ATMA

ATMA
Mawar Merang


__ADS_3

     Setelah menghabiskan seporsi makan malam, ingin rasanya aku memejamkan mata, namun suak karena pertanyaan dari Bunda.


"kau benar tak ingat teman-temanmu?"


Aku melayangkan pandangan ke jendela yang tak jauh dari tempat tidurku.


"Sama sekali tidak," jawabku dengan pelan.


Aku segera membuang pandanganku ke arah pintu dimana Ayah sudah berdiri tegap di sana, namun ia tampak berbeda dari sebelumnya kini ia terlihat bermuram durja. Sedangkan yang aku ingin mereka tetap bahagia.


"Ayah, pasti butuh istirahat wajah ayah tampak kusut, lebih baik sekarang Ayah dan Bunda istirahat, besok pagi Shilla ingin kalian menemaniku jalan-jalan di luar kamar. Selama ini hanya suster yang membawaku keluar."


Semoga aku berhasil membujuk Ayah yang terlihat menyunggingkan senyumannya itu. Aku tak mendengar jawaban dari bibirnya, hanya anggukkan yang ku terima.


"Yasudah Shilla juga tidur ya, biar cepat sembuh total," ujar Ayah.

__ADS_1


Beberapa menit berlalu, rasanya sulit sekali untuk terjaga. Aku melirik kedua orangtuaku yang sepertinya sudah terlelap, dengan perlahan aku turun dari ranjang dan berjalan menuju jendela, aku melihat seorang laki-laki berdiri di sebuah taman yang ada pada halaman depan rumah sakit ini, ia berdiri tepat di depan bunga-bunga mawar itu. Sekali lagi aku melirik ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul 22:00.


"Apa yang ia lakukan malam-malam seperti ini?" gumamku. Aku memilih untuk segera beristirahat, karena rasa tak sabar menunggu esok pagi.



     Sang kirana yang menembus sela-sela tirai kini berhasil membangunkanku, suara kicauan burung-burung yang berlalu lalang di depan jendelaku memperindah suasana pagi ini. Aku menampak ke arah Ayah dan Bunda yang masih terjaga, tak sampai hati rasanya jika harus membangunkan mereka, langkahku tertahan dengan seruan Bunda.


"Sudah ku diam di situ, biar Bunda saja."


     Aku benar-benar tak habis pikir. Sesampaiku di taman, aku bertemu dengan laki-laki yang semalam aku lihat dari kaca jendelaku. aku terus menatap ke arahnya yang kini tengah duduk di bangku yang tak jauh dariku. Sesekali aku membuang pandanganku ketika dia melirikku. Dan itu terjadi terus menerus selama aku masih berada di rumah sakit itu, aku selalu melihat dia selalu ada di dekat bunga itu.


Aku rasa dia bukan pasien, hingga suatu ketika aku bertemu dengannya di lorong menuju kamarku.


"Shilla, bunda akan pergi ke administrasi dulu, kau tak apa-apa kembali ke kamar sendiri?"

__ADS_1


"Bunda tenang saja, Shilla bukan anak kecil lagi."


     Kini aku berjalan meninggalkan Bunda, suasana saat itu seketika menjadi dingin, dari jauh tampak seorang laki-laki berjalan berlawanan arah denganku.


'Baru kali ini aku bertatapan muka dengannya'


     Dia menyunggingkan bibir kepadaku, tak ada yang aneh darinya dia terlihat seperti laki-laki biasa. Ketika aku memasuki kamar aku melihat setangkai bunga mawar di atas nakas di samping ranjangku. Siapa lagi jika bukan ulah Ayahku tersayang.


     Entah sejak kapan Ayah menyukai bunga, sehingga harus setiap pagi menghadiahiku bucket bunga, sedangkan aku sudah melarangnya berkali-kali. Namun hal itu tak membuatku berpikir panjang.


"Shilla, kita segera berkemas Ayah dapam erjalanan kemari."


Mendengar ucapan Bunda aku segera mengemasi barang-barangku. Aku sempat berpikir untuk membawa bunga itu tetapi untuk apa? hanya setangkai, sudahlah biarkan saja.


     Saat aku berjalan memasuki mobil aku kembali melihat laki-laki itu duduk di tempat yang sama, di bangku dekat bunga-bunga mawar itu. Tapi kini dia seakan memperhatikanku dari sana, hingga mobilku berjalan meninggalkan rumah sakit itu pun dia masih mengarahkan pandangannya kepadaku. Tapi bagiku itu bukan hal yang harus di pikirkan.

__ADS_1



__ADS_2