
..."Cinta itu dijebak, bukan dicari."...
...***...
“Gue kecewa sama lu, Meh.”
“Ju! Juju!” Salma berlari mengejar Juju yang lari meninggalkan lapangan.
Begitupun Kiki, perempuan itu membututi kedua kawannya tersebut, membuat mereka terlihat seperti bermain kejar-kejaran.
Sampai beberapa lama mereka berada di lingkungan sekolah, Juju memutuskan berlari ke kamar mandi perempuan untuk meredakan tangisannya.
“JUJU SEBENTAR! DENGERIN DULU!”
Salma menggedor pintu kamar mandi yang Juju kunci dari dalam, “Ju, gue beneran nggak ada apa-apa sama Astro!” di saat Salma teriak-teriak seperti itu, Kiki hanya berdiri di samping Salma seraya memangku kedua tangannya di dada.
“Ju, keluar dong..” Salma makin merasa bersalah saat mendengar suara isakan pelan keluar dari kamar mandi.
Mata Salma berpindah ke arah kiki yang tampak tenang seakan tak terjadi apa-apa.
“Ki, gimana ini? Juju nggak mau keluar,” ucap Salma meminta bantuan.
Namun seolah bukan masalahnya, Kiki malah mengedikkan bahu, “Nggak tahu.”
“Kok nggak tahu sih? Juju lagi nangis lho!” bingung Salma.
“Ya terus? Emang gue yang bikin nangis? Kenapa gue harus ikut ngebujuk dia juga?”
“Ya dia kan..”
“APA!?” Kiki melangkah mendekati Salma, tatapannya sangat tajam, “semua ini salah lu, Meh! Lu yang buat Juju nangis, lu yang buat Astro nolak Juju, lu yang buat kita malu di lapangan! Emang lo nggak tahu diri banget ya! Udah bagus temenan sama kita, masih aja jahatin Juju! Punya kaca nggak sih lo?”
“Ki, lu kenapasih..”
“Lo yang kenapa? Lo suka sama Astro? Inget ya! Astro itu nggak pantes buat lu, Meh. Jadi dari sekarang sadar deh! Nggak usah ngehalu lagi! Muak banget gue liatnya.”
Napas Salma tertahan mendengar setiap perkataan yang keluar dari mulut Kiki, apa dia segitu jeleknya sampai-sampai dinilai tidak pantas untuk Astro?
Karena sudah tak punya kata-kata lagi untuk membalas perkataan pedas Kiki, Salma hanya menundukkan kepalanya, “maafin gue..”
“Buat apa lo minta maaf ke gue? Sono minta maaf ke Juju! Itupun kalo di maafin..”
Salma menghembuskan napas, ia kembali lagi menatap Juju yang masih tertutup, “Ju.. gue minta maaf.."
Mendengar nada bergetar dari Salma, Kiki makin mengeraskan rahangnya, "ck! sebenernya juga lu nggak bakal dimaafin sih, jangan terlalu berharap banget."
"Juju.. gue tahu gue salah, gue seharusnya nggak boleh suka sama Astro.."
cklekk
Suara dari pintu kamar mandi membuat kedua perempuan di depan itu sedikit terkejut, apalagi yang keluar seorang perempuan bermuka pucat dan sembab.
"Ju.. lu suka kan sama Astro? kalau gitu dari sek.."
Ucapan Salma terpotong ketika sebuah pelukan merengkuh tubuhnya, Salma terdiam di pelukan Juju. Ia bingung harus berbuat apa karena hal itu dilakukan tanpa permisi.
"Ju.."
"Meh, gue tahu gue salah, maafin gue.." kata Juju di sela-sela tangisannya.
Ketika Salma ingin merengkuh tubuh Juju, perempuan itu dengan cepat melepaskannya, membuat Salma sedikit bingung. Tetapi, beberapa detik kemudian Juju tersenyum sangat manis, "lu suka kan sama Astro? Yaudah, nggak papa. Kenapa lu harus ngejauh? Deket sama orang hak lu kan?"
"Juju! Bilang apasih!" spontan saja Kiki mengamuk tiba-tiba.
Mengindahkan tatapan Kiki, Juju tetap tersenyum kepada Salma, "Astro nolak gue ya nggak papa, mau diapain lagi? Kayaknya dia juga suka sama lu, jadi.."
"Ha? Suka sama gue?" Salma memotong kalimat Juju, apa benar begitu? Sepertinya tidak ada kemungkinan Astro suka dengannya.
"Kalau dia nggak suka sama lu kenapa dia mau nolongin lu tadi? hm?" tanya Juju manis.
"Ya karena kasian lah! Apalagi?" Kiki menyela.
Juju melirik Kiki lalu menggelengkan kepalanya, "Ki, jangan ngomong begitu."
"Ya terus gue harus ngomong apalagi? Lu tuh ya Ju, bukannya bantuin nyadarin Ameh dari halunya! Lu malah ngedukung! Aneh banget sih," Kiki jadi kesal sendiri.
"Kiki.. Ameh kan sahabat kita.."
"Apa? Sahabat? Sejak kapan?" Kiki membentak.
Air mata Salma sudah turun mendengar hinaan dari Kiki, cukup sudah, hatinya sudah tak tahan lagi dihina habis-habisan seperti ini. Biar air matanya terjatuh sekarang.
"Ameh jangan dengerin Kiki!" Juju mencoba meredakan keadaan yang begitu panas.
"UDAHLAH JU! CAPEK GUE NGOMONG SAMA LU!"
Setelah Kiki mencak-mencak, ia pun langsung pergi dari hadapan Juju dan Salma dalam keadaan emosi.
Karena merasa Kiki tak baik jika tak ditangani, Juju langsung mengejar perempuan itu, sehingga Salma ditinggal seorang diri di kamar mandi wanita tersebut.
Melihat kedua temannya sudah pergi, Salma cepat-cepat mengontrol napas dan mengusap air mata yang keluar dari matanya.
Sungguh, ia tidak tahu harus berbuat apa. Mengapa setelah mengenal Astro lebih dalam, malah membuat persahabatannya retak seperti ini? Apa benar Astro memang bukan pemeran utama di hidupnya?
Jika kehadiran Astro di hidupnya membuat hubungan yang sudah dijalani hancur, sepertinya ia harus berpikir lagi untuk mempertahankan Astro atau tidak.
***
5 hari kemudian..
Salma menutup sampul novel dengan senyuman bahagia karena baru saja menyelesaikan novel fiksi remaja sekitar 524 halaman yang baru dibelinya kemarin.
Selepas membaca cerita yang berakhiran happy ending, ia merasa bahagia bercampur terharu atas pasangan kekasih di buku itu. Apalagi ia baru baca lima jam sebelumnya tanpa berhenti, sepertinya hari ini adalah rekor membaca tercepatnya.
Mengingat-ngingat tokoh utama di Novel itu, Salma mulai mengkhayal lagi. Tetapi, belum sampai lima detik ia membayangkan pangerannya, ia menghembuskan napas lemah.
"Kenapa gue jadi mikirin Astro sih?" sedihnya sambil menutup wajah dengan tangan merasa frustasi.
Padahal lima hari ini ia sudah meyakinkan diri untuk tidak memikirkan Astro lagi, ia takut jika ia dekat dengan Astro, persahabatannya akan semakin renggang. Tetapi, ia jadi sangat rindu..
"Uhuk! Uhuk!" Salma terbatuk merasa tenggorokkanya kering.
"Aduh! Kayaknya gara-gara nggak minum lima jam gue jadi haus begini dah!" Ujar perempuan itu kemudian mulai memutuskan untuk turun kebawah mengambil air minum.
Gadis berumur 16 tahun itu menekan knop pintu dengan cepat kemudian tergesa-gesa berjalan untuk memenuhi hasrat haus yang melanda tenggorokannya.
Setelah melihat dapur, ia pun melaju kesana lalu mengambil air mineral di dispenser serta meneguk air hingga habis.
"Ah! Jam berapa sih ini?" Salma melihat ke arah pergelangan tangannya, ternyata waktu sudah menunjukkan pukul 16.35.
"Mending ngelanjutin drakor marathon aja deh.." ucap Salma kemudian berniat pergi ke kamar lagi.
"Wah kayak gitu kak ternyata!"
"Asik collab bareng nih kita!"
"Okedeh!!"
Suara samar-samar yang bernada sangat bersemangat itu membuat Salma berhenti untuk meneliti suara familiar tersebut. Sepertinya ia kenal.
"Kak, ditunggu majalah selanjutnya ya!" Ujar sahabat Salma dengan manis ke arah Kakak kandungnya itu.
Jantung Salma sudah tidak karuan melihat hal yang ada di hadapannya, bahkan hatinya tiba-tiba saja memberontak disaat ia memikirkan kemungkinan yang terjadi.
Ah, perempuan itu menggeleng, mungkin mereka hanya mengobrol sebentar kepada kakaknya, baru selepas itu menemui Salma.
"Hai! Kiki, Juju! Kalian disini? Kok nggak bilang? Ada apa?" Sahut Salma yang langsung duduk diantara mereka dan mengembangkan senyuman dengan lebar.
Juju membalas dengan tersenyum manis juga, "kita disini.."
"Kita disini pengen ngobrol-ngobrol sama kakak lu doang, Meh," potong Kiki lebih dulu.
Salma mengerutkan dahi bingung, "maksudnya?"
"Iya, kita disini pengen collab bareng gitu! Kalau bisa bikin akun youtube bertiga!" Kiki makin bersemangat.
Salma yang mendengarnya ikut bersemangat dan bersorak, "ha? Bertiga? Sama gue kan!?"
"Wah.." Juju ikut tertawa mendengar tingkah lucu Salma.
"Eh siapa bilang! Maksud gue itu, Gue, Juju, sama Kak Lisa!" Sela Kiki yang membuat ruangan menjadi hening.
Hal itu pun membuat Salma juga tak sanggup berkata-kata lagi, ia memilih sibuk dengan lamunannya, entah mengapa mendengar kalimat yang terasa mengganjal itu, dadanya agak terasa terhimpit dan sesak.
Sampai beberapa saat, Juju tertawa kecil, "lho kok sama Kak Lisa? Bukannya sama Ameh kata lu?"
"Kayaknya sama kak Lisa lebih seru!" Canda Kiki sambil tertawa bersama kak Lisa.
Orang yang ditertawai sudah bingung harus berkata apa. Entahlah, ia bingung jika ikut tertawa, rasanya jika ia melakukan itu sama saja merendahkan harga dirinya.
"Nanti lu make up-in si Ameh aja, biar masuk channel kita!" Usul Juju masih membela gadis penuh khayalan itu.
Kiki tertawa renyah, "dipake riasan manapun juga, muka Ameh mah gitu-gitu aja! Nggak ada pengaruhnya!"
"Dia kan emang mukanya aneh permanent!" Jawab Lisa ikut tertawa.
"Iya, kebiasaannya aja ngayal mulu sih!" Tambah Kiki bernada bercanda.
"Ya namanya hidupnya penuh halu!" Kakaknya ikut mendukung.
"Gimana ya nanti cowoknya? Penuh halu kayak Ameh juga nggak ya?"
"Pasangan serasi pasti!"
Dikala mereka saling menambah penghinaan kepada Salma, Juju melihat Salma yang hanya mampu melihat ke bawah dan mengaitkan jarinya dengan tatapan sedih, sungguh, ia sangat kasihan dengan sahabatnya itu.
"Hm, udah-udah! Mending sekarang kita foto-foto aja!" Juju menengahi kemudian mengeluarkan ponsel merah bercorak hitam dari dompet agar mereka berhenti.
"Ayo kak kita Foto!" Ajak Kiki menarik Lisa agar berdempet kepada ia dan Juju.
Salma yang melihat mereka sudah mengatur posisi, langsung berdiri berniat untuk bergabung. Tetapi, belum sampai ia mendaratkan pantatnya di sofa coklat keluarga Santoso..
"Eh Ameh ngapain? Lu aja nih yang fotoin! Kita pengen foto sama Kak Lisa dulu, nanti gantian!" Suruh Kiki mengambil alih ponsel Juju kepada Salma.
Senyuman Salma terpaksa mengembamg ketika menerimanya, setidaknya ia masih dianggap disini.
Dengan suara gemetar sambil memegang kamera, ia pun mulai menghitung mundur.
"3.."
"2.."
"1.."
"Chees!"
"Lagi-lagi!" Sahut Kiki mengatur gaya kembali.
Sampai akhirnya jadilah Salma sebagai fotografer dadakan.
"Udah-udah! Gue capek!" Ucap Kiki kemudian merenggangkan tubuhnya.
"Sini, Meh! Ayo kita foto!" Ajak Juju memanggil Salma.
Salma mendaratkan bokong di atas sofa kemudian memberi ponsel Juju ke arah supir yang tiba-tiba datang dan terpaksa menjadi juru foto dadakan juga disana.
"3.."
"2.."
"Eh Ameh!"
Belum sempat foto ditangkap, Bunda Salma sudah datang ke arah mereka.
"Apa Bun?" Jawab Salma sudah berdiri.
"Kasian tuh temen-temen kamu belum dikasih makan, kamu beli sana gih ke luar!" Suruh Bundanya.
"Oke Bunda, Ameh foto dulu ya.." Salma mengiyakan dengan syarat.
__ADS_1
"Udah pergi aja sekarang! Nanti temen kamu keburu pergi gara-gara kelaperan," canda Bunda Salma yang membuat Kiki tertawa renyah, sementara Juju tertawa terpaksa.
"tapi.." lirih Salma merasa tidak rela melewatkan satu potret dengan teman-temannya.
"Udah ah! Nanti aja kan bisa!" Desak si Bunda kemudian memberi tiga lembar seratus ke arah anaknya itu.
Salma mendesah lemah, mau tak mau ia terpaksa pergi, sepertinya Bunda tidak ingin membuat hati para tamu tidak enak.
*****
Di tempat lain, Astro membaca buku dengan tatapan tajam dan serius, dikarenakan di dalam buku itu mengandung bahasa aksen inggris yang sangat kental dan ilmiah, jadi ia harus memahami betul apa isi di dalam buku.
Sebenarnya bisa saja Astro membaca versi bahasa Indonesianya, tetapi ia sangat tidak sabar menunggu buku itu naik cetak, bayangkan saja, proses terjemahannya saja mencapai 2 bulan. Astro tidak ingin membuang waktu untuk memenuhi keingintahuannya seperti itu.
"Ih ini pisang punya aku!"
"Apaansih! Tadi papa kasih pisang yang itu buat aku!"
"Kamu nggak boleh nyuli gitu! Nggak baik!"
"Ih! Aku bilangin bang Astlo nih!"
"Bang Astlo sayangnya sama aku!"
"Nggak, bang Astlo sayangnya sama aku!!!"
"ABANGGGGGGG!!!!!!!!"
Astro yang merasa namanya diteriaki untuk keseribu kali mengedarkan matanya dengan malas, tidak tahu apa ia sedang serius membaca buku teori luar angkasa. Rasanya kesal sekali jika diganggu.
"Abang! Bulan ngambil pisang aku!" Seorang anak perempuan berumur empat tahun menarik-narik baju putih Astro dengan jarinya yang mungil sambil menangis tersedu-sedu.
Sementara perempuan berumur empat tahun yang wajahnya hampir sama dengan perempuan sebelahnya memasang wajah tidak bersalah, "abang Astlo! Bintang boong! Kata Papa pisang ini buat aku!" Sungut Bulan masih menggemgam pisang kuningnya.
Mendengar aduan dari adik kembarnya itu, kepala Astro rasanya ingin pecah. Baru saja ia meninggalkan kedua anak kecil itu untuk memakan pisang agar tenang, eh ternyata ujung-ujungnya seperti ini.
"Udah ya, kalian bagi dua aja," usul Astro kemudian menarik pisang ditangan Bulan dan membaginya menjadi dua.
"Ah abang!!!! Kok dipotong? Bulan mau semuanya!" Tangis Bulan yang membuat Astro semakin panik.
Ah beginilah nasibnya jika harus mengurus Bintang dan Bulan disaat kedua orang tuanya harus ada urusan diluar.
"Eh jangan nangis dong!" Ucap Astro menaruh bukunya dan berjongkok di depan adik manisnya itu.
"Ah abang! Hiks hiks.." Kesal Bulan kemudian memeluk Astro untuk naik ke gendongannya.
Setelah Bulan naik ke pangkuannya, Astro menghapus air mata adik keduanya itu dengan lembut, ia sangat khawatir adiknya akan mengadu kepada orang tua.
"Bang Astlo!!! Aku mauu digendong juga aaaaaaaaa....." Bintang, sang adik paling kecil mulai menangis dengan heboh dikala Astro sedang menenangkan Bulan dengan penuh kasih sayang. Bintang merasa iri kepada kakak kembarnya itu.
Astro yang memang sangat tidak suka mendengar tangisan adik-adiknya tersebut mulai menggendong Bintang di tangan kekar lainnya, sungguh, sekarang ia nampak seperti baby sitter.
Sekarang, Bulan sedang mengalungi leher Astro dengan manja, sementara Bintang tengah memakan pisang yang baru saja dibagi dua Astro tadi dengan rakus.
"Udah ya, Bulan, Bintang, kalian kan nggak nangis lagi, abang turunin, oke?" Tanya Astro menurunkan nada suara agar kedua adiknya mengerti.
"NGGAK MAU!!!!!!!"
"Aduh!" Astro bergerak tidak tenang dikala kedua telinganya pengang habis di teriaki.
"Abang capek, dek, abang mau baca lagi.." jujur Astro yang gemas sekali ingin mengetahui kelanjutan teori demi teori di dalam buku tebal barunya itu.
Bulan mendorong jidat Astro sekuat tenaga kemudian menatap abangnya kesal.
"Jangan baca mulu napa! Abang Astlo tuh udah pintel, nggak usah baca-baca lagi, mending kita maen aja," sungutnya.
Astro memang merasa tidak sakit, tetapi tetap saja jitakan itu tidak ia suka.
Tapi sudahlah, demi adiknya, ia lebih baik memaafkannya saja.
"Main apa Bulan? Hm?" Katanya dengan nada lembut.
"Main sepeda yuk yuk yuk!" Ajak Bintang seheboh mungkin di gendongan Astro yang harus membuat laki-laki itu sekuat tenaga memegang keduanya agar tidak jatuh.
"Yaudah ayuk bang kita main sepeda! Mumpung masih sole!" Bulan mengangguk setuju.
Astro menggelengkan kepala tidak setuju, "nggak mau ah! Bawa kalian keluar ribet! Nanti banyak maunya!"
"Ih janji deh aku sama Bintang nggak nakal, ya kan Bintang?" Tanya Bulan yang dapat anggukan dari Bintang.
"Udah dirumah aja! Nanti abang ambilin coklat di kulkas," bujuk Astro lagi.
"NGGAK MAUUUUU AAAAAAAAA!!" sontak setelah tangisan dari keduanya, Astro cepat saja melangkah keluar rumah dan menurunkan mereka di sepedanya masing-masing dengan perasaan kesal tak tertahankan.
*****
Seusai perjalanan Astro menuntun kedua adik kembarnya dengan susah payah, tibalah mereka di sebuah taman cukup asri yang terletak di sebelah kompleknya. Astro pikir tempat itu adalah satu-satunya tempat yang paling aman selain rumah, alasannya karena permainan yang banyak untuk anak kecil, jajanan disana pun agak jarang, jadi uang Astro 80% akan aman tersimpan di saku untuk waktu yang lama.
"Abang Astlo! Disini aja ya belentinya, aku capek goes," ucap Bintang mengembungkan pipi besar nan merah.
Lelaki yang dipanggil abang itu berhenti, kemudian menepikan mereka di dekat tempat duduk agar kedua sepeda itu bisa diparkir dengan mudah.
"Sekarang kalian mau main apa? Pelosotan disana?" Tunjuk Astro ke arah seluncuran gratis di dekat sana.
Bukannya pelit, Astro ingin belajar menghemat saja.
Bintang dan Bulan menengok ke arah seluncuran yang ditunjuk Astro kemudian membinarkan matanya dengan semangat.
"Aku mau kesana! Ayo abang!" Sorak Bulan menarik tangan Astro untuk mendekati seluncuran yang terlihat masih bagus itu, begitupun dengan saudaranya Bintang.
"Ayo! Kita kesana!" Jawab Astro kemudian mengantarkan adiknya bermain disana.
Astro merasa sangat bahagia, pasti setelah ini ia pasti dapat melanjutkan membaca buku dengan aman, nyaman, dan juga tenang.
*****
Sudah sekitar tiga puluh menit Astro membaca buku dan bercengkrama dengan logikanya yang amat tinggi dan membuat halaman bukunya hampir saja selesai, tiba-tiba sebuah teriakan memenuhi gendang telinganya.
"ABANGGGGG!!"
Pekikan yang sudah masuk ke lubang telinga Astro, membuat ia tersentak dan memalingkan pandangan dari buku tebal di hadapannya ke arah sumber suara.
Bulan menepuk pantat kecilnya karena ia merasa gatal duduk di rerumputan, melihat hal itu Astro langsung memindahkan duduk Bulan ke atas pahanya.
"Aku juga mau duduk di paha abang," rengek Bintang menjulurkan tangan kedepan agar diraih juga oleh abang kesayangannya itu, dan dengan terpaksa Astro mengambil anak itu dan menduduki juga di paha sebelahnya.
"Kenapa berhenti? Udah selesai mainnya, hm?" Tanya Astro lembut sambil merapikan poni halus adiknya yang bertebangan menerpa wajah mereka masing-masing.
Bulan dan Bintang sama-sama mengangguk, "udah dong!"
Astro tersenyum simpul, "yaudah, udah sore nih, kita pulang, oke?"
"Nggak mau!!!!!" Rengek keduanya.
"Lah kok nggak mau?" Astro mulai panik.
"Bulan sama bintang lapel, mau mamam," ujar Bintang memegang perut kecilnya.
Hembusan napas berat terdengar dari hidung Astro, ternyata hal yang tidak diinginkannya terjadi juga.
"Disini nggak ada makanan, Bin, malahan dirumah banyak, kita pulang aja ya," bujuknya lagi dengan nada agak dinaikkan.
"Nggak mau! Maunya disini!" Bintang turun dari paha Astro kemudian memasang muka semesem-mesemnya.
"Iya Bang, kita makan disini aja ya," tambah Bulan yang membuat kepala abangnya tambah pening.
"Iya-iya.."
"Yeay!!!!" Sorak keduanya kemudian menarik-narik baju putih Astro untuk mengikuti keinginan mereka.
Setelah mengikuti lamanya perjalanan mencari makanan, akhirnya mereka pun sampai di bawah pohon rindang dan menyejukkan.
"Bang, kita mau mangga itu! Kata Mama mangga enakk," oceh Bintang menunjuk Buah Mangga yang pastinya ada di atas pohon cukup tinggi.
Astro meneguk ludahnya kasar melihat buah hijau itu, "mangganya masih di pohon, Bin, nggak bisa lah abang ngambilnya."
"Yaudah abang manjat," suruh Bulan sambil menggaruk-garuk pipi bulatnya yang terasa gatal.
"Nggak mau ah!" Tolak Astro mentah-mentah.
"Yahhh," Bintang memasang ekspresi menahan nangis andalannya, begitupun dengan saudaranya Bulan yang memasang ekspresi menahan pup.
"Udah deh kita pulang aja."
"Abang, kita lapelllllllllllll," rengek Bintang seperti ibu-ibu ngidam.
"Oke! Tapi kalian diem-diem aja ya disini, jangan kemana-mana," putus Astro sangat terpaksa dan mencoba memanjat pohon yang untungnya banyak dahan tersebut. Ia lakukan semua demi kedua adiknya.
"Abang cepet!!!" Teriak Bulan ketika melihat Astro sudah terlihat mengambil mangga paling dekat dengannya.
"Sabar," jawab Astro singkat.
"Abang! Kita udah pengen mati saking lapelnya!" Rengek Bintang.
"Bentar."
"Ah Bang Astlo lama!"
"Nih mau turun," katanya lagi setelah mendapat 3 mangga di tangan.
Disaat Astro mencoba turun, dahan yang ditumpunya belum sempurna, sehingga ia harus menyeimbangkan badan dan memakan waktu sangat lama.
"ABANGGGGGGGGG BINTANG LALIIIIII!!!!"
Mendengar suara teriakan penuh kepanikan tersebut, Astro cepat-cepat melihat ke bawah dan menemukan Bulan sedang menatapnya lekat-lekat menandakan sesuatu hal bahaya terjadi.
Dengan cepat Astro nekat loncat dari atas kemudian menjatuhkan tubuhnya di antara rerumputan, walaupun sakit ia tidak perduli. Sekarang rasa khawatirnya mendominasi dari apapun.
"Kemana dia?" Tanya Astro menatap Bulan.
Bulan menggeleng cepat, "nggak tahu, katanya mau ngambil kalpet!"
"Ha? Karpet? Emang kita bawa karpet?" Astro semakin panik.
"Oh iya, tadi aku kasih tau kalau abang Astlo bawa kalpet!" Muka Bulan mulai seperti kepiting rebus.
"Lah? Kapan abang bawa karpet?"
"Tadi yang dipegang abang apa?"
"Itu buku, Bulan!!!!!!" Gemas Astro kemudian dengan cepat ia menggendong Bulan agar aman bersamanya kemudian lari ke arah yang adiknya tunjuk.
*****
Bintang berlari sambil menatap ke atas, matanya tengah sibuk melihat ke arah hewan hitam bercorak jingga yang menarik perhatiannya sejak tadi.
Sebenarnya ia berniat untuk menunggu Astro turun dari pohon agar ia menangkapnya, tapi karena hewan tersebut sudah terbang, Bintang memilih untuk mengejarnya terlebih dahulu.
"Ih kamu mau kemana sih? Aku capek," katanya sendiri sambil loncat-loncat meraih hewan lucu itu.
Sampai akhirnya..
Hap!
Bintang tersenyum ketika mendapatkan hewan itu yang sengaja mendekat ke arahnya, bahkan saking senangnya ia mengurung hewan itu diantara dengkul dan tangannya agar tidak kemana-mana.
Tetapi, belum sampai satu menit, Bintang merasa ada yang aneh pada kulitnya. Rasanya seperti ada yang menusuk dan menyengat seperti jarum suntikan. Bahkan ini lebih parah.
"Aaaaaa sakittttttt," ringis Bintang sambil menangis tersedu-sedu tak tahan akan kesakitan tersebut.
"Abang!!!! Bulan!!!! Mama!!! Papa!!!!" Teriak Bulan meraung-raung meminta bantuan diantara orang-orang asing yang sibuk berlalu lalang.
Sampai beberapa lama, tiba-tiba datanglah seorang perempuan muda menghampiri dan menunduk untuk menyenyajarkan wajahnya.
"Kamu kenapa? Kok nangis?" Kata perempuan itu panik.
Tetapi, karena sudah tidak tahan akan kesakitannya, Bintang masih menangis dan tetap memegang dengkulnya kuat-kuat agar hewan yang ditangkapnya tidak lepas.
"Hey, kamu kenapa?" Tanyanya lagi seraya mengecek apakah ada yang terluka, namun hasilnya nihil.
__ADS_1
Astro yang baru saja mendengar dan menemukan tangisan Bintang akhirnya bertemu dengan adiknya itu. Dengan cepat Bulan yang berada di gendongannya, langsung lari mendekati saudara kembarnya.
"Bintang, kalpetnya mana?" Tanya Bulan polos kepada Bintang.
"Akuuu nggak tau kalpett itu apa Bulannn aaaaa," jawab Bintang makin memperkeras tangisannya.
Astro menatap ke arah perempuan di hadapan Bintang dengan heran. Sepertinya ia mengenalnya.
Tetapi setelah beberapa detik mereka menyadari, perempuan itu langsung saja tersenyum merekah.
"Astro! Kita ketemu lagi!?" Salma menyengir lebar-lebar mengetahui kalau pangeran yang dirindukannya selama ini ada di hadapannya.
Namun, karena sudah muak dengan celotehan si perempuan IPS, Astro memilih untuk ikut berjongkok dan melihat apa yang salah dari adiknya.
"Lu apain dia?" Tanya Astro yang aura ketusnya hidup kembali.
Salma yang merasa difitnah cepat-cepat menggeleng, "ih gue aja nggak tahu, tadi gue liat dia nangis sendirian disini!"
"Abangg Astlooo!!!!" Pekik Bintang sudah merasa sangat kesakitan.
"Abang? Oh lu punya adek kembar!?" mata Salma berbinar, ternyata keluarga Astro lucu juga.
Astro tidak menanggapi ucapan Salma dan lebih memilih mengurus adiknya, "apa yang sakit?"
"Sakit abang," lirih Bintang lagi.
Laki-laki kelas dua belas SMA itu mengecek sekujur tubuh Bintang, dan pandangannya jatuh ke arah dengkul adik kecilnya yang tertutup dengan tangan. Kemudian tanpa seizin Bintang, Astro langsung melepaskan tangan Bintang dari sana dan menemukan sebuah hewan bersayap sudah tidak berdaya lagi di tangan adiknya.
"Ih tawon!" Histeris Salma menutup mulut melihat hewan itu ternyata sudah menggigit dengkul kecil Bintang sampai membengkak kemerahan.
"Yaampun Bintang, kamu ngapain main tawon?" Panik Astro menggaruk kepalanya, ia bingung harus melakukan apa.
Salma sedikit berpikir, kemudian dengan cekatan ia mengambil minyak yang ia selalu bawa dalam tas, lalu mengusapkannya ke dengkul Bintang dengan pelan.
"Tahan ya," katanya sambil meringis karena ia tahu kalau tekanan sedikit saja pasti rasanya akan menyiksa.
"Aaaa sakitt.."
Astro yang ikut melihatnya ikut meringis, bahkan Bulan memeluk leher Astro karena tidak kuat melihat saudaranya kesakitan seperti itu.
"Abang sakit," kata Bintang sambil memegang baju Salma kuat-kuat.
"Pelan-pelan," ujar Astro melihat mata perempuan yang sedang mengobati adiknya dengan serius.
Salma yang dilihat seperti itu menjadi salah tingkah, entah mengapa debaran di jantungnya makin cepat saja.
Sampai salah tingkahnya, tiba-tiba tekanan tangan Salma di dengkul Bintang menjadi agak sedikit kencang, dan..
"ABANGGGGGGGGGG!!!!!" pekik Bintang histeris.
"Eh pelan-pelan gue bilang! Budek banget!" Omel Astro yang membuat Salma menjulurkan lidah sedikit dan berusaha mengobati Bintang kembali.
Sampai beberapa menit kemudian, kemerahan di dengkul Bintang mulai mereda dan sakitnya agak mendingan, anak kecil itu akhirnya berhenti menangis.
"Udah nggak sakit lagi?" Tanya Salma pelan kepada adik Astro.
Bintang menggeleng, "masih, tapi kata Papa anak pelempuan halus kuat!" Katanya yang membuat Salma tersenyum tipis.
"Bagus dong!" Jawab Salma tertawa kecil sambil mencubit pipi gembul Bintang.
Astro menatap Salma kemudian menunduk sedikit, "makasih," singkatnya.
Perempuan yang ditatap seperti itu oleh pria tampan tentu saja tersipu malu. "Iya sama-sama, oh ya kok lu bisa disini?" Tanya Salma sengaja memperpanjang obrolan.
"Kepo amat!"
"Ih kan gue nanya!" Kesal perempuan IPS itu merasa tidak dihargai.
"Udah sore! Ayo pulang!" Suruh Astro mengalihkan topik sambil membantu Bintang berdiri dan Bulan yang asyik bermain dengan daun-daun disana.
"Yah tapi bang, aku lapel," Bintang memajukan bibirnya.
Astro menunjukkan masing-masing buah mangga di keranjang Bintang dan Bulan dengan dagunya, "tuh nanti makan dirumah aja."
Bintang mengangguk kemudian melihat ke arah Salma, "kak makasih ya, oh ya nama kakak siapa?"
Salma melirik menghadap Astro, namun laki-laki itu memutar bola matanya malas, "sama-sama, nama kakak Kak Ameh," katanya melirik Bintang dan Bulan bergantian, yang membuat mereka mengangguk.
"Yaudah Kak Ameh kita pulang dulu ya," ijin Bulan dengan pipi gembil.
"Kalian rumahnya dimana?" Tanya Ameh basa-basi, adik dan abang sama-sama enak dipandang.
Bintang dan Bulan menunjuk gerbang komplek di sebelah taman.
Salma tersenyum cerah, "kalian tinggal disana! Kakak disebelahnya lho!" Girangnya sambil menunjukkan komplek sebelahnya.
"Nggak nanya," sela Astro tiba-tiba.
"Dih kan.."
"Apa?" Tantang Astro merasa sudah muak.
"Nggak."
"Yaudah."
"Oh ya, gue pengen kasih tau, biasanya kalau habis digigit tawon, nanti bakalan kena demam. Jadi jaga Bintang ya," ujar Salma memberi tahu.
"Udah tahu," singkat Astro lagi dan lagi.
Salma mengangkat ujung bibirnya sebelah, padahal ia sudah baik memberi tahu, bukannya berterima kasih, malah diketusin.
Astro mendesah berat kemudian berbalik dan mengambil sesuatu di keranjang Bintang.
"Nih mangga buat lu sebagai ungkapan terimakasih," ujar Astro sambil menyodorkan satu buah Mangga.
Perempuan yang diberi mangga itu menatap buah di tangan Astro dengan bingung, "kemarin dikasih uang, sekarang dikasih mangga, lu kira gue pengemis?" Kesalnya.
Laki-laki beradik dua itu menatap Salma masih datar, "mau nggak? Gue ikhlas nih!"
Salma berpikir kembali, sepertinya dia ada ide, "gue nggak mau ngambil kecuali.."
"Kecuali apa?"
"Kecuali kalau lu ngasihnya dengan baik-baik," jawab Salma makin tidak tahu diri.
Astro hanya terpaku menatapnya, kemudian dengan kalimat andalannya, ia berbalik lagi. "Kalau nggak mau yaudah," katanya.
Salma seketika panik melihat Astro menarik mangganya kembali, jujur sebenarnya ia ingin mangga itu.. tapi..
"Yaudah sini gue mau!" Ucap Salma mengambil mangga dari tangan Astro dengan cepat.
"Pengemis?" Tanya Astro membalikkan kata-kata.
"Ih maksudnya.."
"Ayo pulang! Udah dicariin Mama!" Suruh Astro terlebih dahulu menyela ucapan Salma sambil menjulurkan tangannya kepada kedua adiknya.
"Ah nggak asyik!" Kesal Salma merajuk.
"Bodo!"
"Oh ya Astro!" Salma tiba-tiba teringat sesuatu.
Yang dipanggil hanya mendongak.
"Buat yang waktu itu di lapangan.. makasih ya.." cicit Salma merasa sensitif mengungkit kejadian tersebut.
Tak mau memperpanjang, Astro hanya bergumam kecil, "hm."
"Oh ya, sapu tangannya.."
"Mana?" Setelah beberapa saat akhirnya Astro bersuara. Waktu Astro menyerahkan saputangan kepada Salma agar kulit mereka tak bersentuhan, perempuan itu malah mengambilnya.
Salma tersenyum kikuk, "sapu tangannya ada di rumah, gue nggak bawa."
"Ck! Besok balikin," ketus Astro merasa tidak suka.
"Buat gue aja emang nggak boleh ya?" Salma sedikit bercanda.
"Nggak!" mata Astro membulat serius.
"Emangnya kenapa?"
"Sap.."
"Kak Ameh!" panggilan dari Bulan dan Bintang serta tarikan mereka di baju Salma menyela kalimat Astro selanjutnya.
"Eh kenapa?" Bingung Salma melihat si kembar.
"Kakak jongkok," ucap Bulan yang membuat Salma terpaksa berjongkok.
Cupp! Cupp!
Salma membinarkan mata dikala kedua kembar itu mencium pipi kanan dan kirinya, sungguh, ia sangat senang merasakan kehormatan seperti ini.
"Makasih ya kak Ameh!" Kata mereka berbarengan.
"Iya," jawab Salma sambil mengelus rambut mereka, kemudian menatap Astro dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Apaan dah?" Tanya Astro yang merasa risih dilihat seperti itu.
Salma tersenyum merekah kemudian menampakkan gigi putihnya, "abangnya nggak ikutan juga?"
Astro membulatkan mata seperti ingin lepas mendengar ucapan frontal dan menjijikan itu, "UDAH GILA LO YA!?" katanya ngegas yang membuat Salma tertawa puas.
"Bercanda ilah!" Jawab perempuan itu.
"Kita pulang!" Kesal Astro yang sudah muak dengan suasana ini.
Bulan dan Bintang melihat abangnya bingung, "kak Ameh kenal Bang Astlo?" Ucap mereka berbarengan.
"Ngg.."
"Iyadong!" Potong Salma cepat dan tersenyum malu-malu.
"Oh gitu!" Bintang dan Bulan mengangguk.
"Eh sini kakak bisikin," bisik Salma ke telinga mereka berdua dan tertawa disela-sela ucapannya.
Astro yang melihat tingkah laku mereka agak bingung apa yang Salma bisikan sampai Bulan dan Bintang bersemangat sekali setelah selesai berbisik.
"Oh begitu ya kak?" Bintang seperti habis belajar tentang suatu hal penting dari Salma.
"Iya begitu! Yaudah, sekarang kalian pulang ya? Kasian Abang Astro nungguin."
"Oke, ayo abang pulang!" Ajak keduanya mengiyakan permintaan Salma kemudian menaiki sepedanya masing-masing.
*****
Di perjalanan, Astro tiba-tiba teringat akan bisikan Salma yang membuat adiknya senyum-senyum sendiri sampai sekarang.
Dengan penuh tanda tanya, Astro menanyai mereka.
"Bulan, Bintang, tadi Kak Ameh ngomong apa?" Katanya serius.
Bulan dan Bintang tersenyum lebar lalu tertawa kecil.
"Cieee Abang Astlo!" Goda mereka berdua yang membuat Astro tambah penasaran.
"Ciee kenapa dah?" Tanyanya.
"Tadi kata Kak Ameh, Abang Astlo itu pangelannya Kak Ameh!"
...****...
...SELAMAT TAHUN BARU 2021 SEMUAAANYAAAA...
...SEMOGA RESOLUSI KALIAN DI TAHUN INI TERKABUL YA!!! AAAAAMINNNN^^...
__ADS_1
^^^- Inwinnxx。◕‿◕。^^^