Asmara Anak SMA

Asmara Anak SMA
Part bonus (Malam pertama)


__ADS_3

Malam yang sangat melelahkan bagi pengantin baru. Ali dan Rangga baru saja melepas masa lajang mereka sebulan setelah lulus SMA. Mereka menikah di saat usia yang masih sangat muda. Tidak menyangka bahwa tragedi saat Ali membangunkan Rangga adalah awal dari segalanya yang terjadi saat ini.


Kata orang pernikahan bukanlah akhir dari sebuah hubungan melainkan awal dari hubungan itu sendiri.


Akan banyak sekali ujian yang akan pengantin baru ini hadapi. Apalagi mengingat bahwa mereka menikah di usia muda. Dimana perasaan pasangan kita bisa saja berubah kapan pun. Walaupun hubungan mereka hanya berawal dari sebuah pertemanan. Mereka harus memiliki pondasi yang kuat untuk mempertahankan rumah tangga mereka saat ini dan massa yang akan datang. Inilah salah satu petuah dari Aldi


Saat ini Rangga sudah berada di kamar pengantin baru. Menunggu Ali keluar dari kamar mandi.Ah tiba-tiba saja Rangga mengingat sesuatu. Huh jika dibukukan semua petuah bijak dan ceramah singkat yang di sampaikan Beni dan Aldi mungkin bisa dibukukan. Beni dan Aldi menyampaikan petuah bijak mereka sesudah acara resepsi pernikahan.


Entah kenapa Rangga sangat gugup sekali. Menunggu Ali selesai dengan urusan nya di kamar mandi sama rasa gugupnya seperti saat melamar Ali secara langsung pada Beni.


Tapi…


Mengingat salah satu petuah yang disampaikan Beni sebelum Rangga di perbolehkan untuk menyusul Ali ke kamar, rasa gugup itu sedikit memudar.


Di tengah lamunan Rangga yang sedang menunggu Ali. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka lebar. Menampilkan seorang gadis yang sedang malu-malu. Dengan baju tidur berwarna biru terang. Ali menghampiri Rangga yang tak henti nya menatap kagum Ali.


"Kak" Panggil Ali. Ia memutuskan untuk memanggil Rangga kakak, karena menurut nya itu lebih cocok untuk nya dan Rangga saat ini. Apalagi Rangga memang lebih tua darinya enam bulan.


"Eh. Adek sudah selesai yaa? Hemm aku mau membersihkan diri juga" Ucap Rangga dengan gugupnya yang kembali lagi.


"Hemm oke" Jawab Ali melihat Rangga yang sudah berlalu membawa handuknya.


"…"


"Huwaaah gimana nih. Aku deg-degan" Seru Ali tanpa suara.


"Apa malam ini kami bakalan… Huwaaah aku gak sanggup bayangin nya" Serunya masih tanpa suara. Ali uring-uringan tidak jelas di kasur.


"Huhuu Bunda, gimana ini? Kalau dia masih Rangga yang nyebelin, aku masih bisa nolak dengan alasan belum siap. Tapi ini… dia bukan Rangga yang nyebelin lagi, kalau Rangga yang sekarang ini… aku gak berani nolak. Habisnya… dia kelihatan dewasa banget sekarang. Apalagi dia tampan rugi kalau aku tolak, tapi ya tetap aja aku takut. Lagian kapan sih dia berubah nya. Cih aku kan kaget pas dilamar waktu itu. Aku kira dia gak suka aku karena dia sempat menjauh, bahkan terkesan menghindar dari aku. Cih kalau dia Rangga yang nyebelin aku bisa ngajak dia berdebat. Kalau sekarang. Huhuu Bunda. Cih kenapa aku masih kayak anak kecil gini sih. Pantesan kakak gak kasih restu pas tau kami mau nikah sebulan lagi setelah lulusan. Dengan alasan nya aku masih bocah" Gumam-gumam Ali.


"Haduh gimana nih… kenapa aku mau aja sih dengar cerita mereka bertiga. Aku kan tadi gelisah gini" Gumam Ali duduk dari baring nya lalu berbaring lagi.

__ADS_1


"Ah… gila aku tangan aku dingin banget. Duh ini jantung juga gak mau berhenti lari estafet lagi. Jalan santai aja kenapa sih jantung" Ali mulai meracau tidak jelas.


Ceklek


Pintu terbuka lebar. Dan semakin membuat Ali gugup dan salah tingkah. Apalagi melihat posisi Ali yang sudah bersujud dengan kepala yang menoleh ke kanan, menghadap pintu kamar mandi dan rambut Ali yang sudah berantakan. Melihat Rangga yang sudah ada di depan mata, Ali langsung saja merubah posisi nya dengan duduk bersila menghadap Rangga, dan keadaan rambut yang entah seperti apa bentuknya. Rangga yang membeku karena baru pertama kali baginya melihat sisi lain dari Ali yang bisanya selalu cuek dan tegas. Ah sangat berbeda sekali rupanya. Batin Rangga.


"Eh hahaha kakak sudah selesai ya bebersih nya? " Tanya Ali tertawa canggung.


Sementara itu Rangga yang sudah sadar dari keterkejutan nya melihat sisi baru Ali hanya tersenyum saja.


"Eh ih kok udah malam aja yaa? Yuk ah tidur. Hoam pantas adek sudah mengantuk" Ucap Ali menguap setelah melihat jam yang ada didinding kamar. Melirik Rangga dengan ekor matanya.


Karena tidak ada reaksi yang Rangga berikan selain tersenyum di tempat. Ali mulai membungkus tubuhnya dengan selimut, seperti kepompong. Melihat tingkah Ali semakin memperlebar senyuman Rangga.


"Huh kenapa dia jadi menggemaskan begini? Ah untung saja dia tidak seperti ini jika di sekolah. Kalau Ali menggemaskan seperti ini di sekolah, ah semakin banyak yang akan menyukai nya" Batin Rangga.


"Huh kenapa dia menggemaskan begitu? Jadi semakin ingin melakukan nya" Batin Rangga tanpa sadar pipinya merona. Membayangkan…


"Rangga! Kamu harus ingat satu hal. Kalian masih sangat muda. Jangan dulu memikirkan perihal cucu untuk kami. Ya saya akui bahwa saya ingin segera menggendong cucu, tapi karena saya mengingat putri saya yang masih sangat polos. Saya harap kamu mempertimbangkan keinginan Ali untuk melakukan hubungan suami istri dengan nya. Tapi jika dia sudah siap untuk melakukan hal itu terserah kamu ingin melakukan nya berapa ronde. Saya tidak akan mempersalahkan hal itu. Karena itu sudah hak kamu sebagai seorang suami. Tapi kamu juga harus menghargai Ali sebagai istri. Kamu pasti tau bahwa malam pertama untuk seorang gadis pasti menyakitkan, ya walaupun untuk kita para laki-laki hal itu malah sangat enak. Karena Ali tidak pernah sama sekali mendengar tentang hal ini bahkan mencoba nya pasti belum pernah, dan dia pasti tidak tahu bagaimana rasa sakit pertama kali itu sebelum menikah. Yah mungkin sekarang dia sudah tau karena Yola Lala dan Fika menceritakan hal itu pada Ali dua hari sebelum kalian ijab qobul. Ah anak muda jaman sekarang sudah tau aja hal begituan. Kamu tau reaksi Ali waktu mereka cerita? Ali mendadak pucat dia bahkan bilang gini, masa sih sesakit itu? Apa aku minta di tunda aja ya nikah nya sampai aku siap? Nah gitu kata Ali. Hah waktu itu saya gak sengaja mendengar mereka ngobrol, pas lihat reaksi Ali saya jadi kasihan dengan anak saya sendiri" Salah satu petuah yang di sampaikan Beni sebelum istirahat tadi.


"Hah melihat reaksi Ali secara langsung, kayak nya dia benar-benar belum siap deh" Gumam-gumam Rangga menghampiri Ali yang pasti nya belum tertidur.


"Dek, duduk bentar yuk. Ada yang mau aku bilang" Ucap Rangga megusap kepala Ali.


"Mau bilang apa? " Tanya Ali hanya mengeluarkan kepalanya saja.


"Duduk dulu, sini" Pinta Rangga.


Ali menuruti keinginan Rangga. Masih dengan selimut yang membalut seluruh tubuh nya, kecuali kepala.


"Aku tau kamu belum siap. Aku gak bakalan paksa kamu. Jadi malam ini kamu tenang aja, aku gak bakalan ngapa-ngapain kamu. Hemm tapi… Kalau tidur sambil peluk bolehkan ? " Tanya Rangga hati-hati.

__ADS_1


"Maaf, Adek memang belum siap. Habisnya kemaren mereka bilang kalau itu masuk bakalan sakit banget" ucap Ali dengan polosnya melirik bagian bawah tubuh Rangga.


"Terus kata mereka itu bakalan gedek segini" Ucap Ali sangat polos nya menggambarkan sebesar apa yang dia bayangkan tentang hal itu dengan jari tangan nya.


"Huh pasti sakit. Adek di suntik jarum sekecil itu aja takut. Apalagi yang sebesar ini... Huh kok jadi serem ya" Oceh Ali tanpa dia sadari bahwa tingkah nya membuat Rangga jadi semakin ingin melakukan hal itu.


"Aduh… udah Adek gak usah ngomong tentang itu kalau belum siap. Udah yuk kita tidur aja" Ajak Rangga melepaskan balutan selimut dari tubuh Ali. Lalu memeluk erat Ali yang nurut nurut saja. Mereka tidur dengan posisi saling berpelukan.


"Huhuhu sabar sabar ini ujian. Nanti kalau istri ku sudah siap, aku bisa melakukan sepuasnya" Batin Rangga menahan diri nya agar tidak menerkam Ali.


"Dek jangan lama-lama ya gak siap nya" Pinta Rangga penuh harap.


"Hemm iya, Adek usahain" ucap Ali lirih di depan dada Rangga.


"Hemm tadi Adek ada baca artikel sih, katanya biar gak takut terus sama punya kakak itu, katanya Adek harus pemanasan gitu. Katanya sering-sering lihat itu atau setidak nya coba pegang sekali-kali. Tapi…


"Adek mau coba? " Tawar Rangga memotong penjelasan Ali.


"Hemm mau sih. Sebenarnya Adek juga penasaran. Cuma ya Adek takut… kyaaaaaaa… " Teriak Ali.


Mereka pun hanya melakukan hal yang di sebut Ali pemanasan tadi. Hingga kedua nya tertidur lelap.


***


Hahaha bayangin sendiri aja ya pemanasan nya gimana 😆😆


Ah kangen juga sama Ali dan Rangga. Jadi aku nulis sedikit untuk mengurangi rasa rindu ini. Ya gak seberapa sih. Semoga masih ada yang rindu Ali dan Rangga yaaa


Selamat membaca


Salam hangat dari ku untuk kalian😘😘

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejak di kolom komentar like and vote oke dan terimakasih atas dukungan dari kalian semua 🤗🤗


__ADS_2