
Air mata yang terus mengalir, pipi yang mulai basah, dan hidung yang tersendat sebelah, itulah kondisi seorang perempuan yang tengah duduk di bangku dekat danau saat ini. Jika diperkirakan, ia sudah duduk lima jam di tempat itu. Apa yang membuatnya menangis sampai dada sesak serta lupa waktu begitu? Ya, jawabannya adalah novel romansa penuh kepedihan di tangannya.
“Ini kenapa sih second lead selalu berakhir menyakitkan?” ujar perempuan bernama Salma itu dengan nada puitis setelah ia menutup lembar novel terakhir.
“Di novel, pemeran pembantu selalu aja menyedihkan, apa di kehidupan ini gue juga pemeran pembantu karena nggak pernah bahagia?”
Bola mata Salma menerawang ke matahari terbenam, “kapan ya gue ketemu jodoh gue terus jadi pemeran utama bareng-bareng?”
Setelah beberapa detik Salma terdiam, ia mengingat sesuatu, “kata orang kalau berdoa di depan matahari terbenam, doanya bakal terkabul.. berarti kalau sekarang gue berdoa..” Tak menuggu waktu lama, Salma langsung memejamkan mata dan berdoa penuh keseriusan, “semoga setelah buka mata, pemeran utama di hidup gue bakalan dateng.”
Sehabis berdoa dengan khusyuk, Salma membuka mata perlahan, “AARRRRGGGHHHHHHH!!!”
Jantung Salma berdebar keras melihat seorang laki-laki cukup tinggi , wajah sangat rupawan, dan berekspresi bingung sedang melihatnya cukup lekat.
“Ternyata be-bener..” gugup Salma tak bisa mengontrol detak jantungnya.
“Ha?” lelaki misterius itu mengerutkan kening.
Salma segera berdiri dari bangku lalu menjulurkan tangannya, “kenalin, gue Salma, dan gue bakalan jadi pemeran utama di hidup lu.”
“Ha!?” lelaki tadi mengeluarkan kata yang sama lagi, tetapi kali ini agak kencang.
“Iya, gue bakalan jadi jodoh lu, oh ya lu bisa panggil gue Am..”
__ADS_1
“Gue nggak nanya nama lo.”
Salma terdiam, kalimat dari laki-laki itu terdengar sangat ketus, “hmm oke, nama lu siapa?” mental Salma agak turun, tapi ia tetap tak goyah.
“Apaansih, nggak jelas!” desis seseorang di hadapan Salma dengan nada tak suka.
“Eh tunggu!” Salma menarik lengan orang yang dianggap jodohnya tersebut.
“Denger ya, gue nggak tahu dan nggak mau tahu nama lo, jadi nggak usah sok deket sama gue, risih!”
Salma termenung merasa sakit, tapi ia harus tetap tersenyum, ia yakin kali ini doanya terkabul, “denger ya jodoh gue—“
“Apa!? Jodoh gue? Otak lo geser? Gue aja nggak kenal lo!”
“Gue saranin lo ke rumah sak..”
Tutt tutt
Deringan telepon dari saku lelaki di depan Salma membuat kalimat sebelumnya terpotong. Salma ikut melihat telepon genggam laki-laki itu, disana terdapat gambar suatu planet yang dilingkari oleh cincin dan ikon telepon masuk.
Namun, hal yang membuat kaget disana, laki-laki berparas galak tersebut segera menutup telepon tanpa berniat menjawabnya, padahal tadi dari nomor yang tidak dikenal. Apa baginya tak penting?
“Lu suka planet pluto ya?” gumam Salma berbasa-basi.
__ADS_1
Namun, basa-basi itu membuat lelaki tersebut geram, “planet pluto matamu!”
“Gue anak IPS, kemaren di pelajaran geografi gue belajar tata surya,” Salma menggoyangkan tangan di lengan si lelaki misterius.
Sontak melihat tangan Salma masih di lengannya membuat mata tajam laki-laki itu menunjukkan kebencian,
“gue kasih lo dua pilihan, pertama lo lepasin tangan gue sekarang, atau gue bakalan teriak kalau lo pasien rumah sakit jiwa yang kabur kesini?”
Salma tersentak, mengapa dua pilihan tadi terdengar mengancam?
“Gue hitung sampai tiga, satu.. tiga!”
Salma cepat-cepat menjauhkan tangannya. Dia sangat takut kalau ancaman itu benar, bisa-bisa ia menjadi perhatian orang-orang.
Tanpa melihat Salma lagi, calon jodohnya pun segera pergi dari sana.
Salma menatap kepergiannya dengan mata sedih, mengapa ia sangat mengenaskan ditinggal begini?
Tetapi, walaupun begitu Salma tetap semangat, ia mengambil napas dalam-dalam lalu berteriak, “KALAU KITA SAMPAI KETEMU LAGI, GUE SUMPAHIN LO ITU PEMERAN UTAMA DI HIDUP GUE!!!"
"EH NGGAK DISUMPAHIN DEH, DOAIN AJA! BIAR HALLAL!" revisi Salma atas kata-katanya.
Lelaki yang sudah berjalan tadi terdiam sebentar, rasanya sangat emosi diteriakki omong kosong oleh perempuan yang tak ia kenal. Tetapi beberapa saat, laki-laki itu tersadar, jika ia melawan omongan Salma, masalahnya akan tambah rumit, ia tak ingin beban ditambahkan lagi untuk saat ini. Jadi, ia segera melanjutkan perjalanannya kembali.
__ADS_1
Dan tanpa mereka sadari, mereka telah resmi untuk memasukki lembaran hidup baru sebagai pemeran utama.