ATMA

ATMA
Atma


__ADS_3

Malam itu aku terbangun dari tidurku, mimpi itu sungguh membuatku bercucuran keringat dingin, lagi-lagi ada sebuah teka-teki yang belum bisa ku pecahkan.



Aku melihat si aneh itu datang ke arahku dengan sekotak cincin berlian dan bunga mawar, tapi yang mebuatku bertanya-tanya ada apa antara aku, dia dan pohon besar itu.


"Aku ingin menikahimu," ucapan itu yang terus menghantui diriku.


Semenjak delusi itu datang aku semakin sering bertatap iras dengannya setiap kali bertemu, kami seakan semakin dekat namun tanpa sepatah kata pun keluar.



Atau sebenarnya dia itu laki-laki bisu yang ingin mendekatiku dengan caranya sendiri.



Sampai suatu ketika, tiba-tiba saja aku teringat dengan cerita Alya tentang mahasiswa yang tewas satu tahun silam. Aku tak bermaksud untuk mengungkit-ungkit sekotak cincin dan mawar yang tergeletak tak jauh dari jasadnya.



Dan jawaban Alya itu membuatku tergemap, bibirku seakan membatu dan perasaan gelisah menyelimutiku. Apa yang Alya ceritakan sama persis dengan apa yang aku mimpikan malam itu.



Kemudian aku bertanya kembali dimana lokasi laki-laki itu terpental, namun sayang Alya hanya mengetahui tubuh perempuan itu tergeletak di bawah pohon dengan darah yang mengucur deras dari kepalanya.



Perlahan ada sebuah kolase bayangan-bayangan kecelakaan itu terjadi, semakin dalam aku mengingat semakin sakit yang aku rasakan dan aku melihat semua menjadi gelap erang.



Aku terbangun dengan infus yang membenam di tangan kiriku dan bantuan oksigen melekat di hidung. Perlahan aku menggerakkan jari-jemariku, aku mencium aroma mawar itu sangat pekat.



Ku buka pelan kedua mataku, samar-samar aku melihat seorang laki-laki berbaju hitam berdiri persis di samping ranjangku. Sama seperti ketika aku mengenali kedua orangtuaku saat itu, kini akupun dapat mengenalinya, Cakra iya dia adalah Cakra Pramuditya laki-laki yang ku anggap sebagai hidup dan matiku, laki-laki yang tulus mencintaiku, betapa bahagianya aku melihatnya ada di sini.


__ADS_1


Namun, ada yang tak ku mengerti dari perkataannya.


"Shilla, senang bisa melihatmu mengenaliku kembali."


Aku pikir karena ingatanku yang belum benar-benar sembuh total seperti yang bunda katakan. Wajar saja jika ia mengatakan hal seperti itu.


"Maafkan aku, karena ingatanku belum sepenuhnya pulih. Apa kabar denganmu? apa yang kau lakukan selama ini? kenapa kau baru menemuiku sekarang?"


"Aku baik-baik saja, aku melakukan seperti apa yang biasa kulakukan, aku selalu menemuimu, hanya saja ingatanmu itu belum sepenuhnya pulih."


"Maafkan aku!" ujarnya.


"Berhentilah meminta maaf, aku yang seharusnya meminta maaf padamu, ada suatu hal yang ingin aku sampaikan, aku beruntung kau bisa segera mengenaliku karena aku khawatir kau akan melupakanku selamanya, dan aku lega mendengar jawaban dari perasaan yang bertahun-tahun ku pendam, hingga detik ini pun aku masih mencintaimu aku hanya berharap kau bisa lebih menerima jika kau tak akan pernah melihatku ada dalam hari-harimu lagi. Aku minta maaf jika suatu saat aku harus pergi."


"kau," aku mengerutkan kening mencoba untuk memahami ucapannya.


"Aku tak mengerti," ujarku


Hanya sunggingan bibir yang bisa ku lihat darinya.


"Sudah istirahatlah, aku ingin melihatmu sembuh besok," ujarnya dengan mengelus keningku.



Beberapa hari kemudian Nafisa dan Alya datang menjengukku, mereka berdua terlihat bermuram durja menatapku.


"Aku tak memerlukan tatapan seperti itu," gumamku kepada mereka.


Mereka berdua berjalan mendekatiku, aku melihat air mata yang menggenang di wajah mereka.


"Shilla, maafkan kami, karena kami kau seperti ini," rengek Nafisa.


Aku semakin tak mengerti dengan perkataan mereka, tak lama kemudian Bunda keluar dari balik pintu. Otakku benar-benar ditumbuhi banyak tanda tanya.


"Shilla, Bunda sudah dengar cerita yang sebenarnya!"


Bunda berpikir jika penyebabku kecelakaan karena pem-*bully*-an, karena aku tak dapat menjawab pertanyaan Dokter Boy dan Dokter Benny tentang siapa temanku. Mereka menganggap jika temanku berpengaruh besar terhadap kecelakaan yang ku alami karena aku tak dapat mengingat mereka satupun.


__ADS_1


Oleh sebab itu bunda memindahkan kuliahku dari kampus sebelumnya. Namun, aku terkesiap ketika Nafisa dan Alya berkata bahwa laki-laki yang selama ini aku temui adalah Cakra teman seangkatan Alya. Dia meninggal di tempat, sesaat setelah melindungiku dari bus yang melaju kencang di depanku.



Saat itu, aku tengah tergrletak di bawah pohon besar akibat kecelakaann tunggal yang kualami, kepalaku terbentur hebat ke portal yang berada tepat di bawah pohon besar di seberang kampus, dan Cakra terpental sedikit jauh dariku, aku ingat betul saat itu hari ulangtahunku dan dia terpaksa memintaku bertemu di depan kampusnya karena beberapa jam lagi dia akan berangkat ke luar kota untuk studi banding.



Dia bilang hanya akan memberikan kadoku, di luar dugaan dia memintaku untuk menikah dengannya, dia membawa sekotak cincin dan bunga mawar yang belum sempat aku terima,



Dia dilarikan ke rumah sakit yang sama denganku untuk proses autopsi, sayang sekali kami harus berpisah di hari ulangtahunku. Baru aku ingat laki-laki yang ku lihat dari jendela kamarku adalah Cakra, dan laki-laki yang ku temui di lorong, dia adalah Cakra, laki-laki yang selalu tersenyum saat bertemu denganku di kantin, perpustakaan, dan bahkan saat bersisipan jalan pun dia adalah Cakra.


Bukan karena dia adalah laki-laki bisu atau laki-laki yang pendiam tapi karena hanya aku yang bisa melihatnya, dia benar, selama ini dia selalu ada di sekitarku dia tak kemana-mana, kini rasa penyesalan mendiami diriku.


Aku rasa dia ingin sekali melihatku menerima mawar-mawar itu.



Sejak saat itu aku ingin bisa bertemu kembali dengannya, itu sebabnya aku selalu menunggunya di ruang tunggu berharap dia akan datang seperti sedia kala, saat aku bertatap iras dengannya di sana.



Bahkan aku memilih untuk menuruni anak tangga dari pada *lift.* Demi bertemu dengannya Namun beberapa kali aku mencoba aku tak kunjung menemukannya hingga suatu saat aku melihatnya di antara mereka.


"Aku benar-benar lega bisa melihatmu lagi."


Sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan, bahwa hingga detik ini aku masih mencintaimu. Namun, biarkan ku simpan bayangan kita di masa lalu untuk ku ingat di masa depan.



Terimakasih untukmu yang mencintaiku tanpa sebab, hingga titik penghabisanmu pun hanya demi diriku yang lemah. Walau kini kau hanya sebatas bayangan, aku tetap merasa damai di dekatmu.



Biarkan aku mengukir segalanya dalam-dalam. Bisa melihatmu dari jauh pun aku tenang. Walau raga kita tak saling menyentuh tetapi ATMA kita masih menyatu erat.


-TAMAT-

__ADS_1


__ADS_2