ATMA

ATMA
Absurd


__ADS_3

     Aku mengisi hari-hariku dengan monoton, tak ada perubahan setiap harinya, sama saja seperti di rumah sakit. Aku ingin sesuatu yang berbeda, walau sebenarnya ada sedikit yang berbeda dengan malam-malamku, selalu dan selalu saja aku bermimpi tentang mawar.


Setelah aku menceritakan semua kepada orangtuaku akhirnya mereka memutuskan untuk memasukkanku ke salah satu Universitas di tahun ajaran baru nanti. Siapa tahu saja ketika kembali berbaur dengan orang-orang semua akan berubah.



Tak hanya itu semenjak aku bercerita kepada mereka tentang hal itu, mereka selalu mengajakku untuk berjalan-jalan kemanapun aku mau karena mereka berharap, semua dapat mengembalikan ingatanku.


6 bulan kemudian,


1 September 2007,


     Hari yang kutunggu telah tiba, Aku sangat antusias di hari pertamaku masuk kuliah, aku mengambil jurusan Ilmu Politik, Fakultas Ilmu sosial dan Politik. Setelah mengikuti ospek dan pelantikan masahasiswa baru satu minggu yang lalu dimana aku dapat bertemu dengan suasana, dunia baru.


Kini aku kembali bertemu dengan teman baru yang akan bersamaku dalam dua semester ke depan, bahkan satu pun dari mereka tak ada yang kukenal, karena perbedaan kelompok ketika ospek.



Selesai jam kuliah aku berniat untuk berkeliling kampus menghapal kelas dan ruangan yang nantinya akan sering kugunakan.


"Hai Shill, kenalkan aku Nafisa, teman satu kelasmu, aku yang duduk di pojok kirimu," Nafisa adalah teman pertamaku, dia adalah gadis cantik dengan behel yang tertempel rapi di giginya.


Suaranya khas sekali, dia memiliki badan yang tinggi, tinggi badan idealku pun masih tumbang darinya. Kadang aku sedikit minder saat berjalan dengannya.


     Dan kabar baiknya dia tinggal tak jauh dari komplekku. Dia baru saja pindah ke kotaku beberapa bulan yang lalu. karena parasnya yang cantik, banyak sekali laki-laki yang jatuh hati kepadanya.


Jika aku menjadi dirinya itu justru akan membuatku terganggu, lain halnya dengan Nafisa yang terlihat enjoyed. Karena bagiku ada masa dimana aku akan bertemu dengan pasanganku.


     Dia memiliki seorang kakak perempuan yang juga menempuh pendidikan di sana, namanya Alya mereka sama-sama cantik. Tak jarang kami menghabiskan waktu bersama, entah di kampus atau di luar kampus.


Kami bagaikan amplop dan perangko, mereka pun saling berbagi pengalaman kepadaku dari yang lucu hingga menegangkan, dari kisah keluarga hingga percintaan mereka. Aku sempat berpikir jika aku telah berhasil membuat hidupku berubah.



Tak jarang mereka bercerita tentang sesuatu hal yang berbau mistis, jujur saja aku memang tipe-tipe orang yang bisa dibilang *"I don't care about this."*

__ADS_1


     Sampai suatu ketika tiba-tiba saja Alya berdengking ke arahku, itu berhasil membuatku bergidik, aku bertanya-tanya dalam manikku.


'Apa aku membuat kesalahan yang tak ku sengaja?'


"Pamali, pamali," Dia terus mengucapkannya. Aku semakin bingung dibuatnya.


"Dulu pernah ada yang kesurupan saat bercermin di bawah pohon ini," rasanya sedikit lapang perasaanku mendengar pembicaraannya yang tak masuk akal, karena ku pikir aku melakukan kesalahan, namun jantungku masih belum bisa berdegup normal karenanya.


     Aku hanya menghela napas dan menyimpan kembali mirat itu ke dalam tas hitamku. Jelas saja setiap mereka bercerita tentang hal-hal seperti itu tak satupun yang kupercayai.


Tetapi, setelah kejadian itu memang terjadi beberapa hal *absurd* yang sulit di jelaskan dengan logika. Namun aku berusaha tenang dan tetap berpikir positif aku yakin itu bukan karena aku bercermin di bawah pohon itu.


06:51,


Drrrttt-Drrrrttt-Drrrttt


     Bunyi ponsel itu membangunkanku yang baru saja terjaga. Rasanya berat sekali untuk membuka mataku, namun dering ponsel itu terus menyeruak hingga ke ubun-ubun.


"Akh, Damn! mengganggu saja," eluhku dengan menatap layar ponsel.


Aku segera bergegas merapikan diri, bahkan aku harus merelakan sarapan pagiku karena aku benar-benar terlambat.



Dengan napas tersengal-sengal akhirnya sampai juga di lantai 5 gedung perkuliahanku, aku tercangak-cangak mencari kelas yang akhirnya ku temukan, namun aku sedikit heran kenapa hanya ada 3 temanku saja di dalam kelas bahkan si cerewet Nafisa pun tak terlihat.


"Dimana Nafisa? dia bilang aku sudah terlambat, ternyata dia mengerjaiku, awas saja kau."


Aku mulai membuka suara kepada mereka dengan pertanyaan yang kulemparkan, namun hanya gelengan kepala yang aku dapatkan sebagai jawaban.



Mereka tampak berbeda sekali mungkin karena mereka terlalu lelah mengerjakan tugas semalaman yang memang itu menyulitkan. Secara tak sengaja aku menjatuhkan spidol dari meja dosen, alih-alih ingin mengembalikannya, aku menemukan hal yang janggal.


__ADS_1


ketika membungkukkan badan aku tak melihat kaki ketiga temanku itu, setetika kutegakkan tubuhku, kupikir mereka telah pergi tanpa sepengetahuanku, tetapi dugaanku salah mereka masih duduk membatu di sana dengan tatapan kosong.



Hanya untuk memastikan saja aku kembali membungkukkan badan tetapi aku belum jua menjumpai kaki-kaki mereka.


     Dengan posisi membungkuk aku berjalan mundur secara perlahan. Seluruh tubuhku kini menggegar hebat, dingin yang bisa ku rasakan. Sedingin ketika bertemu dengan laki-laki aneh di rumah sakit itu.


Aku segera berlari ketika langkahku mulai mendekati pintu hingga aku berhasil meloloskan diri dengan perasaan campur aduk.


"Shil, kau sedang apa di sini, dosen sudah datang, dari tadi aku menunggumu," suara Nafisa itu membuatku bergidik dua kali.


"Sial! kau membuatku kaget."


     Nafisa berdecap ketika melihat wajahku yang berantakan, dan tak enak dipandang.


"Mari ikut aku, agar terlihat sedikit fresh," dia menarikku menuju kamar mandi yang cukup jauh dari kelas.


ketika dalam perjalanan sungguh tak disangka-sangka jika aku akan bertemu dengan laki-laki aneh itu lagi, kini aku menyebutnya si aneh. Dia menatapku dengan senyuman yang sama seperti waktu itu.



Yang ada dalam pikiranku saat ini dia adalah laki-laki yang kuat ingatan karena di kampus sebesar ini dia menyapaku dengang senyuman seakan mengenalku.



Sesampainya di kamar mandi aku berjalan menghampiri kaca besar yang melekat di dinding kamar mandi. Aku turut prihatin dengan wajahku, mata sembab dengan lingkaran hitam hasil begadangku, tapi ada hal lain yang membuatku tak angkat kaki dari kaca itu perlahan wajahku berubah dan kini aku melihat wajah lain dari cerminanku.


     Dan itu membuatku bersiah keluar, tanpa sadar aku meninggalkan Nafisa yang masih di dalam toilet. Urusan Nafisa pikir belakang saat ini aku memilih menunggunya di luar dari kamar mandi. Benar saja beberapa menit kemudian dia keluar dengan wajah murkanya.


"Nafisa maaf," entah terbuat dari apa hatinya aku yang sudah meninggalkannya pun masih di maafkan.


"Payah, sudahlah ayo kita ke kelas."


__ADS_1


__ADS_2