
Kedua langkah kaki Salma tampak tergopoh-gopoh mengikuti dua pasang kaki di depannya. Seraya sibuk membenarkan tali tas yang copot, ia seakan menutup mata dan telinga di sekitar mereka. Bagaimana tidak? Hampir semua pandangan orang menatap dirinya dan kedua orang di depan dengan pandangan berbeda-beda. Padahal ia dan kedua orang tersebut adalah teman yang cukup akrab.
Ya, teman yang cukup akrab. Di depan sebelah kiri adalah Kiki. Ia bisa dibilang salah satu perempuan famous di SMA Republika ini. Faktornya, ia berasal dari keluarga kaya, cantik, berkharakter kuat, berani berbicara frontal dan ia juga aktif di dunia maya sebagai beauty vlogger. Jadi tak ada alasan jika ia adalah orang berpengaruh di sekolah. Tetapi, ada suatu rahasia yang hanya beberapa teman dekatnya yang tahu, yaitu nama panjangnya adalah Tukiyam Miami. Maka dari itu ia lebih suka dipanggil Kiki, ia takut kalau namanya dipelesetkan menjadi Tukiyem.
Disamping Kiki adalah Juju, ia juga salah satu orang berpengaruh di SMA Republika. Berfaktor hampir sama dengan Kiki. Yang membedakan Juju di mata Salma, Juju lebih anggun dan bertutur kata baik dibanding Kiki. Ditambah Juju juga aktif di dunia maya sebagai penyanyi cover. Pantas saja kan Juju banyak diidam-idamkan para pria? Apalagi rumor sekarang ini Juju tengah mencari pacar baru untuk menggantikan sang mantan.
“Nah gini kan enak dilihatnya, dua pacar gue jalan bareng!” celetuk salah satu murid laki-laki IPS disana.
“Pacar lo Kiki sama Juju? Bukan dibelakangnya?” jawaban dari celetukan tadi terdengar, membuat langkah Salma makin mundur ke belakang.
“Idih, walaupun gue dikasih uang juga, gue nggak bakalan pacarin tuh orang!”
Salma menahan napas mendengar suara sumbang lagi dan lagi, tetapi ia tetap sabar, ocehan itu sudah ia dengarkan hampir setiap hari. Jadi ia tak merasa terbebani.
“Ameh! Sini! Kok lu di belakang aja sih daritadi? Tas nya udah bener kan?” Juju memanggil Salma dengan nama panggilannya.
“Nggak papa, gue di belakang aja!” Salma menggelengkan kepala. Jika ia berjalan disamping Kiki dan Juju, bisa-bisa ia makin dihujat.
“Udah nggak papa, kesini aja!” Juju memaksa.
“Nggak pa—“
“Yaudah sih Ju, kalau Ameh mau disitu biarin aja!” Kiki bermuka malas, ia paling sebal jika ada momen canggung seperti itu.
Merasa jika dibiarkan akan membuat hati Salma sakit, Juju tiba-tiba menghentikan langkahnya. Ia segera menyusul Salma ke belakang. Ia tidak ingin temannya itu terasingkan dan di cemooh oleh orang-orang sekitar.
Tetapi belum sempat Juju menyamakan langkahnya dengan Salma, tiba-tiba suatu tarikan tangan membuat perempuan itu mengerem tiba-tiba.
“Anjir, Ju! Gue lupa ngerjain geografi!” jerit Kiki sambil menarik tangan Juju, sementara Salma ikut terkejut.
“Seriusan? Bel dua menit lagi lho!” Juju ikut kaget.
“Yaudah ayo bantuin gue ngerjain!” dan akhirnya Kiki menarik Juju ke kelas.
“KIKI! BUKU GEO LU KAN DI GUE!” teriak Salma teringat dua hari kemarin Kiki meminta dia untuk mengerjakan tugasnya. namun naas, ia sudah ditinggali sendiri oleh Kiki maupun Juju.
“Nah kan enak, si parasit akhirnya ditinggalin!” suara dari samping menghentikan teriakannya, tiba-tiba Salma tersadar lagi akan kenyataan. Walaupun mereka sahabat, ada jarak cukup tebal diantara mereka.
***
Dengan gusar Salma mengelus dahi yang sudah dibasahi oleh bulir-bulir keringat sedari tadi, ia meremas-remas tangannya yang dirasa sudah kebas akibat memegang pulpen dari satu jam lalu. Sebenarnya ini adalah salahnya, tadi malam Salma malah mendahulukan tugas Kiki, jadi saat mengerjakan tugas sendiri ia sudah keburu tidur.
“Ah ini kapan selesainya sih, kenapa daritadi cuma kelar satu bab!?” kesal Salma akhirnya membanting pulpen di lantai. Bu Yani menyuruh dirinya untuk merangkum sampai tiga bab. Tapi satu bab saja ia belum selesaikan.
Mata Salma mengerling dan langsung membulat ketika melihat pulpen yang baru saja ia lempar ingin menggelinding ke arah got, dengan gesit Salma segera merebahkan tubuhnya dan merangkak mengambil pulpen itu. Namun, saat matanya fokus ke lantai, sepatu hitam remaja laki-laki membuat ia berhenti untuk mengambil pulpen tersebut.
“Nggak punya otak? Udah tahu seragam putih, malah tiduran disana!”
Nada berat itu membuat Salma buru-buru berdiri. Ia mengibas-ngibaskan seragamnya yang kotor, sambil melakukan kegiatan itu, Salma mengoceh, “kalau mau ngingetin bisa nggak kalimatnya diperhalus!? Aargghh!!!”
Bola mata Salma membulat ketika ia berpandangan dengan laki-laki di depan.
“Lu.. lu jodoh gue kan!?” Salma tak bisa menahan air mata bahagianya. Ternyata doa di matahari terbenam kemarin benar-benar terkabul. Sungguh, ia sangat terkejut.
Laki-laki di depan Salma malah mendengus, “minggir! Gue mau masuk!” katanya ingin memasuki kelas Salma.
“Eh tunggu!” Salma melihat papan nama laki-laki calon jodohnya tersebut, “Astro Noval Jeremi! Nama lu bagus!” senyuman Salma makin merekah, ia tak menyangka bisa bertemu lagi dengan laki-laki yang ia temui di dekat danau dua minggu lalu.
“Bagus apaansih!” Astro sewot.
“Bagus buat kartu keluarga kita!” Salma tertawa kecil, malu-malu sendiri.
“Apa kata lo? Kartu keluarga? Mana mau gue nikah sama cewek bego kayak lo!”
Salma tertegun, dadanya sesak seketika, “APA!? CEWEK BEGO!?”
“Iya, sekarang kasih tahu gue siapa yang lebih bego dari lu, cewek IPS, tampilan urakan, ngomong nggak bener, suka senyum nggak jelas, dan sekarang? Lu pasti lagi dihukum kan, makanya ngerjain tugas di luar?”
“Lu nggak bisa ngomong sopan dikit gitu?” Salma merasa direndahkan.
“Gue ngomong fakta,” Astro menatap Salma dengan tatapan meremehkan.
Salma terdiam seraya menganga lebar, bingung harus menjawab apa lagi. Ia sudah tak habis pikir.
Tapi, hal itu tak berpengaruh bagi Astro. Ia segera menyalip ke samping Salma untuk memasukki kelas XII IPS 3.
Salma mengambil napas sebanyak-banyaknya, lalu membuang karbondioksida cukup banyak dari mulut, ia mengipasi diri dengan kedua tangannya. Ia sangat gerah menghadapi makhluk bernama Astro tadi. Mengapa mulutnya sangat berbisa seperti itu?
__ADS_1
“Eh tapi tunggu sebentar! Gue nggak pernah lihat muka dia, apa jangan-jangan..” Salma mulai berspekulasi, “ANAK BARU!?”
Bibir Salma tersenyum cukup lebar, jika benar ia anak baru berarti masa pendekatan ia dengan calon jodohnya itu bisa berjalan lancar. Apalagi mereka sekelas. Tetapi, ia merasa kurang suka dengan omongan Astro.
Salma mendecak tak ingin menambah beban pikiran, ia segera mengambil buku geografinya, ia harus melanjutkan pekerjaannya kembali agar cepat selesai dan kembali ke kelas untuk melihat Astro.
Namun, setelah ia duduk rapih, perempuan IPS itu melupakan sesuatu, “Oh iya! Pulpen gue dimana ya!?” bingung Salma, ia segera menyusuri got di depan kelas, tetapi tidak ada yang terlihat.
Tangan Salma menggaruk kepala karena kebingungan, dimana pulpen hitam itu berada? Padahal si pulpen hanya berguling di lantai saja.
“Kalau pelajaran Bu Yani udah selesai tapi tugasnya belum selesai, mati gue!” perempuan IPS itu makin panik, ditambah pulpen miliknya hanya satu.
Cittt
Suara decitan pintu membuat Salma menoleh takut, apa iya Bu Yani keluar kelas untuk mengeceknya?
Tetapi, nyatanya bukan guru killer yang keluar, tetapi lelaki dengan mulut killer.
Salma sebenarnya senang menatap wajah Astro. Berparas rupawan, hidung mancung, dan memiliki tinggi yang ideal, secara fisik Astro telah mendefinisikan tipe sempurna untuk menjadi pasangan hidup. Sayangnya, ketika Astro melihat Salma, tatapannya seakan merendahkan.
“Lho kok lu keluar lagi?” Salma menaikkan alis.
“Ya terus? Apa hubungannya ama lu?” Astro melihat penampilan Salma dari atas sampai bawah, terlihat tidak rapih sama sekali. Bahkan seragam putihnya masih kotor karena rebahan di lantai tadi.
“Lu anak baru kan?” Tanya Salma curiga.
“Bukan,” Astro masih menjawab walaupun sedikit malas.
“Tapi gue nggak pernah liat muka lu!” Salma tetap keukeuh.
“Harus banget lu liat muka gue?”
Kepala Salma mengangguk semangat, "iyalah! Kan lu jodoh gue!" bibir Salma tersenyum manis.
"Mimpi lo! Udah sana, gue mau lewat!”
“Sebentar-sebentar!” Salma memutari tubuh Astro layaknya detektif, ia masih bingung mengapa ia baru melihat wajah Astro setelah kelas 12? Padahal ia siswa lama.
Dan disaat ia melihat badge kelas di lengan kiri Astro, akhirnya Salma menyadari, “lu anak IPA 1!? Yang katanya kelas paling sunyi dan murid-muridnya itu nggak nomaden? Alias nggak berpindah-pindah? Wahh!!”
“Bagus deh! Memperbaiki keturunan! Pasti nanti keturunan kita pinter!” Salma melantur lagi.
“Lo makin lama makin nggak jelas ya!” Astro geram.
“Kok gue nggak jelas? Lu inget kan perkataan terakhir gue dua minggu kemaren? Kalau kita ketemu lagi berarti kita jodoh! Dan sekarang.. wah emang jodoh nggak kemana ya?”
Karena sudah tak tahan akan ocehan tidak jelas dari perempuan asing di hadapannya, Astro segera pergi dari sana.
"Eh Astro!! Sebentar!!" Salma berteriak lagi, kali ini ia menarik lengan seragam Astro.
"Apa lagi sih!?"
Bola mata Salma berputar seraya berpikir alasan apa lagi agar Astro tetap bersama dirinya, "hmm itu.. lu liat pulpen gue nggak!?"
Astro terdiam, dan Salma tersenyum lebar, akhirnya ia bisa menunda kepergian lelaki IPA 1 tersebut.
"Tuh! Di buku lu!"
Salma terkesiap, ia memutar balikkan badannya ke belakang, "lho! Kok disana!" tentu saja ia kebingungan, padahal ia sudah cari kemana-mana. Kenapa sekarang ada di dekat bukunya?
"Lepasin gue!" perintah Astro.
"Hmm.. gue mau nanya lagi, lu ngapain ke kelas gue? Lu kan anak IPA! Apa jangan-jangan.." mata Salma mengerling nakal.
"Emang nggak boleh?" Astro makin emosi.
"Nggak boleh lah! Ini tuh wilayah anak sosial!"
"Lo kira sekolah punya bapak moyang lo!"
"Bukan sih.."
"Lepasin gue!"
"Ast.."
"Gue kasih lu dua pilihan, lu lepasin gue atau gue kasih tau Bu Yani kalau lu nggak ngerjain tugas!?" ancam Astro memberikan dua pilihan seperti dua minggu lalu.
__ADS_1
"Dih kok mainnya ancem-anceman mulu sih?"
"Oke, gue aduin ke guru lu!" nada suara Astro tak main-main.
"Oke-oke!" Salma segera melepaskan lengan Astro dan membuat anak IPA itu segera pergi dari sana.
Netra Salma memandang tubuh Astro dari belakang dengan tatapan sedih, sampai beberapa langkah laki-laki itu pergi, tiba-tiba Astro menyempatkan diri untuk melihat ke belakang, “walaupun seribu kali lo bilang gue jodoh lo, gue nggak bakalan biarin hal itu jadi kenyataan. So, gue saranin, stop ngehalu!”
“T-tapi..”
“Dan juga, gue punya saran kedua, cepet bersihin baju lo atau lo mau dibilang bego sama orang lain selain gue.”
Salma terdiam, meskipun suara Astro berat dan dalam, ia tetap bisa mendengar dengan jelas. Pikirannya kemana-mana dan mendorong Salma untuk berpikir aneh, apa Astro sedang memperhatikannya?
“AST—“
“SALMAAAA!!!” suara panggilan dari depan pintu kelas membuat teriakan Salma terpotong.
“Eh, lu udah ngerangkum geografi belum?” tanya Juju tiba-tiba.
Kepala Salma menggeleng, “belum, pulpen gue ilang!”
“Kok bisa?” Kiki mengeluarkan suara.
Salma melihat ke belakang, ia ingin menunjukkan kalau tadi Astro datang, tetapi batang hidungnya sudah tidak terlihat.
“Yaudah biarin aja! Paling dikumpulinnya minggu depan kayak biasa,” Juju tak mempermasalahkan.
“Oh ya Ju, lu tadi liat kan anak IPA tadi? Cakep lho! Udah, pacarin aja!” Kiki menggoda Juju yang membuat perempuan tersebut tersenyum tipis.
“Ha? Anak IPA? Yang tadi masuk?” jantung Salma berdegup kencang. Apa yang dimaksud adalah Astro?
“iya, pasti lu tadi udah liat! Dia calon pacar Juju tuh!” Kiki sengaja menyenggol bahu Juju, dan malah membuat pipi Juju bersemu merah.
“JANGAN! JANGAN DIA!” Salma refleks berteriak, mengapa Juju dijodohkan dengan Astro!? Salma tidak terima.
Kiki mengernyitkan kening, “ada masalah apa lu? Suka sama anak IPA tadi?”
Netra Salma memandang wajah Kiki yang tampak tak suka dan Juju yang memelas, ia jadi tak enak hati.
“Gini ya Meh, kita kan udah temenan tiga tahun, lu pasti tahu lah, kalau ada cowok yang ngedeketin lu artinya dia mau ngedeketin kita! Jadi gue mohon, jangan pernah berpikir kalau ada cowok ganteng, kaya, dan punya kharisma itu suka sama lo! Karena ya.. nggak mungkin! Masa gitu aja lu nggak paham sih?”
Kata-kata Kiki membuat hati Salma tertohok, walaupun opini itu berkemungkinan benar, tetapi tetap menimbulkan keperihan di hati Salma sendiri.
“Ki! Udah, kasian Ameh!” Juju menatap Kiki agar perempuan itu menghentikkan kata-katanya.
“Ck! Ju, kenapa sih lu selalu ngalangin gue buat ngucapin fakta!?”
Mata Salma mengerjap, ia menahan mati-matian air di dalamnya agar tak keluar. Ia punya prinsip tak akan menangis di depan orang yang telah membuat ia menangis.
“Juju, Kiki bener kok. Gue ini emang nggak ada apa-apanya dibanding kalian, jadi.. yaudah,” Salma tertawa miris.
"Tuh, orangnya aja paham kalau dia sendiri nggak laku!" Kiki menimpali.
"Kiki, udah!" Juju makin menahan Kiki.
Kiki memajukan badannya ke arah Salma, lalu melihat penampilan Salma dari atas sampai bawah, "Meh, lu tahu kan kalau gue sering ngomong hal yang bener? Dan kebenarannya itu lu itu cuma suka ngehalu, nggak pernah bertindak apa-apa, ya walaupun lu bertindak, gue yakin lu itu gini-gini aja! Nggak bisa glow up, sorry.."
Juju melotot, ia berusaha memotong ucapan Kiki, “Meh, nggak gitu, maksud Kiki..”
“Hmm udah bel pulang kan? Gue balik duluan ya?” tak ingin lama-lama di hadapan kedua sejoli itu, Salma segera bergegas masuk ke dalam kelas untuk mengambil tas. Ia sangat sakit hati atas perkataan Kiki, sepertinya ia harus pulang ke rumah.
Yang mana, rumahnya tak jauh beda dari keadaan dia di sekolah.
...***...
...HALLO SEMUA!!!!...
...SELAMAT DATANG DI CERITA ASTRONOMI!!...
...KENALIN, NAMA AKU INWINXX! DAN ASTRONOMI CERITA PERTAMA AKU DI NOVELTOON!!...
...MENURUT KALIAN GIMANA SIFAT ASTRO!? GREGET GA? HEHEHE...
...AKU TUNGGU KOMEN KOMEN KALIAN YA!! BABAY!!!...
^^^- Inwinxx^^^^^
__ADS_1