ia panggil memang Hanna Havisah, tapi yang menoleh malah seluruh orang di kafetaria, termasuk mbak\-mbak tukang cuci piring di belakangnya. Yuan tersenyum, matanya terpaku pada Hanna yang berbalik menatapnya. Mata gadis itu membulat kaget mendengar namanya dipanggil, atau mungkin membulat karena takut melihat Yuan yang duduk di tengah\-tengah kafetaria dengan gitar di pangkuannya.



Tanpa basa\-basi lagi, Yuan langsung memetik senar gitar. Orang\-orang yang memperhatikan mulai berkumpul mengelilinginya, namun tidak menghalangi pandangannya pada Hanna yang masih duduk di bangkunya, namun kali ini dengan membelakangi Yuan.


“She's a whistle on the wind


A feather on the breeze


A ripple on the stream


She is sunlight on the sea


Falling gently through the trees


And I love her”


Yuan mulai melantunkan bait demi bait, lagu dari *Passenger* yang berjudul *And I Love Her*. Orang\-orang mulai mengambil ponsel mereka masing\-masing dan merekam Yuan yang sedang bernyanyi. Suaranya memang lumayan, tampangnya juga *okay*, jadi wajar kalau anak\-anak perempuan mulai senyum\-senyum senang melihatnya. Tapi mata Yuan sendiri hanya tertuju pada punggung Hanna hingga akhir dari lirik lagunya.


“Gimana, Hanna? Bagusan suara gue atau *Passenger*?” tanya Yuan begitu mengakhiri pertunjukan sok romantisnya. Ia tersenyum saat Hanna berbalik badan. Namun gadis itu bukannya menjawab, namun malah berjalan keluar dari kafetaria sambil menutupi wajahnya. “Yah gini deh guys, kalo cinta lo bertepuk sebelah kaki. Butuh perjuangan ekstra,” ucapnya pada penonton yang masih berkumpul mengelilinginya bak seorang *youtuber* yang sedang berbincang dengan para *subscribers*\-nya.


.


Olivia berdiri di antara kerumunan anak yang sedang menonton Yuan bernyanyi. Matanya tidak bisa lepas dari pemuda berpostur tubuh tinggi itu. Suaranya sangat merdu berpadu dengan suara gitar yang dimainkan dengan sempurna. Mata Olivia berbinar-binar tak kuasa menyembunyikan perasaan kagumnya pada Yuan. Ia tersenyum kecil sambil memainkan rambutnya dengan jari.


“Wah gila, liat deh. Yuan udah nyanyi gitu juga, cewek itu sama sekali gak ngelirik. Sakit jiwa kali ya? Masa yang bening begini gak digubris?” ucap seorang anak perempuan di depan Olivia pada temannya.


“Seneng kali tuh cewek dikejar-kejar cowok kece,” balas temannya.


Olivia mengalihkan tatapannya pada Hanna yang beranjak dari bangkunya dan berjalan pergi dengan kedua temannya. Ia tersenyum simpul, memperhatikan Hanna dari ujung kaki ke ujung kepala. “Biasa aja,” komentarnya pelan, namun Haikal yang berdiri di sampingnya mendengar Olivia.


“Maksud lo Hanna? Biasa dari mana? Imut gitu,” balas Haikal.

__ADS_1


Olivia hanya mendengus dan mengibaskan rambutnya ke muka Haikal. “Cantikan gue juga kemana-mana,” ucapnya sebelum berjalan menuju Yuan di tengah kafetaria.


Anak-anak lain masih menonton. Langkah Hanna di ujung kafetaria pun terhenti saat ia mendengar nama Yuan dipanggil. Didorong rasa penasaran, ia berbalik untuk sekedar melihat, tapi akhirnya ia juga menonton adegan itu.


Olivia tersenyum di depan Yuan yang masih duduk. Tanpa berkata apa-apa lagi, Olivia mengambil spidol di sakunya dan menunduk untuk menuliskan sesuatu di gitar yang masih dipegang Yuan. “Nomor hape gue,” katanya singkat sebelum berjalan meninggalkan Yuan.


Yuan sendiri terkekeh geli dan ikut berdiri. Ia berjalan mendahului Olivia hingga ia sampai di depan si anak yang entah siapa namanya itu dan mengembalikan gitarnya. “Tuh ada bonus nomor cewek. Kalo lo keberatan gitar lo dicoret-coret, minta ganti rugi aja sama dia,” katanya sebelum berlalu.


Olivia yang melihat dan mendengar dengan mata dan telinganya sendiri ucapan Yuan terhenyak tak percaya.


Hanna sendiri menahan tawa dan langsung pergi dari kafetaria sebelum Yuan menemukannya.


“Wah kocak banget. Lo rekam semuanya gak?” Olivia mendengar seorang anak berkata.


“Ah kampret gue kira udahan dramanya jadi gak gue rekam,” jawab temanya.


“Ah emang lo gak guna!” umpat anak itu lagi.


Olivia dengan gusar berjalan keluar dari kafetaria itu. Dia malu sekali. Apalagi Haikal mengikutinya sambil tertawa terbahak-bahak sampai-sampai air matanya menetes.


“Wah nekat sih lo! Emang enak ditolak di tempat!” ledek Haikal tak henti-hentinya.


“Diem deh!” bentaknya sebelum berjalan meninggalkan Haikal dengan muka masam.


.


Seperti dugaan Yuan sebelumnya, Orion memang mau menceramahinya. Anak itu ngotot pulang bersama dan berkunjung ke rumahnya. Yuan yang tidak bisa menolak lagi dan terpaksa tidak mengantar Hanna pulang pun akhirnya setuju. Mereka pulang bersama dan sekarang sedang duduk di kamar tidur Yuan.


“Ya jadi lo mau ngomong apa?” buka Yuan sambil mengorek telinga dengan jari kelingkingnya. Ia sebenarnya tidak ingin mendengar omelan Orion, tapi ia tahu Orion tidak akan berhenti mengganggunya sampai seluruh omelannya tersampaikan.


“Lo sadar gak kalo akhir-akhir ini lo berubah? Apa harus sedrastis itu cuma karena lo naksir cewek?” tanyanya.


“Ah, kirain apaan. Emang gue power ranger berubah segala. Lagian berubah di mananya sih? Perasaan gue biasa aja."


“Lo sadar gak semua orang merhatiin lo! Gue kira cukup sampe di kelas aja lo bikin heboh, tapi di kafetaria? Lo sadar kalo banyak yang ngerekam lo pas nyanyi? Anak-anak juga pada upload di media sosial! Lo sadar gak lo lagi ngapain?”


Yuan mendesah napas panjang sambil mengacak-acak rambutnya. Ia menghindari tatapan Orion. “Elah kan gue gak nyuruh mereka rekam. Cuma mau nyanyi buat gebetan gue aja lo heboh,” sangkalnya.


“Terus ngapain lo selama ini diem? Harusnya dari awal lo kaya gitu! Kalo mau hidup seceroboh itu ya dari awal! Buat apa capek-capek jadi outsider kalo akhirnya lo kaya gini!”


“Sumpah On, omelan lo udah lebih heboh daripada ibu-ibu. Gue bisa kok jaga diri gue sendiri. Lo gak usah khawatir. Gue bukannya lupa kenapa gue hidup setenang mungkin selama ini, tapi gue yakin gak bakal ada apa-apa. Kalem bro, kalem,” ucapnya sok tenang sambil menepuk pundak Orion.


Orion menarik napas panjang dan tatapannya melembut. Sepertinya semua omelannya sudah tersampaikan dan seperti dugaan Yuan, Orion mulai sesi menasehati. Dia berkata, "lo tau kan gue cuma gak pengen lo kenapa-kenapa? Bisa gak sih lo deketin Hanna gak usah seheboh itu? Kan gak harus ngelibatin satu sekolah sampe muncul di sosial media segala."


Yuan mendesah sambil menatap langit-langit kamarnya. Ia mengingat-ingat kembali kejadian dengan Hanna. Sebuah senyuman kecil muncul bersama dengan lesung pipinya. "Gue juga gak ngerti On kenapa gue segila ini. Gue dipelet apa gimana ya?" candanya sambil tertawa.


Orion mengabaikannya dan mengambil ponselnya dari saku. "Berisik lo bucin mending mabar aja yuk."

__ADS_1


"Siap bos!" Yuan langsung bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk sambil bersender ke headboard.


Itu lah Orion, sahabatnya. Omelannya bak ibu-ibu tapi sepanas apa pun perbedaan pendapat mereka ujung-ujungnya mereka akan bermain game sampai sore.


__ADS_2