
Tanpa di sadari waktu berlalu begitu cepat...
Saat ini anak-anak kelas XII IPS-A sedang berkumpul di sebuah kafe milik keluarga Ruubic. Kafe sederhana khusus berbagai macam kopi , teh dan kue. Ya tentu saja saat ini pemilik nya tak lain dan tak bukan adalah Rangga Daniyal Ruubic.
Semua siswa XII IPS-A berjumlah sepuluh orang. Kelas ini lah yang paling sedikit. Dan isi nya hanya orang itu-itu saja. Ali , Rangga , Yola , Lala , Fika , Zaky , Nabila , Ridha , Ridho , Wibi dan Singgih. Ridho adalah kembaran dari Ridha. Mungkin nama Ridho Wibi dan Singgih jarang terdengar. Karena mereka bertiga adalah siswa yang suka sekali kelayapan , jarang sekali berada di kelas. Jika bukan pelajaran sedang berlangsung mungkin ketiga nya tidak akan pernah masuk kedalam kelas nya sendiri. Ya tapi tidak sebegitu nya juga sih , pokok nya mereka bertiga adalah jenis spesies yang tidak bisa berdiam diri di tempat.
Saat ini mereka sedang menunggu kedatangan Ali dan Rangga si pemilik kafe. Kafe hanya ada mereka saja , karena si pemilik sudah berpesan bahwa kafe akan buka hanya untuk melayani anak-anak XII IPS-A saja. Agar kehebohan mereka tidak menggangu pelanggan lain.
Kring!!
Suara bel di belakang pintu berbunyi akibat pintu terbuka yang di dorong dari luar. Semua orang menatap pintu yang terbuka itu.
Terlihat dua orang dewasa , seorang wanita dan seorang pria. Dengan bocah laki-laki tampan yang di gandeng si wanita , dan bocah perempuan cantik yang di gendong si pria. Si wanita terlihat cantik dengan lilitan hijab menutupi rambut nya, dan si pria ya seperti itu saja , inti nya si pria terlihat tampan dengan kemeja Dongker nya. Aura keluarga bahagia terpancar dari mereka berempat. Mereka terlihat sangat bahagia. Mereka berempat berjalan menuju kumpulan XII IPS-A.
"Hay! BUNE!!" Teriak Fika dan Zaky berbarengan.
"Wah wah wah… udah ada dua aja nih bocah yang kalian buat" oceh Wibi.
"Haha… kamu kapan nyusul?" Si wanita bertanya balik menohok Wibi tepat di jantung nya.
"Aliii!! Kangen!!" Teriak trio curut memeluk Ali.
Ya… keluarga bahagia itu adalah keluarga kecil Ali dan Rangga. Mereka sudah menikah selama enam tahun lamanya.
"Tante! Jangan peluk bunda!!" Teriak si bocah laki-laki dengan suara cempreng nya.
"Eh… " mendengar suara kecil itu ketiga nya melepaskan pelukannya dari Ali.
Ali menggendong si bocah laki-laki.
"Ini bunda Ais! Yang boleh peluk cuma Ais aja" Ucap si bocah dengan suara belepotan nya.
"Eh… ayah gak boleh peluk bunda nih?" Tanya Rangga.
"Eh… ayah sama kak ipa boleh" ucap nya dengan cengiran.
"Udah… udah… kalian jangan tebar aura bahagia kalian dulu! Sini yang punya kafe duduk , jangan berdiri Mulu!" Seru Zaky merangkul pundak Rangga.
Duduk lah Rangga dan Ali dengan masing-masing bocah duduk di pangkuan mereka.
"Siapa nih nama nya? Eh… kalau di lihat-lihat… eeeh… anak kalian kembar laki cewek yaa??" Heboh Fika yang duduk bersebelahan dengan Ali.
Ali dan Rangga menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan antusias Fika.
"Wah wah wah… Rangga top cer ya wkwkw… sekali buat jadi nya dua" kekeh Wibi.
"Atu tuu... Adek cantik siapa nama nya?" Tanya Singgih mengulurkan tangannya berniat menggendong anak perempuan Ali.
"Aala" jawab si bocah riang merentangkan tangannya menerima uluran tangan Singgih.
"Aara" ucap Rangga membetulkan nama anak nya yang di ucapkan tadi.
"Kalau yang laki tu siapa nama nya ?" Tanya Wibi.
"Faaiz" kali ini yang menjawab Ali.
"Iya Aala ntuu Ais" ulang Aara menunjuk faaiz dan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Iyaa… om tau.." ucap Singgih mencubit gemas pipi Aara.
"Adik.. jangan mau di gendong sama om ituu... Om nya playboy!!" Seru Lala yang juga ingin menggendong Aara.
"Cih! Apa hubungannya gak boleh gendong Adek Aala sama aku yang playboy?" Tanya Singgih kesal.
"Aala om bukan Aala" Seru Aara memukul dada Singgih dengan tangan mungilnya , memprotes kesalahan dalam pengucapan nama nya.
Di tengah-tengah perdebatan antara Aara Singgih dan Lala anak-anak yang lain sudah mulai mencomot pesanan mereka.
Tidak seperti Aara yang mau di gendong siapa saja. Anak laki-laki Ali dan Rangga hanya mau duduk di pangkuan Ali saja , ikut menikmati kue dengan rasa stroberi nya.
"Aduuuh... Aku gak nyangka aja ya kalian udah nikah , malahan udah punya anak dua , kembar lagi" tiba-tiba Zaky berseru menghentikan aktivitas anak-anak XII IPS-A yang lain.
" Hahaha… iya yaa… bukan nya mereka dulu sempat renggang ya , saling menjauh gitu" seru Ridho yang baru saja habis menggoda pelayan kafe.
"Udah dapet nomor hp nya Do?" Tanya kembaran nya , menatap jengah Ridho yang masih belum berubah itu.
"Heheh…" Ridho cengir kuda saja menanggapi Ridha.
"Eh… tapi bener juga kan? Kenapa kalian dulu sempat jaga jarak gitu sih?" Tanya Nabila yang sedang menyeruput teh nya.
"Kepo… " seru Ali dengan cengiran nya , dia menyuapi anak laki-laki nya.
"Eh tapi kalian masih ingat gak , gimana si Rangga ngelamar Ali? Masak kamu ngelamar Ali pas dia lagi meler meler gitu?" Kekeh Fika yang mengingatkan kejadian enam tahun silam.
Flashback
Semua siswa yang telah mendengar pengumuman lulus berkumpul di kelas masing-masing. Ingin menghabiskan waktu bersama dengan anak-anak kelas. Dengan segala kehebohan yang ada anak-anak kelas XII IPS-A bersorak-sorai memasuki kelas. Anak XII saling menandatangani baju teman-teman nya. Anak kelas XII IPS-A hanya ada sepuluh orang , kelas ini lah yang paling sedikit siswa nya. Ada Ali , Rangga , Yola , Lala , Fika , Ridha , Ridho kembaran nya si Ridha , Nabila , Wibi , dan Singgih. Mungkin nama Ridho Wibi dan Singgih jarang terdengar. Karena mereka bertiga adalah siswa yang suka sekali kelayapan , jarang sekali berada di kelas. Jika bukan pelajaran sedang berlangsung mungkin ketiga nya tidak akan pernah masuk kedalam kelas nya sendiri. Ya tapi tidak sebegitu nya juga sih , pokok nya mereka bertiga adalah jenis spesies yang tidak bisa berdiam diri di tempat.
Di kelas XII IPS-A…
"Yuhuu... Aku lulus maaak!!" Pekik Zaky dan Ridho berbarengan, semakin menambah kehebohan yang ada.
Semua orang mengeluarkan tangis haru di hari ini. Tidak menyangka bahwa mereka sudah selesai dalam masa-masa SMA mereka. Di tengah-tengah keharuan yang ada , tiba-tiba Rangga berteriak agar semua orang fokus pada nya.
"Perhatian semua nya!!" Seru Rangga setengah berteriak.
"Aku… ada yang ingin aku sampaikan pada Ali , dan alu harap kalian semua bisa menyaksikan nya" seru Rangga ada rasa grogi menghampiri nya. Semua orang terdiam , rasa penasaran juga menghampiri mereka.
Rangga melirik trio curut agar mereka melaksanakan tugas yang sudah di sepakati sebelum nya.
Lala dan Fika menggandeng Ali agar berdiri di dekat Rangga.
Ali yang tidak mengerti , kebingungan melihat sekeliling nya. Begitu juga dengan yang lainnya.
Ali berdiri di depan Ali , menatap gadis itu sejenak , lalu menunduk kan lagi kepala nya.
Terlihat sekali Rangga sedang mengambil nafas nya dalam-dalam ,lalu menghembuskan nya.
"Aliana Zulfa Kusuma… di hadapan teman-teman sekelas kita , aku mau …" Rangga berhenti sejenak , rasa grogi benar-benar menghantui nya saat ini.
"Di hadapan mereka semua yang akan menjadi saksi atas yang akan terjadi hari ini , hari yang paling aku tunggu setelah merenggang nya jarak di antara kita"
Rangga terdiam lagi , dia merogoh saku celana nya.
"Apa kah kamu bersedia untuk menghabiskan waktu mu untuk menjadi pendamping hidup ku? Dengan izin Allah hingga akhir hayat kita nanti?" Tanya Rangga memberanikan diri menatap Ali.
__ADS_1
Ali terdiam tak tahu apa yang sedang terjadi saat ini.
Sementara itu anak-anak yang lain ingin sekali berteriak agar Ali menerima Rangga , tapi di urungkan nya karena peringatan dari trio curut.
"Aa.. aku… aku harus mendiskusikan hal ini dengan ayah dan bunda dulu" ucap Ali setelah lamanya terdiam.
"Gak perlu sayang , bunda sama ayah yakin dan apa pun keputusan kamu kami percaya kamu pada akhirnya pasti akan bahagia… putri kecil ku" ucap Beni , ayah nya Ali yang tiba-tiba masuk ke dalam kelas , di ikuti istrinya dan orang tua Rangga.
"Ayah… bunda… " Ali tidak percaya jika ayah dan bunda nya berada di sini dan sepenuh nya percaya dengan keputusan yang akan di ambilnya.
Ali terdiam lagi , dia menutup mata nya. Meyakini bahwa keputusan nya tidak akan pernah salah , dan dia tidak akan menyesali nya.
Ali menundukkan kepalanya , semua orang menanti kan jawaban yang akan di berikan Ali.
Ali menundukkan kepalanya tiba-tiba dia menangis , dia masih belum membuka matanya dan mengucapkan satu patah kata pun.
Cukup lama…
Akhirnya Ali mengatakan sesuatu dengan lirih.
"… Maaf… maaf kan aku… maaf aku gak bisa…" ucap Ali lirih masih disertai tangisan kecil nya.
Tentu saja jawaban Ali membuat semua orang kaget. Terutama Rangga.
"… Maksud… kamu…?" Tanya Rangga berharap bahwa pendengaran nya salah saat ini.
"Ah… baiklah… tidak apa , aku paham…" kata Rangga lirih , dia menunduk tidak berani menatap siapapun.
"… Hah… ini hari bahagia , kamu jangan menangis , kalian juga... Jangan tegang gitu… hemm… aku… aku keluar sebentar dulu ya… mau beli minuman… kalian haus kan?" Sesak rasa nya mendengar pertanyaan yang di berikan Ali. Rangga tak kuat jika dia haru berlama-lama di satu ruangan dengan Ali saat ini. Jadilah dia berniat meninggalkan kelas nya , ingin menenangkan diri sejenak.
Rangga membalikkan badannya , berjalan lesu menuju pintu masih dengan kepala yang tertunduk.
"… Rangga!! Maaf kan aku!!" Teriak Ali.
"… Iyaa... Tidak apa-apa , Ali paham kok" jawab Rangga.
"… MAAF KAN AKU KALAU TIDAK BISA NOLAK KAMU…!!" teriak Ali begitu nyaring dengan senyum lebar nya yang secerah mentari pagi.
Semua orang terkejut dengan apa yang di teriakkan Ali , bahkan Rangga yang mendengar nya syok , diam mematung di tempatnya. Tidak berbalik , tidak bergerak sedikit pun.
Flashback off
"Hahaha… kalian ingat gak wajah pucat nya Rangga yang sedetik sebelum Ali teriak waktu itu? Sumpah… ngakak , dia diam kayak patung… hahaha… pas ayah Ali menepuk pundak dia mau kasih selamat baru dia sadar" seru Zaky yang masih tidak berhenti tertawa mengingat kejadian enam tahu silam. Di ikuti gelak tawa yang lain nya. Bahkan Ali pun ikut terkekeh kecil mengingat kejahilan nya saat itu.
"Hahaha… yaa… tapi walaupun gitu… mereka jadi keluarga bahagia sekarang , gak kayak kamu masih menjomblo selama dua puluh tujuh tahun " Ucap Yola menohok Zaky tepat sasaran. Zaky langsung terdiam , kesal dengan ucapan Yola barusan.
"Iyaa… benar , kami udah jadi keluarga bahagia sekarang , yaa… walaupun ada aja Maslah yang akan menguji keutuhan keluarga kecil kami" ucap Rangga mencium dahi Ali.
~TAMAT~
Sampai disini dulu ya kisah Ali dan Rangga dalam judul Asmara Anak SMA. Terimakasih banyak untuk para pembaca setia yang udah menemani keberlangsungan cerita ini sebelum TAMAT🙏🙏🙏
Maaf jika cerita ini tidak sesuai dengan harapan besar para pembaca 🙏 🙏 karena author masih pemula.
Sekali lagi saya sampaikan terima kasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗🤗
__ADS_1