ASTRONOMI

ASTRONOMI
Chapter 2 - Tambah Yakin


__ADS_3

..."Kita adalah sepasang insan yang sudah ditakdirkan bersama. Jadi semakin kuat kamu melawannya, semakin kuat pula hubungan kita."...


...***...


Sudah sekitar dua jam Salma menangis tanpa henti, terlihat wajahnya pun sudah berubah menjadi sangat sembab dan hidungnya pun mulai memerah.


Jika ditanya alasannya, sudah jelas adalah kejadian di sekolah tadi. Benar, walaupun Salma sering dihakimi oleh Kiki, ia tetap merasa sakit hati. Dan kegiatan menangis ini bisa dikatakan kegiatan sehari-harinya, karena memang penyebabnya sama, yaitu ucapan Kiki.


Tetapi, Salma terus berpikir, apa memikirkan jodohnya di masa depan adalah sebuah kesalahan? Apa ia tidak boleh mengidamkan laki-laki yang sempurna? Apa karena wajahnya tidak sebanding dengan Kiki dan Juju ia tidak berhak berangan-angan?


Tok tok


“Lisa, makan malem dulu yuk!”


Suara dari kamar sebelah membuat Salma bergegas berdiri dari kasur, ia segera beranjak ke pintu mendengarkan ucapan Sang Bunda dengan Kakaknya, Lisa.


“Kamu udah makan belum? Bunda udah masakin ayam panggang tuh!” ujar Sang Bunda dengan nada semanis mungkin.


Mendengar percakapan mereka, hati Salma makin berdebar-debar, ia merasa sangat khawatir. Bukan apa-apa, walaupun Salma adalah anak kandung dari rumah yang ia tinggali, perlakuan ia dan kakaknya sangat jauh berbeda.


Jadi benar, ia sekarang khawatir, apa ia diajak makan bersama keluarganya, seperti Bunda mengajak Lisa untuk turun ke ruang makan?


“Lisa udah siap Bun, ayo turun!” suara merdu kakaknya membuat Salma menutup mata, tak sanggup menerima kenyataan.


“Ayo!”


Setelah balasan Bunda terdengar, hati Salma makin hancur, ternyata dugaannya benar, bahwa keluarganya pun tak pernah menganggap dirinya ada.


“Eh sebentar Bun, Ameh nggak diajak?” pertanyaan Lisa yang tiba-tiba membuat Salma tersentak, apa benar namanya disebut? Apa ia masih diingat saat ini?


Namun, ekspetasi tak seindah realita, jawaban dari si ibu kandung membuat dada Salma terbelah dengan naas, “nggak usah, nanti kalau laper dia juga keluar sendiri!”


“Ta-tapi..”


“Udah ayo turun, keburu makanannya dingin!” kata Sang Bunda memotong pembelaan Lisa.


Dan setelah itu suara langkah mereka sudah tidak terdengar lagi bak hilang di telan bumi, Salma menyandarkan tubuhnya di pintu dekat ia mengintip tadi, tangannya ia gunakan untuk menutup mulut yang sudah mengeluarkan isakan keras karena tak mampu lagi menahan kesakitan. Semuanya terlalu perih untuk ia tanggung sendiri.


Salma mengontrol hembusan napas, ia merasa sangat sakit jika terus menerus menangis seperti ini, dan sebisa mungkin Salma menghentikan tangisannya sekarang.


Seusai air matanya kering karena terlalu banyak menumpahkan air, perempuan berumur 17 tahun itu seketika berdiri, langkah demi langkah menghantarkan dia ke depan kaca besar.


Tangan Salma mengepal, ia sangat benci melihat wajahnya sendiri, wajah yang membuat ia sial selama hidup ini. Karena dengan wajah itu, hal yang ia inginkan selalu tidak bisa ia dapatkan. Ia juga benci dengan kehidupannya, karena selalu menemukan orang yang lebih baik daripada wajahnya, sehingga ia selalu saja terbelakang dan diabaikan. Dari teman-temannya, sampai kakaknya.


“Kenapa ya gue dilahirin dengan muka kayak gini? Sampai orang nggak mau merhatiin gue sama sekali,” racau Salma penuh kepedihan.


“Kalau aja gue dilahirin di kehidupan lain, pasti gue nggak mungkin dipandang sebelah mata,” ujar Salma bernada putus asa diiringi suara nyaring di perut akibat tak diisi seharian.


Kedua mata Salma menutup rapat kembali, sampai tak terasa ia tertidur sampai fajar menjelang.


***


Kedua kaki Salma yang hampir copot memaksa badannya untuk berlari sekuat mungkin mendekati pagar sekolah yang hampir tertutup. Bukan apa-apa, kepalanya sangat pening sekarang, tubuhnya pun lemas akibat tak dipenuhi karbohidrat dan vitamin dari kemarin.


“Tiga..”


“Dua..”


“Satu!”


Salma terbelalak melihat pagar sudah tertutup tepat di depan matanya, “gue belum masuk!” adu perempuan kelas 12 tersebut.


“Udah telat! Jalanin hukuman sekarang!” balas laki-laki memakai almet OSIS itu tak perduli.


“Lah! Tadi lu hitung dari tiga gue ada sepuluh langkah dari sini lho!” Salma tak terima.


“Itu masalah lu! Ngapain ngadu ke gue?”


Salma menghembuskan napas kesal, ia menatap OSIS bagian sekbid keamanan tersebut dengan tajam.


“Kenapa lu jadi melotot?” ujar si OSIS yang memiliki papan nama Rangga Saputra itu.


“Bukain dong.. gue ada pelajaran olahraga..” pinta Salma tiba-tiba memelas. Kepalanya akan pening kalau ia berdebat disana.


“Nggak! Jalanin hukuman dulu!”


“Sumpah, kepala gue pusing banget! Tunda dulu deh hukumannya!” Salma tidak bohong, kepalanya sangat pusing saat ini.


"Mana ada hukuman bisa ditunda?" ucap Rangga sinis.


"Seriusan gue lagi sakit, kenapa nggak percayaan banget sih?"


Bola mata Rangga berputar malas, “alasan klasik!”


“Astagfirullah kamu solimi banget!”


“Udah, jangan banyak omong, jalanin hukuman sekar—“


“RANGGA!!” ucapan Rangga terpotong ketika suara panggilan dari belakangnya terdengar.


Salma dan Rangga sontak melihat ke sumber suara. Mata Salma menyipit melihat laki-laki itu, perawakannya sangat familiar.


“Astro? Tumben panggil gue!” Rangga menyentuh lehernya merasa salah tingkah. Sedangkan Salma terkejut sekaligus bingung. Bukannya lelaki itu yang ia duga calon jodohnya?

__ADS_1


Ah tapi panggilan itu sepertinya sudah tak cocok lagi kepada Astro, lelaki itu sudah menolak mentah-mentah.


“Lu tadi dipanggil sama pembina OSIS, ditunggu di ruangannya,” ucap Astro dengan nada super duper datar.


“Dipanggil? Disuruh ngapain?” Rangga heran.


Kedua bahu Astro naik bersamaan, “nggak tahu.” Disela-sela itu, Astro melihat Salma sekilas, tetapi yang dilihat hanya tersenyum kaku, bingung harus berekspresi seperti apa.


Rangga yang merasa Astro melihat Salma ikut melihat perempuan itu, “kenapa lu senyum sama Astro?”


“Orang dia calon jod— eh gue nggak kenal deh!” koreksi Salma, hampir saja ia keceplosan.


Rangga menatap aneh, tapi ia tak memusingkan, ia segera melihat satpam yang ikut menjaga gerbang, “Pak, jagain dia ya! Pastiin dia jalanin hukumannya!” kalimat Rangga terakhir sebelum akhirnya ia meninggalkan Salma di luar gerbang sendiri.


Kini tersisa Salma, Satpam, dan Astro. Salma melihat Astro dengan tatapan terpana, sedangkan Astro melihat peempuan itu ogah-ogahan.


“Eh nak Astro, ada urusan apa lagi disini?” kata si satpam bingung karena Astro masih berdiri disana.


“Hm, saya mau disini aja! Di kelas soalnya lagi remedial fisika,” sahut Astro sesantai mungkin.


“Oh pasti kamu nggak remedial ya?” jawab satpam yang terlihat sangat kenal dengan Astro.


Astro tersenyum tipis kemudian bermain mata lagi dengan Salma seperti mengodekan sesuatu, tetapi bukannya menangkap apa maksudnya, Salma malah tersenyum lebar tanpa alasan.


Raut wajah Astro makin tak enak, membuat Salma makin bingung harus bagaimana.


“Oh ya, bapak gimana? Sehat?” Astro basa-basi kembali, sedangkan Salma berpikir keras apa maksud dari tatapan Astro.


Apa mungkin.. ia disuruh masuk ke sekolah? Tetapi dengan cara apa? Ada satpam di depan. Kalau ia kabur, pasti akan dikejar.


Tetapi sepertinya ada cara lain..


BRUUUKKKKK


Suara orang terjatuh mengejutkan kedua laki-laki disana. Terutama Astro, ia sangat bingung mengapa tiba-tiba Salma tergeletak di tanah?


“Lah pingsan?” Astro masih menetralkan keterkejutannya.


“Kok dia bisa pingsan?” si satpam juga terkejut, “kayaknya bener deh dia lagi sakit.” Tambah Pak Satpam menduga-duga.


“Nak Astro, tolong bawa ke UKS ya,” ujar si satpam meminta bantuan.


“Bawanya gimana pak? Dia pingsan,” Astro mengerutkan kening.


“Ya yang bilang dia joget siapa?” satpam SMA Republika itu bergurau, membuat Astro makin bertanya-tanya.


“Yaudah Pak, saya ke kelas ya,” pamit Astro tak mau ada urusan.


“Gimana bawanya, Pak?”


“Ya gendong lah!” si Satpam memperjelas.


Kepala Astro menggeleng mentah-mentah, “Maaf Pak, saya nggak bisa lakuin itu!”


Si Satpam ikut menolak, “terus mau dibiarin aja disitu? Saya nggak bisa bawa, nanti dimarahin pak kepsek!”


“Ta-tapi..”


Penolakan Astro sudah tidak terima, “udah Astro, kamu kan cuma bapak suruh gendong, bukan ngajak pacaran!”


Merasa sudah tak mampu menolak lagi, Astro menghembuskan napas lemah, langkahnya pelan mendekati Salma yang sudah tergeletak di tanah. Ia menutup mata untuk mendapatkan kekuatan melakukan hal diluar zona amannya tersebut. Sungguh, di seumur hidup Astro, ia tidak pernah menyentuh wanita sembarangan, apalagi wanita seperti Salma.


Karena berpikir semakin cepat ia menyelesaikan, semakin cepat momen ini selesai, Astro segera berjongkok, kedua tangannya bergerak di sela-sela lekuk tubuh salma. Jujur, Astro sangat gugup, bahkan keringat dingin keluar dari tubuhnya.


Setelah beberapa detik, akhirnya momen yang ditunggu-tunggu terjadi, Astro sukses menggendong Salma di kedua tangannya. Memang benar, tubuh Salma yang kecil tak masalah bagi Astro, namun hal seperti ini terasa tak nyaman baginya.


“Yaudah cepat, bawa dia ke UKS!” suruh Si Satpam tadi, lalu Astro pun segera ke tujuan dengan kecepatan kilat.


Sampai di lorong dimana keadaan sangat sepi, jantung Astro makin memompa dengan cepat, tangannya saja gemetar akibat tak tahan dengan keadaan intim ini.


Tetapi, di sela-sela Astro menguatkan diri sendiri, tiba-tiba sebuah suara kecil membuat mata Astro terbelalak.


“Turunin gue aja deh."


Karena merasa terkejut sekaligus kesal, tanpa merasa kasian lagi, Astro segera menjatuhkan Salma begitu saja di atas lantai yang sudah pasti sangat keras.


“ADUH!!! PANTAT GUE!!!” Salma mengaduh kesakitan mengusap daerah dimana terbentur langsung dengan ubin.


Sementara Astro yang tadi melemparnya menatap Salma berapi-api, “JADI TADI LO BOHONGAN DOANG?”


“Lu jatuhin gue asal banget sih!” Salma balik marah.


Astro mengontrol emosinya, “biar apasih begitu? Caper sama gue?”


Merasa dirinya direndahkan, Salma berdiri seketika, “bukannya lu tadi ngodein gue buat masuk sekolah? Ya gue pura-pura pingsan lah!”


“Gue ngodein lu buat lari! Bukan buat pingsan!”


Mata Salma makin terbuka, “dih, lari gimana coba, orang ada satpam disitu! Kalo gue lari gue pasti dikejar lah!”


“Nggak lah, kan ada gue disitu!”


Sontak setelah kalimat Astro barusan, Salma terdiam. Ia merasa agak aneh dengan serangkaian kata itu. Begitupun Astro, ia ikut terkejut akan perkataannya sendiri. Sepertinya ia salah ucap.

__ADS_1


“Oh jadi lu udah nyadar kalau lu calon jodoh gue?” akibat ucapan Astro yang seolah-olah melindunginya membuat Salma tersenyum sendiri.


“Nggak!”


Kepala Salma mendongak, “terus kenapa lu nolongin gue?”


“Iseng.”


“APA!? ISENGGG???” sungguh alasan tak logis. Iseng jenis apa yang dimaksud Astro?


Astro mengangkat bahunya, “emang gitu, gue iseng aja.”


Salma berpikir lagi, “tapi tadi lu bohong pas Rangga dipanggil pembina!”


“Nggak, itu bener.”


Perempuan IPS itu terdiam, dia mencoba memperdalam makna dari ucapan Astro. Sampai lama-kelamaan Salma memahami sesuatu, “Oh, lu mau ngedeketin gue biar bisa deket sama Kiki, Juju kan? Udah lah, kalau mau deketin mereka, deketin aja, nggak usah sok deketin gue dulu! Emang lu mau gue suka sama lu? Nggak kan?”


Laki-laki IPA di depan Salma lantas menaikkan alis, tak mengerti alur ucapan Salma kemana, “lu ngomong apaansih?”


“Kan..” Salma tertawa sendiri, lebih tepatnya tertawa merasa kasihan dengan diri sendiri, “lu ngaku aja deh, yang lu incer siapa? Kiki atau Juju? Sebagai tanda terimakasih gue, gue bakalan nyampein perasaan lu ke mereka.”


Astro makin tak paham, memang ia sering mendengar nama Kiki maupun Juju, tapi ia selalu mengabaikan karena itu bukan urusannya.


“Astro, gue tahu gue jelek, gue nggak pantes buat jadi temen mereka, bahkan gue nggak pantes buat suka sama lu yang bisa dibilang sempurna, jadi, daripada perasaan gue tambah besar ke lu dan buat gue sakit hati sama kenyataan, please, jauhin gue.”


"Lu gila ya?" tanya Astro serius.


"Hahaha iya! gue udah jelek, gila lagi!" Salma makin tertawa puas.


"Gue nggak bilang lu jelek."


"Terus apa? Kumel? Item? Jerawatan? Komedoan? Nggak terawat! Nggak papa kok lu bilang gitu, gue udah biasa!" Salma tiba-tiba menghentikan tawanya, dan lama kelamaan ia menundukkan kepala diiringi air mata yang keluar tanpa permisi.


"Heh! Kok lu nangis!?" mendengar suara isakan, Astro menggaruk kepala sendiri, ia bingung harus apa. Ia tak mengerti cara menghadapi perempuan menangis.


"Gue tahu gue jelek.. tapi, lu bisa nggak hargain gue sedikit ajaa?" Salma meracau sendiri, alias meracau karena kehidupannya yang terbilang berat.


Astro terdiam sejenak, ia merasa sedikit paham perkataan Salma, “gini deh, gue jelasin ke lu. Pertama, gue nggak kenal Kiki atau Juju yang lu maksud. Kedua, gue bantuin lu karena murni gue iseng. Dan ketiga, gue setuju bakalan jauhin lu, bukan karena lu nggak berhak suka sama gue, itu gue lakuin karena emang gue nggak tertarik sama drama lu. Paham?”


Melihat raut wajah Astro yang sama sekali tak mengerti dan tak perduli, Salma kesal sendiri. Ia langsung berniat pergi meninggalkan laki-laki tersebut.


Namun, langkah Salma berhenti seketika saat suara Astro terdengar lagi, “ke UKS aja sono, muka lu pucet.”


“Ha?”


“Nggak usah sok kuat, tuh muka udah kayak tikus albino, masih pengen lanjut olahraga,” saran Astro terkesan menasehati walaupun bernada menghina.


Salma terdiam, benar saja, sebenarnya kepala Salma sudah merasa pusing daritadi, namun ia tahan sekuat mungkin.


Tetapi, menyetujui Astro sama saja seperti menerima perhatiannya, jadi Salma melanjutkan langkah kembali.


“HEH! Orang kalau dibilangin tuh dengerin!” Astro merasa tak dihiraukan.


Salma mendecak sambil melihat ke belakang, “gue nggak sakit, bedak gue ketebelan,” alibi Salma.


Merasa omongan Salma menggelitik hatinya, Astro tertawa sinis, “mau ke kondangan pake bedak tebel?”


Sontak mendengar ucapan Astro terkesan sarkas, Salma mendekati laki-laki itu lagi, “Lu kira sekolah dari jam tujuh sampe jam lima nggak kumel nih muka?”


“Lebay banget! Emang kalau nggak pake bedak nggak bisa nangkep pelajaran gitu?”


Jiwa Salma makin terbakar, “emangnya kenapa? Nggak usah sok suci deh, mana ada cowok yang suka cewek nggak pake make up?”


Dibalas begitu, jiwa berdebat Astro merasa terpancing, “gue emang suka cewek pake riasan. Tapi tergantung keadaan kali. Ke sekolah pake riasan mau ngapain? Genitin kepsek?”


“Lu kenapasih? Kok jadi jawab mulu?” Salma sangat sebal, Astro tidak mau kalah sama sekali.


“Gini ya, anak pemulung aja bisa raih S3 dengan pakaian seadanya. Lah elu? Bisa raih apa?”


“Bacot!” Salma mengakhiri perdebatan tersebut dengan satu kata kekesalan. Kepalanya makin pusing jika meneruskan perkataannya lagi.


Melihat wajah Salma makin pucat dan berdirinya pun sudah tak tegap, Astro mengunci mulutnya dan segera meninggalkan Salma. Ia rasa perempuan itu butuh ketenangan sejenak.


Sampai di beberapa langkah Astro pergi, tiba-tiba laki-laki IPA tersebut berhenti sejenak dan melihat perempuan di belakangnya tersebut.


“Dengerin gue, lu harus ke UKS sekarang. Kalau lu nggak mau, lu pasti pingsan beneran, dan kalau lu udah pingsan, gue nggak bakal bisa gendong lu lagi, berat!”


Mulut Salma menganga mengikuti langkah Astro yang makin lama makin menghilang dari hadapan, jantungnya berdebar keras mendengar kalimat aneh Astro tadi.


“Kayaknya gue tambah yakin dia calon jodoh gue!”


...***...


...So, halo semua!!!...


...Kita bertemu di Chapter 2^^...


...Yang mau lanjut lagi komen ya!!...


...SEE YOU(. ❛ ᴗ ❛.)...


^^^^^Inwinxx^^^^^

__ADS_1


__ADS_2