
"Apa maksud kamu mas tolong jelaskan?" Pinta Naya sembari meraih tangan Sami. Digenggamnya erat telapak tangan lelaki itu. Telapak tangan yang selalu hangat itu kini telah terasa begitu dingin. Sami menunduk dalam. Ia bergeming.
"Tolong jelaskan Mas Sami. Apa maksud dari kalimat kamu barusan? Benih siapa? Kamu menghamili siapa?"
"Aku..." Sami terbata.
"Mas.."
"Aku telah menghamili wanita lain."
"Gila kamu mas.." Naya mencelos. Ia hampir tersedak karena tidak percaya dengan apa yang baru saja diakui oleh Sami. Suaminya menghamili perempuan lain? Apa ia tidak salah dengar? Bagaimana mungkin seorang Sami yang ia kenal bisa berbuat hal sekonyol itu? Suami yang ia kenal adalah sosok yang sangat setia. Ia bahkan bersikap sangat dingin pada orang lain. Apalagi pada wanita yang tidak ia kenal. Mana mungkin ia bisa menggauli wanita lain selain Naya sebagai istrinya? Itu mustahil.
"Aku memang sudah gila Naya tapi kamu jauh lebih gila lagi. Bagaimana bisa kamu..." Sami menjeda kalimatnya. Rasa nyeri terasa kini di tenggorokannya karena menahan ribuan kekecewaan yang terasa menghimpit dada.
"Kamu...tidur dengan banyak laki-laki sementara aku masih ada. Kita masih berstatus suami istri Nay. Dimana pikiran kamu?"
"Mas dengarkan aku dulu." Naya memotong ucapan Sami.
"Kamu mau jelaskan apa lagi ha? Kenapa bisa kamu melakukan hal itu bertahun-tahun lamanya tanpa aku tahu? Apa yang kamu cari? Apa yang kamu dapatkan? Apa belum cukup dengan semua yang kita punya Naya? Apa masih kurang apa yang sudah aku berikan?" Ujar Sami panjang lebar. Menatap dalam ke manik mata milik wanita yang telah memberinya satu putri. Mencoba menyelami kesungguhan dari sana. Masih adakah tersisa rasa cinta untuk seorang istri pada suami yang juga tengah berjuang untuk mempertahankan bahtera rumah tangganya yang tengah oleh di tengah badai samudera.
"Mas aku juga punya alasan kenapa aku bisa jadi seperti ini. Semua juga diluar kendaliku mas. Salah kamu juga. Kamu terlalu sibuk dengan dunia kamu sendiri. Kamu nggak pernah ada buat aku saat aku butuh kamu. Kehangatan itu udah nggak bisa lagi kamu berikan untuk aku mas. Kamu dimana waktu aku membutuhkan kamu sebagai seorang suami?"
__ADS_1
Naya meneriaki Sami dengan emosi yang tak bisa tertahan lagi. Meluapkan semua rasa kecewanya karena telah diabaikan begitu lama sehingga ia terpaksa mencari sebuah tempat sebagai pelarian dari rasa sepi dan dingin yang ia rasakan tanpa sentuhan hangat suami.
Sami mencelos. Ia kemudian tertawa sedih. Menertawai betapa bodohnya situasi yang menyelimuti dirinya dan Naya. "Jadi itu alasan kamu melakukan semua itu Naya? Apa itu cukup dijadikan sebagai alasan untuk kamu menghalalkan aktivitas yang kamu lakukan ini? Apa itu masuk akal Nay? Ketidakhadiran aku kamu jadikan sebagai alasan untuk kamu melakukan hal keji dibelakang suami kamu sendiri. Dimana pikiran kamu Naya?"
"Apa bedanya dengan kamu mas Sami? Apa yang udah kamu lakuin tidak ada ubahnya dengan yang aku lakuin. Apa kamu sadar kamu juga nggak lebih baik dari aku?" Naya menyanggah ucapan sang suami. Mencoba mencari pembenaran diri. Ia menatap wajah sang suami yang sudah basah dengan air mata. Sami menatap balik Naya tanpa berkedip. Penuh sudah rasa hatinya kini mendengar kalimat yang baru saja diucapkan Naya.
"Oke. Baiklah aku mungkin memang suami yang nggak sempurna buat kamu. Aku minta maaf untuk itu. Aku memang bukan laki-laki yang bisa memuaskan hasrat kamu sebagai wanita yang haus belaian tapi satu pertanyaan aku...apa kamu sudah puas sekarang? Kamu puas rumah tangga kita jadi berantakan seperti ini?"
"Mas...Jangan lempar semua kesalahan ini sama aku. Kita begini juga bukan sepenuhnya karena kesalahan yang aku lakuin. Kamu juga turut bersalah mas. Kita sama-sama salah." Naya bergelayut pada tubuh Sami yang mematung. Menangis pilu merutuki semua hal yang telah ia lakukan.
"Terus sekarang apa mau kamu?" Tanya Sami.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menghadapi situasi rumit ini, Nay? Mau dibawa kemana sekarang rumah tangga kita? Keputusan apa yang harus aku ambil menghadapi kenyataan yang sekarang kita hadapi ini? Bagaimana harusnya aku menghadapi kamu? Menghadapi keluarga besar kita? Bagaimana caranya aku menjelaskan apa yang sedang kita hadapi Naya? Tolong katakan padaku sekarang?" Gundahnya rasa hati Sami saat ini. Ia tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi situasi rumah tangganya yang kacau balau. Jika saja Naya hanya melakukan hal itu sekali dengan tanpa sengaja mungkin saja Sami masih bisa menutup mata tapi kenyataanya sangat parah.
Seandainya saja hanya perselingkuhan yang tidak melibatkan fisik mungkin saja Sami akan mencoba memaafkan tapi faktanya tidak seperti itu. Faktanya sama sekali Sami tidak pernah menyangka akan separah ini. Naya menjadi seorang wanita malam? Suami mana yang tidak akan kecewa seperti dirinya kini? Mampukah ia untuk menutup mata? Seandainya ia bisa...
"Apa maksud mas membawa-bawa nama besar keluarga kita? Apa mas mau melibatkan semua anggota keluarga ke dalam masalah rumah tangga kita mas? Jangan bilang kalau mas akan..." Naya terpekik saat menangkap makna di balik kalimat yang diucapkan Sami. Apa suaminya itu kini berniat untuk membeberkan semua fakta yang ada? Memberi tahu kepada keluarga besar aib rumah tangganya? Naya menggeleng tidak percaya membayangkan hal itu. Ia tidak akan sanggup lagi untuk menghadapi dunia jika semua anggota keluarga besarnya sampai tahu apa yang tengah terjadi dalam kisruh rumah tangga mereka. Apa jadinya ia nanti?
"Aku mohon mas. Jangan pernah lakukan itu. Jangan bilang mas akan melakukan hal konyol itu mas. Aku mohon." Ujar Naya dengan wajah memelas. Ia bersimpuh di kaki Sami dengan linangan air mata yang menyeruak dari matanya yang mulai sayu.
Habislah sudah semua kebahagiaan dalam biduk rumah tangganya bersama sang suami. Sami bahkan tak menggubris sama sekali tangisannya yang terdengar pilu. Sami bergeming. Ia pun merasakan hal yang sama. Apakah ia sanggup untuk melangkah lebih jauh? Mampukah ia melibatkan keluarga besar dalam permasalahan rumah tangganya dengan Naya yang sudah porak-poranda? Kemana ia akan menyembunyikan rasa malu yang akan ia tanggung nanti? Tak hanya Naya yang akan menanggung akibatnya. Ia sendiri juga turut bersalah. Ia juga sama berdosanya dengan sang istri. Bagaimana dengan Kiara? Putri kecilnya itu pasti juga akan lebih terluka. Anak itu yang akan menjadi korban dari kisruh yang terjadi antara ia dan Naya.
__ADS_1
Sami menghela nafas panjang membayangkan betapa menderitanya nanti putri kecilnya jika ia tahu apa yang sudah terjadi antara ia dan Naya. Sami tak sanggup untuk membayangkan jika hal itu benar terjadi. Air matanya jatuh tertumpah menahan rasa perih yang terasa menyeruak di sudut hati. Pengkhianatan Naya dan juga dosa yang telah ia lakukan bersama Jihan kini makin membuatnya tidak berdaya untuk membuat keputusan paling bijak yang akan ia ambil untuk ke depan. Jika boleh egois ia ingin melepaskan diri jerat yang mengikatnya bersama Naya. Ia ingin sekali menumpahkan semua kesalahan itu pada sang istri namun ada Kiara yang menghadangnya untuk melakukan hal itu. Wajah tanpa dosa itu akan menanggung derita jika Sami nekat melakukannya. Lalu bagaimana kini? Apa yang harus ia lakukan?
"Lalu gimana baiknya kini Nay?" Tanya Sami dengan suara bergetar.
"Mas...." Naya tercekat tanpa tahu harus berkata apa.
"Sekarang terpaksa aku harus ambil jalan tengah untuk rumah tangga kita.." Sami menarik nafas sebelum melanjutkan kalimat berikutnya.
"Apa yang akan mas lakukan?"
"Silahkan kamu pilih sendiri. Mau kita ke pengadilan agama dengan berpisah baik-baik atau cerita kamu ini akan sampai ke telinga keluarga besar kita jika kamu menolak untuk kita berpisah. Aku nggak bisa menolerir lagi karena apa yang kamu lakukan terlalu memalukan untuk aku tanggung seumur hidup." Sami akhirnya memberi pilihan yang ia rasa cukup arif bagi dirinya dan Naya.
"Mas..aku nggak mau kita pisah.."
"Aku jamin Kiara nggak akan pernah tahu kelakuan kamu. Kiara nggak akan pernah kubiarkan mengetahui ibu macam apa kamu ini, Naya. Pilihan ada di tangan kamu." Sami memotong ucapan sang istri dengan mengacungkan telapak tangannya. Tatapan mata elang itu telah berubah sangat dingin seolah siap menenggelamkan Naya pada jurang yang sangat dalam. Naya akan jatuh dan lenyap jika ia terus memaksakan kehendak.
"Mas..." Lirih panggilan itu namun Sami berlalu tanpa mengindahkan lagi Naya yang kini hanya bisa menatap punggung tegap itu terus melangkah jauh. Meninggalkan Naya bersama rasa putus asa yang kini telah mulai menggerogoti jiwa.
Bagaimana kisruh rumah tangga mereka setelah apa yang terjadi???
******TBC********
__ADS_1