ATMA

ATMA
Menjeru


__ADS_3

     Semenjak kejadian itu, hari-hariku menjadi sedikit berbeda, tak jarang aku mengalami hal-hal yang di luar kepala, seperti suatu ketika, selesai jam kuliah malam saat itu sekitar jam 21:00, setelah mengantre lama dan berebut lift akhirnya aku harus kembali ke lantai 8 karena bodohnya diriku meninggalkan tugas di sana.


Aku menilik *lift* yang baru saja bergerak naik, apa boleh buat aku memilih untuk menaiki tangga sendirian karena Nafisa tak mau ikut, dengan sedikit berlari akhirnya aku sampai di lantai 8, aku mendengar seseorang berbicara dari kelasku, memang lampu masih menyala dan pintu belum tertutup aku pikir masih ada teman-teman atau dosen di dalam sana, namun di luar dugaan aku tak menemukan seorang pun.



Tanpa menghiraukan hal itu, aku segera memusatkan pandanganku ke arah map merah yang tergeletak di lantai.


     Ketika aku berjalan masuk mengambilnya, aku kembali mendengar suara derap sepatu, mungkin itu office boy yang bertugas mengunci pintu, setelah menyahut map itu aku segera bergegas keluar ruangan, dan lagi-lagi aku tak menemukan apa-apa.


Karena badanku sudah menggeriap ketakutan aku menekan-nekan tombol open pada lift yang tak kunjung terbuka. Sesaat aku melihat si aneh itu lagi keluar dari salah satu kelas, aku sedikit selesa karena ternyata aku tak sendirian dalam keadaan seperti itu, tapi di luar dugaan dia hanya duduk di bangku tunggu tanpa melanjutkan langkahnya ke arahku.



Yang benar saja apa yang dia lakukan di sana, benar-benar tak bisa diharapkan, ku pikir dia akan menaiki *lift.*


     Dan lift pun terbuka, aku sedikit heran kenapa ada banyak sekali mahasiswa yang ternyata belum meninggalkan kampus, buktinya lift ini masih saja penuh.


Dari awal memasuki *lift* aku sudah merasa tak normal, kenapa malam itu dengan beberapa orang di dalam *lift* masih saja terasa dingin, padahal secara logika kita tahu semakin banyak benda yang menempati sebuah ruangan pasti akan ada penghantar energi yang menimbulkan panas atau hangat.



Karena mulai merasa tak aman aku terpaksa menekan angka 7 untuk bisa segera keluar dari *lift* itu. Pintu pun terbuka dan aku tak menemukan seorang pun di sana dengan lampu-lampu kelas yang sudah padam.



Apa boleh buat dari pada terjebak di antara kerumunan tak jelas aku memilih untuk menuruni tangga. Saat itu Nafisa meneleponku.


"Kau lama sekali? padahal kau sudah menaiki lift kenapa keluar di lantai 7?" aku mengacuhkan telepon itu.


Bagiku ini bukan saatnya untuk menjawab pertanyaan seperti itu. Aku kembali mendengar derap langkah yang berpusat tepat di belakangku.



Tetapi tak ada bayangan yang bisa ku lihat, aku semakin menjadi-jadi, aku berlari hingga lantai 5 dan di sana aku kembali bertemu dengan si aneh itu, kini bukan saatnya untuk berpikir negatif seharusnya aku beruntung masih bisa bertemu dengannya, mungkin saja ia tak menaiki *lift* karena tak ingin berdesakan dengan pengguna lain, dan akhirnya dia memutuskan untuk menuruni tangga.


     Aku berjalan sedikit jauh darinya, jika memang dugaanku betul lebih baik sedari tadi aku berjalan dengannya.


"Shilla, kau kenapa turun tangga? sedangkan lift kosong!" ujar Nafisa yang berlari ke arahku.


Sesaat aku menengok ke arah si aneh yang entah hilang kemana. Aku merengek untuk segera pulang dan berjanji akan menceritakan semuanya lain hari.



sesampainya di rumah aku melihat setangkai bunga mawar di depan halaman rumahku mungkin itu milik seseorang yang terjatuh, karena tak ada rasa tertarik terhadap bunga itu, aku memilih untuk mengacuhkannya.



Sekelebat aku teringat dengan si aneh itu. Namun aku yakin itu hanya karena rasa penasaranku terhadapnya.


__ADS_1


     Beberapa hari ku lalui dengan tenang tak ada sesuatu yang mengganjal seperti hari-hari sebelumnya, dan aku semakin sering bertemu dengan si aneh itu, ada beberapa problem yang mengahantui ku, dari sekian banyaknya laki-laki di kampus kenapa aku sering sekali bertemu dengan si aneh itu? dari situlah muncul keingintahuan yang besar.


Hari-hari mencekam datang kembali dalam kehidupanku. Semua di mulai saat aku menemani Nafisa ke kamar mandi. Aku melihat seorang perempuan memasuki kamar mandi yang kosong.



Tiba-tiba saja aku merasa mulas, aku mengetuk-ketuk pintu Nafisa memintanya untuk segera keluar.


"kau bisa pakai kamar mandi yang kosong!" teriaknya.


"Aduh, sudah ada yang memakainya!" seruku.


Dengan mengomel Nafisa membuka pintu kamar mandi.


Namun, ketika aku keluar kamar mandi tampak kamar mandi sebelah masih tertutup. Iseng-iseng aku bertanya kepada Nafisa.


"Belum keluar juga penghuninya," ujarku dengan nada bercanda.


"Mulas akut mungkin," balasnya.


Tak sengaja *lip ice* milik Nafisa terjatuh menggelinding ke arah pintu kamar mandi yang tertutup itu. Ketika dia mengambilnya,


"Shill, ada yang membuatku sedikit heran, kenapa sejak tadi aku tak mendengar suara sekecilpun, jangan-jangan dia bunuh diri," perkataan Nafisa itu membuatku geli, namun ada juga rasa khawatir.


     Aku memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu, hanya untuk memastikan pemakai kamar mandi itu baik-baik saja. Tetapi setelah beberapa kali ketukan itu merebak, kami semakin berwalang hati.


Akhirnya dengan seluruh kekuatan dan kelancanganku mendobrak pintu yang ternyata tak terkunci itu. Alhasil kita tak menemukan siapapun di dalamnya.


"Akh, sial! kau membohongiku!". Aku kembali bertanya pada Nafisa.


"Tapi serius, tadi sewaktu kau di dalam ada perempuan lewat tepat di sampingku masuk ke dalam, aku keluar kamar mandi pun pintu itu masih tertutup, untuk itu aku bertanya padamu, dan kau jawab belum," Nafisa melototkan matanya kepadaku.


Kini ekspresi wajahnya berubah drastis dia terlihat gamang, aku hanya menaikkan alis tinggi-tinggi.


"Shill, hitungan ke tiga kita jalan mundur pelan-pelan."


"Kenapa?" aku semakin bingung dengan perintah Nafisa.


"Sudah ikut saja, satuuu, duaaa, tiiii..., lari Shill lari," teriaknya dengan berlari mendahuluiku.


"Kampreeeeet."


     Sekilas ketika aku berlari membuntuti Nafisa, aku melihat si aneh itu berjalan berlawanan arah denganku.


Brrruuukkk!!!


"Astaga, apa-apaan kalian?" aku kenal sekali si pemilik suara itu. karena terlalu santer berlari Nafisa menabrak kakaknya yang sedang membawa tumpukan buku-buku perpustakaan yang akan ia kembalikan.


Aku melihat tatapan papaknya ke arahku, dan aku hanya bisa menelan ludah menyiapkan diri untuk mendengar kicauannya.


"kalian berdua batu bawa ke perpustakaan," tuturnya.

__ADS_1


"Kak, ini buku dari hasil pinjaman berapa semester, berapa denda yang harus kau bayar?" ujar Nafisa dengan nada mengejek.


Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat mereka berdua adu mulut. Baru saja aku memijakkan kaki di perpustakaan, mataku seakan tertarik ke arah laki-laki yang duduk di sudut kanan rak buku.



si aneh itu lagi, aku semakin penasaran dengan dirinya dan bermaksud untuk menanyakan kepada Nafisa.


"Kau sedang melihat apa? serius sekali?" tegur Nafisa.


Aku hanya menggelengkan kepala, ketika aku menengok ke arahnya aku tak menemukan sosok itu lagi. Entah kekuatan apa yang ia miliki, tiba-tiba saja aku melihatnya sudah duduk di meja baca yang ada di lantai 2 ketika aku baru saja menginjakkan kaki di sana.



Aku melihat ke arah beberapa tumpuk buku di sampingnya. Dia terlihat seperti laki-laki yang misterius itu membuatku semakin penasaran.


     Sembari menunggu Alya, aku memilih untuk duduk di bangku yang tak jauh dari si aneh itu. Aku semakin lega menatapnya dari dekat seperti ini, dia terlihat seperti laki-laki pendiam, entah secara tak sadar bibir ini menyungging ke arahnya.


Dan aku baru tersadar saat dia membalas senyumanku. Betapa jengahnya diriku melihat senyuman manisnya. Entah kenapa, tiba-tiba saja kepalaku kembali merasa sakit seperti saat aku berusaha menemukan jawaban dari kedua dokter itu.


"Shill kau sakit? kenapa kau memegang kepalamu?" ujar Nafisa.


"Aku hanya merasa sedikit pusing."


Nafisa memintaku untuk menunggunya sampai ia kembali dari koperasi untuk membelikanku beberapa cemilan dan obat. Tapi aku menolak begitu saja.


     Semenjak hari itu aku lebih sering bertemu dengan si aneh yang tanpa ku ketahui nama dan identitasnya. Dimanapun aku berada, tak lepas di sekitaran kampus, seperti kantin, perpustakaan, ruang tunggu, ruang kelas, dan lain-lain.


Sesekali aku merasa sangat dekat denganya, Bagaimana mungkin aku bisa merasakan hal itu sedangkan kami bertemu hanya sekedar bertatap muka dan melemparkan senyuman. Tetapi ketika aku berusaha mengingatnya aku akan merasa sangat pusing.


     Suatu ketika aku pernah bermimpi berjalan dengan si  aneh itu, aku terlihat sangat akrab dengannya dan dia memberiku setangkai bunga mawar, seiring waktu dia menghilang di telan sang binar. Jujur saja mimpi itu sangat mengganggu hari-hariku.



"Shill, aku lupa setelah matakuliah ini antar aku mengambil tugas di depan kampus ya?" aku mengiyakan permintaan Nafisa.


Beberapa menit pun berlalu, di perjalanan menuju lokasi yang kami tuju ada rasa canggung saat aku ingin menceritakan segalanya kepada Nafisa. Karena kupikir tak ada salahnya aku berbagi pengalaman seperti halnya mereka berkeluh kepadaku.


"Nafisa, aku tunggu di sini tidak masalah kan? sepertinya di sana terlalu ramai," eluhku.


"Oke, tunggu sebentar ."


Saat ini aku duduk di sebuah dingklik panjang berwarna cokelat di depan pos satpam. Entah mengapa, ketika aku melihat pohon besar yang ada di seberang, seakan ada bayangan-bayangan seperti api dan benturan hebat. Orang-orang yang berbebar kesana kemari dan pekikan-pekikan mematikan.


     Aku kembali merasa sangat pusing yang teramat, dan benar-benar sudah terlampau seketika semua menjadi gelap katup. Ketika aku siuman, aku melihat pemandangan yang tak parak bagiku. pemandangan-pemandangan rumah sakit yang sewajarnya.


"Shilla," suara itu segera membuatku mengarah ke pusatnya, aku melihat Bunda dan Nafisa tengah berdiri di samping ranjangku.


Aku mulai jemu ketika mereka membuang pertanyaan-pertanyaan yang tak dapat ku jawab.


"Sudahlah, tak ada yang bisa kujelaskan."

__ADS_1


Dan tak ada lagi pertanyaan yang ku dengar.



__ADS_2