ATMA

ATMA
Tilikan


__ADS_3

     Atmosfer di pagi ini sedikit berbeda dari pagi-pagi sebelumnya, pagi yang benar-benar di selimuti oleh kelabunya sang gegana.


"Shill, jangan terlalu lelah, ingat pesan dokter, kau itu belum sembuh total," ujar Bunda dengan menghidangkan teh hangat di depanku yang masih tercenung.


Seakan ada sesuatu yang menyeruak dalam rasioku, semakin aku berusaha mengingatnya akan semakin merajam diriku.


"kau yakin masih kuat?" celetuknya lagi, hanya lenggutanku yang bisa ia terima sebagai jawaban iya.


     Hari ini adalah hari yang aku benci, karena harus ada jam kuliah malam, sepulang kuliah aku memilih untuk tak terlebih dahulu menemui Nafisa, karena aku tahu betapa keponya dia tentang apa yang terjadi padaku lusa.


Beruntung sekali aku terpisah dengannya saat mengantre *lift,* sedikit demi sedikit aku melangkah mundur menjauhi *lift* itu, saat aku berjalan melewati ruang tunggu sepintas aku mendengar seseorang memanggilku, aku kembali merasakan dingin yang teramat menusuki tulangku. Bahkan aku mencium bau mawar menyengat yang tiba-tiba datang dan pergi begitu saja.


     Namun rasa penasaranku mengalahkan ketakutanku, aku berusaha mencari pusat suara, apalah daya aku tak menemukannya. Dan aku menjingkat saat lampu kelas di sampingku padam, yang di sertai dengan beberapa lampu-lampu di lorong.


Saat itu mulai merasa ada yang tak beres, aku berlari menuruni anak tangga itu hingga ke lantai dasar. Dengan napas terengah-engah, aku menjatuhkan diriku di lantai untuk mengatur napasku.


"Shill, kau tak apa-apa?" teriak Nafisa dan beberapa teman kelasku.


Aku hanya menyunggingkan senyuman kepada mereka menandakan aku baik-baik saja.


     Nafisa menawariku untuk mengantar pulang, karena memang semenjak kecelakaan itu kedua orangtuaku sangat melarang aku untuk berkendara sendiri. Dan momen-momen yang seharusnya aku hindari kini benar-benar mencacati pendengaran dan otakku.


"Shill, kemarin kau berjanji akan bercerita, sekarang aku menagih janjimu, ceritakan padaku kenapa kau seperti ini!" Ujar Nafisa tanpa memandang ke arahku.

__ADS_1


Aku mulai menceritakan kepadanya bahwa semua berawal dari pohon besar di seberang kampus, seakan ada sebuah cerita kelam di sekitarnya, sebuah teriakan, tangisan, darah dan benturan yang keras. Namun Nafisa segera menghentikan ceritaku.


"Shill kita lanjutkan besok saja, sepertinya aku tahu apa yang kau maksud, aku tak cukup berani jika harus bercerita sekarang, maaf bukan apa-apa tapi aku orang yang penakut, apalagi aku harus pulang sendirian," ujarnya.


Itu sangat menjadi sebuah tanda tanya besar bagiku.



     Ke esokan harinya, pagi-pagi sekali kita bertiga bertengger di ruang tunggu, entah kenapa aku memang suka pemandangan kampus saat pagi hari.


"Aku dengar dari Nafisa, lusa kau mengalamin hal tak wajar?" celetuk Alya.


Aku hanya mengangguk mengiyakan. Kemudian dia melanjutkan bercerita bahwa apa yang aku lihat berkaitan dengan tragedi kecelakaan satu tahun silam dan menewaskan satu korban laki-laki, dia salah satu mahasiswa di kampus itu.




Dan cerita yang membuatku tersentuh, dimana ada sebuah kotak cincin dan mawar yang tergeletak tak jauh dari jasad lelaki itu.



     Beberapa hari kemudian, aku mulai memberanikan diri untuk menceritakan semua apa yang terjadi padaku, bahkan aku juga bercerita tentang si aneh yang selalu kutemui, dari sekian banyaknya laki-laki entah kenapa aku sering sekali berpapasan dengannya. Laki-laki yang kurasa sangat familiar bagiku, seakan aku sudah mengenalnya begitu lama.

__ADS_1


Suatu ketika karena terlambat masuk kelas aku terpaksa TA dan menunggu sampai pelajaran usai. Aku duduk di ruang tunggu yang lengang, tak ada seorang pun yang duduk di sana, hanya ada segelintir orang saja yang berlalu lalang.


     Tiba-tiba saja si aneh itu muncul dari kajur, aku melirik ke arah papan yang tertempel di atas pintu, dari situ aku berpikir bahwa dia satu jurusan denganku.


Jantungku terasa berdampung-dampung ketika ia berjalan ke arahku, tak pernah terpikir olehku jika kami akan duduk berhadapan sedekat ini, karena biasanya kami hanya bersisipan jalan. Mungkin saja ia sedang menunggu kelas, aroma mawar itu melekat pada tubuhnya, aku mereka-reka dia memang laki-laki peminat bunga mawar.



Aku semakin tak karuan ketika dia melemparkan senyumanya ke arahku, dia terlihat sangat manis dan hangat. Tak lama kemudian beberapa teman laki-lakiku dari kelas lain datang menyapa.


     Apa mungkin laki-laki ini memang tipe orang yang tak banyak kata, karena beberapa teman yang menyapaku tak ada satu pun yang menegurnya.


"Shilla, aku pikir kau kembali pulang," ujar Nafisa.


"Belum," jawabku dengan bola mata yang terus memperhatikan si aneh yang kini beranjak dari bangkunya.


Dan karena pertanyaan-pertanyaan Nafisa yang memecah konsentrasiku, aku harus kehilangan jejaknya yang entah ke kelas mana ia masuk.


"Gara-gara kau, aku jadi kehilangan jejaknya!" gumamku dengan ekspresi dongkol.


     Karena rasa penasaran aku dan Nafisa memilih untuk tak meninggalkan tempat hingga jam kuliah kedua kelas itu selesai. Walhasil waktu sudah menunjukkan pukul 17:00 sudah hampir satu jam kami di sana, dan akhirnya kami pulang dengan tangan kosong dan berawai.


__ADS_1


__ADS_2