
Namaku Saziya Ashilla, mereka biasa memanggilku Shilla, aku berkepribadian yang bisa dibilang introvert, bukan karena aku tak bisa menaruh diri. Tetapi, karena aku lebih nyaman dengan kesunyian. Tak jarang orang lain menganggapku aneh, atau bahkan menjulukiku si indigo, walaupun sebenarnya semua itu tak benar.
Semenjak kecelakaan yang menimpaku 20 Oktober 2006, membuat diriku benar-benar absurd. Selama 6 bulan aku tak dapat mengingat apapun, bahkan kedua orangtuaku.
Karena kondisiku yang terus saja naik turun membuat dokter merasa bimbang untuk memulangkanku.
Waktu 6 bulan itu, hanya aku habiskan di dalam kamar inap yang jauh dari lorong tempat lalu lalang para penghuninya. Yang bisa kudengar hanya suara derap sepatu milik suster yang dengan sabar merawatku.
Setiap pagi, ada seorang laki-laki paruhbaya berpakaian rapi datang dengan seorang perempuan paruhbaya yang selalu membawakanku bucket bunga. Namun aku sama sekali tak dapat mengingat siapa mereka. Setiap kedatangan mereka aku hanya bisa diam membisu, dan menatap ke arah jendela kamar.
Namun, sungguh kebesaran Tuhan, di suatu malam 1 Maret 2007 ketika aku terbangun, tampak kedua paruhbaya itu tengah tertidur pulas di sofa panjang yang disediakan di dalam kamar.
"Bunda," entah bagimana ia dapat mendengar suara lirihku. Dengan perlahan ia membuka matanya yang sayu, betapa terperanjatnya ia mencerapkan panggilanku.
"Ayah, ayah, Bangun yah!" ujarnya dengan memukul-mukul pelan bahu Ayah.
Jelas saja aku memandang mereka dengan heran, begitu juga mereka yang menatapku bingung.
"Bunda, Ayah." sekali lagi aku menyeru. Dengan segera mereka berlari mendekatiku.
"kau ingat Bunda dan Ayah nak?" ujar Bunda dengan melekapku kuat.
"Shilla kau sudah sadar nak? tunggu sebentar Ayah akan panggilkan dokter. Dokter, dokter," teriaknya dengan berlari kencang hingga tersungkur di depan pintu kamarku.
Aku melihat kebahagiaan yang teramat dari kedua orangtuaku, namun aku benar-benar tak tahu kenapa aku bisa menjadi seperti ini, setiap hari menghabiskan waktu di kamar ini, dan hanya sesekali keluar untuk menghirup udara segar dengan kursi roda. Saat ini aku pun masih bertanya-tanya dengan apa yang sebenarnya menempa diriku.
__ADS_1
" Shilla, kau ingat Bunda nak?" ucapnya lagi, kini perbanku terasa basah oleh airmata Bunda yang terus saja berambai-ambai.
"Bunda, mana mungkin Shilla tak ingat dengan ibuku sendiri."
Tak lama kemudian, Ayah datang bersama dua dokter dan empat perawat perempuan.
"Anak saya sudah sadar dokter, itu dia, Shilla ingat Ayah dan Bunda kan?" ucapnya lagi dengan napas terengah-engah.
"Ayah, Shilla tak akan mungkin melupakan kedua orangtua Shilla."
"Benarkan dok, anak saya sembuh dok!" teriaknya lagi.
kedua dokter itu kini mendekatiku. Mereka adalah Dokter Benny dan Dokter Boy, spesialis syaraf.
"Coba kamu sebutkan nama lengkapmu," ujar Dokter Boy.
"Berapa usiamu?" sambung Dokter Benny. Bagiku ini adalah pertanyaan yang tak masuk akal, aku yakin anak SD pun bisa menjawabnya tanpa berpikir keras.
"23 tahun," jawabku dengan nada malas.
"Apa kau ingat salah satu teman dekatmu?" entah, pertanyaan itu benar-benar membuatku berpikir keras.
"Entah!" jawabku dengan memegang kepala bagian kiri. benar-benar terasa sakit.
Lagi-lagi mereka memandangku dengan aneh.
"Bu, apa kecelakaan itu terjadi di kampus atau tempat kerjanya? atau mungkin sedang bersama teman-temannya?" kini giliran Ayah yang angkat bicara.
__ADS_1
"Kami tiak tahu pasti, karena cerita yang beredar simpang siur, namun menurut informasi dari kepolisian, kecelakaan itu terjadi tak jauh dari kampus." Dokter Benny kembali bertanya kepadaku.
"Shilla, dimana kuliahmu?" rasanya aku seperti bayi yang baru terlahir kedunia aku benar-benar tak mengerti dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatku semakin pusing.
"Baiklah, pak, bu, saya rasa cukup, bisa bicara sebentar di ruangan kami pak?" ujar Dokter Benny.
"Bisa-bisa pak."
kini hanya tinggal aku dan Bunda yang masih memelukku erat.
TOK-TOK-TOK
Seorang perawat membawakan nampan berisi makan malamku.
"Silahkan, seperti biasa ini obat malamnya."
"Baik terimakasih," sahut Bundaku yang segera mengambil alih nampan itu.
"Sekarang Bunda akan menyuapimu, setelah itu minum obat agar cepat sembuh dan kita bisa pulang bersama-sama."
Entah kenapa pertanyaan-pertanyaan itu masih bersemayam dalam tilikanku.
Bagaikan sebuah *rubick* dimana harus ku temukan warna yang sama dari sekian warna yang berbeda.
__ADS_1