Ayesha Qaireen Azzalea

Ayesha Qaireen Azzalea
Garis dua


__ADS_3

sesuatu yang menyenangkan bagi sepasang pengantin baru kehadiran sang buah hati memang sangatlah diharapakan terlebih mendengar pertanyaan tetangga dan kerabat yang kadang susah untuk menjawab sebab kita sendiri tak pernah tau kapan akan diberikan titipan atau Allah akan memberikan ujian terlebih dahulu .


tak henti mengucap rasa syukur Fahri berulang kali mencium dan memeluk Ayesha bahkan Fahri pun sudah memberi kabar bahagia menurut Fahri kepada kedua orang tuanya .


Ayesha melepaskan pelukan Fahri sambil menatap suaminya sedih .


" heiii kenapa kamu sedih sayang.?" tanya Fahri kepada sang istri yang tiba-tiba lesu tak bersemangat


" kamu pasti sudah memberi tahu ibumu tentang ini.?" tentunya saja Fahri tak berani bilang karena Fahri tau kalau istrinya pasti akan sedih sebeb perlakuan orangtua nya sering membuat sakit hati


" nggak apa-apa sayang kalau ada apa-apa aku akan dengan sigap jaga kamu"


Ayesha menatap suami nya tidak yakin sebab mulut pedas mertua yang selalu menghantui dirinya , bukannya apa atau bahkan Ayesha memandang buruk setiap yang dilakukan akan tetapi Memang pada kenyataannya Aisyah selalu mendapatkan perkataan yang tidak mengenakan hati.


bahkan tidak hanya satu dua kali atau mungkin bisa disebut sering mendapatkan penolakan setiap apa yang ia bawakan kepada Ibu mertuanya buah tangan yang selalu menjadi penolakan membuat Ayesha merasa tak dihargai dan Tidak Dianggap.


ini Aisyah dari tahap bertahap mulai belajar menghadapi problem- problem rumah tangga yang tak pernah terbayangkan di benaknya tumbuh dengan kasih sayang seorang ayah dan ibu yang tak pernah mengatakan sesuatu yang menyakitkan hati tapi kini ia mendapatkan perkataan-perkataan yang menyakitkan hati dari mertuanya, tak banyak yang yang ayah saya lakukan saat ini dia mungkin adalah suatu hal yang baik untuk menghindari masalah-masalah yang kedatangan lagi sebab komentar-komentar dari mertuanya yang cukup menyentil hati pun Ayesha berusaha untuk menepis tidak memperdulikannya.


......................


......................


POV FAHRI


aku tak pernah berpikir Bagaimana diriku setelah menikah apakah aku sudah siap jauh dari keluargaku dan apakah aku sudah siap untuk memenuhi semua kebutuhan rumah tangga kami nanti, sebuah pernikahan dalam waktu singkat yang terbilang sangatlah cepat dan saat ini pun aku masih berusaha untuk belajar untuk belajar tentang pernikahan dan rumah tangga.


aku tak menyangka Apakah ini Suatu bentuk pelajaran untuk diriku sendiri dengan adanya problem rumah tangga yang ada dan aku tak pernah membayangkan kalau hubungan antara istriku dan ibuku dan keluarganya juga tak sebaik yang aku bayangkan. ya waktu itu aku hanya bisa membayangkan keluarga yang sangat bahagia akur dan tidak ada permasalahan sama sekali akan tetapi ternyata bertolak belakang dari apa yang telah aku bayangkan adik-adikku yang tidak bisa menerima baik istriku bahkan Ibuku sendiri pun yang selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak enak atau menyakitkan .


ternyata setelah menikah aku lebih beruntung daripada istriku aku juga selalu diperlakukan dengan baik pula bahkan apa yang aku belum aku miliki saat itu pun berusaha mereka wujudkan, hingga pada akhirnya aku dan istriku pun memutuskan untuk tinggal dipisah dengan orang tua mencari kontrakan sederhana dan mengumpulkan usaha kecil-kecilan dari ibu istriku ...


aku yang bersyukur karena di waktu 4 bulan saat pernikahan Allah menitipkan janin di perut istriku harapanku semoga saja setelah istriku hamil dan kita mempunyai momongan ibuku akan berubah sikap Dengan istriku akan jauh lebih baik dari sebelumnya.


aku sendiri Sebenarnya masih begitu labil dengan kata pernikahan dengan Bagaimana aku bisa menjalankan rumah tangga dengan baik tapi aku yakin aku pasti bisa melaluinya semua renta-rindangan ujian yang telah Allah berikan kepadaku.


dengan pekerjaan sederhana sebagai seorang guru madrasah walaupun gaji tak seberapa aku sangat bersyukur karena istriku menerimaku apa adanya tak pernah memeluk aku lebih dari kemampuan aku walaupun sampai sekarang aku merasa belum bisa membahagiakannya bahkan Istriku yang sering memenuhi kebutuhan setiap bulannya.


rasanya malu menjadi suami tapi tak bisa memenuhi semua istri tak bisa menyenangkan istri dan memberikan apapun yang dia senang.


" ini Mas Pisang gorengnya sama kopi"


" Terimakasih banyak dek, karena kamu sekarang sedang hamil lebih baik jangan terlalu capek ya soalnya ke warung jadi jatuh saja sama Atun "


" Iya Mas tenang aja pasti bakal jaga diri dengan baik soal warung nanti biar aku saja yang menjalankan ini aku tinggal masak"


Ayesha adalah seorang wanita yang bekerja keras tak pernah mengeluh dan tak pernah menyerah saat satu usahanya runtuh pun Ayesga berusaha untuk bangkit mencari pekerjaan lain yang bisa ia kerjakan di rumah karena aku melarangnya untuk bekerja di luar rumah walaupun sempat beberapa kali Ayesha tak mendengarkan perkataanku karena memang perekonomian keluarga kami pun jauh di kata mampu.


minggu ini waktu kunjungan ke rumah ibu aku kan Berusaha menjelaskan dan memberi pengertian bahwasanya Ayesha belum bisa diajak perjalanan jauh karena usia kandungannya yang masih dini dan sangatlah rawan.


" Assalamualaikum Bu bagaimana kabar ibu dan yang lain.?"


" oalah kamu Tole akhirnya kamu telepon Ibu juga bagaimana Minggu ini kamu ke sini kan.?"


" Maaf Bu aku belum bisa ke sana minggu ini mungkin sampai berapa bulan ke depan kasihan Istriku kalau harus pelajaran yang jauh karena usia kandungannya masih dini."


" loh Kamu tuh gimana sih udah nggak usah sama istrimu juga nggak apa-apa kamu ke sini sendiri toh dia di rumah sendiri juga berani kan"


" kasihan bu kalau dia harus di rumah sendiri karena kata orang ibu hamil itu perlu kasih sayang yang lebih dari biasanya."


" Ah alasan kamu saja terlalu lebay tau nggak sih Ya udah kalau emang kamu nggak mau jauhin ibu kamu lagi sayang sama istrimu " aku tercinta kaget mendengar ucapan ibu sebab Bukan itu maksudku aku tak menyangka kata-kata itu akan keluar dari mulut ibuku.


mau tak mau aku terpaksa meninggalkan istriku di rumah sendiri walaupun aku tahu sebenarnya pasti dia tidak akan pernah setuju karena memang istriku tidak bisa tidur jika tadi aku temani tapi aku takut menjadi anak durhaka jika tidak menuruti kemauan ibuku begitu pikirku saat itu.


pagi yang cerah berhubung hari Ahad aku sudah bersiap ingin pergi setelah membantu pekerjaan istriku di rumah.


" Mas mau ke mana pagi-pagi kok sudah rapi sekali.?"


" pagi ini mas akan pergi ke rumah Ibu boleh kan ini kan Jadwal kunjungan ke rumah ibu"

__ADS_1


" kamu tuh emang nggak pernah berubah ya mas bisa nggak sih di pending dulu gitu sampai aku tuh bener-bener ke sana"


" Kamu di rumah sama si Atun ya Jaga dulu baik-baik Mas cuma sebentar kok nggak lama."


" percuma komunikasi sama Mas itu nggak pernah mau mengerti apa yang aku rasakan Aku tuh butuh di temanin Mas lagian kan baru 2 minggu kemarin masih ke rumah Ibu lagian kan bisa dijadwal juga sebulan sekali atau dua bulan sekali."


" Tolonglah kamu juga ngerti keadaannya sekali ini aja aku nanti sore pulang kok"


" Sudahlah terserah Mas aja" tampak begitu kecewa terpancarkan dari mimik wajah istriku Sebenarnya aku kasihan kan tapi buku selalu mengancamku ketika aku tak menuruti kemauannya.


sewaktu perjalanan berangkat aku mendengarkan lagu dari Seventeen yang berjudul Sumpah Ku Mencintaimu


Bersamaku, kamu bisa bahagia selamanya


 


Sepantasnya dirimu seutuhnya untukku


Sempurnamu bila bersamaku


Dan denganku, kita kan bahagia selamanya, oh


 


Sumpah ku mencintaimu, sungguh ku gila karenamu


Sumpah mati hatiku untukmu, tak ada yang lain


Mati rasaku tanpamu, henti nafasku karenamu


Sumpah mati, aku cinta


Sepantasnya (sepantasnya) dirimu seutuhnya untukku (untukmu)


Sempurnamu bila bersamaku


Sumpah ku, sungguh ku


Sumpah mati, hatiku untukmu, tak ada yang lain


Mati rasaku tanpamu, henti nafasku karenamu


Sumpah mati aku cinta oooh


Sumpah ku mencintaimu, sungguh ku gila karenamu


Sumpah mati, hatiku untukmu, tak ada yang lain


Mati rasaku tanpamu, henti nafasku karenamu


(sumpah mati aku cinta) sumpah mati aku cinta


Sumpah mati ku cinta, sungguh cinta


saat perjalanan pun aku merasa sangat cemas memikirkan itu.


......................


hari ini tidak pergi ke warung ia menyerahkan warung kepada Atun di kamarnya Ayedha sambil menangis mendengarkan lagu dari NDX yang berjudul Jogja Istimewa.


Mangan tempe rasane


Koyo mangan lawuh sate


Senajan sak anane


Sing penting karo kowe

__ADS_1


Ngombe kembang tahu rasane


Koyo ngombe susu


Rausah mecucu


Tresnoku ro kowe ra bakal tak madu


Bungah tenan rasane


Wong kang lagi gandrung


Tak perjuangke


Tekan janur melengkung


Kowe siji sijine


Aku bangga karo kowe


Gelem nompo opo anane


Tresnoku ra bakal mletre


Kowe ojo sumelang


Tresnoku ra bakal ilang


Ibarat koyo kuthoku jogja


Kowe cen istimewa


ternyata aku tak seperti Jogja ya Mas yang istimewa di kehidupan nyatanya kamu lebih memilih membahagiakan ibumu ketimbang aku Inilah Nasibku menjadi wanita Mandiri.


bicara sendiri seolah-olah diri dia sedang bersama suami padahal Ia sedang memeluk guling dan guling-guling di kasur seperti anak ABG sedang patah hati.


Ayesha membuka HP sebentar melihat status teman-teman untuk hp-nya ya melihat seorang ibu menyetatus anaknya yang baru saja sampai rumahnya dengan caption "Alhamdulillah bahagia ibu pada dirimu nak" Ayesha sebenarnya tahu bahwasanya anak laki-laki itu adalah milik ibunya untuk selama-lamanya dan anak perempuan itu adalah milik suaminya setelah menikah dan tetapi bukan begini cara caranya untuk mendapatkan kasih sayang lebih dari seorang anak.


setelah membaca status dari ibu mertuanya itu Ayesha kembali menangis dan akhirnya tertidur pulas.


...----------------...


...----------------...


sedangkan di warung Atun dengan kewalahan melayani pembeli yang sangat ramai karena bukan hanya para pengunjung untuk makan siang kan tapi juga anak-anak yang beli ciki-ciki maupun minum-minuman yang disediakan di warung Ayesha , ingin sekali Atun meminta Ayesha untuk membantu akan tetapi Atun nggak tega karena tadi melihat Ayesha sedang menangis .


tak lama Lastri tetangga depan rumah Ayesha membantu Atun karena merasa kasihan karena Atun kewalahan melayani pembeli sendirian .


" Mbak Atun ini ke mana sih situan rumah Kok nggak muncul-muncul dari tadi pagi"


" Oalah Mbak Ayeshanya lagi istirahat Mbak kan lagian lagi hamil muda mungkin baru lemas-lemasnya."


" ya aku lupa kalau Ayesha sedang hamil muda... ini aku perlu bantu apa lagi mbak"


" memasak ayam nih Mbak bisa bantu untuk pesanan anak-anak pengajian."


" Oh bisa mbak ini satu ayam jadi berapa potong.?"


" jadi 10 potong ya Mbak terus nanti dimasak goreng aja pakai sambel gitu nanti sayurnya biar aku yang siapin"


"siap kalau gitu aku potong-potong ayam dulu ya Mbak sambil masak nasi"


" Makasih loh Mbak udah mau bantuin nanti aku bilang bu bos deh biar dapat persenan"


Atun merasa senang karena Lastri mau membantu aku masak karena selain jualan di warung juga ada pesanan untuk anak-anak pengajian yang jumlahnya juga cukup banyak jadi kalau sendirian pasti tidak akan cukup tenaga atau alias kewalahan .


kasih pun merasa senang karena bisa membantu tetangganya Lagian tak ada salahnya menurut salah kirim membantu Ayesha karena Ayesha adalah tetangga yang baik kepada yang lain.

__ADS_1


__ADS_2