
Naya terbangun saat alarm ponselnya berdering nyaring. Ia mencoba meraba sisi tempat tidur. Kosong. Tak ada tanda-tanda bahwa sang suami ada meninggalkan jejak keberadaannya disana tadi malam. Naya mendesah pelan. Tersenyum kecut. Sepintas ia menertawai dirinya sendiri. Bagaimana mungkin lagi Sami berniat satu ranjang lagi dengannya setelah melihat semua fakta yang telah terkuak? Pria itu pasti sangat jijik melihatnya kini. Bahkan melihat wajah Nayapun mungkin ia sudah tak ingin lagi.
Naya beranjak dari sisi tempat tidur dengan rasa malas. Mau tidak mau dia tetap memaksakan diri untuk segera berbenah. Hari ini ia berniat untuk menemui Sami di kantor. Seharian kemarin pria yang masih bestatus sebagai suaminya itu berhasil mengabaikannya. Tak satupun panggilan Naya ia respon. Kini Naya berniat untuk nekat. Ia akan mencari Sami di kantor pagi ini. Naya tahu ini terkesan agak sedikit gila namun ia tetap tidak peduli. Setidaknya ia tetap akan terus mencoba.
Naya memarkirkan kendaraannya di basement kantor. Ia turun dengan perasaan yang agak sedikit berdebar. Diraihnya kaca mata hitam untuk menutupi mata cantiknya yang terlihat membengkak karena menangis semalaman. Tidak ingin ada yang tahu bahwa ia meratapi nasibnya yang apes. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Dengan langkah percaya diri ia memasuki kantor sang suami. Berhenti sejenak di depan meja respsionis.
"Selamat pagi ibu. Ada yang bisa saya bantu." Petugas yang duduk di front ofice menyapa Naya dengan ramah. Baru saja Naya hendak bersuara, sebuah sapaan dari seorang pria langsung menginterupsi.
"Pagi bu Naya. Ibu mau nyari bapak?" Riky yang kebetulan melintas disana langsung menyapa Naya dengan nada sopan. Sebagai orang terdekat Sami di kantor tentu ia lebih tahu siapa yang masih menjabat sebagai nyonya besar dari atasannya. Hanya segelintir orang yang tahu siapa istri dari bos Sami di lingkungan kantor. Selebihnya tak ada yang tahu karena Naya sangat jarang mau berinteraksi langsung dengan karyawan suami. Pun ketika ada even ataupun acara penting kantor Naya enggan untuk ikut serta. Hal itu jugalah yang membuat petugas yang duduk di belakang meja resepsionis itu menyapanya seperti orang lain. Naya dianggap layaknya tamu kantor atau klien yang ingin bertemu bos mereka.
"Iya. Mas Sami ada, Rik?" Jawab Naya sekenanya. ia menatap asisten sang suami dari balik kaca mata hitam yang masih bertengger di hidung. Masih enggan rasanya ia melepas kacamata itu.
"Ada kok bu. Cuman lagi ada tamu di dalam. Ibu silahkan menunggu sebentar di ruang tamu. Mari ikut saya saja." Riky mejelaskan situasi yang tengah dijalani bosnya saat ini. Memang bos Sami saat ini tengah ada pertemuan dengan klien penting. Ada banyak hal mendesak yang sedang mereka diskusikan di ruang rapat khusus milik sang pimpinan. Tak mungkin Riky memberi tahu kedatangan istri bosnya ini. Diskusi itu cukup penting bagi perusahaan. Riky hanya bisa meminta nyonya besar ini untuk menunggu barang sejenak. Mungkin ada hal penting juga yang akan dibicarakan oleh suami istri yang tengah berkonflik besar itu. Tak ada yang tahu badai besar akan segera datang melanda sang pimpinan.
"Oke." Naya mengangguk paham. Mau tidak mau untuk sementara ia hanya bisa menuruti saja apa yang diminta oleh asisten suaminya. Naya menarik nafas berat saat menghenyakkan pantatnya di kursi ruang tunggu. Menunggu dengan perasaan campur aduk. Entah masih sudikah Sami mengizinkannya untuk masuk ke dalam ruangan kerja pria itu. Apa itu masih mungkin?
Menit demi menit berlalu. Sangat terasa berjalan alot bagi seorang Naya. Wanita itu seperti tengah menunggu datangnya bantuan air di tengah kering kerontang gurun Sahara. Rasanya ia sangat resah menunggui Sami yang sepertinya belum juga akan segera menyudahi rapat bersama kliennya dari dalam ruangan tertutup itu. Kesabaran Naya seolah aan segera habis. Ia melirik arloji yang ada di tangan kiri seraya menarik nafas panjang.
"Oke pak Sami. Kami tunggu kabar baik dari anda secepatnya." Suara bariton dari seorang pria paruh baya terdengar dari arah pintu yang kemudian terbuka. Menampilkan sosok sang suami yang tengah tersenyum sambil membalas jabatan tangan pria berambut putih itu.
"Nanti saya akan kabari anda secepatnya pak. Jangan khawatir." Tukas Sami dengan penuh percaya diri.
__ADS_1
"Riky..tolong di antar klien kita ini sampai depan." Pinta Sami tanpa menyadari ada Naya yang sudah sedari tadi menunggunya dengan hara-harap cemas.
"Oke bos." Riky bergerak cepat sesuai dengan perintah. Meninggalkan sang atasan yang kini berdiri dengan termangu saat beradu pandang dengan sang istri di depan pintu.
"Mas.." Lirih panggilan dari suara Naya yang terdengar bergetar.
"Kamu.." Sami tercekat.
"Bisa kita bicara berdua mas?" Pinta Naya sambil melangkah mendekati sang suami. Sami menatap dingin wajah cantik itu. Ia tidak mengira Naya akan nekat menemuinya pagi ini di kantor seperti ini.
"Untuk apalagi kamu mencariku? Rasanya kemarin aku sudah bilang dengan cukup jelas, Nay."
"Kamu mau jelaskan apalagi Naya?" Sami menarik nafas panjang. Tak habis pikir.
"Aku nggak mau kita pisah mas. tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita. Rumah tangga kita." Naya melepas kacamata hitam sembari duduk menatap wajah Sami.
"Rumah tangga kamu bilang? Rumah tangga seperti apa yang kamu maksud?" Tanya Sami dengan nada dingin. Kalimat itu terasa lucu sekali terdengar di telinganya.
"Mas, kamu nggak bisa memvonis aku begitu aja. Semua juga bukan salah aku sepenuhnya mas. Kamu juga turut andil membuat hubungan kita menjadi dingin seperti ini. Tolong ngertiin aku mas. Aku nggak mau kita bubaran. Aku masih mencintai kamu." Naya berusaha untuk mencari alasan agar sang suami berubah pikiran. Sami mencelos.
"Cinta? Kamu bilang kamu masih cinta? Cinta macam apa yang ada dalam hati kamu Nay? Apa kamu sadar apa yang baru saja kamu bilang? Seorang istri mengaku masih mencintai suami tapi ia justru mencari kepuasan lain di luar sana dari banyak lelaki. Apa itu masuk akal Nay? Kamu sudah mengkhianati cinta itu di belakangku selama bertahun-tahun. Apa kamu lagi melucu? Kamu bener-bener konyol." Tukas Sami menatap tajam Naya dengan mata elang itu. Tak ada lagi kehangatan yang tampak disana. Rasanya habis sudah kesabaran Sami.
__ADS_1
"Itu karena kamu nggak pernah ada untuk aku di saat aku butuh kamu mas. Aku juga butuh kamu."
"Jangan jadikan itu sebagai alasan untuk mencari pembenaran Naya. Aku sebagai lelaki masih sanggup untuk menahan hasrat tapi kamu. Kamu justru melakukan itu dengan suka cita tanpa aku tahu. Padahal kita masih bersama. Kamu masih berstatus sebagai istri. Kalau kamu memang benar-benar telah menikmati itu aku akan memberi kebebasan untuk kamu sekarang. Silahkan kamu nikmati aktivitas kamu itu sepuasnya. Aku menyerah." Ucap Sami tanpa menoleh lagi pada sang istri. Hatinya sudah terlanjur tersakiti. Membayangkan kembali Naya bercumbu bersama lelaki lain sungguh membuat ia merasa jijik. Habis sudah semua rasa yang ia miliki pada wanita itu.
"Mas..nggak semudah itu kita berpisah. Kita masih punya Kiara. jangan lupakan itu."
Mendengar nama putri kecilnya yang baru saja disebut oleh Naya membuat Sami kembali menoleh pada sang istri.
"Jangan jadikan Kiara sebagai alat untuk mencegah perpisahan kita Naya. Aku nggak akan membiarkan kamu memperalat anak kita."
"Aku juga nggak akan semudah itu menyerah mas Sami. Kiara juga butuh kamu sebagai ayah. Ia pasti akan terpuruk jika kamu nekat untuk memilih kita untuk berpisah." Naya tak mau kalah.
"Jangan gila kamu."
"Aku memang sudah gila. Aku juga nggak akan membiarkan kamu menikahi perempuan itu dengan mudah. Wanita yang sudah berhasil mengandung benih kamu." Tukas Naya sambil menghapus air mata. Hatinya juga terasa perih saat Sami mengatakan jika ia telah meniduri perempuan lain. Perempuan itu bahkan kini telah berbadan dua. Meskipun ia telah menjadi pengkhianat dalam rumah tangganya namun saat mendengar ada wanita lain yang tiba-tiba hadir di tengah kemelut tak pelak memberi pukulan telak bagi Naya. Ia sulit percaya tenyata Sami juga telah mencoba untuk mendua hati.
"Jangan makin memperkeruh situasi ini Nay atau kamu nanti akan menyesal sendiri."
"Kita lihat aja nanti mas Sami." Naya kemudian beranjak dari ruangan sang suami dengan perasaan sakit hati yang sulit dibendung. Sami tak akan pernah mundur dari keputusannya untuk berpisah. Sementara Naya juga tak ingin melegalkan perceraian itu dengan mudah. Ia bertekad akan berperang melawan suami. Ia tidak ingin berpisah begitu saja. Tak ingin ada perpisahan. Meskipun itu terasa cukup konyol namun bukan tipe Naya yang akan melepaskan apa yang sudah ada dalam genggaman tangannya.
*******TBC********
__ADS_1