ASA YANG MEMUDAR

ASA YANG MEMUDAR
BAB 25. KABAR YANG MENGEJUTKAN


__ADS_3

"Jangan lupa susunya dihabisin ya sayang?" Pinta Naya pada putri kecilnya yang sibuk mengunyah roti selai cokelat yang sudah ia siapkan sedari tadi. Pagi ini Naya sangat bersemangat mengurusi Kiara. Ia sudah tak ingin lagi membuang-buang waktunya. Selama ini ia sudah terlalu sibuk dengan dunianya. Ia tak ingin lagi kehilangan moment berharganya bersama sang putri yang telah ia lahirkan. Hasil buah cintanya selama berumah tangga bersama Sami.


"Mama ngga keluar lagi hari ini?" Tanya Kiara dengan wajah lugunya. Mata bulat itu menatap Naya dengan tatapan penuh harap. Berharap sang mama tak lagi meninggalkannya di rumah bersama dengan pengasuh.


Naya menggeleng sembari tersenyum. Wajah cantik Kiara yang menatapnya dengan penuh harap itu membuat hatinya sedikit terenyuh.


"Nggak. Mama nggak kemana-mana lagi. Mama di rumah aja kok. Nungguin Kiara pulang sekolah. Nanti kita bisa main sepuasnya di taman belakang."


"Beneran ma?" Kiara merasa tak percaya. Mata bulat itu seketika tampak berbinar senang. Tidak menyangka Naya bersedia menungguinya pulang sekolah untuk bermain bersama. Biasanya sang mama tak pernah punya waktu banyak untuk menemaninya bermain. Kadang Kiara sampai tertidur pulas di atas kasur malas hanya untuk berharap bisa bertemu sang mama sebelum tidur.


"Iya. Beneran. Mama nggak bohong. Mama janji." Naya berusaha meyakinkan putri kecilnya yang imut. Wajah cantik itu perpaduan wajah sami dan wajahnya. Sungguh Naya bersyukur dalam hati ia bisa memiliki Kiara. darah daging Sami yang sempat tidak terlalu ia beri perhatian penuh. Sungguh ia telah melakukan banyak hal yang bodoh selama ini.


"Asik." Kiara tersenyum senang. 


"Susunya jangan lupa dihabisin ya. Nanti keburu dingin. Nggak enak."


"Iya ma. Kia habisin sampe nggak bersisa." Tukas Kiara dengan penuh semangat. Ia lalu meneguk minuman itu hingga tandas tak bersisa.


"Pintarnya anak mama." Naya mengelus kepala Kiara dengan penuh rasa bangga. Baru saja ia hendak menghapus bekas susu yang menempel di mulut Kiara, ponselnya berdering nyaring. Naya buru-buru meraih tisu dan membersihkan mulut sang putri dengan sigap.

__ADS_1


"Mbak tolong siapin bekal untuk Kia ya. Saya mau jawab telepon dulu." Pinta Naya pada sang pengasuh yang biasa ia panggil dengan sebutan mbak. Pengasuh Kiara yang bernama Mbak Dewi itu mengangguk paham. Ia lantas menyiapkan bekal Kiara sesuai dengan arahan Naya.


"Ya halo." Ujar Naya begitu ia menekan tombol hijau pada layar gawai. Panggilan yang ia dapatkan itu ternyata dari Bram. Anak buah suruhan yang paling ia percaya.


"Nyonya. Saya sudah dapatkan informasi yang anda minta."


"Oh ya?" Sahut Naya dengan wajah berbinar. Tidak menyangka anak buahnya telah mendapatkan apa yang ia minta dalam waktu singkat. 


"Ya. Saya akan kirimkan laporannya lewat aplikasi pesan anda ya nyonya. Sekalian semua sama foto-fotonya. Silahkan anda cek nanti." Tukas Bram dengan penuh keyakinan.


"Oke Bram makasih ya." Ujar Naya dengan senyum lebar.


"Untuk sementara cukup itu dulu Bram. Nanti kalau ada hal lain lagi yang mendesak, nanti kamu saya hubungi lagi." Naya memberi penjelasan lebih lanjut.


"Oke nyonya."


"Makasih Bram."


Naya mengakhiri panggilan. Ia menghela nafas lega. Tanpa menunggu lebih lama ia langsung bergerak memeriksa pesan masuk pada layar ponsel. Dalam hitungan detik ia sudah menemukan informasi yang dikirimkan oleh anak buahnya. Apa yang ia inginkan sedari kemarin telah terpampang nyata. Informasi yang didapatkan oleh Bram sudah lebih dari kata cukup. Sempurna. Naya memeriksa dengan detail semua foto-foto dan data diri perempuan yang telah berhasil mencuri perhatian sang suami. Semua kini telah terkuak. Naya menghela nafas lega. Senyuman licik kini tergambar pada wajah cantik itu. Ternyata itulah wanita yang telah berhasil mengandung benih Sami. Tak lebih menarik dari dirinya.

__ADS_1


"Ma..Kiara mau berangkat sekolah dulu ya." Panggilan Kiara menghenyakkan Naya dari lamunannya. Bayangan wajah perempuan lain yang telah merebut perhatian Sami itu langsung buyar begitu saja dari benak Naya. Ia menoleh pada sang putri yang telah bersiap hendak berangkat sekolah ditemani oleh pengasuh.


"Oh udah mau berangkat ya?" Naya mendekati Kiara dengan senyum hangat.


"Kiara mau pergi dulu ma."


"Hati-hati ya sayang. Mama tunggu Kiara di rumah ya." Naya mendaratkan kecupan sayang pada pucuk kepala putri cantiknya. Gadis kecil yang tengah duduk di bangku pre school itu mengangguk senang. Ia girang sekali mendengar sang mama mengatakan akan menunggunya pulang sekolah untuk bermain bersama.


"Titip Kiara ya mbak. Saya nggak kemana-mana. Hari ini saya di rumah aja. Saya mau nungguin Kia buat main bersama." Ujar Naya pada mbak Dewi sembari tersenyum. Sang pengasuh hanya bisa ikut tersenyum mengiyakan permintaan sang majikan.


"Berangkat dulu ya bu."


"Hati-hati ya mbak."


Naya melepas kepergian Kiara bersama baby sitter yang sudah lama bekerja untuknya mengasuh Kiara. Dilihatnya putri kecilnya itu kemudian berlalu bersama sang sopir. Membawa Kiara menjauh keluar dari halaman rumah. Baru saja Naya hendak kembali berbalik arah masuk ke dalam, kedatangan sebuah mobil sport di halaman rumah membuatnya urung untuk melangkah. Ia kembali menoleh ke halaman. Dilihatnya sang suami keluar dengan pakaian kantornya yang telah rapi. Pria itu menatapnya dengan tatapan dingin. Mata elang itu seolah akan menerkamnya bulat-bulat. Naya berusaha bersikap tenang. Ia mengukir senyum manis begitu Sami melangkah mendekat.


"Mas udah rapi aja sepagi ini. Udah sarapan? Mau sarapan bersama?" Tanya Naya dengan suara lembutnya yang mendayu. Berusaha mengabaikan tatapan dingin Sami yang menusuk tajam. Wajah tampan itu sudah tak lagi sehangat dulu. Hilang sudah rona suami hangat yang pernah ia miliki. 


"Kamu masih mau mengajakku sarapan bersama? Kenapa tiba-tiba kamu bersikap seperti istri idaman? Mau mencoba merayuku pagi ini?" Tanya Sami dengan muka datarnya. Meskipun kalimat itu terasa seperti sindiran langsung namun demi apapun sungguh itu tak mengapa bagi seorang Naya karena kalimat itu keluar dari seorang pria dengan sejuta pesona yang masih berstatus sebagai suaminya hingga detik ini. Wajah tampan itu sungguh membuat Naya tak menghiraukan hatinya yang tengah terluka karena sindiran pedas dari mulut Sami. Ia paham jika Sami sangat terluka karena pengkhianatan yang ia lakukan lebih dulu. Namun saat menerima kenyataan bahwa telah hadir perempuan lain yang kini telah berhasil mencuri hati Sami tak pelak membuat Naya cukup terpukul. Hatinya sungguh terluka menerima kenyataan itu. Perempuan itu wajahnya bahkan tak lebih cantik dari dirinya tapi kenapa? Naya mendesah pelan. Mencoba mengusir resah yang tiba-tiba hadir menggerogoti jiwa.

__ADS_1


*******TBC*******


__ADS_2