
Sami baru saja memarkirkan mobilnya di pelataran parkir kantor. Baru saja hendak membuka pintu, ia merasakan getar ponselnya dari dalam vest yang ia kenakan. Sami meraih benda pipih itu sembari menutup pintu mobil. Ia melihat ternyata itu panggilan masuk dari Naya. Sami menghela nafas panjang saat akan menjawab panggilan dari wanita yang masih berstatus istri sahnya itu.
"Ada apa lagi Naya?" Tanya Sami dengan gayanya yang cool. Ia tetap mampu bersikap tenang setelah apa yang telah terjadi. Meskipun wanita itu telah membuat separuh hatinya kini telah membeku namun Sami tetap tidak bisa mengasari perempuan yang telah memberinya satu putri itu. Sami menghela nafas berat begitu mendengar suara lembut Naya dari seberang sana.
"Mas kamu lagi dimana? Aku mau bicara sama kamu."
"Bicara apa lagi Nay? Semua udah aku jelaskan kemarin. Apa kamu masih belum mengerti juga?" Bantah Sami. Ia memijit kepalanya yang mulai berdenyut. Mood Sami langsung menurun saat mendengar kalimat yang baru saja ia dengar mulut Naya.
"Kita belum selesai mas. Nggak semudah itu kamu meminta aku untuk berpisah. Aku akan jelaskan sama kamu. Dengarkan aku dulu mas." Pinta Naya dengan suara tergetar. Suaranya terdengar tercekat. Sami menutup matanya mendengar suara sang istri yang mulai terisak. Hatinya terasa nyeri mendengar isakan itu.
"Sudahlah Nay. Akhiri sandiwara kamu. Aku akan segera mengurus perpisahan kita. Sudah cukup. Jangan tangisi lagi. Percuma Nay." Pinta Sami dengan nada datarnya. Terpaksa dengan berat hati ia melontarkan kalimat itu. Meskipun terdengar sangat kejam namun Sami tetap tidak mampu lagi menolerir semua yang telah wanita itu lakukan dibelakangnya. Aktivitas menjijikan yang telah dilakukan Naya selama bertahun-tahun tanpa ia ketahui sudah cukup membuat tekadnya menjadi bulat untuk mengakhiri seluruh kisruh rumah tangganya yang sudah lama oleng diterpa badai di tengah lautan.
Ditambah lagi dengan dosa yang telah ia lakukan bersama Jihan yang menambah rasa jijiknya pada diri sendiri. Ia juga turut bersalah karena telah menambah pelik permasalahan rumah tangganya yang seperti benang kusut. Jihan telah terlanjur mengandung benihnya kini. Ia telah merenggut kesucian gadis itu. Mau tidak mau Sami harus segera mempertanggung jawabkan apa yang telah ia perbuat.
Masih syukur gadis itu bersedia menerimanya untuk menunaikan tanggung jawab itu. Jika seandainya Jihan menolak dan memutuskan untuk menggugurkan kandungannya, Sami akan makin terpuruk karena telah menjadi seorang pembunuh. Benih itu adalah darah dagingnya sendiri. Ia tidak mau menjadi seorang pria pengecut yang hanya mampu menabur benih tanpa bertanggung jawab. Jihan telah berhasil menyentuh hatinya karena gadis itu cukup tahu diri. Ia tak pernah berusaha untuk meminta pertanggung jawaban Sami. Bahkan gadis itu selalu menolak kehadirannya.
"Mas..tolong dengarkan aku.." Terdengar nada memohon dari Naya.
"Sudah cukup Nay." Sami mengakhiri panggilan. Ia menarik nafas berat. Hatinya mulai dilanda gundah. Ia kembali melangkahkan kaki memasuki kantor. Sudah tak ingin lagi meneruskan pembicaraan dengan sang istri. Semakin lama ia mendengarkan omong kosong Naya, hatinya semakin terasa pilu.
Sami melepaskan vest biru langit yang ia pakai. Melemparkan begitu saja pada sofa kecil yang ada di belakang partisi yang menjadi sekat antara meja kerjanya dengan ruangan kecil yang menjadi ruang pribadinya untuk berisitirahat dari penat. Perasaanya langsung memburuk sesaat setelah mendapatkan panggilan dari sang istri. Wanita yang telah mengkhianati janji suci pernikahannya lebih dulu.
__ADS_1
Terbayang wajah cantik Naya yang mendapatkan belaian nafsu dari laki-laki lain selain dirinya. Sami mencelos. Alangkah bodohnya ia selama ini tidak mengetahui apapun yang telah dilakukan Naya selama bertahun-tahun pernikahan mereka. Sikap Naya yang dingin saat mereka melakukan aktivitas ranjang tak membuat Sami untuk berfikir kesana. Ternyata itulah penyebabnya.
Perempuan itu telah kehilangan gairah saat bersamanya karena telah terlanjur menikmati banyak sentuhan dari lelaki asing di luar sana. Hati Sami terasa sangat sakit. Ia kemudian terbahak. Menertawai betapa tololnya ia selama ini. Sami tertawa pelan sampai tanpa sadar kedua matanya terasa memanas. Tanpa ia sadari cairan bening itupun luruh tanpa permisi. Ia menutup kedua matanya dengan rasa hati yang membuncah. Tidak habis pikir kenapa bisa rumah tangganya menjadi hancur seperti ini. Sesaat terbayang wajah cantik putri kecilnya yang menggemaskan tatkala mereka menghabiskan waktu bersama. Sami makin terisak. Hatinya terasa sangat sakit.
Tok..tok...
Ketukan di pintu beberapa kali menghenyakkan Sami dari isakan dalam diamnya. Ia buru-buru menghapus air mata yang menetes di pipi. Berusaha untuk kembali menutupi rasa keterpurukan yang melanda sisi hati.
"Masuk." Sahut Sami dari dalam. Pintu terkuak seketika menampilkan wajah sang asisten. Riky melangkah masuk sembari membawa beberapa berkas penting dari luar. Ia tersenyum begitu melihat sang atasan yang menyambutnya dengan wajah hangat.
"Pagi bos. Ini ada beberapa dokumen yang harus anda tanda tangani hari ini. Silahkan dicek dulu. Ada penawaran bau yang datang dari beberapa klien." Ujar Riky sembari menyerahkan berkas-berkas itu. Sami menerima sembari mengangguk paham. Ia meraih kacamata dari dalam kotak.
"Oke bos. Oh ya anda mau minum apa pagi ini? Teh Orchid apa Flat white?" Tanya Riky sebelum berlalu. Kebiasaan bos Sami saat mengawali hari. Riky melihat atasannya sedang tak baik-baik saja pagi ini. Wajah dingin itu kelihatan lebih sendu. Tampak jelas bosnya itu sedang berpura-pura tak terjadi apa-apa namun Riky mampu melihat apa yang sedang terjadi. Ia sudah sangat paham karakter atasannya karena telah cukup lama menjadi orang kepercayaan Sami. Meskipun bosnya itu berusaha untuk terus menutupi namun Riky mampu membaca hanya dengan melihat dari bahasa tubuh sang pimpinan. Riky sudah sangat mengerti karakter bos Sami.
"Teh Orchid aja Ki." Jawab Sami dengan nada santai. Ia kemudian terdiam beberapa saat.
"Oke bos." Riky mengangguk paham. Ia kemudian berlalu meninggalkan Sami.
"Riky.."Tiba-tiba Sami kembali memanggil sang asisten. Riky sontak kembali menoleh. Langkahnya terhenti seketika saat mendapat panggilan itu.
"Iya bos?" Tanya Riky dengan menatap kembali pada sang pimpinan.
__ADS_1
"Tolong hubungi pengacara kita. Saya mau membahas soal perpisahan saya dengan Naya." Tutur Sami dengan perasaan sendu. Riky membulatkan matanya mendengar kalimat yang baru saja ia dengar dari bosnya.
"Apa anda ingin bercerai bos?" Tanya Riky dengan mata membulat. Ia tak menyangka Sami akan mengambil langkah itu. Sami mengangguk sembari menghela nafas berat. Sungguh rasanya terlalu berat untuk ia memilih keputusan itu namun semua harus ia putuskan cepat atau lambat. Ia sudah tak mampu lagi menolerir apa yang sudah dilakukan oleh sang istri di belakangnya. Riky sendiri bahkan telah mengetahui hal itu lebih dulu daripada dirinya sendiri.
"Iya. Tolong hubungi pengacara kita secepatnya. Aku nggak bisa lagi menunggu lebih lama. Kamu ngerti kan apa yang aku maksud?"
"Anda yakin bos?" Riky kembali mengulang tanya. Ia ingin melihat kesungguhan dari atasannya sekali lagi. Riky tahu bos Sami serius namun ia tetap harus mempertanyakan kembali keputusan yang akan ia ambil. Perceraian tetap menjadi pilihan terakhir untuk sebuah hubungan keluarga yang sudah terjalin cukup lama. Meskipun Riky tahu itu pasti tetap akan tejadi juga cepat atau lambat.
"Tolong Ki." Jawab Sami tanpa mengiyakan dengan anggukan. Riky menghela nafas panjang. Ia paham kini keputusan sang pimpinan. Ia kemudian mengangguk paham tanpa bertanya lebih jauh lagi.
"Oke bos. Saya akan hubungi pengacara kita seperti yang anda minta."
"Makasih Ki."
Sami kemudian melihat sang asisten keluar dari ruangannya dengan ekspresi pasrah. Ia tahu Riky cukup mengkhawatirkan apa yang terjadi dalam kisruh rumah tangganya bersama sang istri. Riky adalah orang pertama yang mencari tahu kebusukan yang telah dilakukan Naya. Riky juga yang telah menemukan fakta itu dan ia jugalah yang akhirnya yang membeberkan semua rahasia yang telah disembunyikan begitu rapat oleh Naya. Sekarang apa yang bisa dilakukan oleh sang sekretaris selain hanya bisa melihat dan mengikuti semua permintaan sang atasan dengan hati yang juga ikut merasa prihatin?
Sami kembali menatap berkas-berkas yang baru saja disodorkan oleh Riky. Ia meraih beberapa dokumen itu namun baru saja hendak memulai membuka lembaran pertama ponselnya kembali berdering. Sami meraih benda pipih itu tanpa pikir panjang. Saat akan hendak mengusap layar, ia termangu. Sami menjadi enggan saat mengetahui siapa pemilik panggilan itu. Ia menjadi urung.
Naya is calling. Sami menarik nafas berat.
******TBC********
__ADS_1