
..."Perihal mencintai itu mudah, mempertahankan yang susah."...
...***...
Sesampainya di rumah, Astro segera memakirkan motor Nmax abu-abunya di garasi, tak lupa ia pun membuka helm yang menempel di kepala. Astro memijat lehernya karena terasa sangat pegal mengenakan helm serta terus menunduk untuk mengerjakan suatu hal di sekolah tadi.
Tetapi, kejenuhan Astro itu hilang seketika disaat dua perempuan kecil datang berbondong-bondong untuk menghampirinya.
“Abang Astlo!!! Pulangnya lama banget sih!” senyuman sangat tipis terukir di wajah Astro, dan tak perlu waktu lama, Astro dengan senang hati berjongkok untuk bisa menyajarkan dirinya dengan si kembar tersebut.
“Bulan udah buatin sop ayam, Abang makan ya?” ujar si kakak pertama, Bulan.
“Jangan makan sop ayam Bulan, nggak enak! Banyak galemnya!” si kecil yang lebih cerewet dari kakak kembarnya itu menghasut Astro.
“Emang Bintang tahu darimana masakan Bulan nggak enak?” suara Astro berubah drastis ketika berbicara dengan Bintang. Meskipun suara baritonnya masih mendominasi, namun hawa dingin dari Astro langsung mencair seketika.
“Bintang aja belum nyobain, udah bilang nggak enak aja!" Bulan tak terima.
“Bintang udah tahu sopnya nggak enak, makanya Bintang nggak mau makan punya Bulan!” komentar Bintang lagi, “Udah, Abang Astlo mending makan telol dadal Bintang! Pasti enak, soalnya Bintang tambahin gula!”
“Nggak sekalian tambahin merica?” goda Astro.
“Melica apaan?” Bintang tergoda.
“Nggak,” Astro mengusap kepala Bintang dan Bulan bersamaan, “Abang mandi dulu ya, habis itu baru makan masakan kalian.”
“Ih makan dulu, ntal telol dadalnya dingin!” Bintang memaksa.
“Iya, nanti ayamnya kebulu pelgi dari sop Bulan!” tambah Bulan memanasi.
Astro tertawa kecil lalu berdiri dari hadapan mereka, sepertinya jika permintaan mereka tak dituruti, mereka akan misuh-misuh dalam waktu yang lama.
“Yaudah ayo Abang Astlo!” Bintang dan Bulan segera menarik tangan Astro untuk menuntun Abangnya tersebut ke tempat bermain mereka di suatu ruangan.
Setelah mereka sudah sampai di ruangan penuh mainan dan terdapat banyak fasilitas lainnya, Astro segera diajak duduk oleh kedua kembaran tersebut dan langsung disodori piring kecil berisi telor mata sapi kecil dan mangkok kecil berisi ayam kecil alias mainan yang baru mereka beli kemarin.
“Abang makan telol dadal Bintang dulu!”
“Jangan, dimana-mana sop ayam halus dimakan duluan!”
“Bulan, nanti lasa manis di telolnya ilang gala-gala nggak dimakan duluan gimana?” ujar Bintang tak mau ngalah.
“Telus kalau ayamnya loncat dali mangkok gimana?” Bulan ikutan protes.
Astro tertawa melihat tingkah mereka dan segera mengambil piring dan mangkok si kembar itu bersaman lalu bertingkah makan dengan lahap. Kalau ia mengambil salah satu, pasti yang lain akan marah.
“Wah abang makan semuanya! Ntal gendut lho!”
Dibilang begitu, Astro hanya mengusap kepala kedua perempuan kecil kesayangannya itu lalu tersenyum kembali. Dimana sampai sekarang senyuman itu hanya berlaku bagi Bintang dan Bulan, dan tidak ada lagi yang bisa melihat senyuman tersebut selain mereka.
***
Tangan laki-laki berumur 17 tahun itu terlihat sedang mengerjakan sesuatu, sesuatu yang nampaknya amat rumit dan hanya beberapa orang saja yang tahu, bagaimana tidak? Nampak gerakan Astro penuh kehati-hatian, mata Astro yang jeli, sampai ia menggunakkan kacamata khusus untuk menetralisir kegagalan.
Sebuah rakitan terpapar di meja belajarnya, rakitan yang dibuat oleh Astro dari awal dan sedang proses. Ia harap semuanya akan berjalan lancar.
Tok tok
Suara ketukan menyadarkan Astro dari kefokusannya, ia meletakkan solder dan pinset di kedua tangannya. Dengan perasaan agak kesal ia membuka kunci pintu kamar, Astro adalah tipe orang yang tak suka bila pekerjaannya digganggu.
Setelah pintu terbuka dengan maksimal, raut wajah Astro makin tak suka, sungguh, jika tahu tamu yang datang sebelumnya, ia tak akan membukakan pintu.
“Ada apa?” Tanya Astro berekspresi sedatar mungkin.
“Papa mau bicara sama kamu,” jawab tamu pria berkepala lima tersebut, alias ayah kandung dari Astro.
“Astro sibuk.”
“Sebentar saja.”
“Maaf, udah malam,” Astro makin menolak.
Hembusan napas lelah keluar dari pria bernama Jeremi itu, “oke, Papa akan bilang disini.”
“Pa..”
“Astro, tolong tandatangan kontrak perusahaan Papa.”
“Papa udah bilang itu sebanyak 95 kali, dan Astro udah nolak 113 kali, Papa nggak capek apa bujuk Astro kayak gini?” Astro sinis, merasa bosan diminta melakukan hal yang sama tiap waktu.
“Kamu tahu sendiri kan? Kalau sampe perusahaan Papa jatuh ke tangan yang salah konsekuensinya gimana?” Jeremi ikut merasa lelah.
Bola mata Astro berputar, “denger ya Pa, perusahaan Papa itu adalah perusahaan yang Astro benci. Dan, sekarang papa malah minta buat Astro jalanin perusahaan Papa? Sama aja Papa gali kuburan sendiri!”
“Setidaknya Papa percaya sama kamu.”
“Tapi Astro nggak percaya sama Papa.”
“Astro, Papa janji, jika kamu tandatangan kontrak, Papa akan memberikan semua hal yang kamu mau,” nada suara Jeremi terdengar sudah putus asa.
Astro terdiam, ia melihat Papanya dengan seksama, pria itu memang sudah tua, hidupnya bisa berakhir kapan saja, sementara perusaan milik Jeremi tengah berada di atas. Pasti Jeremi sangat waspada dengan adanya kejatuhan. Namun apa daya, mendengar perusahaan Jeremi saja, Astro sudah sangat muak.
“Astro, kalau perusahaan Papa..”
“Perusahaan mulu ya yang Papa pikirin, sampai Astro anak kandung Papa dipertaruhin, Papa nggak inget masa lalu? gara-gara perusahaan Papa, Papa sampe relain..” Astro tak kuat melanjutkan kalimatnya.
Jeremi terdiam ketika tahu apa yang akan Astro katakan selanjutnya, ia sangat pedih jika mendengarnya secara langsung.
“Udah malem, Astro mau tidur,” ucap Astro langsung menutup pintu dan duduk di meja belajarnya kembali.
Napas Astro berhembus kencang melihat berbagai macam alat elektronika di mejanya, keterampilannya adalah membuat alat canggih, namun untuk menjadi penerus di perusahaan alat canggih dengan cara yang ia benci, ia tak akan suka itu.
***
Cuaca di siang hari tampak terik dan bercahaya, suasana SMA Republika pun juga ramai oleh siswa-siswi yang melakukan berbagai aktifitas. Sebenarnya ada suatu magnet yang membuat lapangan luas itu dipadati oleh warga sekolah. Hal itu dikarenakan ada pertandingan basket XII IPA 1 yang terkenal akan murid-murid berbakat dan juga XII IPS 1 yang terkenal akan kebar-barannya. Namun, tentu saja tidak semua murid laki-laki bermain basket, buktinya Astro ogah-ogahan ikut dan hanya duduk di pojok lapangan sambil membaca buku Astronomi miliknya.
Sebenarnya juga, sekarang adalah pelajaran olahraga XII IPA 1 tetapi karena gurunya berhalangan hadir dan laki-laki IPS 1 mengajak bertanding, alhasil mereka jadi perbincangan disana. Apalagi murid IPA 1 dan IPS 1 sama-sama terkenal akan ketampanannya.
“Astro ayo ikut!” ajak Noval, teman sekelas Astro yang habis bermain di lapangan.
“Nggak, lo aja!” Astro menolak mentah-mentah.
“Ah nggak asik lo! Baca buku mulu! Emang kalo lu baca buku bisa dapet pacar apa?”
“Pacar mulu pikiran lo!” Astro muak.
Noval cengengesan, “dengan main basket begini kan banyak cewek ngelirik, dan kalau ada yang lirik kan lumayan jadiin gebetan! Akhirnya tidur ada yang nemenin.”
Sontak setelah perkataan ngawur Noval, Astro membulatkan matanya.
“Maksudnya lewat video call! Ah elu pikirannya jorok banget!”
Dibilang begitu Astro makin tak minat dengan pertandingan di lapangan, dan memilih untuk tetap pada buku tebalnya itu.
"Astro! Sapu tangan lu jatoh nih!" Noval segera berjongkok berniat mengambil sapu tangan yang jatuh dari saku celana Astro.
__ADS_1
Melihat Noval yang ingin menyentuh sapu tangannya, Astro bergegas mengambil sapu tangan itu cepat, "Jangan pegang-pegang!"
"Dih sensian amat lo!"
"Udah sono!" usir Astro tak suka.
Noval mendekati Astro dan ingin menarik sapu tangan yang katanya 'tidak boleh dipegang' itu.
"Ngapain sih lo!?" Astro kesal Noval malah semakin menarik tangannya untuk meraih sapu tangan kecil tersebut.
"Sapu tangan dari siapa sih? Coba liat!!" goda Noval senang.
"Nggak mukhrim! Nggak boleh pegang-pegang!" Astro segera pergi dari hadapan Noval, sedangkan Noval tak putus asa untuk mengejar Astro sampai dapat.
Di sisi lain, tampak ketiga sejoli sedang melihat-lihat pemandangan di lapangan. Kedua perempuan yang memakai pernak-pernik hits serta wajah cantik dan satu lagi yang hanya berseragam biasa memaku melihat lapangan tersebut.
Ya, lagi-lagi Salma berangan-angan, andai saja salah satu cowok keren di lapangan itu adalah pacarnya, pasti ia akan menjadi supporter paling kencang dan juga akan menyiapkan minuman untuk mereka seperti di novel yang ia baca. Tetapi apa daya, penampilan dan wajahnya saja dibawah standart, mana mungkin keadaan itu bisa terjadi.
“Eh Ju, liat tuh mantan lo! Makin cakep aja ya setelah lo tinggalin!” goda Kiki kepada teman di sebelah kirinya.
Juju tampak malas melihat laki-laki jangkung dari kelas XII IPS 1 itu, “percuma ganteng, tapi brengsek!”
“Emang iya sih, cowok mah nggak cukup punya 1 cewek doang,” Kiki mengiyakan.
“Males deh punya cowok sok ganteng gitu,” Juju makin kesal melihat ke lapangan.
“Lu nggak mau punya cowok ganteng? Terus lu mau punya cowok yang kayak gimana? Hm?”
Juju berpikir sejenak, sementara Salma yang berada di samping Kiki terdiam saja mendengar obrolan mereka. Sepertinya perbincangan mereka bukan ranahnya. Bagaimana tidak? Juju ingin laki-laki yang seperti apa pasti laki-laki itu langsung mau. Lain hal dengan dirinya, sampai saat ini belum ada laki-laki yang menginginkan dirinya.
“Gue pengen cowok yang dingin, cuek, cool, wah idaman banget deh!”
“Kalau yang cuek, mana mau dia pacaran!” Kiki tertawa, sementara Salma masih melihat ke lapangan.
Sampai suatu pandangan membuat Salma terkejut, “Astro!!”
Merasa temannya berteriak sendiri, Kiki dan Juju ikut melihat dimana pandangan Salma jatuh, ternyata perempuan itu sedang melihat laki-laki bergestur dingin, cuek, cool tengah memasuki arena lapangan dengan mendribble bola basket ke tanah.
“Meh, pilihan lu bagus..” Kiki memandang Salma kagum.
“Ha?” Salma bingung, namun beberapa detik ia memahami maksud dari Kiki, sepertinya mereka setuju bahwa dia bisa bersama dengan Astro.
“Udah Ju, sama Astro aja, dia tipe lu banget kan?”
“Eh kok!?” Salma terkejut mendengar tambahan kalimat dari Kiki, kenapa Kiki malah menjodohkan Astro dan Juju?
Dan hal yang membuat Salma makin perih, pipi Juju malah merah, bahkan Juju menatap gerakan Astro bermain basket dengan pandangan berbinar-binar. Jika begini, pupus sudah harapannya untuk menjadi pemeran utama bersama Astro.
“Kenapa lu kayak nggak seneng gitu?” Kiki melihat wajah Salma aneh.
“Nggak, gue mau ke kantin dulu ya,” Salma bergegas pergi dari hadapan mereka, sepertinya jika dia masih disitu, spekulasi macam-macam akan keluar dari mulut Kiki, dan hatinya akan sakit seperti biasa. Ia tak ingin cari penyakit.
“AMEH! GUE NITIP ES JERUK SATU YA!” teriak Juju kepada Salma yang berlari dan perempuan itu pun langsung pergi darisana.
Ya benar, karena teriakan Juju terdengar di sekitar lapangan, seorang laki-laki di lapangan segera menghentikan permainan dan keluar dari arena, “WOY DICKY! MAU KEMANA LO?” Tanya seseorang dari teman timnya.
Laki-laki bernama Dicky itu menunjuk Juju, “gue mau ke pacar gue dulu!”
Ditunjuk seperti itu membuat Juju kesal setengah mati, “Ngapain sih anjir dia?”
“Wah dikit lagi ada drama ni!” Kiki memanasi suasana.
“HEH DICKY! LO KAN KAPTENNYA! GIMANA SIH? MASA KELUAR?” suara yang kecewa karena Dicky keluar dari lapangan tak mengubah keputusan Dicky untuk mendekati Juju.
Sesampainya Dicky di depan Kiki dan Juju, otomatis membuat seluruh pandangan orang-orang di lapangan tersebut menatap mereka. Begitupun Astro yang malas dan berniat keluar arena.
“Udah lah, gue males nunggu orang bucin!” tolak Astro.
“Please.. disini dulu ya AA' Astro!” Noval memohon dengan bersikap manja.
“Ih najis banget sih lo!” Astro melepaskan tangan Noval kasar, dan memilih tetap di lapangan. Karena percuma saja jika dia keluar, Noval akan terus menguntitnya serta memohon seperti laki-laki tadi memohon agar ia ikut bertanding basket.
Balik lagi ke samping lapangan, Juju nampak ogah melihat laki-laki di depannya itu.
“Hai pacar!” goda Dicky tersenyum sendiri.
Seolah tak mendengar, Juju tetap sibuk memandangi pemandangan lain walaupun semua orang sedang memandangnya lamat.
“Udah yuk Ki, kita ke kelas!" Juju makin risih.
“Eh sebentar dong! Masa gue main ditinggalin aja?” Dicky mengambil dan menggemgam tangan Juju.
“Nggak usah pegang-pegang bisa nggak!!?” Juju menyentakkan tangan Dicky, merasa tak sudi tangannya digenggam.
Noval yang memandang perseteruan itu mendekat kepada Astro, “Tro, lu pernah megang tangan cewek nggak? Pasti nggak pernah ya?”
Astro terdiam mendengar pertanyaan Noval, ia jadi mengingat kejadian ia dan Salma kemarin. Sungguh momen yang sangat Astro harapkan untuk menghilang dari kepalanya.
“Cobain deh Tro, pegang tangan cewek aja dikit gitu..”
“Kemaren mah bukan tangannya lagi.”
“HA!!!?” Noval terkejut setengah mati, “Lo udah megang apa lagi anjir!?”
Menyadari perkataannya salah, Astro segera menggeleng, “bacot ah!”
“Wah gila Astro diem-diem nakal juga!” Noval tersenyum menggoda.
“Udah diem!” kesal Astro dan melihat kearah Juju dan Dicky kembali.
Dicky menatap Juju memohon, “sayang, maafin aku ya, kemaren itu..”
“Kemaren apa? Khilaf!?” tak tahan lagi, nada Juju terdengar setengah berteriak.
“Kemaren itu temen, yang..”
“Temen? Temen apa yang gandengan tangan, pelukan, sampe..” Juju tak tahan lagi mengucapkan kalimat selanjutnya.
“Yang, kamu nggak percaya sama kamu? Aku cinta sama kamu..”
“Gue nggak cinta sama lo!” Juju menolak penuh dendam.
“Lu kenapa sih Ju? Kemaren bilang nggak bakalan ninggalin gue, sekarang apa? Emang lu udah punya pacar lagi? lu pasti belum bisa move on kan dari gue?” dihina begitu, Dicky tak terima dan membalikkan kata-kata Juju sebelumnya.
Juju gelagapan membalas kata-kata Dicky, “i—iya gue udah punya pacar!”
Mendengar nada ragu-ragu dari Juju, Dicky tertawa, “siapa sih pacar lo yang bisa gantiin gue di hati lo?”
Juju menatap Kiki sebentar untuk memberikan sebuah kode, tetapi Kiki malah membuka matanya lebar-lebar, bingung juga akan perkataan Juju yang katanya sudah punya pacar, padahal Juju masih proses move on.
Juju gelisah saat tak mendapat jawaban dari Kiki, tetapi disaat mata Juju mengarah ke lapangan, perempuan itu menemukan seorang laki-laki yang menatapnya tak minat.
Entah ada apa dengan Juju saat itu, dengan berani perempuan tersebut malah mendekati laki-laki di lapangan dan menggandengnya secara langsung, “dia pacar gue sekarang, lu mau apa?”
Alhasil yang digandeng merasa bingung, “Apaansih?”
__ADS_1
“Lho Astro! Jadi kemaren lu abis gandeng Juju?” Noval berspekulasi atas perkataan Astro beberapa menit lalu dan membuat keadaan tampak rumit.
"I-iiyaa kemaren gue gan-gandengan sama Astro!" Juju merasa lebih percaya diri.
“Pacar lo dia? Anak IPA 1?” Dicky menatap Astro dengan aneh.
Tak ingin menimbulkan kesalahpahaman, Astro segera melepaskan genggaman Juju dan segera meninggalkan lapangan.
“Astro, sebentar dulu!” Juju menahan kepergian laki-laki itu.
“Apaansih! Gue nggak kenal ya sama lo!” Astro berujar frontal. “Ngapain lo ngaku-ngaku pac..”
“Astro..” kalimat Astro terpotong ketika suatu perempuan yang sedang memegang es jeruk melihat Astro dengan pandangan tak percaya.
“Udah lah, gue mau pergi,” perasaan Astro makin kesal melihat Salma ada di hadapannya. Rasanya hawa Salma selalu buruk.
“Sebentar dulu..” Juju makin menahan gerak laki-laki itu.
“Ju, udah nggak usah ditahan gitu, lagi siapa coba yang percaya? Astro secuek itu bisa pacaran sama lo? Mustahil lah!” Dicky tertawa meremehkan karena ia mengerti sifat Astro. Maklum, kelas mereka berdekatan.
“Apa? Juju pacar Astro??” Salma tentu saja terkejut. Juju saja baru bertemu dengan Astro kemarin. Mana mungkin mereka menjalani hubungan?
“Noh! Sahabat lu aja nggak tahu lu pacaran ama Astro! Miris banget sih!” Dicky terlihat menang disini.
Kiki mendecak melihat Salma karena memperkeruh suasana, begitupun Juju yang berwajah kecewa terhadap sahabatnya itu.
Salma melihat Kiki bingung, “kenapa? Emang kata siapa Juju pac..”
“BISA DIEM NGGAK SIH LO!!?” Kiki mendorong Salma, membuat jus jeruk di tangan Salma terjatuh begitu saja dan muncrat ke sekitarnya, bahkan noda itu juga menempel di seragam Kiki.
“ARGHHHH ANJIR BAJU GUE!!!!” teriak Kiki berusaha menghilangkan noda jeruk dari seragamnya, namun sangat sulit.
“Sorry, gue nggak sengaja!” Salma merasa bersalah dengan membantu menghilangkan noda itu dari seragam KIki.
Tetapi, hal itu malah mengundang murka Kiki dengan mendorong Salma sampai terjatuh di lapangan, “Nggak usah pegang-pegang gue!”
Kejadian itu tidak berlangsung lama, tetapi membuat semua orang di lapangan sangat ricuh memperbincangkan mereka, terutama kepada Salma. Bahkan perkataan mereka bisa terdengar langsung oleh mereka.
“Lagian main sama orang yang nggak selevel, dicampakkin kan!”
“Pantes emang tuh orang digituin! Nggak tahu malu sih main dateng aja!”
“Kasian ya, jadi pengen ngetawain!”
Bisikan tersebut membuat Salma menutup mata menahan air matanya, kali ini hinaan dari Kiki berdampak besar bagi hatinya, sungguh, ia sangat malu dan sedih disaat waktu bersamaan.
Begitupun Astro, ia menatap sekitar dengan aneh. Mengapa banyak sekali yang malah menjelekkan Salma? Padahal yang mendorong dan bersikap kasar adalah Kiki.
Lain halnya dengan Juju, ia menatap Salma memang kasihan, namun untuk saat ini hatinya mengehentikkan dia untuk menolong Salma karena suatu alasan.
“Megang es aja nggak becus! Liat nih baju gue kotor! Lu mau tanggung jawab!?” Kiki makin menghakimi Salma yang masih membeku di lapangan.
“Denger ya! Sampe seragam gue nggak bisa dibersihin, lu bakal tahu akibatnya!”
Merasa kejadian ini sangat Astro benci, laki-laki itu berniat pergi meninggalkan lapangan.
“ASTRO!!” suara teriakan dari belakang membuat langkah Astro berhenti.
Astro terdiam, ia berusaha menormalkan isi hatinya yang bergemuruh dan kepalanya yang memanas karena berpikir begitu keras.
Juju berteriak lagi, “ASTRO.. PLEASE..”
Setelah semua hal di dalam tubuhnya sudah normal, Astro segera kembali lagi kepada mereka.
Tetapi bukan kembali kepada Juju, langkah Astro malah mengantarkannya ke depan perempuan yang masih terdiam kaku di lapangan seraya menutupi wajahnya untuk menyembunyikan air matanya yang jatuh.
“Berdiri,” suruh Astro bernada sangat dingin.
Di sela-sela rambutnya, Salma dapat melihat Astro tengah menatapnya dingin.
“Gue bilang ber..”
“Astro! Kok lu malah ke Salma sih!?” Kiki melihat Astro tak mengerti sekaligus kesal.
Astro mengindahkan pertanyaan Kiki, tatapannya tak beralih dari Salma, “lu mau berdiri apa nggak?”
Salma masih terdiam sementara Astro mendecak sebal, laki-laki itu mengecek sakunya dan menyerahkan sebuah sapu tangan ke arah Salma, “ayo berdiri!” katanya.
Perempuan di tanah itu melihat sapu tangan Astro, apa maksud Astro agar tangan mereka tak bertemu langsung?
“Yaudah kalau lu nggak ma..”
Suara Astro langsung terpotong ketika Salma segera menarik sapu tangan Astro dan berdiri tepat di hadapannya.
“Astro, lu mau nolongin Salma? Kenapa gue..” Juju mendekat kearah mereka berdua.
Astro mengalihkan pandangannya dari Salma ke Juju, “denger ya, gue bukan pacar lo dan sampai kapanpun gue nggak mau jadi pacar lo! Jadi temen aja nggak becus apalagi jadi pacar! Saran gue sekarang lo beli otak sama hati, kayaknya tuh organ udah nggak sudi di tubuh lo jadinya nggak berfungsi!”
Juju terdiam membeku mendengar perkataan Astro, sama juga Salma dan Kiki, tak berekspetasi akan ucapan sarkas Astro. Bahkan saking sarkasnya semua murid disana ikut terdiam, tak mampu berucap apa-apa.
“Gini ya, gue nggak suka drama begini! Jadi, nggak usah sok ngaku lo pacar gue, gue risih!”
“Astro!” Salma berniat menghentikan ucapan Astro, ia tak mau hati Juju terluka.
”Oh ya, besok-besok jangan temenan sama dia,” Mata Astro melirik ke arah Salma dengan tajam.
"As.."
“Dia terlalu baik buat temen yang munafik kayak lo berdua!”
Jleb.
Sungguh, perkataan Astro membuat wajah Kiki dan Juju memerah karena kesal, Salma saja sampai tak berani memandang kedua temannya itu.
“Heh jaga ya ucapan lo!” Dicky berniat membela Juju, “Mentang-mentang pinter lo nggak ada hak ya ngehakimin orang!”
“Terus lo ada hak nggak deket sama dia? Lo aja udah putus!” Astro mermbalikkan keadaan dengan membawa Juju.
“tapi bagus deh, akhirnya lo terhindar dari manusia nggak punya hati kayak nih cewek.”
Dan setelah kalimat seperti cambukan itu keluar, Astro langsung pergi darisana, menghiraukan bisikan-bisikan orang yang membicarakan keberanian dirinya.
Salma menggelengkan kepala saat menatap Juju, mengodekan kalau perkataan Astro tidak benar. Namun buah telah jatuh dari pohonnya, air mata Juju sudah berlinang di pipi.
“Gue kecewa sama lu, Meh.”
...***...
...**JADI GIMANA??...
...GREGET GA??????...
...KALAU MAU NEXT KOMEN YA(◠‿・)—☆...
...BUABAYYYYYY...
__ADS_1
^^^- Inwinxx**,^^^