ASA YANG MEMUDAR

ASA YANG MEMUDAR
BAB 26. SUDAH MULAI MUAK


__ADS_3

"Masuk dulu mas. Kita bisa ngobrol sambil sarapan di meja makan." Naya kemudian melangkah masuk lebih dulu. Tak menghiraukan lagi Sami yang melihatnya dengan wajah dingin.


"Mas mau minum apa? Apa masih suka Coffee latte?" Tanya Naya begitu melihat suami telah menarik kursi untuk duduk di meja makan.


"Asal jangan kamu campur sama sianida aja." Sahut Sami setengah bergurau. Ia duduk sembari bersandar memperhatikan Naya yang kini sibuk membuatkan minuman itu untuknya.


"Mas udah mulai bisa melucu ya sekarang." Naya menjawab gurauan itu dengan senyuman yang dikulum. Ia lantas menyodorkan minuman itu kehadapan sang suami.


"Mana tahuan aja kamu nekat. Siapa yang bisa menebak isi pikiran kamu. Aku bahkan bisa sampai terkecoh selama bertahun-tahun."


"Mas.."


"Naya...cukup hentikan semua sandiwara kamu. Aku sudah cukup lelah menghadapi sikap kamu." Ujar Sami. Seperti biasanya Sami berkata tanpa menaikkan nada. Ia menatap lurus ke dalam manik mata sang istri.


"Mas baru aja pulang pagi ini tapi mas udah mulai menceramahiku. Mas darimana? Kita bahkan udah hampir dua hari nggak ketemu. Dimana mas nginep semalam?" Naya melempar tanya yang sedari tadi tertahan di tenggorokan. Ia tak berdaya lagi untuk menahan pria itu melangkah menjauhinya namun status mereka yang masih sah sebagai suami istri masih membuat Naya merasa berhak untuk menanyakan hal itu pada Sami. Meskipun ia tahu pria itu pasti sudah tak lagi mau tinggal bersama di bawah satu atap yang sama. Tetap saja Naya ingin menanyakan keberadaan sang suami.


"Kenapa kamu baru peduli sekarang? Kemana saja kamu selama ini?" Ujar Sami tidak mau kalah.


"Mas.. aku masih berhak tahu kamu kemana. Kita masih sah sebagai suami istri mas. Aku masih jadi istri sah kamu sampai detik ini." Naya mencoba memberi sanggahan.

__ADS_1


Sami mencelos. "Hak apalagi yang kamu punya? Hak itu sudah hangus begitu kamu tidur bebas dengan banyak pria diluar sana. Kamu lupa kamu udah menjual tubuh kamu sama lelaki lain? Apa kamu lupa Nay? Perlu aku ingatkan lagi?"


"Mas..." Naya tercekat. Rasanya terlalu perih begitu ia mendengar kalimat kejam itu terlontar dari mulut Sami.


"Jangan berusaha lagi Naya. Kita udah nggak bisa lagi meneruskan rumah tangga ini."


"Mas kamu bilang begini karena perempuan itu udah terlanjur hamil kan?"


"Jangan bawa-bawa orang lain dalam urusan kita. Dengan atau tanpa dia aku tetap akan memutuskan untuk berpisah dari kamu. Jangan lupakan kalau kamu sudah menghancurkan duluan rumah tangga kita." Sami sudah tak tahan lagi untuk tidak mengatakan kalimat itu pada sang istri. Rasa sabarnya terkikis sudah sejak ia mengetahui fakta bahwa Naya diam-diam menjalani kehidupan sebagai wanita malam. Ia dengan senang hati menikmati belaian dari banyak pria tanpa Sami tahu selama bertahun-tahun.


"Aku tahu aku salah mas. Aku tahu tapi kamu juga sama. Kamu juga mau nggak mau juga bersalah karena telah menghamili perempuan lain diluar sana. Kamu sendiri udah mengakui itu. Aku nggak rela kamu tinggalkan seperti ini. Ingat mas, kita masih punya Kiara." Naya menurunkan sedikit nada bicaranya. Perlahan ia mendekati Sami yang terdiam sesaat. Seperti mencoba berfikir untuk mengatakan sesuatu.


"Apa kamu udah nggak peduli lagi dengan putri kita mas?"


"Justru kamu yang nggak pernah peduli. Kemana saja kamu selama ini? Kenapa baru sekarang kamu sadar kamu udah hancurin kebahagiaan Kiara. Kamu..." Sami terbata. Ia merasa berat untuk melanjutkan ucapannya. Melihat cairan bening yang sudah terlanjur menumpuk di mata Naya. Ia tahu wanita itu banyak sedikitnya juga pasti ikut merasa berdosa dengan apa yang sudah ia lakukan.


"Aku tahu kamu udah terlanjur tergila-gila dengan perempuan itu. Wanita yang udah kamu tiduri. Gadis yang tengah mengandung benih kamu mas. Dia.." Naya menghapus air mata yang sudah terlanjur jatuh bergulir di pipi.


"Kamu mencari tahu identitasnya?" Tanya Sami dengan tatapan tidak percaya. Ia membuang nafas kasar. Sungguh ia tidak menyangka Naya akan senekat itu mencari tahu informasi Jihan. Wanita itu tingkahnya benar-benar sulit ditebak oleh Sami. Sudah sejauh mana Naya mengetahui tentang Jihan?

__ADS_1


"Mas pikir aku akan diem aja saat aku tahu mas udah menghamili wanita lain? Istri mana yang hanya akan diam saat mengetahui suaminya telah berbagi hati mas? Meskipun aku juga seorang pengkhianat tapi aku akan tetap merasa sakit hati saat tahu kamu mendua. Inget mas Sami, aku masih istri sah kamu. Nggak akan semudah itu kamu meninggalkan aku meskipun kamu udah menghamili wanita itu. Belum tentu juga itu beneran anak kamu mas."


"Udah Nay cukup. Hentikan omong kosong kamu." Sami sudah mulai muak dengan semua yang diucapkan Naya. Rasa sabarnya sudah di ambang batas. Ia tak lagi merasa iba dengan wajah cantik yang telah berlinang dengan air mata itu.


"Aku benar kan mas? Janin yang dia kandung juga belum tentu itu benih kamu. Aku bahkan ragu kalau ia masih suci saat kamu tiduri."


"Cukup Naya. Kamu memang menggelikan. Kamu sadar tidak kalau kamu udah nggak waras lagi? Kamu bahkan lupa kalau kamu bahkan tak lebih baik dari wanita itu. Asal kamu tahu dia bahkan sudah menolakku berkali-kali saat ia tahu aku sudah beristri. Dia tidak berminat untuk menjadi pelakor. Dia hanya korban dari kegilaanku yang sesaat karena menghadapi kelakuan kamu. Asal kamu tahu."


Muaknya Sami. Ia lantas beranjak berdiri. Minuman yang dibuatkan oleh sang istri tak lagi nampak menarik di mata Sami. Nafsu makannya sudah lenyap terbawa suasana runyam akibat perseteruannya dengan Naya yang tiada berujung. Semua percakapannya itu tiada berguna. Hanya menemui jalan buntu. Sami tahu Naya tidak akan semudah itu melepasnya dari jerat pernikahan yang sudah terlanjur porak-poranda. Yang hanya menyisakan puing-puing kenangan yang tiada arti. Seluruh rasa yang dulu sempat bersemi kini telah habis tak bersisa. Lenyap ditelan oleh kenyataan pahit bahwa wanita itu telah menjual tubuhnya pada banyak lelaki pemburu nafsu. Bukan karena uang tapi hanya karena nafsu sesaatnya yang tidak bisa ia bendung. Alasan yang sungguh tidak masuk akal bagi Sami.


"Aku nggak peduli mas. Tetap saja aku nggak akan pernah rela melepaskan kamu dengan semudah itu. Kita masih bisa cari solusi lain kalau kamu mau."


"Kamu gila Nay. Kamu memang udah nggak waras."


"Mas.." Naya mencegat lengan Sami saat pria itu berniat melangkah pergi meninggalkan Naya seorang diri di meja makan. Percakapan itu sungguh tidak berguna jika diteruskan.


"Apapun yang kamu lakuin itu nggak akan merubah keadaan Naya. Kita tetap harus mengakhiri hubungan ini. Kita akan tetap berpisah."


"Mas...aku mohon." Faya menahan lengan sang suami dengan wajah memelas namun Sami bergeming. Ia menepis tangan lembut itu dengan wajah tanpa ekspresi. Membuat Naya tergugu melepas punggung tegap itu berlalu menjauh pergi.

__ADS_1


********TBC*******


__ADS_2