ASTRONOMI

ASTRONOMI
Chapter 3


__ADS_3

..."Bersamamu untuk selamanya adalah kemenangan terindah dalam hidupku."...


...***...


Bulatan mata Salma adalah ekspresi pertama kalinya ketika melihat kelas sudah kosong dari semua murid. Perempuan itu menghela napasnya dengan kasar ketika menyadari ternyata Kiki dan Juju pun juga sudah meninggalkannya.


"Ah nggak setia kawan!" Decak Salma dalam hati.


Tanpa banyak bicara lagi, Salma mulai menutup pintu dan jendela kelas dengan gorden, kemudian ia langsung mengganti setelan seragam putih abu-abunya ke baju olahraga berwarna biru muda dengan terburu-buru.


Beberapa menit berlalu, seragam Salma sudah sepenuhnya terganti dengan pakaian olahraga, cepat-cepat ia membuka pintu kelas kemudian lari sekencang mungkin ke lapangan. Bukan tanpa alasan Salma harus lari mengalahkan flash seperti itu, konon katanya jika ada murid telat satu detik saja di pelajaran olahraga, maka bisa dipastikan murid tersebut akan mendapatkan sebuah hukuman spesial, dan Salma tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya. Walaupun sekarang keadaannya sangatlah lemah, ia tidak perduli.


Matanya memicing dikala melihat teman-temannya sudah melakukan pemanasan, sial! Dia telat!


"Gue nyelip aja kali ya.." ujar Salma dalam hati berniat mengikuti pemanasan langsung di barisan paling belakang.


Priiiiittttt


Sebuah peluitan panjang membisingkan telinga Salma yang baru saja ingin menyelip diantara teman-teman yang tengah melakukan pemanasan.


Bibir merah mudanya ia gigit kuat-kuat dikala semua pandangan menuju padanya, sungguh, perasaannya sudah tidak enak. Sepertinya ketakutannya akan terjadi sebentar lagi.


"Salma! Kamu telat!?" Salma mengerjap sebentar dikala suara itu terdengar, ia menengok ke guru olahraga IPS nya dengan tampang cengengesan.


"Ameh! Lu ternyata masuk!?" Teriak Juju merasa girang kalau Salma ternyata masuk.


Hal itu berbanding terbalik dengan reaksi temannya, jika dilihat secara seksama, Juju adalah satu-satunya orang yang girang kalau Salma menampakkan wajahnya. Kalau Kiki, kalian tahu sendiri.


"Bapak nggak suka ya kalau ada yang telat di pelajaran bapak!" Sentak Pak Doni ke arah Salma yang sibuk menunduk.


"Cari gara-gara aja nih orang!"


"Ck! Mending nggak usah masuk kek, daripada ribetin gini!"


Cibiran demi cibiran yang menggerutu membuat Salma tambah drop, padahal ia sudah cepat-cepat untuk lari ke lapangan sampai napasnya habis, mengapa ujung-ujungnya dimarahi juga?


"Sekarang kamu keliling lapangan 5 kali tanpa berhenti! Cepat!"


Mata Salma membulat seperti telur rebus, sungguh, tadi saja masih kerasa betapa lelahnya ia lari, sekarang ia disuruh lari lagi tanpa berhenti? Kemarin dia tidak makan seharian, ditambah wajahnya sudah memucat. Sepertinya malaikat maut ada didepannya sekarang.


"SALMA CEPAT JALANKAN HUKUMANMU!" Salma mendongak ke arah laki-laki plontos itu, kemudian dengan langkah pelan ia pun mulai lari di lapangan sambil mengatur napasnya yang hampir saja ingin berhenti seketika.


"Dan buat kalian, tidak ada materi sebelum dia selesai lari!" Ucap Pak Doni lagi kemudian pergi ke ruang guru.


"HAH?"


"WHAT!?"


"WHAT THIS ****!?"


"AH AMEH!"


Benar, kebencian mereka terhadap perempuan jelek itu bertambah lagi, padahal Pak Doni ingin memberi materi bola basket, tapi karena Salma datang dengan kesialan, mereka jadi harus memotong waktu untuk menyaksikan aksi konyol Salma berlari.


"Si Ameh kenapa sih? Ngayal mulu kali ya, jadinya telat gitu!" Gerutu Kiki sambil berkacak pinggang.


Juju tertawa kecil, "nggak lah! Yakali! Paling tuh anak kesiangan!"


"Kan bisa aja, kebanyakan overdosis mimpi jadi begitu!"


"Lu kira obat?"


"Ah lu mah nggak nyambung!" Kiki menggertakkan gigi menghadapi sahabat karibnya ini.


"Udah-udah, sekarang kita doain aja Salma, semoga dia kuat lari, dan cepet dapet cowoknya, aminn.." Juju membentangkan tangan di depan seperti melakukan Doa.


Kiki menghembuskan napas kesal melihat temannya satu itu, "kayaknya lu ketularan halunya si Ameh deh!"


****


Sudah 2 putaran Salma mengelilingi lapangan, rasanya organ di pinggangnya sangat perih dan panas saat berusaha menahan kaki agar tidak berhenti. Bahkan kepalanya sekarang mulai terasa pening lagi.


Bisa dilihat dari tatapan perempuan IPS itu terus saja tertuju pada sepatu putihnya yang nampak ingin berhenti dan beristirahat, tapi apa daya, jika Pak Doni melihat dia berhenti atau berjalan, pasti hukuman larinya akan bertambah.


Disela kegiatan Salma berlari, seseorang yang sedang duduk di pinggir koridor dan menghadap langsung ke arah lapangan sambil membaca buku Astronomi, menatap tajam ke arah Salma yang sedang berlari dengan wajah pucat dan terlihat sangat lemah. Bahkan, bibirnya yang merah muda sudah berganti menjadi putih susu pekat.


Disaat itu juga, mata Salma kebetulan menatap sekitar, dan benar saja. Mata mereka bertemu, tetapi karena laki-laki itu beralih lagi ke bukunya dan tidak memperdulikan Salma, Salma memutuskan kontak matanya juga.


"Lah itu calon jodoh gue kan? Siapa tuh namanya.. Astro! Ya Astro! Ngapain dia liatin gue begitu? Wah jangan-jangan.."


Entah mengapa dikala ia melirik terus-menerus wajah serius Astro yang sedang membaca buku, kekuatannya terasa kembali lagi. Bagaimana tidak? Pikirannya terus saja memutar adegan saat dia digendong dengan manly tadi di koridor, ia tersenyum-senyum sendiri, ternyata ia bisa romantis juga seperti di novel-novel.


Salma melirik ke arah Astro untuk kesekian kalinya, dan tepat! Astro menatapnya juga, tapi wajahnya sangatlah datar. Senyuman tetap terukir di bibir pucat Salma walaupun melihat wajah tidak suka Astro. Bagaimanapun..


Ah tidak! Salma merasakan pandangannya mulai memburam, pusing kepalanya sudah sangat tidak terkontrol lagi.. sehingaa..


Brukkkkkkk


Astro mendesah lemah disaat melihat Salma pingsan lagi untuk kedua kalinya, tapi sepertinya pingsannya sekarang itu betulan tanpa mengada-ngada.


Merasa tidak perduli dengan Salma, Astro kembali membaca buku lagi. Menurutnya, buku Astronomi lebih menarik daripada melihat perempuan pingsan tidak punya akal itu.


Di kegiatan bacanya, pikiran Astro terus saja diganggu oleh Salma. Ia tidak habis pikir dengan perempuan IPS itu, bukannya berhenti dan memberi tahu kalau ia sedang sakit, tetap saja keukeuh berlari sambil tersenyum aneh kepadanya, dasar keras kepala!


Mata Astro melirik ke arah Salma lagi untuk memastikan kalau tubuh Salma sudah diangkat atau belum.


Tetapi, anehnya tubuh lemas itu tetap saja masih di tengah lapangan, dan hal yang mulai ia naik darah, tidak ada satupun teman sekelasnya yang mengangkutnya, padahal teman sekelas perempuan itu ada di sekitar sana, tapi terlihat tidak ada niatan dari hati mereka untuk menolong Salma.


Dengan langkah kesal, Astro berdiri dari tempat duduknya, kemudian mendekati tubuh perempuan yang sebelumnya berlari tadi.


Sampai saatnya Astro hanya berdiri di dekat tubuh lemas itu sambil menatap satu persatu teman sekelas Salma.


"Eh siapa tuh?"


"Mukanya asing gitu, anak IPA pasti!"


"Eh tapi kalau diliat-liat ganteng juga, perhatiin deh.."


"WOY SERIUSAN DIA MAU BANTUIN AMEH!? NGGAK RELA ANJIR GUE!"


“Yakali! Nggak lah!”


Astro menggertakkan gigi mendengar ocehan para perempuan mengenai dirinya. Sungguh, dari dulu ia paling risih jika dijadikan perhatian seperti ini. Apalagi, dengan orang tidak perduli seperti mereka.


"Kalian buta?"


Suara berat Astro menatap sekitar, membuat murid-murid XI IPS 3 itu terdiam, lebih tepatnya terpesona dengan wajah maskulin Astro saat berbicara.

__ADS_1


"Kalian punya mata nggak? Temen kalian pingsan, nggak ada niatan nolongin?" Ketus Astro lagi menatap para laki-laki yang membalasnya juga tidak suka.


Astro tahu, bahwa tidak seharusnya ia melakukan ini kepada perempuan pingsan itu, tapi ia harus melakukannya disaat rasa kemanusiaan sudah sangat hilang di jiwa mereka.


Disaat Astro menatap ke arah mereka, tiba-tiba Pak Doni datang dari ruang guru dengan tergopoh-gopoh, sepertinya dia panik melihat Salma sudah pingsan.


Melihat Pak Doni yang baru saja menghampiri Astro dan Salma, mata Astro sangatl tidak bersahabat, bahkan ia merasa tidak sudi melihat guru tersebut.


"Pak, bapak tadi nggak liat wajahnya tuh pucet banget! Jelas-jelas dia sakit, kenapa bapak suruh dia lari? Bapak masih punya hati kan buat suruh dia ke UKS?" Sindir Astro yang merasa tidak takut. Ia rasa keadilan tidak ada di jiwa Pak Guru tersebut.


Pak Doni menatap Astro tentu tidak suka, "saya punya hak nyuruh Salma, kamu nggak usah nyindir-nyindir saya begitu! Saya guru!"


Mata Astro memutar malas, "saya tahu bapak guru, makanya saya jelasin kalau seorang guru tuh juga harus adil sama murid-muridnya! Bapak punya anak kan? Bapak mau nggak kalau anak bapak disuruh lari padahal dia lagi lemes-lemesnya sampai pingsan gini?"


"Lah, salah Salma lah! Dia yang telat! Kamu mending balik ke kelas kamu sana, bolos kan kamu?"


Mendengar elakan tersebut, Astro tertawa meremehkan, "Pak, maaf. Bukannya saya mau melawan bapak. Tapi memang itu kenyataannya, bapak terlalu memaksakan murid bapak untuk kemauan bapak yang sangat berkehendak tersebut. Dan iya, saya bukan lagi bolos, saya emang lagi nungguin teman-teman saya yang lagi remedial Fisika sama Bu Olin."


"Yaudah terserah kamu! Anak IPA emang anak yang kurang hajar! Udah sana, bawa pacar kamu ini ke UKS, dan bilang ke dia saya nggak bakalan maafin kamu dan dia sendiri!"


Astro makin naik darah, "Pak, masih mending anak IPA yang ngomongnya pedes, daripada anak IPS yang mau bergaulnya cuma sama orang famous doang!"


Sontak setelah Astro mengatakan hal itu, semua murid disana menajamkan matanya ke arah Astro, mereka semua terasa diinjak-injak harga dirinya di depan satu anak IPA kurang hajar itu.


"AMEH!!!!! KOK PINGSAN SIH!?"


Belum sempat semua orang mulai menghina Astro, tiba-tiba suara teriakan dari Juju dan Kiki yang baru saja datang membuat suasana hening kembali.


"Meh! Bangun! Nggak lucu," walaupun benar, Kiki agak tidak suka dengan kelakuan sahabatnya itu, tetap saja ia panik minta ampun melihat Salma tergeletak lemas seperti ini.


Apalagi Juju, ia hampir menangis dibuatnya. Ia sangat tidak tega melihat Salma tak sadarkan diri.


Memang ini adalah kesalahannya, kalau saja ia tidak mengajak Kiki ke kantin, pasti ia akan menolong Salma lebih cepat.


"Eh! Bantuin Ameh dong! Kok pada liatin doing sih?!" Gertak Kiki ke arah teman-temannya yang nampak sudah tidak perduli dengan mereka.


Juju mendongak dan melihat wajah datar Astro sedang menatapnya, ia agak terkejut, laki-laki itu kan yang mengunjungi kelasnya tersebut, mengapa sekarang ada di sini?


Merasa bingung di waktu yang tidak tepat, Juju segera menggelengkan kepala "Bantuin dong! Lu kan cowok, kita nggak bisa ngangkat!” suruh Juju kepada Astro.Ia harus menyampingkan dahulu rasa penasarannya.


Diminta seperti itu, Astro cepat-cepat menggeleng, sudah dibilang ia sangat sensitif jika menyentuh perempuan sejengkal pun.


"Dih! Lu kesini mau bantuin kan? Cepetan angkut Ameh! Keburu dia mati!" Kesal Kiki melihat Astro menolak mentah-mentah. Padahal jarak ia dan Salma cukup dekat.


"Gue nggak mau, kalau mau ngangkat dia suruh aja tuh temen kelas lu yang katanya solid itu!" Ketus Astro kemudian melenggang begitu saja darisana sambil membawa buku astronominya ke arah koridor sebelas IPA.


“LHO! NGAPAIN LO MARAH-MARAH KALAU UJUNG-UJUNGNYA NGGAK MAU ANGKAT!?” teriak salah satu teman sekelas Salma, namun Astro indahkan begitu saja.


***


"Ergggghhhh.."


Salma mengerang kesakitan ketika kunang-kunang di kepalanya merasuki kembali. Ia berusaha segera bangun dari brankar yang ia tiduri, tetapi..


Brukkkkk


Tubuhnya ternyata tidak kuat lagi menopang berat badannya, alhasil Salma harus terbaring kembali di tempat tidur.


"Eh nak Salma jangan bangun dulu, sekarang kamu makan dulu ya.. kamu kayaknya lemes belum makan."


“Kok saya bisa disini, bu?” bingung perempuan IPS tersebut.


“Ha?”


“Udah sekarang kamu makan dulu ya?”


Salma menatap salah satu perawat di UKS SMA Republika itu. Ia mendesah lemah dikala diberikan bubur ayam. Entah mengapa napsu makannya berkurang dikala melihat porsi tersebut.


Tapi mau tak mau, suka tak suka ia harus makan. Karena badannya memang sangatlah butuh tenaga.


*****


Seusai Salma memakan bubur ayam yang ternyata enak dan lezat baginya, akhirnya bubur ayam itu habis tak bersisa.


"Gimana nak? Enak?" Tanya perawat itu kembali.


Kepala Salma mengangguk cepat, "ibu ada bubur ayam yang kayak tadi lagi nggak? Saya suka banget buburnya.." ucapnya tanpa disaring.


Perawat itu tertawa mendengar celotehan Salma, "sudah habis nak.."


Salma mendesah lemah, ternyata harapannya gagal.


“Yaudah deh, ibu beli dimana buburnya?” Tanya Salma pantang menyerah.


“Nggak tahu, satpam yang dibeliin,” ujar ibu UKS lagi dengan tawa kecil.


Salma tak bertanya lagi, ia langsung memberengut.


"Yaudah, sekarang kamu mau ke kelas apa tetap disini? Saran ibu sih kamu tetap disini, ibu takut kondisi kamu masih lemah," ujar perawat itu masih khawatir.


Senyum Salma terukir mendapatkan perhatian itu, "kepala saya udah mendingan sih, sekarang saya mau.."


Ucapan Salma terpotong dikala ia mengingat sesuatu, ia lupa, kalau ia belum mengerjakan tugas Sosiologi! Oh tidak, jika dia kembali ke kelas pasti dia akan dihukum untuk kesekian kalinya.


"Kenapa nak?"


Salma menggigit bibir mulai mencari ide.


"Arrrghhh! Aduhhhhhh!!!!!" Salma meringis sejadi-jadinya memegangi kepalanya yang tidak ada apa-apa. Iya, dia sedang berpura-pura.


"Salma! Kamu kenapa?" Perawat muda itu nampak sangat panik melihat Salma meringis sambil meringkuk di brankarnya.


"Kepala saya pusing mulu bu, mending saya disini aja deh.." ujar Salma sok mendramatisir, dan hebatnya lagi perawat itu mengangguk saja.


***


"ANJIR JAM 5 SORE!?"


Salma hampir terlompat setelah membuka matanya dan disambut jam sudah menunjukkan pukul 5 sore di dinding UKS. Dengan gerakan gesit Salma pun buru-buru berlari dari UKS ke arah kelas, ia berdoa dalam hati, semoga kelasnya tidak dikunci.


Dalam hati perempuan itu menggerutu kesal, kenapa tak ada satupun orang yang membangunkannya. Jika ia masih mengantuk, bisa-bisa ia pulang habis isha.


Setelah kakinya sudah sampai di koridor, tepatnya depan kelas. Perempuan itu langsung menekan knop pintu sambil mengucapkan doa banyak-banyak agar benda itu bisa terbuka.


Cklek


Senyuman Salma terbit ketika pintu kelasnya masih bisa dibuka. Padahal ia sudah was-was, karena biasanya pintu kelas dikunci sekitar setengah empat sore.

__ADS_1


Tanpa berpikir apa-apa lagi, siswi IPS itu langsung saja melenggang ke arah kelas dan mengambil tasnya. Setelah urusan selesai, ia berlari ke arah depan sekolah yang pastinya sudah sepi karena murid-murid telah pulang sekitar dua jam yang lalu.


Salma mengusap peluh yang sudah membanjiri leher hitam manisnya sembari mengipas-ngipas area di bagian sana. Sungguh, berlari-lari seperti tadi membuat Salma sangat lemah, untung saja tadi dia sudah makan.


Ia melihat ke kanan dan ke kiri, lalu menghela napas berat. Tidak ada angkutan umum satupun yang lewat di depan halte. Memang, biasanya jika jam sudah menunjukkan pukul empat, angkot tidak akan lewat lagi.


Mau naik taksi pun Salma bingung, karena disini jarang sekali ada taksi lewat. Jika mau ke pangkalan taksinya harus berjalan kurang dari 500 meter dari sekolah. Masa iya dia harus jalan kaki?


Salma menendang batu yang ada di jalan dengan kesal, sepertinya ia harus tetap menunggu angkot datang sampai lumutan.


"Woy bego! Batunya nggak salah, ngapain lu tendang?"


Mata Salma terbuka lebar dikala suara familiar itu terdengar di gendang telinganya, otomatis dia berbalik dan memandang sang laki-laki yang akhir-akhir ini membingungkan perasaan dan hatinya.


"Nama gue bukan bego," kata Salma memutarkan bola mata, walaupun jantungnya berdetak tak wajar.


Astro menatap Salma dengan pandangan dingin, entah kenapa ia sangat tidak suka dengan penampilan Salma saat ini.


"Oh ya, karena perkenalan kita belum intens. Ayo kita kenalan lagi! Nama gue Salma Kerelia Santoso, panggil aja Ameh, anak XII IPS 3! Nama lu siapa?" Sapa Salma menjulurkan tangan, ia rasa Astro belum mengenal dirinya dengan jauh.


Tetapi, bukannya ditanggapi, Astro malah melihat tangan Salma dengan jengah.


"Eh nggak papa sih, gue udah tahu nama lu! Astro kan?" Salma menutup kesakitan di hati dengan menjatuhkan tangannya kemudian menatap Astro dengan girang.


"Caper banget kenalan sama gue!"


Sontak setelah ucapan Astro yang bagaikan belati tajam, Salma tersentak sebentar. Sepertinya laki-laki di depannya ini memandang ia sangat buruk.


"Kalau nggak mau kenalan bilang aja, nggak usah ngatain gue gitu!"


"Siapa yang ngatain?" Astro tak mau kalah.


"Lah tadi? Kemarin lu ngatain gue anak IPS nggak jelas, sekarang ngatain gue bego sama caper! Lu kira gue nggak punya hati!?" Salma mulai membuka aura melankolisnya.


"Fakta kan?" Jawab Astro singkat, jelas, dan yang pastinya sadis.


"Bisa nggak sih lu nggak usah ngatain gue diantara kalimat-kalimat lu itu!? Gue tahu gue jelek, bego, sama nggak berguna, tapi gue juga mau dihargain!" Salma makin menjadi-jadi.


Astro menggeleng-gelengkan kepalanya, "terserah lu! Pokoknya gue nggak mau tahu nama lu, kelas lu, ataupun kecaperan lu, paham?"


Perempuan yang baru saja dikatai untuk keseribu kalinya hanya bisa diam dan memandang kosong ke arah depan. Ia rasa mengutarakan perasaannya kepada laki-laki IPA itu tidak ada gunanya.


"Lu ngapain disini? Belum pulang?" Tanya Astro tiba-tiba, membuat jantung perempuan itu hampir saja melompat.


Ia menatap Astro dengan pandangan tidak percaya, tadi sangat sadis, sekarang perhatian, sungguh, Salma merasa sangat dipermainkan.


"Nggak usah caper!" Jawab Salma dengan nada kesal. Seru juga membalikkan kata Astro.


Astro mengerutkan kening melihat tingkah perempuan aneh di depannya itu, sepertinya kalimat tadi tidak ada unsur cari perhatian.


"Yaudah lah, bodo amat! Gue pulang aja!" Suara Astro keluar lagi kemudian meninggalkan Salma begitu saja.


Salma yang melihat punggung Astro mulai menghilang memberengut kesal. Sungguh, sebenarnya di dalam hatinya ia sangat berharap untuk diajak pulang bersama, tapi kenyataannya sangat berbanding terbalik dengan ekspetasi.


"Ah ngeselin banget sih! Gue kira dia kayak cowok-cowok NovelToon yang suka ngajakin bareng, taunya ditinggal!" Cibir perempuan itu yang darahnya sudah ingin naik, sepertinya memang benar, ini adalah dunia nyata, bukan khayalan. Cowok dingin tetaplah dingin, tidak ada romantisnya sama sekali.


Dengan pikiran yang sudah memanas, Salma lebih memilih untuk jalan kaki saja, sepertinya angkutan umum memang ingin dijekar bukan mengejar.


Tin tin!!


Suara klakson yang memekakan telinga membuat Salma terlonjak dan menghadap ke belakang untuk melihat si pelaku.


Mata Salma membulat seperti telur puyuh ketika melihat laki-laki yang mengendarai motor Nmax abu-abu, ternyata itu adalah ulah Astro!


Ia menutup mulut tidak percaya ketika Astro sudah membuka kaca helm hitam besarnya, sungguh, ini adalah pemandangan paling indah dalam hidupnya.


"Ahhh ternyata beneran!!!!!" Teriak Salma histeris yang membuat Astro bingung bukan kepalang.


"Beneran apaan?" Salma berani bertaruh, nada dingin Astro itu mampu membuat melelehkan hati Salma seketika.


"Beneran kalau lu itu emang pangeran yang gue tunggu-tunggu sejak dulu!!!" Ujar perempuan itu sambil melompat-lompat seperti telah memenangkan tiket lotre.


Astro saja sampai kehabisan kata-kata mendengar jawaban paling aneh dan menjijikan baginya dari mulut siswi IPS itu.


"Lu pengen nganterin gue pulang kan? Ayo, gue mau!" Tanpa diminta, cepat-cepat Salma berjalan ke arah jok pangeran impiannya di belakang.


"Heh! Nggak! Apa-apaan sih lo!?" Tolak Astro mentah-mentah.


"Lah?" Perempuan itu bingung.


"Siapa juga sih yang mau ngajakin lu? Kegeeran amat!" Ketus Astro memberikan wajah tidak sukanya kepada Salma.


"Ta.. ta.. tapi lu berhenti disini.." perasaan Salma langsung menurun drastis.


"Emang berhenti disini dilarang?"


Salma meneguk salivanya kasar kemudian menundukkan wajah ke bawah, membuat laki-laki IPA itu dapat membaca ekspresi Salma yang tengah bersedih, sepertinya ia kecewa.


"Gini deh, karena gue baik sama lu.."


"Apa? Pulang bareng!? Ayo!" Potong Salma cepat-cepat bersemangat kembali.


"Ga."


"Lah terus?"


Astro mulai mengecek sesuatu di saku bajunya berusaha menemukan benda yang dicarinya, setelah berhasil ia mengarahkan benda itu kepada Salma.


"Lu jalan kaki kayak gini gara-gara nggak ada duit kan? Nih gue kasih 10 ribu buat naik angkot, sisanya tabungin aja ke psikolog, kayaknya lu kena gangguan jiwa deh," ucap Astro tanpa dosa yang membuat Salma menganga lebar-lebar. Sungguh, ini adalah pertolongan dan penghinaan sekaligus.


"Dih siapa juga.."


Astro menarik tangan Salma kuat-kuat, kemudian menaruh uang 10 ribu itu di tangan perempuan yang tiba-tiba saja membeku ditempat.


Sungguh, seumur hidupnya ia tidak pernah digenggam tangannya oleh seorang laki-laki tampan, dan sekarang? Terwujud sudah impiannya.


Setelah Astro melepaskan tangannya dari kaitan perempuan itu, ia pun mulai menutup kaca helmnya dan menancapkan gas untuk melanjutkan perjalanan. Meninggalkan Salma yang sekarang masih mematung di tempat.


"Kayaknya gue beneran menang lotre," ucap Salma mematung.


...****...


...EYO!!!!...


...AKU COMEBACK!!...


...YANG MAU LANJUT KOMEN YAK(◕ᴗ◕✿)...

__ADS_1


...SEE YOU!...


^^^- Inwinxx°°^^^


__ADS_2